ETNOHISTORI

Jawara dan Beragam Pemberontakan di Banten (2)

oleh: Yanwar Pribadi *

 

Sekarang mari kita bahas tentang jawara. Kemunculan jawara bukanlah hasil dari tekanan akibat kemiskinan di Banten. Walaupun mereka mungkin terlibat dalam kerusuhan karena kekurangan makanan atau bahkan terlibat dalam tindakan kriminal, orang yang menghadapi kelaparan pastilah terlalu sibuk untuk bertahan hidup, daripada berusaha menggulingkan pemerintah atau menciptakan alternatif-alternatif baru dalam tatanan sosial. Kemunculan jawara sangat tepat untuk asumsi tersebut. Kelompok-kelompok jawara yang pada mulanya dianggap bandit, juga ikut menderita karena masalah kelaparan dan kesengsaraan.

Hubungan jawara dengan masyarakat desa sangat ambigu. Hal tersebut tercermin dari etimologi rakyat (yang dapat juga dianggap sebagai singkatan) dari kata: jahat, wani (berani), rampog (rampok) dan jago, wani, ramah. Sejumlah jawara memulai karirnya sebagai petani yang bolak-balik antara desa dan kota. Sementara, yang lainnya adalah orang-orang muda yang bergantung kepada kejahatan kelas teri sebagai sumber penghasilan yang mudah. Mereka mempunyai hubungan yang ambigu dengan penduduk desa, yaitu ditakuti dan dihormati. Beberapa menyebar teror di masyarakat, namun yang lain dipandang sebagai pembela hak-hak petani dalam perjuangannya melawan pemerintah kolonial dan priyayi. Karena mereka memiliki kemampuan bela diri dan karena posisinya sebagai orang yang terpinggirkan, mereka sering berada di garis depan protes petani.

Jawara Banten **

Jawara Banten **

Bagi jawara, memiliki kemampuan supernatural berarti memiliki kekuatan sosial politik. Jawara disebut-sebut memiliki kekuatan supernatural dari kiai untuk keperluan praktis. Magi dibutuhkan oleh jawara dan kiai untuk melegitimasi kepemimpinan mereka. Namun, walaupun keduanya memiliki magi, ada atribut kepemimpinan, yaitu kawalat di mana jawara menunjukkan rasa hormat kepada kiai, karena jika mereka melawan kiai, mereka akan kehilangan maginya.

Selanjutnya, bukan hanya jawara menunjukkan rasa hormat ke kiai, namun mereka juga menunjukkan kepatuhan yang luar biasa terhadap kiai. Sebagai murid kiai, jawara dipercaya kebal, bukan hanya terhadap senjata, namun terhadap kekuatan koersif pemerintah kolonial. Oleh karena itu mereka tidak disukai dan tidak dipercayai oleh pemerintah kolonial dan juga bangsawan pribumi.

Kombinasi komunis dan Islam pada pemberontakan 1926 menandai keterlibatan jawara dalam sejarah pemberontakan Banten. Namun, keterlibatan mereka dapat ditelusuri hingga pemberontakan 1888. Keterlibatan jawara dalam pemberontakan 1888 menandakan bahwa mereka diburu, dimusuhi dan dikekang oleh kekuasaan kolonial. Jawara adalah aktor di belakang perlawanan terhadap usaha-usaha Belanda mengubah pemimpin-pemimpinan lokal dan juga kepala-kepala desa dari perwakilan rakyat menjadi fungsionaris pemerintah kolonial.

Keterlibatan jawara pada pemberontakan 1926 dapat dilihat dari fakta bahwa banyak penduduk Banten yang berperan aktif dalam pemberontakan di Batavia. Mereka telah berhasil merekrut banyak jawara dan elemen-elemen jagoan ke dalam PKI. Selanjutnya, dalam tahun 1930-an ketika terjadi depresi ekonomi, perbanditan di Banten muncul kembali dan pengikutnya juga ikut meningkat. Perbanditan ini beroperasi di seluruh Banten, terutama di wilayah Serang, bahkan sampai ke Tangerang, Batavia dan Karawang.

Kelompok-kelompok jawara berperan dalam meningkatkan masalah bagi pemerintah kolonial di akhir tahun 1930-an. Namun, tidak seperti periode-periode sebelumnya ketika jawara berkoalisi secara erat dengan ulama dalam melancarkan perlawanan terhadap pemerintah kolonial, era tahun 1930-an dapat dipandang sebagai periode di mana jawara selalu dicurigai sebagai kelompok pengacau oleh ulama. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh kegagalan pemberontakan 1926 yang mengakibatkan aliansi yang longgar antara keduanya menjadi sebuah perpecahan.

Selama masa pendudukan Jepang, posisi ulama dan pangreh praja berubah secara drastis. Bagi ulama, pendudukan Jepang memberikan Islam kepentingan resmi yang telah diabaikan selama pendudukan Belanda. Namun, perbanditan jawara juga marak kembali pada zaman yang sama. Selama periode tersebut kelompok jawara di bawah pimpinan Ce Mamat menjalin kontak dengan kelompok radikal di luar Banten. Situasi kemudian bertambah buruk pada tahun 1945 ketika ada insiden di daerah Cinangka di mana wedana Anyer dibunuh oleh petani dalam sebuah kerusuhan. Sesudah kerusuhan, ulama dan jawara kembali bergabung untuk mengambil inisiatif kepemimpinan di Banten.

Target kekerasan revolusioner, seperti pemberontakan 1888 dan 1926 adalah para pejabat dan polisi. Kelompok pemberontak terdiri dari petani, sedangkan kepemimpinan dipegang oleh ulama, kaum komunis dan jawara, sama seperti pemberontakan 1926. Yang membedakan pemberontakan 1945 dengan 1888 dan 1926 adalah bahwa pada tahun 1945 tidak ada reaksi perlawanan dari pemerintah, setidaknya sampai beberapa bulan.

Latar belakang kemunculan jawara yang dapat ditelusuri hingga ke awal abad ke-19 karena adanya perubahan pola hierarki lokal yang dipicu oleh kebijakan pemerintah kolonial dapat dianggap sebagai faktor utama kemunculan jawara. Usaha-usaha pemerintah kolonial untuk menciptakan pemerintahan yang bersifat sentralistik dan mengabaikan posisi para bangsawan mungkin dapat menjelaskan kenapa banyak terjadi pemberontakan di Banten pada abad ke-19. Perlawanan-perlawanan ini adalah tahapan awal dari kemunculan jawara. Yang menarik untuk dicermati adalah walaupun jawara sering dianggap sebagai kelompok sosial negatif, keterlibatan mereka dalam gerakan-gerakan yang bersifat relijius menandai hubungan ambigu mereka dengan penduduk desa di mana mereka ditakuti sekaligus dihormati.

Pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan terhadap kekuasaan kolonial, baik bersama ulama ataupun pihak komunis atau juga petani menandakan bahwa jawara tidak sepenuhnya dapat dianggap sebagai bandit. Yang lebih penting lagi adalah bahwa jawara sebagai orang kuat di Banten juga dapat dianggap sebagai broker politik dan budaya yang memberikan peran signifikan dalam sejarah sosial Banten. [ ]

 

 

* Penulis adalah kandidat doktor sejarah modern Islam di Indonesia, Universitas Leiden.

** Sumber poster

25 Juli 2011

 

Etnohistori edisional Jago, Preman & Negara, Juni−Juli 2011

 

 

3 Tanggapan

    • Hello, guest
    • Maaf pak saya mau bertanya, dari penjelasan yang telah bapak sampaikan pada saat perkuliahan mengenai jawara, kita ketahui jawara bukan hanya terdapat di Banten saja, akan tetapi di DKI dan Jabar pun memiliki julukan yang sama. Lalu kenapa istilah Jawara lebih identik atau lebih merujuk kepada banten ya pak? Seolah-olah Jawara hanya ada di Banten saja. Mohon penjelasannya.

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org