Etnohistori.org

Los: Dari Sepenggal Narasi

oleh: Lubabun Ni’am*

Narasi

PADA 2008, menurut data perusahaan perkebunan tembakau Vorstenlanden (Klaten) per 7 Agustus, mereka telah membangun 68 los tembakau. Masing-masing 16 los di Kebun Kebunarum, 20 los di Kebun Gayamprit, dan 32 los di Kebun Wedibirit. Tidak semua los dibangun pada 2008. Ternyata ada juga los yang sudah digunakan sejak 1999. Meskipun demikian, 36 los atau sekitar separuh dari total 68 los, baru dibangun pada 2008. Selain itu, dari total 68 los pula, tercatat 4 los terbakar dan 5 los roboh. “Terbakar” dan “roboh” dikategorikan oleh perusahaan perkebunan yang terkait sebagai “musibah”. Tentu saja, data resmi tersebut tidak menjelaskan penyebab rinci dari kedua musibah.

Data “4 terbakar, 5 roboh” sebetulnya menarik karena los yang terbakar terjadi dalam rentang waktu yang tidak berselisih jauh, demikian pula dengan kejadian los yang roboh. Masing-masing los terbakar pada 12 Juli, 15 Juli, 15 Juli, 1 Agustus; dan tidak disebutkan terjadi pada pagi, siang, sore, atau malam hari. Sementara itu, 5 los yang roboh terjadi pada 8 Februari, 10 Februari, 13 Maret, 21 Maret, dan 9 April. Dalam rentang Februari sampai April, bisa dimunculkan asumsi bahwa angin saat itu sedang berhembus kencang sampai-sampai merobohkan 5 los. Terlebih lagi, 4 dari 5 los yang roboh merupakan los yang dibangun pada rentang 1999 sampai 2001. Artinya, los-los itu memang sudah uzur. Akan tetapi, 4 los yang terbakar merupakan los yang dibangun belakangan, masing-masing pada 2005 sampai 2008. Apa arti angka-angka tersebut?

Bergentayangan

Los adalah gubuk raksasa, sebuah situs budaya tempat pengeringan tembakau yang monumental dalam sejarah pergolakan desa-desa di Jawa. Diamati dari jauh, bangunan ini tampak gigantik dan kolosal di tengah hamparan lahan tembakau. Di sisi lain, los juga kelihatan ringkih apabila disandingkan dengan gudang-gudang pengolah tembakau, yang dibangun dengan tembok yang tebal-tebal, tanda keperkasaan. Keperkasaan ini erat kaitannya dengan pertumbuhan perkebunan modern sebagai perwujudan dari sistem kapitalisme pada masa kolonial—Alatas (1988) menyebutnya cukup dengan “kapitalisme kolonial”.

.

Los yang sudah tidak terpakai di Klaten. Lahan di sekitar los tampak sedang ditanami padi. Pada tahun sebelumnya, lahan tersebut ditanami tembakau Vorstenlanden. Penanaman tembakau Vorstenlanden memang diatur selang satu musim tanam. Di atas los, tampak rapak yang kering dan kelebatan plastik di atasnya, dua bahan yang mudah terbakar. (foto: Kirana Yunita, 2008)

Los yang sudah tidak terpakai di Klaten. Lahan di sekitar los tampak sedang ditanami padi. Pada tahun sebelumnya, lahan tersebut ditanami tembakau Vorstenlanden. Penanaman tembakau Vorstenlanden memang diatur selang satu musim tanam. Di atas los, tampak rapak yang kering dan kelebatan plastik di atasnya, dua bahan yang mudah terbakar. (foto: Kirana Yunita, 2008)

.

Los dibangun dengan kerangka yang terbuat dari bambu dan atap dari rapak (daun kering tebu). Di Klaten, pada 2005, perusahaan perkebunan tembakau Vorstenlanden mencatat kebutuhan 317.753 batang bambu apus, 15.621 batang bambu petung, 107.094 batang bambu cagak, 12.875 meter kubik kayu bakar, 6.070 meter kubik sekam padi untuk pembuatan rangka penaung di lahan, mendirikan los-los tembakau, dan pengasapan di dalam los. Los memang terbuat dari material yang mudah terbakar api. Selain karena faktor rapak, kebakaran los disebabkan pula adanya plastik di sebagian dinding los. Keduanya termasuk bahan yang mudah tersulut api, lebih-lebih pada musim kemarau yang menyengat.

Keberadaan los telah bertahan lama, diperkirakan seiring dengan masa reintroduksi tanaman tembakau sebagai tanaman bahan baku cerutu pada pertengahan abad ke-19 (Vlekke 2010: 331). Kala itu pemerintah kolonial menggalakkan misi pengiriman ahli tembakau ke Kuba sehingga tanaman yang sebelumnya sudah sedemikian mencandu di kalangan masyarakat Hindia Belanda itu memiliki nilai ekonomi tinggi di pasaran Eropa. Kini, Klaten termasuk daerah penanaman dan pengolahan tembakau cerutu—dalam konteks ini adalah tembakau Vorstenlanden—yang masih mampu bertahan, tercatat sejak tembakau Vorstenlanden dialihtanam pertama kali di pedesaan Jetis (Klaten) pada 1858 (Beets, dalam van de Koppel dan van Hall 1985: 137). Karena itu, saat ini pun masih banyak dan mudah ditemukan los-los tembakau di sekitar lahan perkebunan Vorstenlanden.

Memang, keberadaan los tidak mungkin dilepaskan dari awal tumbuhnya perusahaan perkebunan pada masa kolonial. Perusahaan perkebunan di Hindia Belanda pada masa itu—yang datang dengan proyek introduksi tanaman-tanaman agrikultur dari berbagai sudut bumi dan menggalakkan ekperimentasi penanamannya di tanah seantero Nusantara dalam rangka meningkatkan nilai ekonomi tanaman sebagai komoditas perdagangan—belakangan malah merugikan ketimbang membawa keuntungan bagi petani. Dalam kalimat analog yang sangat mengena dari Boeke (1942: 77), situasi merugikan yang menerpa petani adalah pencerminan dari persepsi para pengusaha perkebunan bahwa “Hindia Belanda tidak lebih dari ladang eksploitasi belaka, di sisi lain negeri itu sesungguhnya rumah bagi petani setempat”.

Suhartono (1995) melakukan studi penting berkaitan dengan pergolakan petani dan masyarakat pedesaan Jawa di tengah struktur pekebunan kolonial. Menurut Suhartono (1995: 141), “Petani yang jengkel terhadap perkebunan yang merugikan, mendorongnya untuk melakukan pembalasan dengan melakukan pembakaran kebun tebu, los tembakau, dan bangunan-bangunan lain. (…) Kerja wajib, penyerahan wajib, dan berbagai sumbangan untuk penguasa setempat menjadi pemicu meluasnya ‘jago merah’ pada musim kemarau.” Fenomena perlawanan dengan membidik situs-situs di perkebunan itu tidak hanya terjadi pada masa kolonial. Dan, pada titik inilah, saya melihat belum ada studi yang mendalami fenomena pembakaran los di perkebunan tembakau Vorstenlanden secara kasuistik, kendati kejadian pembakaran los masih terus bergentayangan sampai sekarang.

Los dalam Kajian

Penulisan los dalam kajian akademik sejauh ini berkisar pada tiga cara pandang. Pertama, los dilihat sebagaimana gunanya dalam pengolahan tembakau, yakni tempat mengeringkan daun tembakau setelah dipetik dari lahan. Kedua, los dari sisi bangunan itu sendiri, dalam konteks ini berkaitan dengan kajian arsitektural. Ketiga, los sebagai situs budaya yang dijadikan sasaran resistensi petani atau kelompok masyarakat desa lainnya dengan cara dibakar.

Pertama, cara pandang pengolahan. Beets (dalam van de Koppel dan van Hall 1985) menerangkan tentang los dengan porsi terlampau sedikit dalam artikel “Vorstenlandse Tabak”. Beets sebenarnya menulis secara detail dan komprehensif mengenai perkebunan tembakau Vorstenlanden, di antaranya dari segi sejarah pembudidayaan, peraturan sewa tanah, topografi tanah, iklim, pengolahan, penyakit dan hama, sampai mengenai balai penelitian tembakau Vorstenlanden di Klaten. Los sendiri diberi ruang dalam bagian pengolahan, yakni setelah masa pembudidayaan tanaman di lahan. Sisi menarik dari singgungan Beets adalah penyebutan pekerjaan tertentu di dalam los yang ditangani oleh perempuan dan anak-anak, yakni pekerjaan menusuk daun tembakau secara berjejer pada sebuah batang bambu atau dolok (dolk).

Kedua, cara pandang arsitektur. Penelitian Saraswati (2008) tentang bangunan los terbilang paling unik untuk disebutkan di sini. Saraswati berangkat dari perbendaharaan ilmu arsitektur untuk melihat los sebagai sebuah bangunan yang vernakular. Vernakularitas los dapat diidentifikasi dari sejumlah faktor: (a) dihasilkan dari kebutuhan manusia setempat dan bukan hasil rancangan arsitek, (b) loyal pada bentuk setempat, (c) kelestarian bentuk yang sepanjang masa, (d) dibangun dari material lokal, (e) pengerjaan dilakukan oleh penduduk lokal.

Menurut Saraswati, hasil penelitiannya merupakan “pendalaman” dari studi sebelumnya yang dilakukan oleh Dhewayani dan Christianto (2006), betapapun sesungguhnya lebih tepat merupakan sanggahan alih-alih sebuah pendalaman. Dhewayani dan Christianto sebelumnya meneliti bahwa los bukan merupakan bangunan vernakular karena dianggapnya “mengadopsi fungsi dan struktur dari luar (global) dengan merespons kondisi lingkungan lokal dan kebutuhan ekonomi setempat” (dalam Saraswati 2008: 65, 73). Hanya saja, terdapat satu tesis dari Saraswati yang sulit untuk disangkal, yakni “tidak mungkin bangunan vernakular bertahan ratusan tahun tanpa memperbaharui material bangunannya” di tengah bergulirnya arus modernisasi dan sofistikasi teknologi perkebunan.

Ketiga, cara pandang resistensi petani. Penelitian mengenai resistensi petani secara umum telah melesat jauh dari kajian teoretis sampai empiris; dari perbendaharaan ilmu sejarah, ilmu politik, antropologi, sampai sosiologi. Hanya saja, penempatan los sebagai objek analisis dalam kajian resistensi petani tidak seperti dalam kajian arsitektural yang berhasil dijajaki sebagai objek analisis yang menonjol. Dalam kajian resistensi petani, los cukup menjadi unit keragaman dari jenis-jenis resistensi petani lain, seperti pembakaran kebun, pengrusakan saluran irigasi, pengrusakan gudang atau bangunan lainnya di sekitar perkebunan, pencurian, pembegalan, dan semacamnya.

Menggali data sejarah di Jawa, Suhartono (1995) menunjukkan keragaman jenis manifestasi perbanditan sosial tersebut untuk kawasan Banten-Batavia, Surakarta-Yogyakarta, dan Pasuruan-Probolinggo. Masing-masing daerah memiliki perbedaan bentuk resistensi, tergantung pada latar belakang sosial-ekonomi yang menyebabkan para pelakunya terdesak dan dirugikan. Di Banten-Batavia, perbanditan menjadi bentuk respons atas penghisapan yang dilakukan tuan-tuan tanah partikelir. Di Surakarta-Yogyakarta, perbanditan jamak didalangi oleh kecu (ketjoe) yang menolak dominasi agroindustri, baik pemerintah maupun swasta. Di Pasuruan-Probolinggo, resistensi petani kerap diluapkan terhadap perusahaan tebu dengan cara pembakaran kebun tebu.

Khusus di Karesidenan Surakarta, kawanan kecu paling sering beroperasi di Klaten. Pada 1850-1942, Klaten memiliki areal perkebunan yang paling luas daripada Surakarta, Boyolali, Sragen, atau Wonogiri. Tidak mengherankan apabila Klaten lebih banyak merekam aksi keperkasaan para kecu. Tetapi, kasus seperti pembakaran dan pencurian—yang dilakukan tidak secara terang-terangan dan tidak bertatap muka—lebih banyak terjadi. Sekalipun data mengenai pembakaran jarang dicatat dalam laporan pemerintah kolonial, kata Suhartono (1995: 146), fenomena tersebut ternyata lebih tinggi intensitasnya ketimbang pencurian.

Wong…

“Lantas, apa arti angka-angka tersebut?” demikian pertanyaan dalam narasi di muka. Pada kesempatan wawancara siang itu, seorang lelaki paruh baya yang menjabat sebagai salah satu kepala bagian di perusahaan perkebunan tembakau Vorstenlanden sempat berucap, “Wong kalau petani tembakaunya terbakar, entah dibakar orang atau tidak sengaja, tembakau yang ada di situ tetap dibayar lho!” Dari sebuah minikaset perekam, saya mendengarkan kembali pengucapan dalam nada yang agak ketus itu—dengan cukup jelas. (***)

.

Daftar Pustaka

Alatas, S.H. (1988) Mitos Pribumi Malas: Citra Orang Jawa, Melayu, dan Filipina dalam Kapitalisme Kolonial, Jakarta: LP3ES.
Beets, A.N.J. (1985) “Tembakau Vorstenlands” dalam van de Koppel dan van Hall, Pertanian di Nusantara: Jilid IV Pertembakauan di Indonesia, Bandung: Tanpa Penerbit.
Boeke, J.H. (1942) The Structure of Netherlands Indian Economy, New York: Institute of Pacific Relations.
Saraswati, T. (2008) “Vernakularitas Los, Bangunan Pengering Tembakau di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah”, Dimensi Teknik Arsitektur 36 (1): 65-78.
Suhartono (1995) Bandit-bandit Pedesaan di Jawa: Studi Historis 1850-1942, Yogyakarta: Tiara Wacana.
Vlekke, B.H.M. (2010) Nusantara: Sejarah Indonesia, Jakarta: KPG.

 


* Redaktur Jurnal Wacana-INSIST

10 September 2011

 

 

2011—2012 • Etnohistori.org • Some Rights Reserved Kembali ke atas