Etnohistori.org

Malcolm Caldwell & Ernest Utrecht, Sejarah Alternatif Indonesia, 2011

Sejarah Alternatif Indonesia (penulis: Malcolm Caldwell & Ernest Utrecht)

Buku hasil terjemahan karya Malcolm Caldwell dan Ernest Utrecht, Indonesia: An Alternative History, Alternative Publishing Co-operative, 1979, diterbitkan oleh Djaman Baroe bekerjasama dengan Sajogyo Institute. Alihbahasa: Saut Pasaribu, Editor: Ahmad Nashih Luthfi dan Arif Zulkifli, dilengkapi dengan epilog yang ditulis oleh Max Lane, berjudul “Paradigms for an Alternative History: The Absence of Class Analysis in Studies of Contemporary History”, serta kata pengantarnya.

Buku ini ditulis pertengahan tahun 1970-an, di tengah-tengah historiografi Indonesia yang saat itu mengalami ideologisasi negara, dan pendefinisian sejarah dari sudut pandang penguasa secara monopolistik. Sulit ditemukan penulisan sejarah yang kritis. Naskah ini adalah sebuah pengecualian. Memang ada beberapa buku pengantar sejarah Indonesia. Namun naskah ini, dengan perspektif kritis dan analisa Marxist-nya, memberikan satu cara pandang yang berbeda.

Sampul belakang buku ini secara tegas menyatakan analisa Marxist dan Indonesiasentris-nya di dalam melihat Sejarah Indonesia. Dua perspektif yang jauh dibayangkan oleh sejarawan kita untuk bisa dipertemukan. Cara pandang semacam ini, pernah dilakukan oleh Tan Malaka dalam “Massa Actie” dan S. J. Rutgers (sejarah komunistis), Dipa Nusantara Aidit dan A. A. Guber (sejarah Marxist), Moh. Ali dalam “Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia” (sudut pandang politik ekonomi), Cara pandang kedua penulis dalam melihat sejarah Indonesia dengan menghadapkannya pada pertumbuhan kapitalisme, sangatlah menarik.

Penulis menunjukkan bagaimana praktik pemerintah kolonial melalui berbagai eksperimen kebijakannya (mulai dari periode VOC, Daendels, Raffles, van Der Capellen, Culttuurstelsel, Ekonomi Liberal, Politik Etis, hingga ekonomi Orde Baru) adalah bagian dari pemantapan aktifitas ekonomi internasional, dan dalam konteks inilah negara Indonesia dibentuk (state formation). Negara lahir dan hadir guna memfasilitasi kepentingan kapital yang telah berkembang di suatu kawasan (negeri jajahan). Cara pandang ini mewarnai dalam setiap bab. Dalam konteks akselerasi dan akumulasi kapital yang difasilitasi oleh negara Kolonial dan negara Orde Baru itulah, proses marjinalisasi dan ketercerabutan rakyat dari sumber-sumber produksi terjadi. Kekerasan kemanusiaan, persoalan HAM, kemiskinan, ketidakadilan (Pembantaian PKI dan Kasus Timor Timur), menjadi sorotan penulis. Berbagai kekerasan itu merupakan “previous accumulation” bagi pertumbuhan kapitlisme. Di sinilah letak Indonesiasentris dari naskah ini. Cara pandang semacam itu sangatlah berbeda jika dibandingkan misalnya perspektif sejarah nasional yang melihat terbentuknya Indonesia sebagai satu kekuatan gerak evolusi ke arah integrasi sebagaimana yang diusung Sartono Kartodirdjo. Kekuatan gerak itu bisa berbahan bakar “kejayaan masa lalu” (sebagaimana M. Yamin), atau spirit apokaliptis, yakni suatu imajinasi tentang kegemilangan yang menjelang, seperti ideologi Ratu Adil.

Maka, sangatlah penting menghadirkan naskah ini menjadi buku yang dapat dibaca oleh khalayak luas Indonesia. Diharapkan, naskah ini memberi inspirasi cara pandang baru bagi pemahaman dan penulisan sejarah Indonesia. [Ahmad Nashih Luthfi, Januari 2011]

 

2011—2012 • Etnohistori.org • Some Rights Reserved Kembali ke atas