Home / Edisional / Jago dan Kriminalitas Pedesaan (1)

Jago dan Kriminalitas Pedesaan (1)

Studi Kasus Kediri dan Sekitarnya di Tahun 1870-an

oleh: Henk Schulte Nordholt* dan Margreet van Till**

 

Di Jawa, bisnis pencurian adalah sebuah pekerjaan yang telah menjadi institusi bagi sebuah desa, yang memberikan lowongan pekerjaan bagi banyak orang, beberapa dari pekerjaan ini mempunyai investasi yang bernilai, dan memberikan keuntungan kepada para pelindungnya. Tidak ada seorang kepala desa menganggap wilayahnya benar-benar aman dan tertib jika setidaknya mempunyai seorang pencuri, bahkan beberapa, yang berada di bawah orang paling tua dan paling cerdas yang biasa disebut dengan jago.

 

Berdasarkan kenyataan di atas, C.A.A. Amand, seorang penanam tembakau swasta di Kediri, Jawa Timur menginformasikan kepada penguasa kolonial pada tahun 1872 tentang situasi di pedesaan Jawa di mana pencurian ternak, intimidasi, pembakaran dan penipuan serta kekerasan fisik terjadi di setiap harinya, sebuah situasi yang tentu saja berada di luar kontrol pemerintah Belanda.

Karena tidak sadar terhadap praktik-praktik di atas, maka pihak penguasa bereaksi. Gubernur jenderal di Batavia memerintahkan residen Kediri untuk menginvestigasi permasalahan ini, dan kemudian meski berita yang terkesan janggal dan tidak menyenangkan dari Amand ini, berisi kebenaran yang sebelumnya tidak diketahui oleh para pejabat pemerintahan. Amand telah menyampaikan eksistensi jaringan para jago yang tidak hanya terbatas di Kediri semata, tapi kemungkinan telah menyebar di seluruh Jawa. Hal serupa disimpulkan oleh P.C.C. Hansen geng kriminal dan para perampok telah menyebar ke seluruh Jawa, dan mereka membentuknya sebagai sebuah struktur masyarakat yang saling tahu sama tahu. Lantas bagaimana dan apa yang menjadi alasan seseorang menjadi jago –yang secara literer bermakna ayam petarung- belumlah diketahui, dan juga apakah seorang jago adalah hasil dari warisan keluarga atau tidak. Kemungkinan karena kekuatan fisiknya, keberaniannya dan bakat mistiknya dimana seseorang kemudian dianggap menjadi jago.

Menurut Amand, seseorang dianggap jago setelah melalui periode penggemblengan. Dalam masa itu ia dibantu oleh seorang jago senior, para pencuri dan kawanan lainnya, dan yang lebih penting adalah mereka mempelajari ngelmu dari gurunya. Untuk menjadi seorang murid dengan beragam guru adalah umum di kalangan anak muda Jawa. Ketika mereka mengunjungi beberapa pesantren, para murid juga belajar silat dan pengetahuan khusus yang diperlukan menjadi jago. Ngelmu juga dapat digunakan untuk menghilang, menjadi kebal, atau untuk menidurkan orang. Pada saat yang sama para murid mempunyai semacam “kekuatan seperti polisi” yang bertugas untuk melindungi pesantren dan sekitarnya. Periode sebagai murid, disebut dengan periode asketisme atau bertapa yang kemudian diikuti dengan ritual selametan. Kemudian melakukan perjalanan yang jauh dari rumah dan berhubungan dengan jago lainnya, yang mengajarkan para juniornya bagaimana cara melakukan trik dalam perdagangan.

Proses ini mengungkapkan jaringan dimana jago beroperasi dan mendidik mental yang menjadi karakternya nanti. Hubungan antar jago pertama kali biasanya sangatlah dijalin hati-hati, sebuah ikatan yang dijalin dengan janji dan sumpah yang saling menguntungkan. Sumpah ini dijalin dengan cara meminum darah bersama dari sebuah ceret air, yang terkadang dicampur dengan sedikit tetesan darah dan berjanji untuk saling membantu. Sangsi pelanggaran dapat berupa ancaman bahwa air yang diminum akan menjadi racun jila terjadi pelanggaran. Hal ini tergantung pada luasnya kontak dan sekutu orang-orang yang berada di bawah sumpah dan keterkenalan personal tersebut, seorang jago senior biasanya mempunyai kontak hubungan area yang lebih luas. Dari kontak-kontak ini, berdasarkan kesepakan, jago dapat merekrut pembantu atau hali untuk meringankan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Sekumpulan jago yang bersifat permanen dan tetap biasanya jarang ada atau bahkan tidak terjadi. Kebanyakan jago bekerja secara individual, meski ia mempunyai asisten dan murid.

Jaringan ini berfungsi dengan baik sehingga pihak penguasa Belanda di Kediri tidak dapat mengatasinya. Ketika mereka terancam dari pihak luar, para jago segera bertindak menutupi kegiatan mereka. Selain itu ancaman kekerasan seringkali mengintimidasi para penduduk lokal yang lebih memilih diam. Bagi para pembaca, yang berharap bahwa jago adalah semacam Robin Hood-nya orang Jawa, tentu agak bingung, mengingat target utama para jago ini adalah para petani kecil.

Pencurian ternak, khususnya, merupakan sumber pemasukan utama bagi para jago. Di samping kenyataan bahwa masyarakat semakin mengandangkan ternak mereka selama malam hari, jago bertindak sangat ahli dalam mengambil ternak-ternak ini dengan cara menggali lubang di bawah tembok tanpa suara berisik sedikitpun. Tentunya ilmu sirep bekerja dengan baik, di samping para korban biasanya lebih memilih diam karena takut terhadap jago dan kemungkinan adanya balas dendam. Kadang-kadang jago beroperasi di siang hari. Keuntungan dari pencurian ternak adalah dapat dituntun sendiri. Selain penyelundupan opium, perdagangan hewan ternak curian juga merupakan bisnis yang menguntungkan.

Adalah mengejutkan bahwa menjelang akhir tahun (misalnya mulai dari bulan Oktober hingga Desember) sejumlah ternak secara dramatis menghilang di Kediri. Hal ini hanya dapat dijelaskan dengan cara melihat hubungan antara jago dan kepala desa.

Sebagaimana disebutkan di atas, posisi kepala desa diperkuat sebagai hasil dari peraturan kolonial. Pada saat yang sama, administrasi regional tidak mampu memunculkan kepemimpinan personal yang menunjukkan sikap pengawasan yang efektif. Kediri dengan penduduk sekitar 560 ribu pada tahun 1887 dibagi ke dalam lima kabupaten dan tiga puluh kecamatan, dan mempunyai pegawai administratif Jawa sebanyak 170 personil, setengah dari mereka adalah oppas (pesuruh dan polisi) Pencurian ternak dan aktivitas lainnya dikategorikan sebagai kriminal, sangatlah dirahasiakan oleh pemerintah Belanda, sementara di tingkatan desa, para kepala desa dan jago menjalin persekutuan secara diam-diam. Manuver hubungan antara kepala desa dan jago menghasilkan saling keberuntungan di antara kedua partner ini, sedangkan biaya kerugian dari hubungan ini tentunya berada di pundak para petani sebagai korbannya.

**

Seorang polisi di Jawa, 1910, bertugas menjaga keamanan dari para pencuri (dokumentasi KITLV)
Seorang polisi di Jawa, 1910, bertugas menjaga keamanan dari para pencuri (dokumentasi KITLV)

Pada hakikatnya, setiap desa di Kediri, jago tinggal sebagai orang yang biasa saja dan bahkan tak begitu menonjol di kalangan penduduk, namun demikian sangat ditakuti dan disegani. Orang asing tidak akan mampu mengenali jago, namun setiap orang desa tahu siapa salah satu dari mereka. Seorang jago tidak harus lahir atau dibesarkan di desa ia tinggal. Pemindahan seorang jago kemudian menjadi penduduk setempat yang permanen tak lepas dari keterlibatan kepala desa. Dengan syarat jago berjanji bahwa ia akan menangani setiap tindakan yang membahayakan penduduk dan melindungi penduduk desa dari segala pencurian dan kekerasan semampu yang ia bisa. Untuk itu jagi biasanya saling kotak dengan jago lainnya untuk tidak saling merugikan terhadap desa yang ditempatinya masing-masing.

Dalam pertukaran jasa ini jago dibebaskan dari kerja rodi dan pajak tanah. Jago menjadi seorang pahlawan lokal yang dihormati selama ia menjaga anak buahnya tetap damai dan mampu mencegah mereka untuk mengunjungi tempat dimana jago tinggal. Ketika ia sendiri pergi keluar dan mencuri di desa lain tanpa orang kuat lokal atau kepala desa, ia akan mencari sasaran yang tak ada jago yang satu sumpahan di dalamnya bertinggal.

Kepala desa juga mendapatkan keuntungan dari kehadiran jago. Ia akan mendapatkan bagian dari barang yang dicuri di desa dimana jago ingin menjual barang curiannya, sebagai misal satu kaki untuk masing-masing sapi yang dicuri dikorbankan untuk kepala desa. Ini adalah hari yang harus dibayar oleh seorang jago untuk menjaga kerahasiaannya, sebagai pencegah agar pemerintah kolonial yang tengah menginvestigasi pencuri. Secara resmi, seharusnya seorang pencuri harus dilaporkan oleh kepala camat, yang biasanya mengirim Kepala desa untuk menginvestigasi kasus pencurian. Dalam banyak kasus, biasanya kepala desa pulang dengan tangan kosong, tanpa menangkap pencuri. Ia seolah-olah telah menunjukkan bahwa ia tidak melaksanakan perintah dengan sepenuhnya, namun tidak mendapatkan hasil.

Dengan demikian, solusi lokal agaknya menjanjikan bagi korban pencurian Jika seseorang di sebuah desa telah dirampok dan jago tidak mampu atau tidak ingin untuk mencegah pencurian, kemudian jago diminta untuk menjamin bahwa hewan ternak akan kembali. Jago menerima beberapa uang dari korban untuk membiayai perjalanannya dan uang tersebut ia mampu membeli opium di wilayah tetangga dan juga membangun kontak-kontak baru.

Di hal lain yang tak kalah pentingnya adalah jago juga menjadi pelayan untuk kepala desa. Pajak tanah dikumpulkan sekali dalam setahun di bulan Desember, namun kepala desa telah mengumpulkannya beberapa bulan lebih awal untuk mendapatkan uang kas dalam membayar utang-utangnya, atau untuk berjudi. Di samping kenyataan bahwa kepala desa mengumpulkan sekitar 20 sampai 30 persen dari yang ia seharusnya dapatkan secara resmi, dan pada bulan Desember ia biasanya telah kehabisan uang. Pada titik inilah seorang jago dapat menawarkan bantuan dengan cara mencuri hewan ternak dan menjualnya, setelah dimana uang tersebut dibagi 50-50 persen antara kepala desa dan jago. Persekutuan ini dapat menghindari kepala desa dari defisit. Hal inilah yang mampu menjelaskan mengapa pencurian ternak selalu marak di akhir tahun. [ ]

 

 

* Peneliti senior KITLV

** Sejarawan ahli perbanditan

25 Juni 2011

Selanjutnya:

Jago dan Kriminalitas Pedesaan (2): Gerakan di Bawah Bayang-Bayang Kolonial
Jago dan Kriminalitas Pedesaan (3habis): Politik Bupati Blitar Menggenggam Penjahat

 

Etnohistori Edisional Jago, Preman & Negara

 

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest