Home / Kegiatan / Peluncuran & Diskusi Buku: Perbudakan Seksual. Perbandingan antara Masa Fasisme Jepang & Neofasisme Orde Baru

Peluncuran & Diskusi Buku: Perbudakan Seksual. Perbandingan antara Masa Fasisme Jepang & Neofasisme Orde Baru

 

Mengungkap Perbudakan Seksual, Mengungkap Sejarah Kelam Bangsa 

Sejarah mengenai kekerasan acapakali dipandang sebagai sejarah yang tidak harus dikedepankan dalam narasi historiografi utama kita. Hal ini dikarenakan cara pandang para sejarawan maupun para penelti sejarah yang menganggap bahwa segala sesuatu yang buruk, jelek tidak menjadi bagian sejarah (Purwanto; 2007). Selain itu, sulitnya para korban dalam menceritakan pengalaman traumatis mereka merupakan satu kendala utama yang ditemui. Narasi mengenai perbudakan seksual adalah salah satu dari narasi-narasi kekerasan di masa lalu yang jarang hadir dalam historiografi apalagi menjadi ingatan dalam memori kolektif bangsa. 

Di Indonesia, perbudakan seksual pernah terjadi di dua periode masa transisi politik, yakni pada masa fasisme Jepang dan neo-fasisme Orde Baru. Pada masa Jepang, perbudakan seksual yang menimpa para perempuan warga negara digiring ke dalam satu sistem perbudakan seksual, ianjo-ianjo, yang sangat massif yang disponsori oleh negara. Ratusan ribu perempuan, melalui tubuh-tubuh mereka yang dipaksa, mejadi “komoditas” untuk memenuhi kebutuhan “logistik” perang. Para perempuan yang dipaksa secara seksual ini kemudian dikenal dengan Jugun ianfu.

Tak banyak yang tahu—bahkan lebih banyak yang mengingkari—bahwa perbudakan seksual terjadi pula pada masa Orde Baru. Para perempuan yang dipaksa menjadi budak seks adalah para perempuan (yang dipaksa menjadi) tapol 65. Perbudakan seksual yang dialami para perempuan yang dituduh sebagai “musuh negara” ini, berlangsung semenjak peristiwa G 30 S, bahkan hingga selama Orde Baru berlangsung, sebagai bagian dari usaha pelanggengan kekuasaan Orde Baru. 

Politik seksual atas tubuh perempuan merupakan kata kunci dalam memahami satu upaya sistematis yang dilancarkan oleh negara dalam menaklukan warga negaranya. Politik seksual semacam ini, yang terwujud dalam sistem perbudakan seksual, bagi sebuah kekuasaan yang berideologikan fasisme menjadi alat yang ampuh dalam menjalankan kekuasaannya. Hal ini terungkap dalam kajian buku Perbudakan Seksual perbandingan antara masa fasisme Jepang dan neofasisme Orde Baru karya Anna Mariana. 

Kajian mengenai trauma, luka, perang yang kerapkali lebih banyak menimpa kaum perempuan sudah selayaknya lebih banyak diungkapkan dalam narasi sejarah. Mengingat banyaknya persoalan-persoalan pelanggaran HAM—terutama yang terkait dengan perempuan— di negeri ini yang tidak terselesaikan. Untuk itu salah satu cara agar dalam sebuah kajian tentang penegasan sejarah trauma—termasuk persoalan perbudakan seksual, agar dapat hadir sebagai kajian yang lebih komprehensif—maka perlu dibangun satu pendekatan yang multi-perspektif. Hal ini dapat diasah melalui serangkaian kegiatan-kegiatan ilmiah, salah satunya melalui diskusi buku ini. 

Diskusi ini mencoba untuk menjawab mengapa perbudakan seksual terjadi pada masa fasisme Jepang dan pada masa neo-fasisme Orde Baru? Dalam situasi sosio-politik kultural macam apakah perbudakan seksual ini berlangsung? Bagaimanakah pola-pola perbudakan seksual, perbedaan hingga persamaan perbudakan seksual dalam dua masa fasisme ini berlangsung? 

Sejarah erat kaitannya dengan upaya penggalian atas identitas masa lalu baik sesuatu yang dianggap baik maupun yang buruk. Mengungkap hal-hal yang buruk bukanlah pekerjaan yang tidak berguna, karena tafsir sejarah akan terus berlangsung dari waktu ke waktu atas beragam peristiwa. Upaya mengungkap perbudakan seksual merupakan satu ikhtiar agar persoalan serupa tidak terulang dalam periode sejarah bangsa selanjutnya.

 


 

Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri/PKKH Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Etnohistori menyelenggarakan diskusi buku “Perbudakan Seksual Perbandingan Masa Fasisme Jepang dan Neofasisme Orde Baru”, yang akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal: Kamis, 5 Maret 2015
Pukul: 13.00 WIB—selesai
Tempat : Hall Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM.

Pembahas:
1. DR. Farabi Fakih (Sejarawan UGM)
2. Basilica Dyah Putranti, MA. (Peneliti di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan/PSKK UGM)

Moderator: Karina Rima Melati, MA. (Etnohistori)

 

Perbudakan Seksual. Perbandingan antara Masa Fasisme Jepang & Neofasisme Orde Baru

0 Tanggapan

  • Hello, guest