Home / Edisional / Jago dan Kriminalitas Pedesaan (3)

Jago dan Kriminalitas Pedesaan (3)

Politik Bupati Blitar Menggenggam Penjahat

oleh: Henk Schulte Nordholt* dan Margreet van Till**

 

Sejauh mana seorang bupati terlibat secara aktif dalam roda dan perputaran kriminalitas ini tidak begitu jelas. Ada sebuah kecurigaan bahwa, misalnya pada Bupati Blitar yang tahu banyak dari apa yang ia laporkan kepada pemerintah Belanda. Bupati Blitar, Adipati Ario Adinegara, menjabat dari tahun 1851 hingga 1869 dan ia melihat banyak residen dan asisten residen yang datang dan pergi. Ada sebuah cerita bahwa ia bupati ini adalah “anak haram” dari Susuhunan Surakarta, dilahirkan dari seorang perempuan jalang dalam sebuah perjalanan, dan dalam masa mudahanya ia telah menjadi seorang pelayan bagi Raffles. Karirnya pertama kali dimulai di Kediri di bawah pengawasan khusus seorang residen Belanda. Karirnya menanjak sebagai bupati dengan sangat pesat.

Ia mempunyai pengaruh yang cukup luas hingga di tingkatan desa di Blitar karena ia yang menangani semua pemilihan kepala desa. Ia juga mendapatkan privilese yang kuat. Dalam hal ini jago juga mempunyai kekuatan untuk mengontrol terhadap kepemimpinan kepala desa, kemudian cukup jelas bahwa pemerintahan kolonial ternyata mempunyai kontrol yang sangat sedikit terhadap institusi kepemimpinan desa yang sifatnya “bawah tanah” ini dan mereka juga tidak dapat bercampur tangan lebih jauh terhadap komposisi ketua desa, dengan asumsi bahwa semua pemilihan telah berada di bawah kendali kepala desa yang jujur.

Bupati Blitar tahu segala sesuatunya tentang perilaku jago berkat kontak-kontaknya dengan kepala desa. Hal ini juga mungkin untuk menjalin relasi yang baik dengan beberapa tauke, mengingat tauke punya stok ternak hingga dua ribuan. Permainan saling memberi dan menerima yang kompleks ini benar-benar tidak berada di bawah cengkeraman pemerintah kolonial Belanda. Permainan dari aturan pencurian ini memungkinkan jago untuk bergerak dengan caranya sendiri dalam batas yang wajar dan sebagai imbalannya menerima kompensasi yang sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Dengan demikian, bupati mengijinkan keseluruhan jaringan jago dan hubungannya dengan kepala desa untuk terus berlanjut, asalkan hal tersebut tidak melampaui batas, dan mereka tidak mengganggu kekuasaan superior pemerintah Belanda, maka saling berbagai keuntungan antara pemerintah lokal dan jago akan terus terjaga.

Terkadang residen juga mendapatkan sangsi terhadap laporan-laporan buruk kriminalitas dari administrasi Belanda. Sekarang dan kemudian ia harus menunjukkan otoritasnya. Di beberapa kejadian, Bupati memanggil jago yang paling ditakuti, dan menceramahinya dengan sangat serius tentang perilakunya yang “melampaui batas” kemudian menganjurkan mereka untuk menghilangkan perilaku setannya tersebut di masjid dan pada akhirnya bupati memberi mereka sekelompok kerbau dengan demikian mereka tidak akan mencuri lagi. Selama perjalanan inspeksi ini terkadang bupati memanggil para jago ini kembali untuk mengecek apakah mereka mulai hidup dalam keadaan yang baik atau tidak.

 

foto diambil tahun 1870, Raden Adipati Ario Warso Koesoemo, Regent van Blitar, Mei 1869−Oktober 1894 (dokumentasi KITLV)
foto diambil tahun 1870, Raden Adipati Ario Warso Koesoemo, Regent van Blitar, Mei 1869−Oktober 1894 (dokumentasi KITLV)

 

Dalam laporan Amand terkesan bahwa ia menggambarkan Bupati Blitar yang lama ini berperilaku baik, namun tidak dengan koleganya, Agathon Courier dit Dubekart. Pria ini mengungkapkan dirinya menjadi rekan dari Multatuli dalam melawan dunia. Dubekart menentang administrasi kolonial Belanda, yang disampaikannya dalam Soerabajascche Courant tentang aspek yang kurang cantik dipermainkan oleh orang Jawa yang mengejar karir. Dalam hubungannya dengan artikel ini bupati diminta untuk dicabut kehormatannya. Akibatnya tokh karena kritik ini Dubekart dipenjara. Dubekart memang tidak benar di setiap aspeknya, kenyataannya adalah dari keseluruhan kasus ini adalah jelas bahwa penduduk lokal hidup di bawah tekanan yang kuat. Kasus di Kediri dengan jelas menunjukkan betapa sedikitnya pemerintah kolonial Jawa yang perduli dengan kasus ini, perduli terhadap nasib masyarakatnya dan betapa abainya pemerintah kolonial pula.

Tipe contoh lainnya adalah masyarakat dari sebuah desa di Blitar yang datang mengadu pada Bupati Blitar tentang perilaku kepala desa mereka. Bupati menolak keluhan mereka dan selanjutnya mencegah gerakan keluhan masyarakat ini meluas. Ketika, beberapa waktu kemudian, asisten residen, ditemani oleh Bupati, mengunjungi sebuah desa dalam rangka kunjungan inspeksi, para penduduk mencoba untuk memberikan laporan terkini terhadap keluhan pencurian ternak yang dialami mereka. Sayangnya, asisten residen tidak mengerti bahasa Jawa dan pada akhirnya keluhan para penduduk desa tetap berakhir dengan tangan hampa. [ ]

 

* Peneliti senior KITLV

** Sejarawan ahli perbanditan

25 Juni 2011

 

Etnohistori Edisional Jago, Preman & Negara

 

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

4 Tanggapan

  • Hello, guest