Home / Edisional / Jago dan Kriminalitas Pedesaan (2)

Jago dan Kriminalitas Pedesaan (2)

Gerakan di Bawah Bayang-Bayang Kolonial

oleh: Henk Schulte Nordholt* dan Margreet van Till**

 

Sebagaimana yang telah dijelaskan di bagian pertama, jago mendapatkan perlindungan absolut utama dari kepala desa jika otoritas Belanda hendak memulai sebuah investigasi yang serius. Tidak ada satupun yang diijinkan untuk mengkhianati jago.

Ketika pemerintah kolonial di Kediri memperkirakan bahwa barang-barang curian disembunyikan di desa-desa tetentu, Asisten Residen dan Kepala Camat langsung mengunjungi desa tersebut. Ketika kepala desa mendengar inspeksi ini, ia memerintahkan untuk membunyikan kentongan, sebuah alarm yang terbuat dari kayu, yang kemudian para penduduk akan berkumpul. Pemerintah Belanda mengira bahwa tidak ada hal yang aneh terhadap bunyi kentongan tersebut. Namun demikian, setiap penduduk desa akan merespon secara langsung bahwa ini adalah sinyal akan ada investigasi dari pemerintah Belanda. Bahkan ada beberapa tanda kentongan khusus untuk mengindikasi tipe-tipe barang yang dicuri yang tengah dicari oleh Pemerintah Belanda.

Kejadian ini bukan dimaknai sebagai konspirasi menentang pihak penguasa Belanda, namun juga lebih untuk memperingatkan masyarakat itu sendiri. Jika seorang jago kedapatan tertangkap, pengkhianatnya yang disebutkan namanya oleh pihak penguasa akan mengalami resiko bahwa rumahnya akan dibakar. Laporan Amand menyebutkan “jika diketahui pengkhianatnya maka saudara para jago ini akan membalas dendam”. Demikian pula jika seorang kepala desa tidak mampu melindungi jago secara baik, atau jika ia memutus hubungan dengan seorang jago, maka rumahnya akan dibakar.

Harus ditekankan bahwa perbedaaan antara kepala desa dan jago tidaklah selalu mutlak. Terdapat bukti bahwa di desa abad sembilan belas sekelompok jago baru dari masyarakat juga mengkonsolodasi diri mereka untuk mendesak kepala desa yang lama agar jago baru ini menjadi kepala desa itu sendiri.

Sedangkan orang lokal sendiri tampak tak mampu mempertahankan diri mereka. Biasanya jika terjadi huru-hara, mereka akan lari menjauh, berpindah ke lahan yang kosong, atau mencari perlindungan dari tuan yang dermawan. Sementara rejim kolonial telah memproduksi administrasi yang seragam di seluruh Jawa. Aturan baru yang formal melarang kemungkinan adanya perpindahan, meskipun keluhan tentang pencurian ternak ke pemerintah kolonial biasanya tidak membantu banyak. Para administratur Jawa biasanya bahkan tidak membantu orang-orang yang mengeluh tentang kasus pencurian ini karena dalam kepentingan birokrasi, istilah pencurian ternak tersebut dianggap sebagai “kriminal” sebuah kata yang harus tidak dipublikasikan sebisa mungkin.

Haruskah seorang jago ditangkap dan dibawa ke pengadilan, karena sangat kesulitan mengingat tidak ada satupun orang yang mau menjadi saksi yang memberatkannya. Hanya setelah jaminan dibuat bahwa tersangka tidak akan dibebaskan dalam jangka waktu yang lama, dan jika teman-teman jago tidak dianggap terlalu berbahaya, maka ada kemungkinan masyarakat mau memberikan testimoninya. Sangat sering testimoni palsu, dikarenakan perintah dari kepala desa, dengan menyelamatkan jago, dan kesaksian dapat mengarah kepada penduduk desa yang dianggap sebagai pelakunya. Maka cara bertahan yang terbaik bagi para penduduk desa adalah melawan saja organisasi kriminal ini atau lebih baik diam saja. Sebagaimana telah disebutkan bahwa “cara terbaik adalah dengan pura-pura tidur, adalah cara terbaik bagi orang miskin, sehingga seseorang tidak perlu takut dengan pencuri”.

**

Bupati Kediri, 1890 (dokumentasi KITLV)
Bupati Kediri, 1890 (dokumentasi KITLV)

Lebih lagi, administratur regional itu sendiri harus menjagai keseimbangan hubungan yang rapuh antara jago dan kepala desa. Bupati dapat mempengaruhi administrasi regional untuk menegakkan keadilan. Adalah kepentingannya untuk membebaskan para tersangka jago yang kurang cukup bukti. Sebagai gantinya, jago dapat menjadi seorang mata-mata atau disebut weri dan merupakan agen lokal dari bupati tersebut. Dengan cara ini, di luar kontrol dari administrasi pemerintah Belanda, fungsi para jago mampu menciptakan kekuasaannya sendiri meski ia berada di bawah bayang-bayang pemerintahan kolonial.

Perdagangan ternak curian mengharuskan sebuah jaringan kontak dan transaksi yang luas. Di sini hubungan antara jago dan bos atau tauke sangatlah penting. Dibanding menyembelih ternak dan menjual dagingnya di kecamatan yang sama ditempat pencurian, adalah lebih menguntungkan untuk membawa hewan tersebut utuh-utuh ke desa sebelah sehingga harga yang baik akan didapat dan akan mempunyai resiko yang sedikit. Transportasi dari hewan ternak yang dicuri dituntun sepanjang serangkaian tempat peristirahatan di kawasan yang terpencil, bahkan seringkali melewati tanah yang tak jelas siapa pemiliknya, dimana pencuri dapat tidur di siang hari dan melakukan perjalanan di malam harinya. Tujuan akhirnya adalah bertemu tauke yang tinggal di kawasan perbatasan dan membeli ternak curian tersebut. Tauke seringkali telah menyiapkan uang kas dan menjaga hubungan permanen dengan beberapa jago. Pada titik ini, perdagangan hewan ternak dan penyelundupan opium biasanya terjadi secara kebetulan.

Setelah membeli hewan ternak, tauke akan menyeberangi batas menuju pasar hewan. Tauke dalam hal ini menjadi kelompok makelar di masyarakat kolonial. Biasanya ia adalah orang Cina atau orang Jawa yang tidak masuk ke dalam jajaran birokrasi kolonial atau tidak mampu menjadi birokrat Jawa. [ ]

 

* Peneliti senior KITLV

** Sejarawan ahli perbanditan

25 Juni 2011

Selanjutnya:

Jago dan Kriminalitas Pedesaan (3): Politik Bupati Blitar Menggenggam Penjahat

 

Etnohistori Edisional Jago, Preman & Negara

 

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

Tanggapan

  • Hello, guest