Home / Topik / Catatan / James Peacock dan Drama orang Jawa

James Peacock dan Drama orang Jawa

 

oleh: Hatib Abdul Kadir

 

Studi James L. Peacock mengenai bentuk drama orang Jawa; yakni Ludruk dalam “Rites of Modernization: Symbolic and Social Aspects of Indonesian Proletarian Drama membagi antara strukturalisme orang Eropa dan antropologi kultural Amerika yang berkaitan dengan efek-efek modernisasi dan negara bangsa pada sebuah komunitas skala kecil (1968). Peacock melakukan studi dengan apa yang ia sebut sebagai bentuk “drama” kaum proletar di wilayah kota pelabuhan Surabaya di Jawa Timur pada tahun 1962-1963. Ia menemukan ada sekitar 594 kelompok ludruk di Jawa Timur pada tahun 1963 dan mempunyai beragam ekspresi dramatis tentang kehidupan di Jawa dengan kesimpulan bahwa “jumlah dramatis dari aktivitas drama dan peran penting dari drama dalam menyampaikan sesuatu yang signifikan terhadap kehidupan orang Jawa”, (1968: 5). Drama ada dalam berbagai kehidupan manusia Jawa dan juga menjadi sebuah tradisi yang hidup.

 

Ludruk*
Ludruk*

 

Menariknya, Peacock mengkonseptualisasikan ludruk sebagai “ritus modernisasi” dengan mengikuti analisis strukturalis Arnold van Gennep  mengenai ritus peralihan. Hal ini kemudian berfungsi sebagai sebuah ekspresi simbolik dari sebuah transisi atau peralihan dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Namun, menurut Peacock, hal ini tidak menandai atau mendefinisikan sebuah transisi karena drama ini memainkan peranannya dalam proses modernisasi di Jawa dan membantu mereka yang berpartisipasi di dalam performansi ini baik mereka yang hanya sebagai penonton maupun aktor untuk mengapresiasi gerakan-gerakan modernitas dalam hal makna klasifikasi simbolik.

Karena itu Peacock meneliti secara detail plot ludruk, struktur-struktur dan gerak maju-nya; perbincangan-nya, musik, tarian, aksi, gesture, dan perilaku di atas panggung kostum dan pendukung tata cahaya dan reaksi audiens serta latar belakang sosio-ekonominya. Ludruk adalah jenis hiburan popular yang kasar, umum, cabul, dan vulgar di antara komunitas abangan orang Jawa, dan bukan menjadi milik orang santri maupun priyayi (cf. Geertz, 1960). Peacock mengindikasikan bahwa akar ludruk ditarik ke belakang penampilan tarian dan nyanyian orang Jawa pada awal abad sembilan belas yang mempunyai asosiasi-nya dengan agama abangan dan mempunyai karakter utamanya yakni laki-laki yang menjadi perempuan atau banci dan merupakan sebuah lawakan. Mereka semua masih menjadi figure dominan dalam ludruk modern namun penampilannya telah dielaborasikan untuk memasukkan bagian “tarian pendahuluan”, dimana seorang laki-laki atau perempuan berpakaian perempuan yang berwarna gelap yang merangsang untuk bercinta (1968: 61); ada urutannya kemudian dimana dua pelawak dengan bertipe “orang kota” terlibat dalam dialog yang diikuti dengan sebuah drama komedi kecil; kemudian seorang perempuan “jadi-jadian“ menyanyi dan menari; dan pada akhirnya ada cerita atau melodrama yang dipotong oleh para waria dan selingan lawakan (ibid: 62-64).

Para partisipan dalam ludruk adalah orang-orang miskin Jawa dan “masyarakat klas bawah” yang tinggal di wilayah kampung kota Surabaya; mereka juga mempunyai hubungan antara ludruk dan Partai Komunitas Indonesia. Peacock menemukan dua skema klasifikasi simbolik di antara para urban kelas bawah ini, dimana tatanan kultural dan kategori-kategori moral dari beragam ruang kehidupan orang Jawa: salah satunya mempunyai akar pada kosmologi kuno orang Jawa yang diasosiasikan dengan bentuk-bentuk kebudayaan tradisional seperti permainan wayang, dan ini yang kemudian membedakan antara tindakan dan pemikiran alus dan kasar; dan lainnya yang telah muncul dalam wacana poskolonial Indonesia dan perbedaan sosial politik antara sikap dan perilaku yang maju (progresif) dan kuno (konservatif).

Buku Peacock ini menghasilkan sebuah analisis struktural mengenai representasi simbolik dari para waria dan pelawak dalam hal dua poros klasifikasi utama yakni kaum waria diasosiasikan berada pada poros istilah alus dan maju, sedangkan para pelawak berada pada poros istilah kasar dan kuno. Namun demikian, kedua aktor ini secara mendalam mempunyai peran ambigu dalam hal simbolik dan terus meruntuhkan serta memediasi perbedaan-perbedaan ini.

Peacock mendeteksi dalam penampilan ludruk, khususnya dalam rangkaian melodrama, sebuah gerakan bertahap yang menjauh dari kepentingan oposisi alus-kasar dengan lebih memperhatikan pada perbedaan maju-kuno, yang pada gilirannya mendorong kecenderungan untuk menuju proses kemajuan di antara masyarakat Jawa klas bawah. Peacock menyerap dan menstimulasi studi ini untuk memperluas analisis aksi simbolik dalam arah yang menarik. Ia bukanlah seorang yang dogmatis dalam menilai hubungan antara bentik drama dan proses-proses sosial. Apa yang ia lakukan dengan menekankan bahwa peranan fungsional dari ludruk dalam membentuk proses modernisasi sangat didasarkan pada data riset lapangannya; tidak ada relasi sederhana sebab-akibat antara bentuk estetik dan aksi sosial, namun ludruk justru dalam hal ini mendemarkasi, mendefinisikan, mengkristalisasi dan mengklarifikasi modernisasi dan gerakan dari rural ke masyarakat urban dan dari sektor pertanian ke pabrik. Hal ini juga secara simbolik penuh dengan kekuatan dan makna sehingga orang Jawa yang berpartisipasi dalam kegiatan ini dapat memahami apa yang ia katakan dan potret, internalisasikan, dan idenfitikasi secara emosional di dalamnya.

Salah satu bagian yang sulit dengan analisis Peacock adalah penonton yang secara umum tidak terdiri dari mobilitas sosial yang mempunyai daya, dipandang sebagai anak muda yang maju, melainkan digambarkan kebanyakan dari generasi tua, biasanya di atas usia 30 tahun, dimana mereka mempunyai mobilitas yang lebih problematis. Karena itu ketidakpastian bagaimana pengalaman menurun melalui ludruk kemudian ditranslasikan ke dalam aksi di luar penampilan melalui proses-proses sosialisasi dan Peacock mengindikasikan beberapa dari kesulitan praktikal menyeluruh seperti luasnya jarak interaksi paska ludruk (ibid: 276-279). Kelebihannya, konteks sosial politik dimana ludruk tumbuh sumbur pada awal tahun 1960-an secara radikal mengalami transformasi pada tahun 1965 dan pengebirian terhadap Partai Komunis Indonesia. Hal ini tampak bahwa kemerdekaan dimana para aktor ludruk biasa tampilkan dalam pandangan mereka tentang karakter dan tujuan modernisasi Indonesia secara signifikan mulai dibatasi seiring dengan munculnya pemerintahan Presiden Suharto dan Orde Baru-nya pada tahun 1966. [ ]

 

14 Februari 2011

 

 * Sumber foto

 

 

 

Baca Juga

Suasana the Irish Hill Homeless Camp

Belajar Kepemimpinan dari “Kepala Suku” Kaum Homeless di Ibukota Balap Dunia

Catatan oleh: Karim * “The best way to find yourself is to lose yourself in ...

2 Tanggapan

  • Hello, guest
  • a great review Hatib, i have litle question in regards audiences/ especially if he focuses on Ludruk at those years ..what does mean: “mobilitas yang problematis?” if we look closely the degree of surveillance?