Home / Topik / Teori & Metodologi / Kebudayaan Perspektif Grammatologi

Kebudayaan Perspektif Grammatologi

oleh: Muhammad Al-Fayyadl *

Pendahuluan

Dalam Of Grammatology, Jacques Derrida mendeskripsikan suatu mutasi kebudayaan melalui perubahan status apa yang disebut grammè. Mutasi itu menandai peralihan dan transformasi dari “Buku” ke “Tulisan”, ketika “akhir buku” (the end of book) menandai “awal tulisan” (the beginning of writing)[1], dalam suatu peralihan yang terjadi tepat di dalam “babakan logosentris” (logocentric epoch)[2] yang sebelumnya mendominasi. Pada tahun 1967, tahun terbitnya teks Of Grammatology, belum dapat diidentifikasi persis, apakah ia merupakan suatu mutasi, suatu eksplisitasi dari yang sebelumnya tersembunyi, suatu akumulasi, revolusi, ataukah suatu tradisi—karena bagi Derrida, istilah-istilah ini merupakan bagian dari sistem lama tersebut—tetapi yang jelas, ia menandai suatu pergeseran mendalam, suatu “dislokasi”, yang menandai krisis sistem pengetahuan lama dan merupakan momen embrionik bagi lahirnya suatu “sains” baru: grammatologi.

Sains (meski saat itu belum menemukan “kesatuan proyek atau objeknya”, serta belum dapat diidentifikasi batas-batas maupun metodologinya) dipandang oleh Derrida merupakan bagian dari dunia dan kebudayaan masa depan, yang akan menembus sekat-sekat lama pengetahuan (closure of knowledge), dan membuka ranah-ranah pengetahuan baru, melalui perubahan mendasar sistem yang menjadi pilar pengetahuan itu sendiri, yaitu “sistem tulisan” (system of writing). “Grammatologi” adalah sains masa depan bagi sistem baru tersebut.

Problemnya, karena “masa depan hanya dapat diantisipasi di dalam bentuk bahaya yang absolut” (absolute danger),[3] maka grammatologi eksis di dalam kebudayaan di masa mendatang sebagai suatu sains yang relevan, hanya apabila ia dapat mempertanyakan ulang dan merekonfigurasi kondisi-kondisi struktural pengetahuan yang dibangun dari konvensi dalam tiga hal: tanda (sign), kata (word), dan tulisan (writing).[4] Dengan kata lain, masa depan merupakan suatu masa di mana ketiga hal tersebut mengalami perubahan, devaluasi, dan transvaluasi, sehingga menentukan bentuk ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang lahir.

Dengan demikian, terdapat dimensi “futuristik” dari grammatologi, dan Derrida menyebut salah satu wujudnya dalam bentuk pertemuan (potensial dan futural) antara ilmu-ilmu sosial dan sibernetika.[5] Namun, dimensi “futuristik” ini jarang mendapat elaborasi yang memadai, karena para pembaca dan pengkaji Derrida kemudian lebih tertarik dengan “dekonstruksi” daripada “grammatologi”, yaitu dekonstruksi sebagai “metode literer” (sebagaimana dalam Mazhab Yale), daripada “grammatologi” sebagai ranah ilmiah dari mana metode itu sendiri diderivasikan. Menggali kembali grammatologi, dengan demikian, mensyaratkan pelampauan atas dekonstruksi.[6]

 

Jika dekonstruksi merupakan suatu operasi, maka grammatologi merupakan ranah di mana operasi itu diproses dan mungkin untuk dipikirkan. Oleh karena itu, objek grammatologi lebih luas daripada objek dekonstruksi. Jika objek dari operasi dekonstruksi adalah satuan tanda, konsep, atau kata, objek grammatologi adalah “totalitas” kebudayaan yang mewadahi berbagai aktivitas penandaan tersebut. Dalam hal ini, grammatologi menuntut untuk dipikirkan sebagai suatu sains sebelum sains, suatu meta-teori kebudayaan, suatu ilmu di mana ilmu kebudayaan dan fenomena-fenomena kebudayaan menemukan pendasarannya. Namun demikian, bagaimana problem kebudayaan ini ditempatkan oleh grammatologi? Dengan cara apa grammatologi memikirkan kebudayaan dan mengeksplisitkan perubahannya? Artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui elaborasi atas (a) grammatologi sebagai metateori tentang kebudayaan, dan (b) tempat kebudayaan dalam grammatologi.

 

Konteks Grammatologi

Impian Derrida dengan grammatologi adalah menemukan suatu “tata bahasa” (gramatika) dari ilmu-ilmu yang ada, baik sosial maupun natural, ilmu-ilmu kemanusiaan maupun kealaman, baik ilmu-ilmu teologis-metafisik maupun non-teologis. Impian ini mirip seperti impian G.W. Leibniz yang ingin menemukan “bahasa universal” dari seluruh pengetahuan di dalam kalkulus, atau René Descartes yang ingin memberi pendasaran bagi matematika sebagai induk bagi ilmu-ilmu di dalam mathesis universalis. Akan tetapi, agar tidak mengulang sifat universalis dari proyek-proyek tersebut, yang merupakan cerminan rasionalitas Barat (baca: Eropa), “tata bahasa” ini mesti merupakan suatu hal yang mampu memberi pendasaran bagi klaim universalitas dari rasionalitas dan merupakan fungsi yang dengannya rasionalitas tersebut dapat dipikirkan ulang, dipertanyakan, dan diuji (mise en jeu). Untuk itu, “tata bahasa” mesti terdiri dari suatu elemen yang bukan termasuk ke dalam struktur dari ilmu-ilmu, melainkan merupakan elemen pemungkin dari ilmu-ilmu itu. Elemen itu adalah gramme (gram) atau grapheme (grafem). “Grammatologi” adalah ilmu tentang gramme.

 

Gramme secara leksikal berarti suatu “elemen yang tidak dapat direduksi, yang mendahului seluruh sistem dan mendahului seluruh oposisi dalam tipe oposisi antara manusiawi/non-manusiawi”.[7] Secara harfiah, grammatologi adalah sains tentang “tulisan” (science of writing, science de l’écriture), suatu logos tentang gramme, yakni sains yang mempelajari evolusi dan transformasi sistem tulisan dalam sejarah dan kebudayaan manusia, dengan demikian sejarah pengetahuan. Grammatologi adalah suatu disiplin atau ranah saintifik yang mempelajari, mendokumentasikan, dan menganalisis berbagai ekspresi dan manifestasi tulisan/penulisan dalam kehidupan manusia yang pernah ada, tercatat, hilang, atau terlupakan. Kelahiran ilmu ini dengan sendirinya berhubungan fakta keragaman bahasa, yang terilustrasikan dengan baik dalam legenda runtuhnya Menara Babel.

Para grammatolog (grammatologist) secara definisi adalah para sejarawan, epigrafer, dan arkeolog,[8] yaitu mereka yang tertarik dengan fenomena tulisan, entah sebagai fakta sejarah atau bukti arkeologis, termasuk di dalamnya paleografer. Epigrafi—untuk menyebut salah satunya—adalah suatu ilmu “tentang (epi) tulisan (graphē)”, dengan demikian suatu grammatologi. Sejarah dan arkeologi merupakan grammatologi, sejauh keduanya berurusan dengan sejarah tulisan (history of writing) dan arkeologi tulisan (archaeology of writing), atau menjadikan tulisan sebagai satu-satunya sumber ilmiah.

Namun demikian, untuk menunjukkan kebaruan grammatologi, Derrida harus menunjukkan pada titik mana grammatologi mengalami patahan epistemologis dan memasuki suatu fase baru. Terdapat dua periode formasi grammatologi:

(1) Pada abad ke-18, dengan peranan Fréret dan Warburton dalam studi mereka mengenai tulisan China dan Mesir, dan disempurnakan oleh Abbé Barthélemy dan Champollion dengan pengembangkan teknik penguraian sandi (deciphering). Pada fase ini, problem epistemologis yang dihadapi oleh grammatologi adalah dua “prasangka”: prasangka teologis (theology of writing) dan “prasangka Hieroglifis”; yang pertama, “mitos tentang tulisan alamiah dan primitif yang diberikan oleh Tuhan”[9], yang kedua, mitos tentang Hieroglif sebagai suatu bentuk tulisan mistik atau sublim.[10] Pada fase ini, dengan memecahkan kedua prasangka itu, grammatologi tampil sebagai suatu bidang teoretis independen yang mulai mampu melepaskan diri dari pengaruh religio-mitologisnya. Dengan kata lain, grammatologi menjadi sains, di mana tulisan menjadi proper object-nya. Jasa utama para grammatolog pada fase ini adalah memungkinkan hubungan antara tulisan dan wicara (speech), antara kata yang tertera dan yang terucap, dipikirkan.

(2) Pada abad ke-19 dan abad ke-20, di dalam sastra modern, melalui puisi grafis Stéphane Mallarmé, “puisi konkret”, dan puitika Ezra Pound-Ernst Fenellossa. Karya-karya puitis-literer mereka menunjukkan “batas-batas struktur logiko-gramatikal dari model Barat”[11] dan pelampauannya oleh suatu model yang asing dan eksternal terhadap kebudayaan Barat, yaitu model oriental (Mesir dan China). Kedua periode formatif grammatologi itu dipertemukan oleh Hieroglif, dengan kata lain oleh suatu model non-fonetik yang berbeda dari model fonetik aksara Yunani (Greek alphabet), yang menjadi dasar dari struktur logiko-gramatikal dari kebudayaan Barat.

Kedua periode itu, bagi Derrida, telah membuka suatu ranah ilmiah bagi grammatologi dan memungkinkan lahirnya status keilmiahan (scientificity) grammatologi sebagai suatu bidang tersendiri, yang sebelumnya berada di bawah bayang-bayang teologi, mistisisme, atau mitologi. Namun kedua periode itu tetap menyisakan suatu permasalahan yang menjadi tantangan bagi era “kontemporer” grammatologi, yaitu tantangan “metafisik”. Tantangan tersebut adalah subordinasi atau masih tersubordinasikannya tulisan ke dalam suatu oposisi hierarkis antara wicara (speech) dan tulisan, antara kehadiran diri yang ideal dari subjek penutur dan realitas material tulisan yang sekunder terhadap kehadiran tersebut. Dan tantangan itu datang dari sains kontemporer tentang bahasa, dan dengan demikian, sains tentang fenomena yang dianggap meliputi tulisan sebagai salah satu objek kajiannya, yaitu linguistik.

Berbeda dari grammatologi, linguistik lahir dari fonologi, yaitu ilmu tentang bunyi dan suara, dan dengan demikian merupakan pewaris sah dari model logika dan grammatikal Yunani yang berpijak pada tulisan fonetik. Pendasaran atas fonologi dilakukan, karena, sebagaimana dinyatakan Saussure, fakta-fakta bahasa yang tertulis (writing) cenderung tidak pasti, berubah-ubah, dan belum tentu mencerminkan keaslian bahasa sebagaimana dalam komunitas penuturnya. Karena itu, linguistik harus secara sistematis mengkaji fonem, satuan terkecil dari bunyi/suara, untuk membangun suatu dasar fonologis yang kokoh.

Derrida menangkap kontradiksi yang inheren di dalam proyek ini. Linguistik menempatkan diri sebagai sains tentang bahasa, tetapi mendasarkan diri kepada sesuatu yang pada gilirannya suprabahasa, yaitu bunyi/suara sebagai cerminan idealitas psikologis-mental dan spiritual penutur. Hal ini menjadikan linguistik belum sepenuhnya mampu menghadirkan bahasa dalam materialitasnya yang utuh, kecuali sebagai sesuatu yang sekunder terhadap idealitas suara/bunyi penutur yang asali. Kita dapat melihat dari perhatian linguistik pada pendasaran bahasa kepada makna (glossa) (misalnya dalam Hjemslev dengan glosematikanya) dan fungsi penandaan bahasa akan aspek mental dan idealnya, yaitu signified. Impian linguistik untuk memberi jalan bagi lahirnya “Semiologi”, yaitu ilmu tentang tanda. Linguistik menjadi Semiologi, sejauh Semiologi ini merupakan ilmu tentang tanda yang abstrak, yang didasarkan pada suara/bunyi dan fungsi penandaan yang ideal, tanpa merujuk dan mendasarkan diri kepada materialitas tulisan atau fakta yang tertulis.

Oleh karena itu, sebagai tanggapan atas linguistik, grammatologi harus (1) mengangkat tulisan yang tidak mendapat tempat primer dalam linguistik dan melakukan pendasaran bahasa bukan kepada bunyi/aksara, melainkan kepada tulisan, dengan demikian membuka bahasa kepada sumbernya yang beragam, heterogen, tidak pasti, dan berubah-ubah itu agar bahasa terbebas dari fonologi dan menemukan kedinamisannya; dan berikutnya, grammatologi harus (2) mampu menunjukkan bahwa gramme-lah, dan bukan bunyi/suara, yang merupakan kondisi pemungkin dari bahasa dan seluruh fenomena linguistik, dan dengan demikian, kondisi pemungkin bagi kebudayaan.

 

 

“Kebudayaan” dalam Analisis Of Grammatology:

Pendekatan Grammatologi atas Kebudayaan

Teks Of Grammatology tidak menyediakan suatu teori yang telah jadi (ready-made) tentang kebudayaan, teks itu juga bukan merupakan kajian khusus tentang kebudayaan. Secara spesifik, teks tersebut mengangkat grammatologi sebagai pusat perhatiannya, sejauh grammatologi merupakan suatu teori tentang tulisan. Derrida belum mengembangkan analisisnya menjadi suatu teori kebudayaan tersendiri. Oleh karena itu, para grammatolog pasca-Derrida-lah yang mengembangkannya, seperti dilakukan oleh Gregory Ulmer dengan “grammatologi terapan”-nya dengan menjadikan grammatologi suatu manual praktik bagi pengajaran dan kreasi estetik (teater dan sinema).

Akan tetapi, kebudayaan hadir dalam sejumlah motif yang tersebar di dalam Of Grammatology entah sebagai suatu hal yang tersirat (implied) dari kritiknya terhadap pandangan pengarang tertentu mengenai tulisan (Lévi-Strauss, Rousseau), di mana kebudayaan hadir sebagai situs beroperasinya sistem tulisan tertentu (kebudayaan India Nambikwara pada Lévi-Strauss, masyarakat Savoyard pada Rousseau…) atau hadir dalam personifikasi etnis tertentu (orang Turki versus orang Prancis,[12] orang-orang Italia dan Barbar pada Rousseau). Pada titik ini, kebudayaan hadir sebagai suatu entitas etnografis atau representasional tertentu di mana suatu sistem tulisan berlaku.

Di sisi lain, kebudayaan tampil di dalam Of Grammatology dalam wujud kajian kebudayaan (study of culture), sebagai salah satu disiplin dari ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan. Melalui pembacaannya terhadap Rousseau dan Lévi-Strauss, Derrida memunculkan pertanyaan mengenai status genetik ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan, seperti antropologi, ilmu bahasa, musik, pedagogi, geografi, bahkan botani. Bagaimana ilmu-ilmu itu muncul? Apakah ilmu-ilmu itu muncul karena hubungan tertentu dengan rasionalitas tertentu (Barat)? Antropologi merupakan contoh par excellence dari problem genetik yang sejak awal menstruktur ilmu-ilmu kemanusiaan, karena ilmu antropologi lahir dengan medium tulisan yang justru asing terhadap masyarakat primitif di mana antropolog melakukan kajiannya. Dengan kata lain, antropologi hanya dapat mungkin lahir dari “Occidental intrusion[13] dan rasa bersalah atas hilangnya kemurnian dan “keluguan” (innocence) masyarakat.

Hal ini terkait dengan motif ketiga dari kebudayaan di dalam Of Grammatology: Kebudayaan sebagai sesuatu yang diperlawankan/dioposisikan secara diameteral dengan Alam (Nature/Culture). Jika kebudayaan itu mungkin, hal itu karena ia muncul sebagai oposisi laten terhadap Alam: Kebudayaan bukan Alam dan Alam bukan Kebudayaan. Kebudayaan menjadi mungkin karena “skandal” yang dihadirkan manusia kepada Alam, namun membedakannya dari Alam—“skandal” itu adalah ditemukannya tulisan.[14] Pada motif ini tulisan muncul sebagai suatu entitas yang mengganggu, suatu entitas yang membentuk Kebudayaan tetapi bertentangan dengan Alam (Lévi-Strauss), tetapi di sisi lain, juga dianggap “karunia” Alam (natural writing) dan menyiapkan lahirnya peralihan (passage) dari Alam ke Kebudayaan (Rousseau).[15]

Dalam ketiga motif di atas, tulisan hadir sebagai (1) entitas yang inheren (dengan demikian, internal) terhadap kebudayaan, dan karena itu sebagai konsekuensinya: untuk memahami perubahan di dalam suatu kebudayaan, kita perlu memahami perubahan pada sistem tulisannya (tetapi pertanyaannya, dengan cara apa? Dan sistem tulisan seperti apa? dst,); 2) kondisi pemungkin bagi studi kebudayaan dan bahkan ilmu-ilmu kemanusiaan, dan karenanya, untuk memahami perubahan pada studi kebudayaan dan ilmu-ilmu kemanusiaan, penting untuk memahami perubahan pada sistem tulisan yang menjadi gramatika studi tersebut; serta (3) suatu entitas abstrak yang memediasi antara Alam dan Kebudayaan dan menjadi kondisi pemungkin bagi Kebudayaan itu sendiri dalam arti luas, dan karena itu, memikirkan hubungan antara Kebudayaan dan Alam, juga hubungan antara oposisi-oposisi abstrak dan metafisik lainnya, mensyaratkan pemikiran mengenai tulisan sebagai sesuatu yang mendahului dan konstitutif terhadap hubungan/oposisi tersebut.

Untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut, dan sebagai tugas masa depan di mana grammatologi akan menjadi barometer bagi perubahan kultural yang tidak dapat ditebak dan kontingen, grammatologi harus melakukan suatu prosedur konversi dari metode tradisionalnya yang hanya mempelajari sistem tulisan untuk dijadikan arsip atau dokumentasi bagi sejarah, ke suatu pendekatan yang (1) mereduksi kebudayaan kepada modus-modus pengetahuannya, dan (2) mereduksi modus-modus pengetahuan itu ke dalam suatu modus tulisan tertentu. Memahami—dan mengalami—kebudayaan, dari sudut pandang grammatologi, adalah memahami (dan mengalami) keterlibatannya dengan modus tulisan. Subjek kebudayaan hari ini, baik dari anasir manusiawi (human) maupun non-manusiawi (non-human), adalah ia yang mempraktikkan dan mentransmisikan suatu modus tulisan tertentu, di dalam suatu sistem modus tulisan yang diperluas.

Dalam hal ini, posisi Derrida dekat dengan posisi Jean-François Lyotard, yang menilai perubahan struktural suatu ranah umum yang disebut “kondisi” (la condition)—Lyotard mengidentifikasinya dengan perubahan, peralihan, dan transisi dramatis dari kondisi “modern” ke “kondisi pascamodern”— menurut perubahan sistem informasi yang menjadi aturan main, mengatur, dan memfasilitasi produksi pengetahuan di dalam masyarakat terinformasionalisasi kontemporer.[16] Lyotard menyebut sistem-sistem informasi itu sebagai “bahasa-bahasa” yang bekerja dengan “logika tertentu, [yaitu] sehimpunan preskripsi yang melekat pada tuturan-tuturan (enoncés)”,[17] sementara Derrida cenderung menyebut tulisan sebagai pra-kondisi yang justru memungkinkan bahasa-bahasa itu muncul. Dengan kata lain, berbagai bahasa (manusia, komputer, mesin, dst.) muncul karena mutasi pada modus tulisan tertentu, di mana keragamannya merupakan hasil dari pembedaan (différance) pada hubungan dan oposisi tertentu antara Manusia dan Mesin. Itulah gramme. Kita bisa mengembangkan dan memperpanjang hubungan-hubungan dan oposisi-oposisi lain dengan menemukan suatu gramme yang memungkinkan pembedaan antara Mesin Pasif dan Mesin Aktif [realitas robotik], antara Manusia Real dan Manusia Virtual [avatar], dan seterusnya, dan dengan memahami ‘inskripsi genetik’[18] pada entitas-entitas atau makhluk-makhluk tersebut.

 

Gramme dan Status Kebudayaan

Suatu hal yang simplistik menyatakan bahwa kebudayaan hari ini merupakan kebudayaan-kebudayaan yang dibangun sepenuhnya di atas tanda-tanda, sebagaimana klaim para ahli Semiotika dan sebagian postmodernis (di mana sebagai konsekuensinya, manusia, human subject, telah mati), dengan demikian kebudayaan itu sendiri secara given merupakan sesuatu yang semiotis, atau “tekstual”. Grammatologi berjarak dengan anggapan tersebut. Grammatologi justru menunjukkan bahwa walaupun kebudayaan mengalami “semiotisasi” atau “tekstualisasi” seiring ditemukannya sistem tulisan baru atau sistem grafis yang semakin beragam dan kompleks), kebudayaan sendiri merupakan medan di mana terjadi hubungan yang dinamis antara wicara dan tulisan. Namun, yang terjadi saat ini, dengan goyahnya fondasi dan prinsip-prinsip logosentris yang memperlakukan wicara (kehadiran-diri, kata-kata, “sabda”, suara yang menginkarnasikan prinsip kebenaran) sebagai satu-satunya sumber otoritas kebenaran, terjadi suatu “reduksi yang masif terhadap wicara” (massive reduction of speech) yang diakibatkan oleh terdevaluasinya wicara.[19] Hal itu terjadi bersamaan dengan semakin jamaknya modus-modus pengetahuan tertulis dan sistem-sistem tulisan.

Baik dalam hubungannya dengan tempat (lokal, translokal, “nasional”, “global”…) maupun dengan waktu (sinkronik, diakronik, anakronis, historis, utopis, atopis…), modus tulisan yang ditandai oleh grammatologi sebagai ciri dari kebudayaan hari ini memungkinkan kehadiran dan ketidakhadiran subjek kebudayaan dimaknai secara berbeda, tanpa mengikuti garis linear dari model kehadiran yang tradisional. Suatu modus tulisan yang bernama tele-komunikasi, misalnya, memungkinkan kehadiran dialami secara berbeda, dengan meringkas jarak-pandang visual dan memperpanjang durasi pengalaman dalam suatu modus pengulangan (iterability) tertentu atas kehadiran subjek tersebut (play, replay, display).[20] Penemuan gramme, dan pengembangannya, menandai perubahan dan mutasi di dalam status subjek di dalam kebudayaan kontemporer.

Di sisi lain, studi kebudayaan sedang dan akan mengalami perubahan dengan tidak lagi dibatasinya sistem tulisan atau presentasi grafis pada tulisan alfabetis dan tulisan fonetis, melainkan juga tulisan piktografis, ideografis, image-writing, fotografis, dan seterusnya, yang secara simplistik sering kita sebut sebagai “multimedia” (ketika yang terjadi sebenarnya adalah multiplisitas modus presentasi grafis, produk dari multiplisitas sistem tulisan). Proliferasi modus tulisan yang dihadirkan kebudayaan kontemporer terhadap studi kebudayaan akan menuntut pemaknaan ulang atas jarak kultural yang menjadi dasar bagi studi kebudayaan, sebagai contoh: antropologi. Presentasi dan representasi atas suatu entitas kebudayaan yang diteliti, misalnya, di dalam kondisi tersebut, tidak akan lagi tunduk pada model narasi etnografis yang konvensional, melainkan mendorong suatu pelibatan terhadap entitas tersebut, di dalam suatu bentuk hubungan yang interaktif. Seni sedang dan akan menjadi ranah eksperimentasi yang intensif bagi proliferasi modus tulisan tersebut, yang mengkonfigurasi ulang hubungan antara tubuh, wicara, dan tulisan.

Pemikiran ulang terhadap oposisi Alam/Kebudayaan akan menjadi suatu tantangan bagi grammatologi, karena oposisi tersebut tidak hanya mengimplikasikan suatu dampak moral-aksiologis berupa tercerainya Masyarakat dari Alam, Peradaban dari Alam, atau Sosiologi dari Ekologi, tetapi juga menghadirkan problem ontologis terhadap status Kebudayaan itu sendiri: apa status Kebudayaan dalam hubungannya dengan Alam? Of Grammatology menganalisis status relasi tersebut dan mendeskripsikannya sebagai status suplementer: Kebudayaan merupakan suplemen terhadap Alam, suatu suplemen berbahaya,[21] dalam kata-kata Rousseau, karena menodai keluhuran, kesucian, dan keluguan Alam. Paradigma naturalistik-primitif ini tidak dapat dipertahankan, karena alasan sederhana: Alam tidak akan kembali utuh setelah tumbuhnya Peradaban. Jika gramme merupakan pra-kondisi bagi pembedaan antara Alam dan Kebudayaan secara kategoris, bukankah pembalikan relasi oposisi itu oleh grammatologi akan menempatkan Alam justru sebagai suplemen bagi Kebudayaan? Sebagai suplemen bagi Kebudayaan, maka Alam akan selalu tampil sebagai Yang Lain yang baru, yang tanpa memahami “perilaku”-nya kebudayaan tidak dapat terpahami.

Hal ini mempertemukan grammatologi dengan beberapa tendensi dari antropologi mutakhir, misalnya pemikiran tentang yang-hibrid atau kuasi-objek dalam pemikiran antropologi Bruno Latour, yang menandai suatu hubungan baru pasca-“Pembagian Besar” (Le Grand Partage) Alam versus Kebudayaan.[22] Grammatologi menyiapkan suatu ranah baru di mana hubungan Kebudayaan dan Alam tidak lagi berupa suatu oposisi klasik, bukan pula suatu kesatuan naturalistik, tetapi suatu hubungan suplementer baru yang mungkin memberi jalan bagi suatu konsepsi kebudayaan yang ekologis, persis karena ia adalah suatu konsepsi yang non-antroposentris. [ ]

29 April 2015

 
* Menyelesaikan studi Masternya di bidang filsafat kontemporer di Université Paris-VIII, saat ini mengasistensi matakuliah “Sastra Perbandingan” di Prodi Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Budaya UGM. Tulisannya yang telah terbit: Derrida (2005) dan, yang terbaru, sebuah artikel tentang Jean-François Lyotard di jurnal CuadrantePhi, Universidad Xavierana, Bogota, Colombia (2014). Makalah ini sebelumnya disajikan pada FIB Weekly Forum, 16 April 2015.
 


Footnotes:

[1] Jacques Derrida, Of Grammatology, terj. Gayatri Chakravorty Spivak (Baltimore: The John Hopkins University, 1982), h. 6 (Selanjutnya disingkat OG);
......bdk. De la grammatologie (Paris: Minuit, 1967).
[2] OG, h. 4.
[3] OG, h. 5.
[4] Ibid.
[5] OG, h. 10.
[6] Greogory L. Ulmer, Applied Grammatology: Post(e)-Pedagogy from Jacques Derrida to Josephy Beuys (Baltimore, The John Hopkins University, 1985), h. 3.
[7] DERRIDEX, www.idixa.net/Pixa/pagixa-0509201221.html
[8] OG, 28.
[9] OG, h. 75-76.
[10] OG, h. 80.
[11] Ulmer, Applied Grammatology, h. 7.
[12] OG, h. 236.
[13] OG, h. 112.
[14] OG, h. 104.
[15] OG, h. 106.
[16] Jean-François Lyotard, La Condition postmoderne. Rapport sur le savoir (Paris: Minuit, 1979), h. 13.
[17] Ibid.
[18] OG, h. 84.
[19] Contoh dari disiplin baru “antropologi suara” (anthropology of sound) yang termasuk di dalam Studi-studi Suara (Sound Studies), tidak didasarkan lagi
........pada fonologi melainkan pada suatu jenis elaborasi ilmiah bertipe grammatologis di mana fonem, unsur representatif dari wicara, diperlakukan sebagai
........suatu modus tulisan tertentu.
[20] Bdk. Derrida, “Signature Event Context”, dalam Margins of Philosophy, terj. Alan Bass (Chicago: The University of Chicago, 1982), h. 315.
[21] OG, h. 141.
[22] Bruno Latour, Nous n’avons jamais été modernes: Essai d’anthropologie symétrique (Paris: La Découverte, 1997), h. 78.

 T E O R I & M E T O D O L O G I

Baca Juga

Panjar

Isu dan Pemikiran Kontemporer dalam Antropologi Ekonomi (2)

oleh: Hatib Abdul Kadir * [[ Lanjutan Bagian 1 ]] Berbagai studi antropologi ekonomi yang ...

Tanggapan

  • Hello, guest