Home / Kegiatan / Diskusi Buku “Anak-anak Tim-Tim di Indonesia: Sebuah Cermin Masa Kelam”

Diskusi Buku “Anak-anak Tim-Tim di Indonesia: Sebuah Cermin Masa Kelam”

 

Diskusi bulanan kerjasama Etnohistori dan Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM kembali digelar.

Kali ini akan mendiskusikan buku “Anak-anak Tim-Tim di Indonesia: Sebuah Cermin Masa Kelam”
Penulis: Helene van Klinken 
Penerjemah: Nugraha Katjasungkana 
Penyunting: Christina M. Udiani 

Akan diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal: Rabu, 22 April 2015
Waktu: Pukul 14.00–16.00 WIB. 
Tempat: Ruang Gong PKKH UGM, Bulaksumur, Yogyakarta

 

Pemantik diskusi: 
Victor da Costa (Asia Justice and Right, perwakilan Jakarta)
Ahmad Nashih Luthfi (Etnohistori, Yogyakarta)

Moderator: 
Adhi Pandoyo (Mahasiswa Sejarah UGM)

 

 

Deskripsi Buku
Diterjemahkan dari edisi bahasa Inggris berjudul Making Them Indonesian: Child Transfer out of East Timor. Diterbitkan pertama kali oleh Monash University Publishing, 2012 di Victoria, Australia. Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Januari 2014. Penerbitan didukung oleh ELSAM (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat) dan Umverteilen. 

Buku ini berkisah tentang pemindahan anak-anak Timor Timur (kini, Timor Leste) berusia di bawah lima hingga belasan tahun ke Indonesia dengan sejumlah metode pemindahan dan motifnya. Pemindahan terjadi pada akhir dasawarsa 1970-an hingga pasca Referendum/Kemerdekaan. Perkiraan kasar penulis, ada 4.000-an anak yang dibawa dalam rentang waktu itu. Sekitar 2.000 anak dibawa oleh tentara pada akhir 1970-an dan awal dasawarsa 1980-an; sekitar 1.000 dipindahkan oleh lembaga-lembaga keagamaan; dan sekitar 1.000 sengaja dipisahkan segera sebelum dan sesudah Referendum 1999. 

Anak-anak terpisah dari orang tuanya akibat penyerangan tentara Indonesia di kampung-kampung yang dianggap sebagai basis pemberontakan, mendesak orang Timor Timur keluar dari tempat-tempat persembunyian mereka di gunung-gunung dan memasuki kontrol Indonesia. Pemindahan motif lain mempertunjukkan ‘kemurah-hatian’ Indonesia kepada mereka yang menerima integrasi, tetapi sekaligus melayani tujuan propaganda Indonesia yang menunjukkan bahwa rakyat Timor Timur menginginkan integrasi dan membenarkan keterlibatan militer Indonesia demi orang-orang yang menderita dalam perjuangan ini. Anak-anak didik menjadi generasi baru sekaligus simbol pengintegrasian warga muda (masa depan Timor) ke dalam Indonesia: menjadi ‘anak-anak Indonesia’. 

Orang-orang Indonesia yang memindahkan anak-anak ke Indonesia menganggap niat mereka itu baik, tetapi tidak semata-mata digerakkan oleh keprihatinan perikemanusiaan. Ketika konteks sejarah dan politik berubah, maka begitu pula sifat dari pemindahan anak-anak dan motivasi yang mendorongnya. Pencaplokan Timor Leste oleh Indonesia berlanjut dalam upaya bagaimana mempertahankan hegemoni kolonial. Di luar itu terdapat kepentingan diri-sendiri oleh orang Indonesia yang pernah ditugaskan di Timor sebagai tentara, pegawai, pendidik, pemuka agama, dll. 

Diskusi buku ini bertujuan untuk membaca kembali bagaimana komitmen negara dalam pemenuhan hak anak termasuk hak anak untuk dipersatukan kembali pada keluarganya. Dalam kondisi dan situasi seperti apapun, kebersamaan anak-anak dengan orangtua dan keluarganya adalah hak asasi mereka. Berbagai pertimbangan politis dan kemanusiaan, sebagaimana digambarkan buku ini, dalam kenyataannya dijadikan alasan untuk mencerabut anak-anak dari akar kebudayaannya. Lemahnya komitmen negara dalam pemenuhan hak dasar itu mendorong berbagai organisasi non-pemerintah untuk berperan aktif dalam upaya mencari dan mempertemukan kembali anak-anak kepada keluarganya. 

Secara historiografis, buku yang diangkat dari disertasi sejarah di Universitas Queensland, Brisbane, Australia, ini sangat penting dalam mengungkap narasi pemindahan anak-anak yang belum banyak diketahui oleh publik Indonesia maupun Timor Leste. Dengan menggunakan metode sejarah lisan, mewawancarai 90 lebih sumber lisan, penulis merekonstruksi sejarah sosial pemindahan anak-anak akibat perang. Konflik hingga peperangan, tidak semata-mata membuat jatuh korban harta dan jiwa, namun lebih-lebih menggunakan mereka, utamanya perempuan dan anak-anak, sebagai alat untuk menaklukkan dan menguasai lawan, sekaligus bentuk kekerasan kemanusiaan oleh penguasa terhadap kedua kelompok tersebut. Sejarah sosial anak-anak masih minim mendapat perhatian dalam penulisan sejarah Indonesia. 

Membuka acara diskusi ini, akan diputarkan juga trailer film “Long Journey Home – The Stolen Children”. 
Tautan: https://www.youtube.com/watch?v=c41xAhnhSZ0

Khusus acara diskusi buku “Anak-anak Tim-Tim di Indonesia: Sebuah Cermin Masa Kelam” ini, merupakan buah kerjasama Etnohistori, PKKH UGM, dan Asia Justice and Right/AJAR Jakarta.

 

Tanggapan

  • Hello, guest