Home / Kegiatan / Peluncuran & Diskusi Buku: Psikologi Raos, Saintifikasi Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram

Peluncuran & Diskusi Buku: Psikologi Raos, Saintifikasi Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram

Peluncuran Psikologi Raos

 

 

 


 

SURYOMENTARAM HARI INI

Saya tak tahu bagaimana Ki Ageng Suryomentaram menjawab ihwal defenisi kebahagiaan di saat norma keserakahan menjadi nilai yang menyangga bangunan utama masyarakat kita hari ini. Bagaimana ia, pikir saya, mendesakkan nilai kesederhanaan hidup di tengah masyarakat yang menggemgam erat kata “persaingan”, “kompetisi”, juga “keunggulan” sebagai bahasa utama pergaulan, serta menepis jauh “rasa bersama”.

Mungkin ia akan tergagap-gagap, meski berlembar-lembar wejangannya tentang kebahagiaan atau sering dikenal dengan istilah “kaweruh Jiwa” atau “Kaweruh Begya (sawetah)” telah disalin-tulis oleh para murid setianya dalam buku berjilid-jilid puluhan tahun yang lalu. Saya juga sedikit ragu, bagaimana Kudiarmaji—begitu nama kecil Suryomentaram disematkan—menjawab dengan lancar pertanyaan kebahagiaan di saat pasar saham diyakini, seperti ditulis dalam diktat buku ekonomi kita, sebagai penyangga bangun ekonomi makro juga menentukan jatuh-bangun nilai rupiah negara.

Lepas dari keraguan ini mungkin Ki Ageng Suryomentaram merupakan amsal kesederhanaan seorang tokoh kemerdekaan yang perlu kita tilik. Dan banyak riwayat, kita tahu, membenarkannya.

Suryomentaram lahir di keraton Yogyakarta pada tahun 1892 dan meninggal di tahun 1962. Ia adalah anak dari Sultan Hamengkubuwono VII dari isteri selir (garwa ampilan) bernama B.R.A Retnomandoyo, putri patih Danureja VI. Di umur yang masih muda, ia kecewa dengan kehidupan mewah keraton. Ia lalu memutuskan lari dari keraton, menggeluyur ke beberapa kota, menyamarkan namanya dengan Natadangsa, berjualan batik, menjadi penggali sumur, juga kuli. Terakhir ia ditemukan di Kroya, di wilayah dialek jawa Banyumasan (Cilacap), setelah raja (ayahnya) menyuruh para abdi istana mencari dan membawanya pulang. Setelah pergantian raja ke Sultan VIII, ia mengajukan penanggalan gelar kepangeranannya di umur 30-an. Oleh Raja baru, keinginannya terpenuhi. Sejak saat itulah ia berpisah selamanya dengan keraton dan tinggal di sebuah dusun bernama Beringin, Salatiga, dan hidup tenang sebagai rakyat jelata: petani.

Rekam riwayat hidup pangeran mataram ini sejauh tangkapan saya, merupakan risalah pencarian akan diri (manusia) juga kebahagiaan. Ia merasa, seperti yang dituturkan sendiri, “tidak pernah bertemu orang” (Seprana seprene, aku kok durung tau kepethuk wong). Mungkin gelar kepangeranannya, membuatnya hanya menemui wajah sembah dan pengabdian. Bahkan di sesama pangeran, ia juga hanya bertemu “rupa” yang dibungkus semat, drajat, kramat, serta berbagai tempelan identitas yang menyelubungi diri dari ke-“manusia”-annya.

Sejak memutuskan jadi petani, Ki Ageng hidup di antara rakyat jelata, bercelana pendek, mengalungkan sarung batik parang rusak barong—katanya merupakan motif perlawanan—serta melepas alas kaki dalam aktivitas kesehariannya. Bahkan sejak pencopotan gelar kepangeranannya dikabulkan, ia segera menghibahkan hampir seluruh kekayaannya serta menolak tunjangan hidup rutin yang ditawarkan oleh Belanda.

Lalu, apa yang bisa kita ambil dari filsuf eksistensialis Jawa ini? Apakah konsep “Kramadangsa”, “Kawruh Jiwa”, “manusia tanpa ciri”, “pengawikan pribadi”, “raos tentrem”, “mulur-mungkret”, “Kawruh Begja”, juga sederet konsepsi filosofis lain seperti yang telah ditelurkan dalam sebuah laku dan permenungan dari sudut dusun itu memang berguna bagi kita hari ini? Atau apakah konsep kebahagiaan dan kemanusiaannya masih relevan untuk masyarakat kita? Tidakkah masyarakat yang telah menginstitusikan egoisme diri Kramadangsanya dalam bungkus identitas yang menempel pada diri untuk tampil mengungguli yang lain (baca: ungkul-ungkulan) justru merupakan halangan terbesar terbesar bagi konsepsi Suryomentaram akan tahap “rasa bersama”, “manusia tanpa ciri” atau “zaman windu kencana” yang sering diwejangkannya? (Irfan Afifi, 27 Mei 2015)

 

 

 

0 Tanggapan

  • Hello, guest