Home / Topik / Catatan / Manisnya Gula, Pahitnya di Orang Aru: Alasan-Alasan Antropologis Menolak Perkebunan Tebu!

Manisnya Gula, Pahitnya di Orang Aru: Alasan-Alasan Antropologis Menolak Perkebunan Tebu!

oleh: Hatib Abdul Kadir *

 

Memori Orang Aru Sebagai Masyarakat “Frontier”

Sudah lebih dari satu tahun warga Aru menolak perkebunan tebu seluas 500.000 hektar yang akan dibangun oleh PT Menara Group. Sedangkan pemerintah hendak menyisakan 100.000‒150.000 hektar untuk kawasan hutan (Berita Maluku, 17 September 2013; Tribun Maluku, 17 September 2013). Saya cukup terkejut dengan proyek mercusuar ini, mengingat bahwa perkebunan tebu adalah proyek kolonial abad 19 yang identik dengan eksploitasi dan perbudakan. Namun hingga saat ini ternyata masih dijalankan oleh Negara yang mengaku telah me-merdeka-kan rakyatnya. Pada umumnya alasan untuk menolak masuknya perkebunan tebu di Aru lebih berdasarkan pada pandangan studi lingkungan yang beralasan bahwa perkebunan tebu akan membunuh diversitas plasma nutfah lingkungan di Aru dan membahayakan satwa-satwa liar yang kian langka seperti kasoari dan burung cendrawasih. Namun demikian, tulisan ini melihat dari sisi sosial kultural dan sisi kemanusiaan, mengapa perkebunan tebu perlu ditolak dengan keras. Sebelumnya, saya akan berputar dahulu untuk melihat kondisi siapa dan seperti apa Orang Aru tersebut.

 

Kepulauan Aru (tenggara Provinsi Maluku) [Peta: Wikipedia]

 

Secara etnografis, laporan paling lengkap mengenai Masyarakat Aru digambarkan oleh Patricia E. Spyer dalam bukunya “The Memory of Trade: Modernity’s Entanglements on an Eastern Indonesian Island” di mana ia melakukan riset di Aru dari tahun 1984‒1986 kemudian ia kembali pada tahun 1988 dan 1994. Menurut Spyer, Orang Aru, khususnya di bagian pedalaman (baca: backshore) adalah masyarakat frontier (masyarakat garda depan) yang selama Orde Baru menjadi ajang uji coba menghadapi proyek pembangunan Negara, dalam bentuk ekonomi, pendidikan dan agama. Spyer melacak jejak rekam Orang Aru menghadapi dunia luar seperti pedagang Cina di Aru, pemilik toko, pegawai pemerintah hingga misionaris. Bagi Spyer, Orang Aru telah mengalami semacam keterlibatan (baca: entanglement) dengan dunia yang lebih luas.

Meski terletak di kawasan pinggiran Masyarakat Aru bukanlah komunitas yang terpisah dari gejolak ekonomi global. Orang Aru, dalam catatan Spyer yang memberi bukti melalui sejarah perjalanan Alfred Russel Wallace di abad 19, telah terlibat perdagangan dunia dengan dunia global. Kawasan Aru banyak ditemukan jejak-jejak komoditas seperti tembakau, sarung, arak, senjata, kapak, pisau, piring, sapu tangan hingga kebutuhan sehari-hari seperti gula, biskuit, payung, pipa dan silet (Spyer, 2000: 14). Namun demikian, Spyer menyebutkan bahwa relasi dengan dunia global bersifat asimetris, alias tidak sejajar mengingat orang-orang di kawasan backshore tidak mengakumulasi komoditas tersebut sebagai produk yang menguntungkan, melainkan lebih kepada konsumsi dan pertukaran yang sifatnya subsisten, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari semata. Bahkan relasi pasca kolonial tak beda jauh. Dalam relasi keterikatan, Masyarakat Aru telah mengalami represi dan ketercerabutan, karena pembangunan dijalankan satu arah dan relasi pembangunan lebih bersifat eksploitatif dan paternalistik.  

Di bawah pemerintah Orde Baru, Orang Aru adalah orang yang dianggap “terbelakang” dan pagan, karena belum beragama. Ini berbeda dengan orang-orang Melayu di kawasan pinggir pantai. Spyer mengikuti ide “keterbelakangan” yang ditawarkan dalam karya Anna Lowenhaupt Tsing melihat Orang Meratus. Orang Aru mengalami beban retorika pembangunan dan kemajuan karena mereka dianggap terbelakang dan tak mempunyai agama (Spyer, 2000: 68).

Secara metaforis, Spyer menggunakan simbol prow sebagai bagian depan kapal, dan stern sebagai bagian dari buritan kapal. Bagian depan kapal merupakan adat, sedangkan bagian buritan merupakan representasi proyek modernitas Negara. Dengan kata lain, meski menjadi masyarakat frontier dalam proyek pembangunan, Orang Aru masih menempatkan adat sebagai bagian depan kapal yang memberikan petunjuk dalam kehidupan sosial. Namun negosiasi ini belumlah kelar, mengingat Orang Aru kembali didera proyek raksasa baru dalam bentuk swastanisasi tanah untuk perkebunan tebu PT Menara Group, yang pada akhirnya tentu hendak menggusur kekuatan adat untuk menjadi buritan kapal yang harus mengikut pada bagian depan kapal. Sejarah akan kembali berulang, di mana orang-orang yang tidak sudi menyetujui proyek modernitas akan dicap sebagai masyarakat “pagan”, “terbelakang”, bahkan bisa jadi dianggap “komunis”. Ini adalah cara-cara Negara dan kapitalis swasta dalam meredam perlawanan rakyat terhadap gurita proyek mereka.

Namun demikian, Spyer tidak menempatkan Orang Aru mempunyai posisi yang berlawanan secara hitam putih terhadap proyek modernisasi Negara. Meminjam istilah teoritikus poskolonial Homi K. Bhabha, Spyer menggunakan istilah “hibriditas” di mana Orang Aru mempunyai semacam perasaan negosiasi antara benci dan kagum terhadap proyek modernitas yang ditawarkan oleh Negara (Spyer, 2000: 7). Belajar dari laporan penggambaran ini, kita perlu menyimak lebih lanjut bagaimana sikap, perasaan dan identitas baru yang muncul ketika mereka berhadapan raksasa baru yang bukan datang dari Negara melainkan dari sebuah perusahaan swasta bernama PT Menara Group.  

Identitas hybrid seperti ini yang patut dicermati, karena sebagai masyarakat yang “ditindas” Orang Aru akan cenderung dimanipulasi untuk masuk ke ranah mimikri, di wilayah antara benci dan mengagumi terhadap kekuatan raksasa yang datang dari luar. Kekuatan dari luar secara simbolis terwujudkan dalam bentuk kekuatan uang, pakaian, diplomasi, hingga popor senjata. Spyer telah menengarai ini, bahkan sejak masa kolonial, kekaguman Orang Aru terhadap dunia luar tampak dari pakaian yang menjadi simbol kebanggaan. Masyarakat Aru menyimbolkan burung cendrawasih yang mengenakan komoditas-komoditas modern (rok, pakaian, sepatu). Simbol cendrawasih yang mengenakan pakaian merupakan penanda lokalitas yang menggabungkan dunia tradisional dan modern, di mana terjadi percampuran antara dunia kekaguman dan kebencian sekaligus terhadap penguasa-penguasa baru (Spyer, 200: 56-57). Namun demikian, di samping identitas mimikri, Spyer juga menggambarkan memori heroisme para peselam, sebuah pekerjaan Orang Aru yang menjadi subjek penelitiannya. Para peselam merampok semua komoditas dalam sebuah kapal kargo berukuran raksasa yang tengah bersandar di pelabuhan, dengan cara menenggelamkannya terlebih dahulu. Memori ini merupakan bagian kebanggaan Orang Aru terhadap resistensi yang pernah mereka lakukan terhadap simbol kekuatan yang datangnya dari luar.

Mata pencaharian atau yang disebut oleh Orang Aru sebagai “pencarian” mempunyai ritme dan polanya yang teratur. Munculnya perkebunan tebu otomatis akan mengubah pola mata pencaharian Masyarakat Aru yang selama ini sangat terhubungkan dengan kekerabatan, etnisitas dan relasi gender. Orang Aru mempunyai semacam “spatiotemporal reference,” meminjam istilah antropolog Nancy D. Munn, di mana pola ekonomi terhubungkan dengan pola sosial yang mengacu pada arah angin, waktu, musim dan ritual. Sebagai misal adalah menyelam sebagai mode pencarian Orang Aru, yang dilakukan sepanjang bulan April hingga akhir tahun dan kembali ke kebun sepanjang bulan Januari ke Maret, untuk memanen sagu dan kelapa (Spyer, 2000: 113-119). Hasil dari pencarian diserahkan kepada kaum perempuan yang berhubungan langsung dengan permintaan dunia pedagang di skala yang lebih luas. Perempuan yang terlibat aktif dalam piutang dan kredit dengan orang-orang Cina di Aru atau pedagang dari luar. Piutang dan kredit juga biasa dilakukan antar klan (fam), di mana si pemberi hutang berlaku sebagai patron dari para klien satu fam mereka yang berhutang. Di sini Spyer menunjukkan bahwa relasi ekonomi terkait erat dengan relasi sosial.

Berangkat dari asumsi bahwa pola mata pencaharian dan aktivitas ekonomi saling berpengaruh terhadap bahasa, kekerabatan dan ritual, maka buku Patricia Spyer ini sangat berguna untuk menarik benang merah, kerugian-kerugian sosial dan politik yang akan dialami oleh Orang Aru setelah untuk kedua kalinya menjadi sasaran proyek modernitas dari Negara dan kali ini dari pihak kapitalis swasta. Buku ini penting pula untuk melihat perubahan bahwa Indonesia Timur bukanlah hanya sebuah kawasan yang dianggap eksotis dan penuh harmonisasi yang dilambangkan melalui sistem kekerabatan yang kompleks, melainkan miskinnya masyarakat Indonesia Timur tak lepas karena mode penghisapan dan penjajahan baru yang lebih sistematis dari pihak elit Negara dan Swasta, dan bahkan penuh dengan kekerasan secara telanjang.

Gambaran yang diberikan oleh Patricia Spyer juga menunjukkan dua hal. Pertama, jika perkebunan tebu PT Menara Group jadi direalisasikan, maka Orang Aru akan menjadi masyarakat “frontier” untuk kedua-kalinya, setelah mengalami mode transformasi yang sifatnya paternalistik dan penuh disiplin dalam zaman Orde Baru. Namun kali ini masyarakat bukan berhadapan dengan disiplin Negara, melainkan rakusnya perusahaan swasta yang juga mampu membeli kekuatan-kekuatan Negara. Kedua, dengan dibukanya perkebunan tebu, maka Masyarakat Aru akan mengalami perubahan mode produksi di mana, seperti yang digambarkan oleh Spyer, bahwa mode produksi dan ranah aktivitas ekonomi merepresentasikan simbol kehidupan sosial. Dengan kata lain, jika terjadi perubahan mode produksi masyarakat, maka akan berimplikasi pada perubahan di ranah sosial, misalnya kondisi iklim, kekerabatan, hingga relasi sosial dan politik.

 

Manisnya Tebu, Pahitnya Orang Aru!

Sejarah perkebunan Tebu selalu identik dengan sejarah kelam penjajahan dan perbudakan. Maka sangatlah aneh, jika pemerintah tidak belajar dari sejarah perkebunan, mengingat bahwa masyarakat sekitar perkebunan selalu tidak diuntungkan oleh sistem dan kinerja perkebunan tebu. Sidney Wilfred Mintz, dalam bukunya Sweetness and Power: The Place of Sugar in Modern History (1986) menggambarkan sejarah perkebuan Tebu yang dilihat dari perspektif antropologis. Ia menunjukkan bahwa fungsi perkebunan tebu ditujukan untuk mendukung gaya hidup masyarakat kolonial dibanding ditujukan untuk masyarakat di sekitar perkebunan. Mintz membuktikan bahwa produksi tebu dijalankan melalui sistem budak, atau buruh murah sehingga tebu dihasilkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat klas menengah dari hasil isapan keringat masyarakat miskin dan jajahan.

 

 Perbudakan di Perkebunan Tebu, Karibia, 1830 (Sumber gambar: Buku Sweetness & Power)

 

Masyarakat konsumen terbesar peng-konsumsi gula adalah klas menengah ke atas. Dengan kata lain, tingginya tingkat asupan gula seiring dengan meningkatnya klas menengah. Gula yang pada abad delapan belas masuk dalam kategori rempah-rempah, sejajar dengan cengkeh, pala dan lada, berubah menjadi komoditas umum, dan dikeluarkan dari kelompok rempah-rempah yang eksotis, seiring dengan meningkatnya jumlah klas menengah di Inggris khususnya.

Fenomena terhadap kesukaan terhadap rasa manis tebu berkaitan erat dengan kapitalisme modern, karena sebelumnya gula tidak diproduksi secara masif. Rasa manis pada awalnya dihasilkan dari madu atau buah yang lebih banyak dikonsumsi di kalangan bangsawan. Rasa manis juga dikonsumsi untuk kepentingan pengobatan dibanding menjadi bahan dalam menu makanan dan minuman. Hingga abad delapan belas, masyarakat klas menengah mulai melakukan konsumsi massal terhadap rasa manis, sehingga untuk memenuhi permintaan tersebut, pabrik tebu mulai didirikan di kawasan daerah jajahan, seperti Jawa, Sumatera dan Kepulauan Karibia. Klas menengah mulai mengkonsumsi gula untuk menu-menu seperti biskuit dan pudding. Menu yang ber-gula memenuhi hidangan mereka di saat piknik akhir pekan. Di samping itu, berbeda dengan sejarah perkembangan kopi, teh, dan minuman beralkohol, tebu dan gula tidak mengalami pertentangan dari kalangan agamawan, mengingat gula tidak mengandung alkohol dan kafein.

Di awal abad dua puluh, harga gula mulai jatuh di pasaran, karena bukan lagi konsumsi masyarakat bangsawan dan diproduksi secara massal. Konsumsi gula tidak lagi dianggap pencitraan dari status dan klas sosial yang tinggi karena produknya dapat ditemukan di manapun. Masyarakat klas bawah seperti buruh dapat meng-konsumsi gula sebagai tambahan dalam teh, roti, kopi, coklat. Di samping itu, gula juga mulai dicampur dengan rasa asin, seperti campuran dalam minuman Coca Cola, orange soda, dan makanan seperti hot dogs. Rasa manis dari tebu juga diproduksi dalam bentuk gula keras, cair, hingga bubuk.

Mengenai sistem produksi tebu, Mintz menunjukkan bahwa produksi tebu datang bersamaan dengan sejarah penaklukan dan kolonialisasi. Karena untuk menekan harga produksi banyak budak dan buruh murah yang dilibatkan dalam proses pekerjaannya. Semenjak gula menjadi sebuah tanaman yang bernilai dan mempunyai kontribusi signifikan terhadap ekonomi, produksinya dapat mempengaruhi kebijakan politik dan bahkan keputusan-keputusan militer. Seperti halnya sejarah katun, kopi, teh, padi, dan gandum, tanaman-tanaman untuk produk impor ini paralel dengan sejarah penaklukkan. Proses penanaman tebu menerapkan pula administrasi dengan pajak tinggi dan teknologi irigasi yang menguras air banyak. Dengan demikian, pihak pemerintah lokal dan pusat tentunya mempunyai kepentingan pula untuk mendapatkan laba pajak yang ditarik dari pihak perkebunan tebu.

Untuk meningkatkan produk dan memenuhi permintaan, pemerintah Inggris melakukan sistem kerja intensif terhadap buruh. Mereka bekerja hampir selama seminggu penuh dengan pembagian waktu kerja siang dan malam. Pekerja hanya punya waktu istirahat di saat Sabtu malam hingga minggu pagi. Dalam sistem intensifikasi tenaga kerja tebu, Mintz menyebutkan tiga sistem yang dilakukan. Pertama adalah melalui mekanisasi dan maksimalisasi kekuatan pekerja demi menghasilkan produksi masa. Mekanisasi kerja tentu juga didukung dengan disiplin pekerja manusia. Kedua, melalui pembagian-pembagian divisi sistem kerja yang didasarkan pada pekerja berkeahlian dan tidak berkeahlian. Sudah dapat ditebak, yang terjadi jika PT Menara Group menempatkan kukunya di Aru, maka orang-orang asli akan ditempatkan sebagai pekerja tak berkeahlian. Sedangkan pekerja berkeahlian tentunya didatangkan dari luar. Ketiga, adalah melalui konstruksi kesadaran waktu, di mana industri kapitalisme mempunyai rasionalitas fase penghitungan waktu dalam penanaman, perawatan dan pemanenan (Mintz, 1986: 51). Intinya adalah konsolidasi perkebunan tebu memerlukan penaklukan terhadap masyarakat sekitar dan buruh yang dipaksa untuk patuh terhadap ketiga hal di atas.

 

Mengapa Harus Menolak Perkebunan Tebu?!

Sidney Wilfred Mintz berargumen bahwa dalam membaca makna kita perlu melihatnya dari perspektif ekonomi politik dan mode konsumsi dan produksi dan konsekuensi-konsekuensi kultural dari proses mode produksi (Mintz, 1986: 173-183). Dari uraian di atas, kita perlu melihat makna di balik tujuan produksi tebu dan hendak ditujukan kepada siapa produksi tebu tersebut. Kita juga perlu menginvestigasi siapa yang meng-kontrol dan memerintah dalam produksi tebu serta kepada siapa konsumsi tebu tersebut ditujukan. Dan siapa yang akan menjalankan kontrol terhadap pabrik tebu, serta siapa saja yang terlibat di dalamnya dan seperti apa proses produksi perkebunan tebu tersebut dijalankan. Dengan mencari makna ekonomi politik dan mode produksi di baliknya, maka kita akan menemui bahwa akan terjadi inter-relasi yang tidak seimbang seperti kembali ke masa kolonial antara hubungan penjajah dan dijajah. Dengan kata lain, proyek penciptaan perkebunan tebu adalah upaya mode penjajahan baru di sebuah negara yang mengaku sudah merdeka.

Di samping itu, kita perlu melacak siapa saja yang diuntungkan dalam konsumsi tebu tersebut? Yang pasti bukan Orang Aru, karena tebu dan gula ditujukan untuk konsumsi masyarakat modern dan industrial di luar Aru, karena mereka lah yang secara masif meng-konsumsi gula untuk keperluan menu makanan modern baik dalam bentuk paket, cepat saji, makanan dingin, restoran dan rumah makan yang memerlukan gula dalam jumlah masif.

Mengapa proyek perkebunan tebu merupakan mode pengulangan terhadap penjajahan? Karena ini mengingatkan pada sistem konsumsi zaman kolonial di mana masyarakat terjajah harus menyiapkan tanah untuk ditanami tanaman yang menjadi kebutuhan masyarakat penjajah, seperti tebu salah satunya. Orang Aru akan dipaksa untuk memberikan 6000 hektar lahannya demi memenuhi kebutuhan gaya hidup masyarakat Barat, dan masyarakat modern di luar Aru. Dengan demikian, inter-koneksi antara Orang Aru dan dunia di luar Aru masih bersifat tidak sejajar. Dunia di luar Aru adalah pengkonsumsi, sedangkan Orang Aru dipaksa untuk menjadi pem-produksi materi mentahnya. Sejarah hukum permintaan dan persediaan selalu bersifat politis. Di balik permintaan terdapat kuasa yang memaksa penyedia melalui disiplin, kerja intensif buruh, kontrol militer hingga perebutan lahan. Pen-supply bahan mentah juga identik dengan kawasan periferi dan bekas masyarakat jajahan, seperti yang dialami Masyarakat Aru sekarang. Karena itu, Masyarakat Aru pada saat ini menghadapi hanya hanya melawan kongkalikong antara tirani kapitalisme swasta dan pemerintah lokal, namun juga kebutuhan akan konsumsi gula dari dunia luar Aru yang memaksa kapitalisme untuk menancapkan kukunya di tanah-tanah Orang Aru.

 

6 Alasan Antropologis Lainnya, Menolak Perkebunan Tebu!

Dengan munculnya perkebunan tebu, maka Orang Aru akan mengalami beberapa perubahan sosial yang bersifat negatif. Pertama, melemahnya ketahanan pangan. Sebagai masyarakat yang menjadi ajang uji coba lahan perkebunan, lahan-lahan yang digunakan untuk persediaan pangan akan semakin menyempit, mengingat Orang Aru mulai sadar pentingnya sistem monetisasi alias keuntungan melalui uang kontan yang sebenarnya justru merupakan pendapatan jangka pendek dibanding memperkuat ketahanan pangan untuk diri mereka sendiri.

Kedua, pragmatisme. Masyarakat menjadi pragmatis karena mengenal sistem perkebunan yang produknya tidak menghasilkan pangan melainkan uang. Tanah-tanah yang sebelumnya berfungsi sebagai pemroduk tanaman pangan beralih ke lahan perkebunan. Masyarakat diberi konsesi dalam bentuk uang sebagai ganti alih fungsi lahan. Hal ini cukup membahayakan karena dua hal. Pertama, masyarakat menjadi pragmatis dan malas karena mulai dikonstruksi bahwa cara mendapatkan uang adalah mudah dengan cara mengalih fungsikan lahan ke fungsi-fungsi perkebunan dan pertambangan. Hal ini seperti yang telah banyak terjadi di Kalimantan. Kedua, masyarakat akan terjebak pada dualisme ekonomi ―sebuah konsep ekonomi yang diajukan oleh sarjanawan ekonomi zaman Hindia-Belanda; Julius Herman Boeke― di mana J. H. Boeke menggambarkan akibat kolonialisme, ketika itu masyarakat Hindia-Belanda, meletakkan kaki kanannya di pabrik dan perkebunan, sedangkan kaki kirinya di lahan-lahan pertanian dan ladang yang sifatnya subsisten. Dengan demikian, keberadaan PT Menara Group bukan hendak mensejahterakan masyarakatnya, melainkan menambah daftar panjang sejarah kolonialisme baru.

Ketiga, kemiskinan yang semakin akut. Sejak akhir abad 19 daerah daerah jajahan yang menghasilkan tebu justru tetap hidup dalam lumpur kemiskinan karena hidup dalam sistem ekonomi subsisten (hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari) dan eksploitasi alam yang berlebihan. Daerah perkebunan tebu hanya diharuskan menjadi daerah penghasil monocrop untuk produksi gula yang diperlukan oleh pasar Eropa dan Jawa tentunya. Namun demikian, para buruh di perkebunan tebu diberi upah pada standar kehidupan subsisten. Hal ini akan menempatkan Aru sejajar dengan daerah-daerah miskin di kawasan perkebunan tebu lainnya, seperti di Haiti, Kuba, Jamaika, Filipina dan Brazil Utara.

Keempat, Masyarakat Aru akan rentan terhadap persebaran penyakit. Beberapa kasus daerah percontohan perkebunan tebu dan pabrik gula misalnya adalah Gondanglegi, Malang Selatan, sebuah kawasan yang terletak di Jawa Timur. Dalam sejarahnya, daerah ini menjadi sarang penyakit pes dan kusta. Hal ini karena efek dari perkebunan tebu yang masif adalah tingginya tingkat kebutuhan air yang tinggi. Tebu perlu air lebih tinggi dari persawahan. Sistem sanitasi daerah kawasan tebu akan jadi sangat buruk untuk warga, mengingat, sistem pengairan air lebih digunakan untuk kebutuhan tebu dibanding untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, kebutuhan kakus, dan mencuci. Di titik inilah Orang Aru kemudian akan mudah terjangkit penyakit kulit hingga wabah yang mengerikan semacam pes dan kusta, mengingat sistem sanitasi dan konsep higienitas akan sangat buruk. Banyak air yang dibiarkan menggenang dibandingkan mengalir. Air mengalir hanya untuk kebutuhan tebu. Sedangkan genangan air yang ditampung untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar.

Di sisi lain, sistem perkebunan tebu, menyerap banyak tenaga kerja dari berbagai daerah untuk tinggal menetap. Efek dari tinggal menetap adalah, jika satu warga terkena penyakit, mudah sekali menular ke yang lain. Maka timbullah wabah. Sistem penularan wabah sangat mudah pada daerah persawahan/perkebunan tebu dibanding pada masyarakat berburu dan meramu di Kalimantan yang pola hidupnya bergerak terus, sehingga tidak ada wabah yang menetap.

Kelima, munculnya buruh migran murah. Ditambah sistem perkebunan tebu sifatnya “ada gula ada semut” ada industri, pasti remah-remah lainnya ikut, seperti muncul bisnis-bisnis industri esek-esek, karaoke dan hiburan lainnya, sebagai pelengkap. Buruh yang datang seringkali lajang atau sendiri, mengingat upah di perkebunan tebu yang sangatlah rendah. Karena itu pelengkap hiburan tentunya dibutuhkan. Munculnya prostitusi adalah sejarah lama yang selalu muncul di kawasan-kawasan industri dan daerah frontier yang dibangun perkebunan.

Keenam, Masyarakat Aru akan mengalami alienasi. Selain masyarakat sekitar akan terpinggirkan akibat munculnya perkebunan tebu, para buruh asli yang terserap juga mendapatkan gaji rendah. Produk tebu yang dihasilkan tidak untuk dirinya, melainkan untuk kebutuhan klas menengah di luar Aru. Alienasi juga meningkatkan kriminalitas yang tinggi. Masyarakat yang tidak terserap dalam pabrik dan perkebunan memilih untuk menjadi middle-man atau masyarakat makelar atau preman yang menjadi penengah dalam setiap kasus antara perkebunan dan masyarakat sekitar. Riset Ann Laura Stoler di perkebunan Sumatera Timur jelas membuktikan ini (1995). Sedangkan riset saya tentang masyarakat di kawasan perkebunan Tebu, di Gondanglegi, Malang Selatan, menunjukkan bahwa sejak awal abad 20, masyarakat di kawasan ini dikenal sebagai pem-produksi para kriminal mengingat mereka teralienasi dan mengalami pemiskinan di kawasannya sendiri. Sebagai kompensasinya mereka “beraksi” atau “berulah” di daerah lain dengan sering melakukan pencurian motor ataupun perampokan. Semoga Orang Aru terhindar dari ini semuanya. Jalan satu-satunya, tentu menolak proyek perkebunan tebu PT Menara Group!!!

 

21 September 2013

 

* Dapat dihubungi di: hakadir@ucsc.edu

 

C  a  t  a  t  a  n

 

 

 

Baca Juga

Suasana the Irish Hill Homeless Camp

Belajar Kepemimpinan dari “Kepala Suku” Kaum Homeless di Ibukota Balap Dunia

Catatan oleh: Karim * “The best way to find yourself is to lose yourself in ...

4 Tanggapan

  • Hello, guest
  • Memang benar, tapi perlu diberikan model pembangunan alternatif. Kalau tanah sudah di beli biasanya perusahaan membangun sesuka2nya mau hotel kek, kelapa sawit, atau buat penambangan terserah mereka. Apakah ada jaminan bahwa tanah yang sudah dibeli dan dikuasai akan benar-benar digunakan untuk perkebunan tebu?

  • Pro dan kontra hanyalah manifestasi dari agenda kepentingan. Mengganti kapur tulis menjadi spidol sebagai alat tulis di sekolah tentunya akan mendapat pro dan kontra tergantung dari agendanya masing-masing pihak. Penentangan tidak hanya akan datang dari penjual kapur tulis, tapi pihak yang berniat akan menjual spidol dan pihak yang tidak kebagian proyek spidol pun akan lebih mengekspos dari bahaya spidol tertelan murid dari pada bahaya kapur termakan dan terhirup oleh murid dan guru. Bahkan orang yang tidak pernah menjadi guru dan mempunyai anak yang tidak pernah menyentuh kapur tulis karena anaknya sekolah di sekolah internasionalpun ikut menentang. Kenapa? karena dia kapur tulis digudang tokonya masih banyak.
    Diluar kebangkrutan perusahaan-perusahaan di Kuba, negara bagian Florida dan Lousiana di Amerika masih melanjutkan perkebunan tebu mereka. Keberhasilan perkebunan tergantung cara mengurusnya. Apakah orang Aru lebih baik tetap hidup seperti sekarang karena takut mereka akan suka ketempat karaoke? Jawabannya tentunya akan saling silang tergantung kepentingannya. Bagi yang udah punya niat memiliki tanah dan orang Aru tapi didahului oleh orang lain, atau menolak demi sebungkus nasi ditambah satu lembar 50 ribuan tentunya tidak mengerankan. Atau seperti perusahaan Miss World ltd yang akan mendapat pamor ganda dari hasil demo pendemonya?