ETNOHISTORI

Membangkitkan Adat di Manggarai, Flores Barat

 

Review tulisan: Adat Revivalism in Western Flores Culture, Religion, and Land. Penulis: Maribeth Erb. (Bab pada buku: The Revival of Tradition in Indonesian Politics: The Deployment of Adat from Colonialism to Indigenism)

 

Ulasan Buku oleh: Retsky Anugrah W. P.

 

Sebelum periode reformasi di Indonesia, konsep adat dilihat secara negatif karena stigma menghambat pembangunan; bertentangan dengan agama-agama misionaris. Budaya orang Manggarai dimaknai sebagai budaya daerah (regional culture) yang berada di wilayah pinggiran budaya Nasional. Adat telah kehilangan nilai sakralitasnya dan hanya dihubungkan dengan “seni”, “custom” dan gereja memandangnya sebagai kegiatan “pagan” yang menentang Tuhan.

 

Adat Sebagai Pertunjukkan (Culture as Displaying)

Dalam tulisan ini Maribeth Erb membicarakan kebangkitan adat yang tejadi di daerah Flores, tepatnya di Manggarai Barat. Maribeth menjelaskan bahwa kebangkitan yang terjadi di Flores dimulai sejak periode Reformasi. Munculnya keinginan masyarakat untuk melakukan kebangkitan terhadap tradisinya terutama didasari oleh munculnya perasaan lost of tradition. Masyarakat mulai merasa kehilangan tradisinya karena terkungkung dan terikat oleh aturan-aturan zaman Orde Baru yang banyak mengikat nilai-nilai tradisi masyarakat. Oleh karena itulah masyarakat melakukan langkah-langkah pengembalian kembali tradisi mereka, melalui cara konservasi rumah-rumah adat ataupun benda-benda adat lainnya di dalam museum-museum. Selain itu adanya lost of tradition juga menghidupkan kembali nostalgia-nostalgia di masa lalu yang pudar disebabkan oleh masuknya misionaris Katolik, masalah politik dan hal-hal lainnya. Selain itu adat mulai berpengaruh sejak jadi pertunjukkan untuk kunjungan wisata pada tahun 1980-an.

Ketika makna adat hanya sebagai displayed, efeknya wisatawan yang datang melihat sebuah rumah adat, misalnya lingko yakni rumah adat komunal yang berbentuk laba-laba hanya dilihat sebagai bentuk rumah eksotis oleh para turis tapi tidak dihubungkan dengan tanah-tanah masyarakat indigenous yang menjadi sumber konflik, karena lingko berada di tanah clan yang kini telah diindividualkan. Dengan demikian nilai sebuah kebudayaan (value of culture) hanya dimaknai pada pandangan wisatawan yang memisahkan rumah tersebut dengan tanah, sedangkan bagi masyarakat Manggarai, rumah mempunyai hubungan yang erat dengan tanah yang kini sedang mengalami konflik akibat perubahan dari komunal ke individual.

Makna adat kemudian disamakan dengan budaya, bahwa budaya adalah sesuatu yang dipertujukkan untuk wisatawan. Dalam narasi lainnya, tentu dapat kita bandingkan dengan munculnya TMII (Taman Mini Indonesia Indah) yang menggagas bahwa budaya adalah sesuatu yang dipertunjukkan dan disimplifikasi dalam satuan pertunjukkan layaknya Walt Disney di Amerika. Implikasi ketika adat dan budaya disamakan dan hanya menjadi bahan pertunjukkan, mengakibatkan masyarakatnya hanyalah bagian dari objek-objek yang disaksikan semata, bukan sebagai agen aktif dalam pembangunan.

 

Membangkitkan Adat

Revivalisme yang terjadi di Flores ini sebenarnya bukanlah menghidupkan kembali tradisi secara utuh tetapi menghidupkan kembali dengan adanya perubahan-perubahan tertentu. Kebangkitan yang dialami masyarakat Flores adalah mempertahankan dan membangun kembali tradisi mereka dengan beberapa perubahan terhadap value dalam suatu tradisi menjadi sebuah komoditas. Sejak munculnya kebangkitan ini adat-adat di Manggarai Barat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: sebagai perilaku sehari-hari (yang di dalamnya masih mengandung sistem nilai) ataupun sekedar sebagai display, di mana adat yang dilakukan hanya sekedar untuk komoditas pariwisata, contohnya tarian Caci untuk menyambut tamu dan konservasi rumah adat sebagai museum di mana tarian Caci di sini telah kehilangan valuenya sebagai tarian yang menggambarkan hubungan antara manusia dan Tuhan. Rumah adat yang mengalami “Museumisasi” juga telah kehilangan nilainya hanya sekedar artefak biasa. Dengan kata lain dapat dikatakan juga bahwa pada dasarnya masyarakat Manggarai Barat menghadapi kebangkitan tradisi di dalam tiga sistem, yaitu: Material, Ritual, dan Rohani.

 

Upacara Caci sebagai pertunjukkan dalam sebuah seremoni adat, 2002 (foto: Anita Verhoeven)

 

Katolik dan Revivalisme Adat

Reformasi adalah “pintu” yang mengawali mudahnya akses-akses terhadap adat-adat yang awalnya tertutup. Pada masa Reformasi ini masyarakat menjadi lebih bebas karena adanya otonomi daerah. Sehingga masyarakat dapat secara bebas membangkitkan lagi adat-adat yang awalnya dilarang keras dilaksanakan saat Orde Baru. Oleh karena itulah masyarakat seringkali memandang bahwa revivalisme kebudayaan di Manggarai Barat terjadi karena Reformasi. Selain karena pengaruh politik cukup mempengaruhi, kebangkitan kembali terjadi juga karena masuknya misionaris Katolik ke Manggarai Barat. Para misionaris ini membawa agama Katolik melalui berbagai ranah, baik pendidikan, kesehatan, dan juga ekonomi. Katolik kemudian menjadi agama utama di Manggarai Barat.

Di samping itu, munculnya adat sebagai pertunjukkan akibat wisatawan, misalnya animal sacrification atau pengurbanan hewan ditemukan di mana-mana, padahal pada awal tahun 1980 ritual tradisional bersifat tabu dan dianggap bagian dari masa lalu. Kuatnya peran Katolik menyebabkan ritual juga dilarang oleh gereja, yang melakukannya, siapa yang melakukan ritual persembahan dianggap sama dengan anti Katolik. Ritual kurban pada awalnya sangat jarang dilakukan, kecuali untuk makanan, tapi jika adapun komunikasi dengan deities/supernatural.

Namun pada pasca Orde Baru, dan setelah adanya pertemuan Konsili Vatikan II gereja Katolik yang isinya menghargai budaya lokal, para pastur justru menjadi sponsor utama dalam serangkaian ritual kurban. Pada awalnya politik baptis kepada semua anak, sekolah, tanggal lahir, kemudian menjadi penting untuk menambah identitas Katolik, dan menghapuskan identitas adat, namun munculnya Konsili Vatikan II yang sangat berbeda dengan I, di mana terakhir lebih melihat relasi antara gereja dan masyarakat/umat sedangkan Konsili Vatikan I benar-benar melihat agama sebagai salvation/wahyu semata. Dengan demikian, Konsili Vatikan II turut berperan serta dalam memungkinkan proses inkulturasi. Dengan demikian masyarakat Manggarai yang membangkitkan adat, juga dapat mengklaim dirinya sebagai “true Catholic” atau Katolik sejati, sesuatu yang tidak mungkin terjadi sebelumnya.

 

Ritual berbincang dengan Ayam yang sebelumnya dilarang keras oleh Katolik (foto: Anita Verhoeven)

 

Tanah dan Klaim Adat

Meningkatnya jumlah populasi dan harga tanah menyebabkan konflik tanah semakin meningkat Sehingga ketika reformasi semua masalah pemerintahan “diselesaikan secara adat” dibanding dengan hukum positif modern. Hukum adat dan peran pastor gereja dianggap menjadi penting setelah hilang dan mengalami krisisi ketika terjadi konflik tanah pada tahun 1990-an dan tidak terselesaikan. Selain itu terjadinya korupsi di tingkatan para birokrat dan model hukum positif yang berbeda dengan hukum adat, membuat masyarakat benar-benar bersatu menggunakan adat sebagai perlawanan terhadap modernisasi, belakangan terhadap isu munculnya taman nasional yang akan mencaplok tanah-tanah masyarakat Manggarai. Taman nasional sebagai enclave yang memisahkan dengan penduduk lokal setempat dengan pilar batas yang tidak jelas dan tidak mencapai kesepakatan secara tegas. Namun hutan yang masih perawan tersebut justru ditanami oleh para pebisnis dari Jawa dan Cina dengan kopi, vanila dan gulma. Penduduk yang menggunakan tanah harus memberikan 60% produksi kepada Negara. Di sinilah kemudian masyarakat menggunakan kekuatan adat sebagai sebuah kepastian di tengah ancaman negara.

Pertarungan antar pemerintah versus masyarakat adat dalam memperebutkan lahan hutan yang diklaim Negara, menuduhkan masyarakat dengan sebutan “perambah hutan liar”. Di sisi lain Negara juga tidak menjelaskan secara jelas batas antara tanah masyarakat dan mana tanah Negara. Konflik dengan Negara mulai muncul karena perbedaan konsep mengenai tanah “lingko” sebagai tanah adat antara masyarakat adat dan pemerintah. Kecurigaan saya, hutan adat ini “dibersihkan” dari tangan masyarakat agar dapat diinvestasikan kepada investor air minum dan tambang.

Kesimpulan yang dapat kita baca dari tulisan Maribeth Erb ini adalah adat memberikan kepastian di tengah ketidakpastian reformasi. Adat juga yang mampu menyatukan kekuatan masyarakat di tengah ketidakpastian dan klaim-klaim Negara yang dianggap merugikan mereka. Sedangkan menjadi Katolik, adalah bagian dari adat itu sendiri, karena dengan menjadi Katolik sekaligus mempunyai adat adalah langkah politik masyarakat di tengah-tengah gurita otorirasis pemerintah yang hendak mencaplok tanah dan properti material lainnya milik masyarakat Manggarai.

 

* Antropolog

 

Kamis, 23 Juni 2011

 

 

 

2 Tanggapan

    • Hello, guest
    • Halo Pak Amri,
      Rujukan resmi ada di bagian atas, sebuah review dari kumpulan buku editan David Henley dan Jamie Davidson, adapun penulisnya adalah Maribeth Erb (lihat bagian kiri atas) sedangkan Robert Lawang adalah salah satu informan utama dari Maribet Erb, si penulis.

      Salam hormat

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org