Home / Edisional / Meninjau Ruang: Masyarakat, Jejaring dan Gerakan dalam Ruang Urban Digital

Meninjau Ruang: Masyarakat, Jejaring dan Gerakan dalam Ruang Urban Digital

oleh: Merlyna Lim*

Keterlibatan media digital dalam pergerakan sosial telah menjadi daya yang mendorong perubahan di masyarakat. Dari Arab Spring sampai Indignado di Spanyol dan Gerakan Occupy Wall Street (OWS) sampai pada Malaysia Bersih adalah fenomena-fenomena yang belakangan menjadikan media digital sebagai salah satu aspek penting. Namun demikian, ketika mungkin media sosial seperti Facebook dan Twitter menjadi pemantik dalam gerakan sosial baru di ranah digital—di mana seakan kegiatan dalam dunia maya itu menjadi gerakan itu sendiri—di lain pihak gerakan tersebut meluas, terwujud dan memiliki pengaruh yang lebih besar dari jejaring media digital itu. Gerakan ini terjadi di mana-mana seperti di jalanan dan alun-alun. Media digital benar-benar menawarkan kans ekonomis pada masyarakat dalam berjejaring, memobilisasi dan mendifusi wacana yang tengah berkembang. Walaupun hingga saat ini pergerakan berbasis media digital—penghimpunan kekuatan melalui persebaran informasi dan wacana—belum menjadi tujuan akhir dari suatu gerakan sosial. Sebaliknya hal ini menjadi pendorong gerakan sosial yang telah ada sebelumnya di mana aktivis non-korporasi unjuk diri. Saat ini telah terjadi saling keterikatan antara ruang publik dan media digital dalam dimensi pergerakan sosial. Keduanya saling menjembatani masyarakat untuk berinteraksi dalam memunculkan wacana-wacana kemanusian dan menyebarluaskan misi pergerakan serta jejaring sosial. Lalu, bagaimana kita membingkai konsep mengenai relasi antar ruang urban dan digital dalam kaitannya dengan gerakan sosial?

Baik dalam ilmu sosial maupun kemanusiaan didapati pergeseran ruang dalam kurun waktu 3 (tiga) dekade mengarah pada sensitivitas kerja berdasar kontekstualisasi letak geografis, yang berpengaruh pada adanya perbedaan dan pre-eminen lokal. Berdasarkan penelitian para sosiolog mengenai ruang, yaitu Simmel dan Foucault, Lefebvre dan para Marxian; juga Harvey, Soja, Massey dan banyak lagi, memperkenalkan kembali pemahaman mengenai ruang dalam ilmu sosial sekaligus mematenkan analisis spasial sebagai bagian dari ilmu sosial.

Dalam membahas kontroversi politik, istilah ‘gerakan sosial’ akan dipetakan oleh kajian sosiologi dengan menggunakan analisis spasial untuk melihat pengaruh letak geografis terhadap imajinasi, praktik dan saluran-saluran atau media dalam perselisihan yang terjadi (Leitner et al., 2008, 158). Manuel Castells (2004) memandang jejaring sosial sebagai struktur yang terbentuk dalam jaringan digital. Castells berargumen bahwa jejaring kontemporer atas gerakan dapat melampaui batas ruang dan waktu dengan demikian berarti dapat melawan monopoli ruang dan waktu yang dilakukan oleh penguasa.

Sementara itu saat struktur ‘spasial baru’ dalam proses dibentuk, jejaring sosial à la Castells belum tentu tidak memiliki wadah. ‘Jaringan’ telah dikenal sebagai aspek dominan dalam mengorganisir kelompok masyarakat, sementara masing-masing individu terus berusaha membangun identitas mereka sendiri, baik di lingkungan virtual maupun ruang spasial dalam keseharian mereka (Marolt, 2008, 118). Dalam hal ini, orang-orang bersosialisasi di ruang virtual tanpa mencerabut identitas mereka yang sebenarnya, di mana tubuh mereka terikat dengan ruang spasial yang nyata. Artikel ini akan menggunakan analisis spasial untuk mengkaji hubungan yang terjadi antara aksi gerakan, ruang urban dan media digital. Dengan demikian, artikel ini juga mengetengahkan konseptualisasi dialog-interaktif antara media digital dan ruang urban.

Penolakan atas Ruang Sipil

Dalam kehidupan urban yang modern, lingkungan spasial ternyata tidak lagi menjadi satu-satunya tempat untuk bersosialisasi. Modernisasi dan laju urbanisasi telah mengubah kehidupan urban secara drastis, orang-orang tak lagi hidup sebagai komunitas di kota-kota dan kawasan metropolis. Masyakarat modern berkembang seiring dengan semangat dan logika neoliberal-kapitalis, di mana akses terhadap ruang dan waktu sedemikian rupa menjadi hubungan transaksional yang sama dengan komoditas lainnya. Di bawah mainstream ini, ruang sipil adalah tempat di mana berbagai individu berkumpul dari berbagai latar belakang geografis dan lapisan tertentu tanpa ada kontrol dari pemerintah, kepentingan komersial ataupun kepentingan swasta lainnya, atau secara de facto tidak ada dominasi satu kelompok terhadap kelompok tertentu (Douglass et al., 2002: 5). Dengan kata lain telah terjadi kekosongan spasial atas fungsi kota-kota modern. Penolakan ruang sipil di sini berbanding lurus dengan penolakan atas jaringan sosial seperti yang disampaikan Putnam dalam decline of Social Capital, di mana ruang menjadi wadah persamaan sekaligus menjembatani perbedaan individu-individu dalam keterikatan dan kepercayaan yang besifat resiprokal (Putnam, 2000).

Media Digital sebagai Jejaring dan Ruang Sosial

Dewasa ini di mana ruang publik dan ruang kultural kurang dominan dalam fungsinya sebagai ruang sosial, media digital memainkan peran penting dalam membangun hubungan-hubungan sosial baik yang konkret maupun yang sifatnya abstrak, dengan keterikatan yang kuat ataupun lemah.

Tak dapat disangkal bila ruang sosial yang dibentuk melalui media digital dijalankan dengan logika yang sama dengan sistem neoliberal-kapitalis. Media sosial seperti Facebook tidaklah bebas dari pengaruh pasar. Faktanya, mekanisme industrial yang menghasilkan produk-produk teknologi dibesarkan secara terus-menerus oleh investasi dan spekulasi modal. Namun, nilai serta kekuatannya ditentukan oleh berbagai banyak pihak yang menjadi pemain di dalamnya. Ruang sipil dapat diwujudkan dalam berbagai lingkungan komersial, kendati ancaman komodifikasi selalu ada bagi penggunanya baik individu maupun kelompok.

Bagi golongan muda kelas menengah, jejaring media sosial digunakan dalam kegiatan keseharian mereka—sebagai sarana mengekspresikan diri, berinteraksi, tebar pesona, sekadar bermain dan bersenang-senang—yang mana tidak satupun dari kegiatan ini bisa disebut sebagai bagian dari gerakan sipil. Namun, dalam tingkat tertentu kegiatan sosial dapat berpengaruh terhadap kegiatan politis ataupun sebaliknya. Melalui jejaring media sosial semacam ini gerakan sosial dapat menjadi sarana dalam mengembangkan budaya sehingga dapat memperkuat kelembagaan, menjadi lahan belajar berpendapat di muka umum, sebagai ruang untuk menggunakan hak mereka dan berkolaborasi dengan orang lain (Lim, 2013a, 19). Budaya partisipatoris yang terbentuk dapat menjadi modal untuk menarik simpati masyarakat yang juga berarti berpotensi mengumpulkan massa pada sebuah jaringan gerakan sosial. Sehingga dapat dikatakan bahwa jaringan sosial urban membawa dampak langsung terhadap gerakan sosial yang terjadi belakangan. Fenomena gerakan seperti yang terjadi di Tunisia, Mesir dan Malaysia pertama kali diwacanakan dalam sosial media, yang mana telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Wacana Terselubung dan Perlawanan Kelompok Sub-altern

Bagaimana satu jejaring dapat menciptakan gerakan sosial dalam lingkungan yang represif? James C. Scott (1990) dalam bukunya Dominations and the Arts of Resistance berpendapat bahwa walaupun dalam satu lingkungan yang represif masyarakat tetap dapat berjejaring yang menjadi cikal bakal gerakan sosial yang menciptakan wacana terselubung (hidden transcript). Sebagai lawan dari wacana publik—di mana terdapat interaksi yang terbuka antara dominator dan kelompok sub-ordinat—Scott (1990, 4) menggunakan istilah ‘wacana terselubung’ yang merujuk pada bentuk kuasa yang mengambil tempat di luar struktur dan tak bisa dilihat atau didengar oleh pemegang kekuasaan.

Tempat-tempat peribadatan sejak dulu telah banyak menjadi wadah dalam menciptakan wacana terselubung, contohnya; Gereja pada gerakan ‘hitam’ di Amerika Serikat, masjid-masjid pada revolusi Iran dan vihara pada gerakan di Korea. Selain itu, tempat-tempat seperti universitas (lembaga pendidikan) dan serikat buruh dapat juga menjadi tempat dalam membentuk gerakan-gerakan sosial, hal ini tampak pada Universitas Belgrade dalam gerakan Serbian-Otpor (anti-Milosevic) dan universitas Korea dan serikat buruh dalam memperjuangkan pemerintahan yang demokratis.

Sementara itu pada setting-an masyarakat urban-kontemporer wadah spasial bagi masyarakat untuk berjejaring dan membentuk gerakan sosial sudah sangat jarang digunakan, dan apabila ada beberapa tempat tertentu yang masih eksis tempat tersebut di bawah dominasi penguasa sehingga tempat ini tak lagi menjadi tempat yang mampu mewadahi perbedaan publik.

Ruang digital tidak menciptakan wacana terselubung, namun dapat muncul sebagai ruang alternatif dalam membentuk wacana terselubung saat ruang fisik sulit melakukannya karena telah dikontrol dan dibatasi oleh otoritas. Sosiolog NUS (National University of Singapore), Cherian George melihat media digital dapat mengendalikan gerakan sosial pada pemilu Singapura di tahun 2011. George berpendapat bahwa keberhasilan relatif dari gerakan oposisi dalam pemilu tersebut dapat ditandai dengan kemampuan mereka membangun wacana terselubung dalam media sosial.

Membingkai Narasi

Sebagai ruang ataupun jejaring, media digital dapat dimanfaatkan untuk menciptakan perlawanan kelompok sub-altern dan menciptakan wacana terselubung, yang menjadi tolok ukur keberhasilan aktivisme.

Kajian Lim mengenai aktivisme dalam Facebook di Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas gerakan yang dibentuk di Facebook tidak berhasil mendapat banyak simpatisan (Lim, 2013a). Partisipasi masyarakat Indonesia di media sosial hanya sebatas pada budaya pop, hal ini menyebabkan usaha mobilisasi politik melalui Facebook tidak terlalu menuai tanggapan dari masyarakat luas. Di luar frame gerakan sosial reguler, untuk dapat menuai kesuksesan melalui media sosial gerakan tersebut harus menempatkan strategi (framing) tertentu dalam merespon mainstream budaya pop—yang melekat pada media sosial itu sendiri—yaitu dengan menggunakan narasi sederhana yang ‘menjual’ seperti; ‘ligh t package’, ‘headline appetite’ dan ‘trailer vision’ (Lim, 2013a).

Ruang digital media dan jejaringnya dapat mempropagandakan wacana baru, pesan-pesan baru, ide-ide baru yang dapat menjadi kritik atas otorisasi kekuasaan. Namun demikian, representasi simbolis atas kekuasaan telah mengakar pada memori dan kesejarahan ruang publik. Sementara itu gerakan berkembang dalam ranah ruang media sosial, terutama ketika ruang fisik telah ‘dijajah’, ‘kontingen revolusioner mencapai idealitasnya bukan di tempat produksi melainkan di jalanan’ (Virilio, 1977). Keberadaan ruang simbol pemberontakan penting untuk menunjukkan proses gerakan sosial tersebut. Dalam konteks ini, ruang yang diduduki, diidentifikasi melalui makna, simbol, narasi dan latar kesejarahan dari ruang itu.

Realisasi dari online ke offline satu gerakan dalam masyarakat urban tak hanya harus bergantung pada media digital. Satu gerakan harus melampaui ruang media digital, terutama ketika populasi online hanyalah segmen kecil dari keseluruhan jumlah masyarakat seperti di Indonesia, Mesir, Tunisia, dan negara berkembang lainnya. Indonesia, Philipina dan Mesir telpon seluler yang notabene lebih tradisional—bila dibanding dengan media digital—digunakan secara luas untuk berkomunikasi dan mengkoordinasikan aksi. Di sini kita dapat melihat pentingnya inter-modality, yaitu tautan dari media berbasis internet dan media sosial ke jejaring lainnya (Lim, 2003).

Kritik atas kasus yang terjadi di Tunisia, Philipina dan Indonesia adalah mengenai ‘inter-modality’ yang menciptakan jejaring hibrid dan ruang hibrida di mana ruang digital dan ruang urban saling terhubung dan tumpang tindih. Castells (2012, 11) menyebut keadaan ini sebagai ruang atas komunikasi swatantra yang membiarkan satu gerakan dibentuk dan memungkinkan gerakan ini terhubungan dengan masyarakat luas melalui kekuatan teknologi informasi melampaui mekanisme kontrol penguasa. Gerakan urban-kontemporer akhirnya akan berkutat pada kombinasi dari fiksasi dan mobilisasi. Gerakan sosial belakangan ini memanfaatkan aktivitas masyarakat dalam media digital yang terhubung dengan jejaring ruang urban sebagai simpulnya.

Terdapat 2 (dua) grup di antara warga Jakarta yang memiliki akses tercepat dalam memperoleh informasi mengenai protes yang terjadi di sekitar mereka. Kelompok pertama adalah para sopir taksi yang memiliki kepentingan untuk mencari rute-rute cepat dan aman sehingga mereka harus tahu di mana mahasiswa atau aktivis akan beraksi di jalanan. Mereka juga akan mencari informasi lebih dalam, hal ini berguna untuk memantik pembicaraan dengan penumpang. Beberapa sopir taksi di Jakarta mengakui bahwa mereka menerima tumpukan selebaran informasi pada gerakan tahun 1998 dari para mahasiswa ataupun aktivis untuk disebarluaskan pada penumpangnya. Menurut beberapa sopir taksi, di saat terjadinya demonstrasi radio yang terpasang pada mobil taksi juga berguna untuk menyebar-luaskan informasi tentang demonstrasi tersebut (Lim, 2003; 2006).

Grup kedua adalah para pedagang makanan dan pemilik warung yang berada di universitas yang merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya proses aktivisme oleh mahasiswa. Para pedagang dan mahasiswa akan saling mengobrol pada jam makan siang, makan malam ataupun sarapan. Grup ini kebanyakan berasal dari kelas menengah-ke bawah yang karena kedekatan memiliki rasa simpati pada mahasiswa dan aktivis, para pedagang ini akan mendengar keluhan mereka dan juga menyediakan makanan bagi para mahasiswa tersebut. Keadaan politik kemudian menyebar melalui para penjaja makanan ataupun pemilik warung sebagai rumor dan gosip yang sehari-hari akan terus dibahas. Di sini para sopir taksi dan pemilik warung menjadi penghubung informasi antar jejaring sosial yang ada di masyarakat (Lim, 2003;2006).

Selain berkoordinasi, para aktivis harus tetap menggawangi gerakan yang dibawanya. Dalam lingkungan masyarakat represif, proses mempertahankan gerakan ini juga mencakup strategi bertahan dan menyiasati tindakan kekerasan yang dilakukan oleh penguasa.

Ketika tubuh-tubuh melakukan aksi di jalanan dan di alun-alun, aksi mereka terekam dan kemudian disebarluaskan di ruang digital seperti Twitter, Facebook, Youtube dan saluran televisi dalam perangkat teknologi informasi, seperti telpon seluler, seluler pintar, kamera saku, dan kamera TV. Tubuh yang nyata dalam aktivitas offline dan online terhubung dan membentuk ruang publik kontemporer di mana gerakan akan terus bangkit dan melawan hegemoni.

Kesimpulan

Gerakan sosial dapat dipahami sebagai aksi mempertanyakan kecenderungan serta realisasi kebijakan yang dibuat oleh penguasa. Oleh karena itu, dalam mengkaji hal ini kita tidak bisa mengabaikan kaitan penting antara media digital dan ruang publik sebagai wadah berjejaring sosial, kultural maupun politik.

Media digital menawarkan kans ekonomis pada masyarakat untuk berjejaring sehingga dapat memobilisasi dan mendifusi suatu wacana, selain itu media digital juga memungkinkan terbentuknya hidden-transcript dan menciptakan perlawanan kelompok sub-altern yang dibutuhkan gerakan sosial sebagai tagline yang menarik. Hal ini mengembangkan gerakan yang telah ada dengan satu dimensi baru di mana tidak ada aktivitas fisik, hanya komunikasi dan persebaran informasi yang mengambil tempat dalam jejaring gerakan. Dengan demikian gerakan ini menjadi terselubung dan tidak terjangkau oleh kontrol dan represi penguasa (hegemoni). Namun demikian, kekuatan atas satu gerakan ini hanya akan tampak ketika demonstrasi terjadi di ruang-ruang publik yang dipengaruhi oleh inter-modality masing-masing kelompok masyarakat.

Dalam gerakan sosial kontemporer baik media digital maupun ruang urban terdapat hubungan saling ketergantungan—yang bergantian maupun saling melengkapi—yang tidak hanya dapat menjadi wadah dalam membentuk gerakan sosial tapi juga menjadi ‘ruang harapan’ (Harvey, 2000) bagi masyarakat sipil untuk berpartisipasi dalam mengkritisi kebijakan dan agen-agen pemerintah.

10-1-2015

*merlyna.lim@carleton.ca


[ Etnohistori Edisi Media Baru ]

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

3 Tanggapan

  • Hello, guest