Home / Topik / Ulasan Buku / Kinerja Pasar Finansial: Sebuah Etnografi Wall Street

Kinerja Pasar Finansial: Sebuah Etnografi Wall Street

 

Ulasan Buku oleh: Hatib Abdul Kadir *

Buku Liquidated: An Ethnography of Wall Street ini ditulis oleh seorang ekonom dan antropolog yang berpengalaman di bidang finansial sejak ia duduk di bangku kuliah. Karen Zouwen Ho mempunyai latar belakang pendidikan ekonomi dan keuangan. Ia lulus dari Stanford University. Kemudian melanjutkan studi doktoralnya di Princeton University, sebuah tempat dimana ia mendapatkan banyak jaringan dari para investor bankir di Wall Street. Setelah lulus, Ho bekerja di Bankers Trust New York Corporation sebagai konsultan manajemen internal. Ia kemudian berpindah kerja ke bagian pelayanan jasa di Lacey Meadow. Beragam pengalaman ini membuat gambaran bukunya kaya akan data dan detail deskripsi etnografis.

***

Karen Ho melakukan riset dengan metode “studying up”. Pendekatan yang diperkenalkan antropolog Laura Nader ini melakukan kinerja pada level atas seperti masyarakat koloni, orang kaya dan pembuat keputusan. Studi ini berasumsi bahwa yang terjadi pada tataran masyarakat bawah, secara struktural diakibatkan oleh perilaku pada masyarakat di level yang lebih tinggi.

Ho menggunakan pisau analisis Pierre Bourdieu sebagai kerangka teoretiknya, dengan mengambil konsep habitus dan kinerja (saya menerjemahkannya dari kata performance). Ia percaya bahwa “the way of being” (cara menjadi) dan kecenderungan sikap seseorang pada gilirannya berpengaruh terhadap para bankir dalam mengambil keputusan, mengorganisir, memproduksi praktik, dan mengkonstruksi aksi-aksi sosial (Ho, 11). Ia kemudian menunjukkan bagaimana kinerja para bankir mempengaruhi cara mereka untuk menganalisis dan memberikan rekomendasi kepada korporasi untuk mendapatkan keuntungan maksimum di pasar finansial. Seorang bankir haruslah mempunyai kultur “smartness” dalam melihat dua korporasi dengan dua visi yang berbeda misalnya, ketika melakukan akuisisi. Kepandaian menganalisis tentunya juga dibutuhkan dalam melihat pergerakan aset-aset finansial yang beragam dan komoditas yang fluktuatif seperti futures, foreign exchange, put option dan call option, warrant yang jangka waktunya lebih panjang dan black scholes sebagai penyeimbang volatilitas harga call option (opsi beli keuangan) dan put option (opsi jual keuangan).

Kinerja bukan hanya berhubungan dengan bagaimana para bankir meyakinkan kliennya, namun juga bagaimana mereka mampu menyederhanakan operasi aritmatika dalam pasar finansial yang digit keuangannya tidak memiliki batas, menjadi terkalkulasikan. Hal ini berbeda dengan ekonomi riil dimana jumlah uang yang beredar tentunya terbatas, karena komoditas yang dijual juga mengenal kelangkaan.

Pada bab satu, Ho menunjukkan model kinerja di Wall Street dalam merekrut para pekerja yang bersifat meristokrat, namun sekaligus paternalistik. Dua kata yang sifatnya oksimoron. Meristokrat karena orang-orang yang direkrut didasarkan pada kegesitan kinerja dan kecerdasan dalam mengambil keputusan. Sedangkan paternalistik karena para pekerja di Wall Street hampir semua adalah orang-orang dari lingkaran tiga universitas terkemuka di Amerika Serikat; Harvard University, Princeton University dan Stanford University (Ho, 56–58). Meski merupakan tempat kerja yang paling neoliberal dan global, sistem rekrutmen di Wall Street masih didasarkan pada varian kekerabatan yang mengacu pada rekrutmen alumni sebagai jejaring. Namun demikian, perekrutan juga menggunakan dasar meristoktrasi, dimana kekuatan kinerja individual yang paling diacu. Kinerja dan citra lulusan sangat penting karena para bankir ini nantinya harus berhadapan bukan hanya dengan fluktuasi dunia finansial, namun juga bagaimana meyakinkan para hedge fund (pengelola investasi global); pemilik bank, hingga manajer korporasi sudi melakukan transaksi pada pembelian aset tertentu (Ho, 68).

 

 

Karen Zouwen Ho (Foto: PAW Princeton)

 

Di bab dua, Ho menggambarkan pekerjaan di Wall Street yang sangat hirarkis didasarkan pada mode kinerja. Hirarki ini dapat dilihat pada desain interior bangunan. Semakin tinggi seseorang bekerja di sebuah tingkat, menunjukkan semakin tinggi jabatannya (Ho, 77–78). Ranking ini juga terhubungkan dengan gender, ras dan dari universitas apa mereka berasal. Kekuatan hirarki juga didasarkan pada letak kantor depan dan belakang (front and back office). Kebanyakan mereka yang berada di kantor bagian depan adalah para bankir investasi, kulit putih dan pria klas menengah ke atas. Mereka bernegosiasi dengan uang jutaan dollar yang dimiliki oleh para klien. Sedangkan di kantor bagian belakang kurang begitu prestisius karena mereka menangani bagian birokrasi dan detail akunting untuk para klien. Salah satu tampilan kinerja dari para bankir investasi ini adalah mereka harus bergulat selama sekitar 110 jam dalam satu minggu, meski mereka mendapatkan bonus yang cukup tinggi hingga mencapai 80 ribu US Dollar pertahunnya. Itu pun belum terhitung gaji pokok. Karena itu Ho menyebutnya dalam sebuah sub judul yang kembali terkesan oxymoron yakni “elite sweatshop”, orang-orang yang bekerja lebih dari jam yang ditentukan, namun mendapatkan upah yang lebih dari layak.

Namun demikian, pembahasan pada bab perekrutan ini terlalu mengada-ada, karena pada bab selanjutnya Ho tidak menjelaskan secara meyakinkan soliditas alumni yang mampu menunjang kinerja untuk meningkatkan nilai dan harga saham. Di dua bab awal setidaknya menurunkan standar ekspektasi saya terhadap buku ini yang tidak langsung menuju ke persoalan krusial krisis ekonomi politik lebih luas, dimana publik percaya bahwa krisis tersebut dikarenakan oleh ulah para spekulan di Wall Street.

Di bab tiga, Ho menggambarkan sejarah krisis ekonomi Amerika Serikat di tahun 1980-an. Sebagai seorang antropolog ekonomi yang mengacu pada pendekatan neo-klasik a la Adam Smith, ia menggambarkan apa yang terjadi di ranah pasar bebas. Ia tidak menarasikan intervensi Negara pada waktu itu, pertengahan 1980-an, yang selama ini kita ketahui tentang deregulasi dan privatisasi masif, seperti yang dilakukan dalam kebijakan Ronald Wilson Reagan dan Margaret Hilda Thatcher. Melainkan, Ho menggambarkan proses ekuilibrium yang dimediasi oleh para bankir investasi. Ho menawarkan pendapat yang sedikit kontroversial dengan mengungkapkan bahwa banyak faktor yang menyebabkan volatilitas harga saham, bukan hanya dikarenakan perilaku para spekulan semata, melainkan juga oleh manajemen korporasi atau bank di tingkatan riil. Merger antar korporasi juga menyebabkan volatilitas saham menanjak naik. Korporasi dapat dianggap “efektif” jika ia melakukan akuisisi dan menurunkan jumlah pekerjanya sehingga pemegang saham antar perusahaan dapat dijaga tingkat kestabilan dividennya.

Banyak perusahaan yang melakukan akuisisi dengan cara perusahaan yang diambil alih menjual obligasi sampah (junk bond) mereka untuk menghindari kebangkrutan. Meski di tingkatan riil produksi perusahaan tidak berjalan, namun likuiditas saham masih berjalan di pasar finansial. Para bankir investasi tentunya mendukung korporasi untuk saling mengakuisisi. Selain mereka dapat meningkatkan harga saham dan bonus yang diperoleh, mereka juga mendapatkan arbitrage, dimana kinerja para bankir adalah bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari selisih dua perbedaan harga yang terjadi di dua pasar keuangan. Dengan demikian, tugas bankir investasi adalah memudahkan akuisisi perusahaan dengan alasan efektivitas dan kesehatan korporasi, sehingga dapat mempopulerkan produk-produk finansial perusahaan yang diakusisi dan terancam bangkrut (Ho, 141).

 

Permasalahan dalam Buku Karen Ho

Meski mempunyai narasi etnografis yang sangat baik, namun buku ini tidak lepas dari beberapa kelemahan teoretis. Pertama, pada masalah argumentasi. Pasar finansial tentu mempunyai efek terhadap dunia ekonomi riil sejak tahun 1970-an. Emas sebagai poros mata uang universal dan sebagai alat ukur nilai bersama mulai ditinggalkan, karena sifat digit finansial yang tidak terbatas. Di sisi lain, rumah tangga masyarakat Amerika terhubung dengan pasar finansial karena mereka mengalokasikan gaji hingga dana pensiun ke perdagangan saham yang volatile. Namun ketika terjadi krisis, Ho membalikkan anggapan bahwa pasar saham bukan penyebab tunggal yang menyebabkan gejolak di tingkatan riil ekonomi, mengingat volatilitas pasar saham sendiri yang bersifat tidak dapat diprediksi dan fluktuatif (Ho, 29). Jika terjadi pemecatan para pekerja pada sebuah perusahaan, bagi Ho ini hampir terlepas dari pasar finansial, namun lebih kepada manajemen korporasi di tingkatan riil. Nilai pemegang saham yang fluktuatif ditentukan oleh performa perusahaan tersebut dalam melakukan efisiensi, mencari laba dalam produksi. Ho jelas-jelas melepaskan urgensi pandangan Marxian yang melihat bahwa nilai atau value sebuah pekerja dalam korporasi ditentukan oleh harga produksi yang ia hasilkan di pasaran. Sedangkan harga produksi tersebut tidak lagi dalam bentuk material, melainkan dilikuiditaskan di pasar saham. Ho tidak melihat bahwa semua aset yang seperti saya sebutkan di atas mulai dari warrant hingga call option adalah komoditi yang jelas-jelas mencerminkan kinerja para buruh di korporasi yang riil. Jadi dalam hal ini, saya percaya dengan ulasan Fredric Jameson tentang high financial dalam late capitalism sekalipun dapat dijelaskan dengan formula Marx yang paling dasar, yakni tingkat transformasi dari C–M–C (merchant capitalism) ke M–C–M (finance capitalism) dimana kapital dan aset dapat digandakan tanpa perlu melibatkan produksi manufaktur secara masif seperti dalam tahap evolusi perkembangan kapitalisme perdagangan (merchant capitalism). Dengan demikian, kesalahan terbesar Ho adalah mengabaikan surplus value yang sebenarnya dihasilkan dari spekulasi pasar terhadap aset-aset komoditas finansial. Di sisi lain, buku ini tidak lebih dari karya estetis dibanding sebuah karya berbobot yang mempunyai keberpihakan pada masyarakat dan ekonomi riil secara luas.

Kedua, Ho tidak membahas permasalahan urgen lainnya, yakni kontradiksi antara pasar finansial dan sistem moneter di ranah ekonomi riil. Ada keterputusan ekspektasi di masing-masing ranah ini. Sistem leveraged out atau pembelian obligasi sampah untuk melunasi hutang perusahaan dalam akuisisi menunjukkan bahwa para bankir investasi di Wall Street mempunyai taktik jangka pendek saja, yakni untuk menghindari kebangkrutan. Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang terjadi pada ranah ekonomi rumah tangga riil. Para shareholder mempertaruhkan nilai sahamnya dengan ekspektasi yang berkaitan pada siklus hidup mereka yang panjang, seperti asuransi kesehatan, pendidikan, mortgage dan dana pensiun.

Dengan demikian, terdapat jarak yang begitu lebar antara sistem finansial dengan basis moneter di tingkatan riil. Nominal uang yang tak terbatas di sistem finansial atau David Harvey menyebutnya sebagai “fictitious money” (dalam bukunya The Limits to Capital) mengaburkan nilai uang sebagai pengukur nilai dan perangkat sirkulasi. Bergeraknya kredit sistem pada tahapan yang matang, yakni demam spekulasi para hedge fund, menyebabkan nilai uang tidak sama dengan nilai yang ada pada tataran basis moneter. Karena ketidakterbatasan dan over-akumulasi dari “fictitious money” ini mengancam munculnya krisis dalam bentuk devaluasi uang dan komoditas di tingkatan riil. Kontradiksi-kontradiksi antara nilai abstrak dan riil inilah yang diabaikan oleh Ho. Ho juga menghindar dari isu-isu tentang oligarki finansial yang berputar dikalangan spekulan hedge fund dan para manajer korporasi sehingga berelasi pada sentralisasi modal dan meningkatnya polarisasi pendapatan di kalangan masyarakat klas atas dan klas menengah.

Selain melepaskan konsentrasi pada kontradiksi antara dunia material dan dunia imaterial ekonomi, Ho juga luput dari persebaran alienasi dan fetisisme hasrat manusia yang lebih percaya pada dunia yang sangat rapuh. Dengan demikian, Ho sengaja melepaskan poin potensial dari pendekatan Marxian dalam melihat perubahan pertukaran nilai dari ekonomi abstrak ke riil. Dalam kenyataannya, ide tentang nilai kepemilikan saham (shareholder value) hanyalah fantasi karena sekali saham dilikuidasi tidak ada yang dapat me-garansi akan aman serta stabil. Masyarakat tidak mempunyai kontrol terhadap fluktuasi di pasar saham, yang untuk mencapai keseimbangan sifatnya berjalan secara invisible atau tidak tampak.

Ketiga, dengan mengacu pada konsep Pierre Bourdieu tentang habitus yang dimaknai sebagai ”the way of being” atau predisposisi, Ho melakukan analisis kinerja atau performa para bankir investasi. Menurutnya predisposisi individu para bankir investasi pada gilirannya berpengaruh terhadap cara mengorganisasi aksi, memproduksi praktik dan mengkonstruksi aksi sosial (Ho, 11). Ide habitus yang ditentukan oleh agensi semata, cenderung menyederhanakan persoalan dalam melihat perubahan struktur di tingkatan yang lebih rumit dan besar.

Ho sama sekali mengabaikan pendekatan sosiolog klasik seperti Karl Heinrich Marx atau David Émile Durkheim dalam melihat gejala sosial pada dunia finansial. Pendekatannya yang menggunakan Pierre Bourdieu tentang habitus justru membuat bukunya luput dari permasalahan inti ekonomi politik Amerika Serikat pada saat ini.

Konsep “liquidated“ yang dapat dimaknai sebagai subjek pekerja atau siapapun shareholder melepaskan nilai (value) nya dalam bentuk saham ke pasar finansial yang fluktuatif, volatilitas pasar likuidasi karena sangat dipengaruhi ulah para spekulan, rasa ingin tahu, ekspektasi dan kepanikan. Elemen terakhir ini lebih dikarenakan gonjang-ganjing di ranah politik misalnya. Hal ini menunjukkan ada gerakan social effervescence secara bersama, meminjam istilah Émile Durkheim, dimana masyarakat secara ramai-ramai menaruh harapan pada pasar yang tidak tampak dan fluktuatif yang mereka ciptakan sendiri. Ini persis sebuah agama, dimana manusia menciptakan agama itu sendiri secara sosial, dan mereka cemas sekaligus menaruh harapan pada idealisme yang mereka ciptakan.

Ho adalah penganut Adam Smith dan melihat bahwa pekerja di Wall Street didasarkan pada keahlian dan performa sebagaimana Smith membedakan para pekerja berkeahlian/ skill dan tidak berkeahlian/ unskilled. Padahal dalam pandangan Marx, keduanya tetap masuk dalam kerangka menghasilkan produksi. Sehingga tidak perlu ada perbedaan kinerja, karena yang terpenting adalah melihat proses mereka dalam mendapatkan surplus value atau nilai lebih dari sirkulasi di pasar (perhatikan di Das Kapital Volume I, halaman 305–306).

Keempat, Ho juga mengabaikan peran negara. Tentu saja, karena ia adalah penganut Adam Smith, campur tangan Negara tidak diperlihatkan khususnya peran bank sentral yang sebenarnya berada di luar jalur demokrasi karena mempunyai kebijakan penuh dalam menyuntikkan dana kepada bank-bank komersial. Dengan harapan suku bunga pinjaman kepada masyarakat diturunkan, sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas ekonominya dengan cara melakukan kredit peminjaman usaha dan konsumsi. Peran Negara mempunyai porsi signifikan dalam memicu (stimulus) pertumbuhan harga saham bank-bank komersial, namun hal ini luput juga dari analisisnya. Studi-studi ekonomi politik telah membuktikan bahwa tidak ada pertumbuhan ekonomi secara murni, kecuali campur tangan politik maupun Negara di dalamnya.

Kelima, sayangnya buku ini tepat diterbitkan ketika masa krisis Amerika Serikat terjadi, yakni di tahun 2009. Sehingga Ho tidak lebih lanjut melihat bahwa proses perjalanan sejarah ekonomi tidaklah linear, melainkan siklusnya memutar. Para ekonom seperti Hyman Mynsky tentu telah menengarai siklus ekonomi yang berputar ini. Dimana ekonomi selalu mengalami stagnasi, kemudian perbaikan ulang atau recovery, lantas menuju ekspansi penciptaan kredit yang dilakukan oleh bank, perusahaan uang bahkan negara. Lantas muncul demam spekulasi seperti yang digambarkan dalam buku Ho ini. Kemudian kembali terjadi crash ekonomi dimana ulah para bankir investasi dan spekulan mendevaluasi nilai moneter di sektor ekonomi riil.

Dalam hal ini, Negara mempunyai peran penting untuk mengeliminir capital fiktif yang berlebihan. Melalui kebijakan fiskal dan moneter misalnya, adalah upaya untuk memperkuat sektor ekonomi riil dalam hal produksi–konsumsi, terciptanya kinerja di sektor manufaktur dan tentunya lapangan pekerjaan yang terbuka luas. Negara juga pada akhirnya mempunyai peran untuk menekankan upah dan kontrol harga agar tidak terdevaluasi oleh sektor kapital swasta karena meningkatnya inflasi. Peran Negara dan rumus-rumus kebangkrutan finansial yang dapat di-recovery melalui penciptaan kredit di sektor riil telah ditulis oleh Karl Marx 140 tahun yang lalu di bukunya Das Kapital Volume III, dengan rumus dasar M–C (LP–MP)–P … C, dimana dialektika Money mampu menjadi Capital diciptakan dengan cara kredit agar para pengusaha dapat mengalokasikan modalnya pada Labour Purchase dan Means of Production di sektor riil. Tahap inilah yang sekarang tengah dibangun kembali oleh pemerintah yang tengah mengalami recovery alias perbaikan ulang pasca krisis ekonomi.

Maka dari itu, sektor-sektor yang terjadi di dunia finansial, sesungguhnya masih mencerminkan kinerja di sektor riil. Tingkat pembelian saham dan penjualan aset, tidak lepas apa yang terjadi pada sektor perbankan, perusahaan, perumahan. Walaupun sektor maya finansial mempunyai hubungan dengan sektor ekonomi riil, namun relasi keduanya tegang dan saling eksploitatif. Itulah kenapa gerakan “Occupy Wall Street” merupakan titik akumulasi perwujudan dari ketidakpuasan massa terhadap kinerja yang terjadi di pasar finansial.

Sebagai penutup yang singkat, saya masih menaruh penghormatan terhadap buku ini, karena Ho menawarkan pendekatan “studying up” dalam perspektifnya. Tentu saja pendekatan ini penting sekali dalam ranah akademik Antropologi Indonesia demi melihat keadilan sosial atau ekonomi politik. Kita perlu pula menggunakan kacamata lain dari para pembuat kebijakan, pemerintah atau masyarakat klas atas yang kita asumsikan sebagai salah satu hulu atau penyebab perubahan-perubahan sosial ekonomi di tingkatan hilir. [ ]

 

4 April 2013

 

* Editor ETNOHISTORI; Mahasiswa Ph. D. Antropologi di University of California−Santa Cruz, USA; Pengajar di Antropologi Budaya−Universitas Brawijaya.

 

 

[ ULASAN BUKU ]

 

 

 

 

Baca Juga

Etnografi Formasi Negara di Kawasan Perbatasan

Haryo Kunto*         Judul Buku: At The Edge of States: Dynamics of ...

Tanggapan

  • Hello, guest
  • Howdy! Someone in my Myspace group shared this website with us so I came to look it over. I’m definitely enjoying the information. I’m book-marking and will be tweeting this to my followers! Great blog and outstanding style and design.|