Home / Tokoh / Marshall Sahlins: Antropolog Berpengaruh yang “Tersisa” di Abad ini

Marshall Sahlins: Antropolog Berpengaruh yang “Tersisa” di Abad ini

 

oleh: HATIB ABDUL KADIR *

 

Berita mengejutkan dari dunia sains menyeruak. Kali ini antropolog Marshall David Sahlins mengundurkan diri dari National Academy of Science (NAS). Sebuah lembaga sains prestisius di Amerika Serikat. Tidak banyak orang yang bisa direkrut di lembaga ini. Hanya orang-orang mumpuni dengan jalur akademik berpengaruh yang terseleksi di sini. Permasalahan rekrutmen itu pula-lah yang menyebabkan Sahlins pada akhirnya mengundurkan diri. Sahlins kecewa dengan keterlibatan NAS pada proyek-proyek militer yang dijalankan oleh pemerintah. Selain itu ia menolak masuknya Napoleon Chagnon yang terlibat dalam serangkaian kekerasan “akademik“ terhadap komunitas yang ditelitinya. Dengan menggunakan data kuantitatif dan mengaku objektif, Chagnon mengklaim bahwa hasil penelitiannya telah memenuhi syarat kinerja saintifik.

Napoleon Chagnon melihat evolusi manusia dan seleksi gen bias pada laki-laki dan dianggap mampu memicu kekerasan. Dalam penelitiannya, ia menganggap bahwa pembunuhan bagi orang Yanomami adalah sah sebagai persaingan dalam merebut sarana produksi dan sarana utama kompetisi. Sehingga budaya Yanomami adalah contoh paling manusia paling primitif yang tersisa dalam kelanjutan evolusi. Chagnon juga menegaskan bahwa kekerasan secara esensial telah tertanam dalam gen orang Yanomami. Dengan demikian, ia melihat bahwa kejahatan adalah bagian primordial dari orang-orang Yanomami.

Mengetahui Napoleon Chagnon direkrut ke NAS, tentu saja membuat Sahlins berang. Ditambah, soal evolusi, Sahlins memang paling sensitif. Ia tentu sangat paham dengan teori evolusi sosial, karena ia besar di tengah-tengah gemblengan perdebatan antropologi evolusi di tahun 1960-an. Ia adalah generasi yang dibesarkan pada zaman para antropolog besar seperti Julian Haynes Steward dan Leslie Alvin White. Keduanya sangat anti‒evolusi linear a la Darwin-ian yang memandang bahwa Eropa dan masyarakat kulit putih adalah pusat dari segala perubahan.

 

Marshall David Sahlins (Foto: pressblog.uchicago.edu)

 

Idealisme Sahlins bukanlah sikap yang baru. Dia bukanlah antropolog cum yang tugasnya hanya meneliti atau duduk manis di perpustakaan. Dekade tahun 1960-an, para antropolog Amerika secara pesat mulai terseret pada agitasi politik dalam kampusnya dan kehidupan publik. Banyak yang berpartisipasi dalam gerakan hak-hak sipil, serta menentang keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam dan keterlibatan pemerintah dalam penentangan aksi-aksi politik di kampus yang menjadi permasalahan di berbagai universitas. Para antropolog dengan sangat jelas secara intensif bergabung dengan aktivisme anti‒perang. Sebagai misal, di Universitas Michigan, Eric Robert Wolf dan Marshall Sahlins adalah penggerak dalam demonstrasi tahun 1965 dengan menemukan konsep “teach-in“, sebuah fenomena yang tersebar secara luas di seluruh negeri. Protes-protes anti‒perang dengan cara membakar peralatan kampus dan meminta melakukan reformasi di wilayah universitas, ditambah gerakan pidato bebas di Universitas Berkeley hingga pendudukan terhadap bangunan-bangunan administrasi di banyak kampus. Sedangkan berbagai fakultas kemudian terbelah, ada yang mendukung atau justru mendisiplinkan para mahasiswanya untuk tidak melakukan demonstrasi. Sahlins dengan kukuhnya berada di jalur aktivisme menentang perang. Aktivisme macam ini yang sampai sekarang tidak dipunyai oleh para antropolog Amerika dalam menentang invasi pemerintahnya ke Iraq.

 

Perjalanan Karir: di‒gembleng dengan Pendekatan Evolusionistik

Marshall Sahlins adalah anak didik Morton Herbert Fried, antropolog ahli Cina dan teoretikus terpenting mengenai evolusi pada sistem-sistem politik. Di antaranya ia merevisi ide tentang masyarakat tribal/ terasing dengan melihat tahap evolusi sebagai produk sekunder dari ekspansi negara.

Pada tahun 1958, karir Sahlins dimulai dengan menulis disertasi tentang stratifikasi sosial pada masyarakat Polynesia. Dialah yang memperkenalkan ide tentang kharisma seseorang dengan sebutan “big man“ atau “orang besar“ yang identik pada masyarakat Pasifik. Di tahun 1962, ia kemudian membandingkan konsep “big man“ dengan konsep ketua alias “chief“ pada masyarakat Fiji.

Pada tahun 1957, Leslie White, seorang antropolog ahli evolusi mengajak Marshall Sahlins bergabung di Jurusan Antropologi di Universitas Michigan. Nantinya Leslie White juga akan mengajak seorang antropolog kenamaan bernama Eric Robert Wolf untuk bergabung ke jurusan ini. Dan kemudian diikuti pula oleh Roy Abraham Rappaport, seorang dedengkot antropolog lingkungan. Namun demikian, pada tahun 1967‒1969 Sahlins pindah ke Paris, di mana ia kemudian menjadi seorang antropolog strukturalis yang menggabungkan pendekatan Karl Heinrich Marx dengan Claude Lévi‒Strauss. Setelah kembali lagi ke Universitas Michigan, ia menemukan bahwa jurusannya tengah bergerak ke arah kajian ekologi—yang baginya sangatlah asing karena dianggapnya meremehkan kajian kebudayaan. Tak lama kemudian Sahlins melanjutkan petualangannya guna pindah mengajar di Jurusan Antropologi di Universitas Chicago, Amerika Serikat.

 

Antropolog Berpengaruh  

Ketika berpindah di Chicago, Marshall Sahlins mulai berubah menjadi ahli antropologi simbolik. Selain dua tokoh antropologi simbolik lainnya, Clifford James Geertz dan David Murray Schneider. Ketika Geertz dan David Schneider tiba di Chicago, ketiganya mulai membentuk jurusan antropologi dengan mengarah pada teori a la Talcott Parsons dalam melihat sistem kebudayaan sebagai sebuah struktur yang terjalin rapi. Dalam prosesnya, ketiga dewa antropologi ini memotong sub‒bidang antropologi lainnya yang telah menjadi tradisi sosio‒struktural di departemen ini. Lantas mereka juga membuat semacam benteng dalam tradisi antropologi budaya yang didasarkan pada beragam varietas simbolik di dalamnya. Karena itulah Jurusan Antropologi di Universitas Chicago menjadi rumah yang menyenangkan bagi Sahlins ketika datang di sana pada tahun 1973. Namun demikian, Clifford Geertz kemudian pergi meninggalkan jurusan ini dan berpindah lagi ke The Institute for Advanced Study di Princeton, sebuah lembaga think tank prestisius, di mana Geertz tidak mengajar, melainkan hanya meneliti serta menjadi supervisor saja. Sementara David Schneider tetap tinggal di Chicago dan memegang pengaruh yang sangat kuat terhadap para murid generasi di bawahnya hingga tahun 1985, ia pada akhirnya berpindah ke Universitas California di Santa Cruz (UCSC), tempat di mana saya pada saat ini menuntut ilmu.

 

Karya Pemikiran Marshall Sahlins

Marshall Sahlins, yang pada awalnya berpandangan sebagai seorang evolusionis dan kultural ekologis, pada tahun 1970-an tiba-tiba muncul sebagai seorang strukturalis dan secara mendalam menjadi seorang kulturalis mutlak. Ia memulai karyanya dengan esai-esainya yang dikumpulkan sejak awal karirnya dalam sebuah buku berjudul Stone Age Economics (1972). Ketika buku ini terbit, Sahlins tengah berada di Paris selama dua tahun, di mana ia begitu tenggelam dengan debat-debat Marxisme dan strukturalisme. Buku ini berisi catatan penting dan luar biasa tentang ekonomi substantivis yang berpandangan bahwa aktivitas ekonomi bertujuan untuk kegiatan sosial dan kultural, dibanding kegiatan ekonomi itu sendiri. Sahlins sendiri menentang musuh-musuh kaum ekonomi substantivis seperti Manning Nash yang dengan berani mendeklarasikan kematian aliran ini. Dalam buku ini terdapat beberapa esai yang menurut saya menarik untuk dibaca seperti “The Original Affluent Society”, “On the Sociology of Primitive Exchange” dan “The Domestic Mode of Production” yang muncul dalam dua bagian. Menarik karena Sahlins banyak berdiskusi dengan antropolog ekonomi dari Rusia: Alexander Vasilevich Chayanov, yang sangat berpengaruh terhadap aliran ekonomi formalis.

Perpindahan pemikiran Sahlins menuju ke arah strukturalisme dan Marxisme tergambarkan dalam bukunya Culture and Practical Reason yang terbit pada tahun 1976. Buku ini juga menandai fase lainnya yakni pertentangan antara materialisme (sebagaimana dalam judul buku Sahlins, “Practical Reason”) dan idealisme (kultur) yang telah berlangsung lama dalam perkembangan antropologi Amerika. Sahlins menggabungkan pendekatan materialisme historis (Karl Heinrich Marx) dan strukturalisme (Claude Lévi‒Strauss). Pendekatannya ini kemudian ia turunkan ke arah penafsiran simbol struktural kebudayaan. Buku Sahlins kali ini cukup mengernyitkan kening, perlu dibaca perlahan dengan hati-hati karena ia banyak berdiskusi dengan para pemikir yang saling bertentangan sebelumnya.

Di semua karya selanjutnya, Sahlins secara mendalam mulai menggabungkan antara pendekatan kultural dengan sejarah. Sejarah baginya bekerja di luar tatanan simbolik. Apa yang tampak berubah sesungguhnya adalah sebuah basis manifestasi dari struktur ideologi. Konsep Sahlins tentang “mythopraxis“ menggambarkan cara di mana mitos berulang secara konstan hingga konteks kekinian.

Berbagai peristiwa mengalami rotasi sejarah sehingga membentuk “struktur kombinasi dari peristiwa-peristiwa“. Sedangkan peristiwa, diatur oleh kultur, dan dalam proses transformasinya, kultur itu sendiri diatur kembali secara konstan membentuk struktur (ia menyebutnya sebagai “reproduksi struktur“). Sahlins mengembangkan idenya yang rumit ini secara detail dalam karyanya tentang penafsiran ulang pertemuan antara Kapten Cook dengan orang Hawaii pada tahun 1788 dan kejadian-kejadian berikut yang mengikutinya, di mana pada akhirnya membentuk struktur mitos. Pemikiran Sahlins tentang “determinisme struktur kultural“ ini berpengaruh selama seperempat abad terhadap murid-muridnya yang belajar kebudayaan serta sejarah struktural.

Namun demikian, di penghujung tahun 1992, Sahlins menghadapi sebuah debat panas dari tantangan seorang antropolog kenamaan Sri Lanka, yang mengajar di Universitas Princeton. Dia adalah Gananath Obeyesekere. Tantangan Obeyesekere ditujukan kepada Marshall Sahlins dalam sebuah buku berjudul The Apotheosis of Captain Cook: European Mythmaking in the Pacific. Beberapa tahun kemudian Sahlins merespon dengan bukunya berjudul, How “Natives” Think: About Captain Cook, For Example (1995). Membaca buku ini perlu merujuk kembali ke argumen-argumen yang dibangun oleh Obeyesekere. Jika tidak, pembaca akan tersesat dalam sebuah perdebatan yang tidak tahu asal-muasalnya karena di bab pertama Sahlins langsung menghantam berbagai argumen Obeyesekere.

Obeyesekere membantah “mythopraxis” dengan anggapan bahwa mitos bukanlah milik penduduk asli, namun ia diciptakan oleh para pelayar rekan Kapten Cook sendiri. Menurut Obeyesekere, Sahlins mempunyai pandangan yang bias Barat dalam melihat sebuah nilai budaya. Mitos dibangun oleh orang Hawaii karena pertemuan masyarakat asli dengan Kapten Cook. Pada titik ini, Obeyesekere seperti berada di posisi sebagai antropolog pasca‒kolonial yang melihat budaya adalah rekonstruksi dari encounter dengan masyarakat Barat.

 

Kembali Berjuang

Pasca perdebatan dengan Gananath Obeyesekere, nama Marshall David Sahlins nyaris tenggelam di usianya yang semakin senja. Namanya kembali mencuat setelah ia memutuskan keluar dari NAS minggu lalu. David Graeber seorang antropolog kenamaan penggerak gerakan “Occupy Wall Street“, memberikan komentar setajam sembilu terhadap semakin memburuknya kualitas di NAS dan khususnya kepada antropolog belakangan ini: “Marshall Sahlins is a man of genuine principle,…He’s never had a lot of patience for shirtless macho Americans who descend into jungles, declaring their inhabitants to be violent savages, and then use that as an excuse to start behaving like violent savages themselves — except with command over infinitely greater technological resources.” (Inside Higher Ed, 2013)

Kita seringkali menganggap diri kita lebih beradab dan rasional dengan cara mengukur pada orang lain yang kita anggap lebih rendah. Padahal cara kita menuding, justru membuat kita sendirilah yang tidak lebih beradab dari orang lain tersebut. Sepak‒terjang Sahlins patut dijadikan panutan, setidaknya untuk para antropolog Indonesia. Menjunjung tinggi nilai saintifik perlu pula dibarengi dengan etika, perjuangan dan moralitas. Mungkin terdengar klise, tapi bukankah nilai-nilai itu yang perlu ditegakkan dalam semua bidang ilmu pengetahuan? Jika tidak, maka ilmu pengetahuan merupakan hasil dari proses kejahatan manusia. [ ]

 

28 Februari 2013

 

* Editor ETNOHISTORI; mahasiswa Ph. D. Antropologi di University of CaliforniaSanta Cruz, USA; pengajar Antropologi di Universitas Brawijaya.

 

 

 

 

Baca Juga

beyonds

Hidup di Luar Tempurung

Oleh: Shah Priyanka Aziz   Ben Anderson, lahir di Tiongkok, sekolah di Eropa, diundang mengajar ...

3 Tanggapan

  • Hello, guest
  • An impressive share! I have just forwarded this onto a colleague who had been doing a little homework on this. And he in fact ordered me dinner due to the fact that I found it for him… lol. So allow me to reword this…. Thanks for the meal!! But yeah, thanks for spending some time to talk about this topic here on your web site.|

  • Ulasan yang menarik, dan kitapun sebagai antropolog kadang terjebak sebagai tukang stempel sebuah kegiatan yang dulu sering populer dengan istilah “pembangunan”. Sayangnya hanya sedikit yang berani melawan arus, ketika pembangunanisme itu pun ternyata hanya sebuah ilusi.