Membioskopkan Santri & Pesantrennya
oleh: Hatib Abdul Kadir
Selama periode Orde Baru, setidaknya ada tiga film tentang santri yang penggambarannya berbeda dengan latar belakang munculnya film tentang santri Pasca Orde Baru. Jarang sekali produser yang sudi membuang uangnya untuk membuat film bermuatan relijius. Seorang sutradara relijius kenamaan, Chaeral Umam, bahkan hanya memproduksi tiga film epik tentang santri yakni Al Kautsar (1977); Titian Rambut di Belah Tujuh (1982), dan Nada dan Dakwah (1991).
Tujuan Chaerul Umam pada tiga film ini lebih berhubungan dekat dengan aspirasi kealimannya untuk menjadi semacam aparatus “dakwah”, khususnya di bidang visual. Hal ini berbeda dengan sutradara pasca reformasi seperti Hanung Bramantyo misalnya. Ia membuat film relijius seperti Ayat-Ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban. Dua film Hanung ini tidak tengah mencoba untuk membuat citranya sebagai seorang sutradara yang beriman dan islami. Secara personal, Hanung hanya ingin memenuhi permintaan ibunya untuk membuat film relijius sebelum beliau meninggal dunia.
Pada sisi lain pula, Hanung hanya memenuhi hasrat pasar keluarga Punjabi, produser kaya keturunan India, untuk membuat film tentang kehidupan santri dan pesantren yang sebelumnya telah laris manis dalam bentuk novelnya. Bentuk dari inkonsistensi dan afirmasi Hanung terhadap permintaan produser adalah ketika setelah membuat film Ayat Ayat Cinta, ia membuat film Perempuan Berkalung Sorban yang sama sekali muatannya bertentangan diantara keduanya. Pada film pertama, Hanung membela narasi poligami yang dilakukan oleh seorang santri bernama Fahri, dan di film kedua, ia dengan jelas-jelas menentang ide poligami dan menadvokat seorang santriwati, Annisa sebagai korban poligami. Tidak ada yang teguh dalam karya buatan Hanung.
Sepak terjang Hanung ini menyerupai seorang sutradara opera sabun tahun 1950-an, Douglas Sirk yang memproduksi film relijius seperti “All that Heaven Allows” dan “Written on the Win“. Dua karyanya ini tidak berhubungan satu sama lain, bahkan bertentangan. Sirk tidak tengah mencoba untuk membuat film sebagai sebuah pertobatan massal bagi masyarakat Amerika. Ia juga tidak hendak menciptakan pahlawan agama baru di dalam film-film relijiusnya. Sirk hanya mencoba menangkap tren pasar pada waktu itu yang mana cenderung kembali kepada hiburan opera sabun dan film sebagai pusat hiburan warga urban Amerika, yang frustasi pasca perang dunia kedua. Dalam hal ini, latar belakang sosial budaya di Indonesia nyaris serupa dengan masyarakat Amerika pasca perang II. Agama demikian laris untuk dijual dalam kehidupan urban yang semakin kompleks, sekularisme kemudian mulai dikritik, munculnya krisis ekonomi, dan tidak adanya kekuatan otoritatif tunggal dalam pemerintahan pusat yang mengontrol hingga pada kreativitas visual.
Beberapa bulan setelah suksesnya AAC, Hanung membuat film relijius yang berjudul Perempuan Berkalung Sorban (PBS). Film ini baru saja diputar di beberapa jaringan bioskop nasional 21. PBS berasal dari novel Abidah El. Khalieqy. Berbeda dengan film sebelumnya (AAC), PBS tidak selaris yang dibayangkan dan tidak mampu mengundang jutaan penonton dari latar belakang yang berbeda dengan isi film, seperti ketika film AAC meledak. PBS bercerita tentang sebuah pesantren salafiah, Al-Huda di Jawa Timur, yang dimiliki oleh Kyai Hanan (Joshua Pandelaky). Latar belakang film ini adalah tahun 1980-1997, dimana pesantren digambarkan masih dalam kungkungan kultur patriarki. Dibanding dua kakak laki-lakinya, Annisa (Revalina S. Temat) yang menjadi anak bungsu Kyai Hanan dikekang untuk beraktifitas. Annisa tidak boleh menunggang kuda dan tidak diijinkan untuk menuntuk ilmu ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Film ini menggambarkan tentang kekonservatisan pesantren salafi yang masih menganggap perempuan hanya boleh beraktifitas di ruang-ruang domestik. Di samping itu, pesantren juga digambarkan sebagai sebuah pendidikan tradisional yang mencoba tetap tidak mau berubah dalam perubahan arus jaman dan modernitas yang melaju demikian cepat.
Layaknya dalam narasi etnografi tentang pesantren, jaringan antara pesantren dan kyai juga digambarkan dalam bentuk yang saling menguntungkan seperti hutang pituang antara pesantren kaya dan miskin dan relasi pernikahan diantara kerabat kyai. Dalam film ini, hal yang menarik seharusnya difokuskan pada konflik antara pesantren miskin, Al Huda, milik ayah Annisa, yang berada di bawah kontrol pesantren kaya milik suami pertama Annisa. Perempuan selalu menjadi mediator dalam menjaga hubungan antar pesantren. Ia menjadi semacam ajang “pendamai” dan negosiator dengan kekuasaan laki-laki yang mengambil keputusan sepenuhnya di dalam dunia pesantren.
Annisa sesungguhnya hendak melanjutkan studinya ke sebuah kota bernama Yogyakarta, sayangnya Kyai Hanan telah menjodohkannya dengan seorang gus Samsudin (Reza Rahadian) yang kebetulan suka mabuk-mabukkan. Ayah Samsuddin adalah seorang kyai kaya yang telah banyak membantu keberadaan Pesantren Al Huda. Di pertengahan masa pernikahan mereka, Samsuddin melakukan poligami dan pada akhirnya menceraikan Annisa. Kemudia Annisa menikah dengan seorang santri alim nan ganteng yang telah menjadi kekasih lamanya, Khudori. Laki-laki ini baru saja menyelesaikan studinya dari Mesir. Ia juga merupakan seorang dosen mudah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Di Yogyakarta, Annisa mendapatkan pekerjaan sebagai konsultan “feminis” di sebuah lembaga non pemerintahan. Berdasarkan berbagai pengalaman di Yogyakarta, kemudian Annisa hendak “mencerahkan” pesantren ayahnya dan menegakkan hak-hak perempuan untuk bisa lebih mengakses buku, membaca dan menulis.
Penggambaran dalam film ini juga mempunyai kekacauan geografis, karena pesantren Al Huda yang berlatar belakang di wilayah Jombang, digambarkan sangat dengan pantai. Dalam kenyataannya, kita perlu melewati lebih dari 100 km jalur darat untuk mencapai bibir pantai di Jawa Timur. Di sisi lain, Hanung menggambarkan Annisa sebagai santriwati yang selalu lari ke bibir pantai pada saat-saat sedih dan stres demi menghadapi kekejaman ayahnya, Kyai Hanan. Hanung seperti tengah berkenalan dengan dunai pesantren dan ia tidak dapat mengeksplorasi lebih dalam sisi emosi dari seorang santri, karena itu, Annisa, seorang santriwati desa, digambarkan seolah-olah seperti seorang kelas menengah urban yang selalu lari ke pantai dan kembali ke alam ketika mengalami masa-masa stres dan depresif.
Perkenalan Hanung dengan dunia pesantren ini layaknya sebuah perkenalan pertama seorang antropolog Clifford Geertz, dalam sebuah artikel pertamanya ketika ia berkunjung ke Pesantren Demak Idjo di Yogyakarta. Di dalam monografi mininya “The Javanese Kijaji: The Changing Role of a Cultural Broker”. Geertz juga mencoba untuk melihat apa itu pesantren dan bagaimana dunia santri yang ada di dalamnya. Baik Geertz maupun Hanung pada pertama kali hanya menarasikan sebuah dunia yang baru dikenalnya pada tataran strutktur permukaan; ada beberapa stereotipifikasi di sana-sini, khususnya dalam menggambarkan kehidupan dan nilai kyai, gus, santri and santriwati. Meskipun demikian, harus diakui bahwa PBS mempunyai kelebihan di dalam menarasikan peran santriwati. Gambaran perempuan dalam pesantren selama ini telah terabaikan dalam tradisi tulis etnografi Indonesia, karena masih berdasarkan sudut pandang laki-laki sebagai narasi utama. Dalam PBS, ini Hanung mencoba menggambarkan ketabahan Annisa yang diserupakan dengan penggambaran Nyai Ontosoroh dalam tokoh utama novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia.
PBS secara implisit mencoba merepresentasikan bahwa hampir semua pesantren telah menekan peran perempuan (santriwati). Tak heran jika kemudian beberapa institusi Islam bereaksi terhadap tema film ini. Sebagai misal PBNU menyatakan bahwa PBS telah menghina dunia pesantren karena film ini hanya menampilkan sisi negatif dari dunia pesantren dan itu dianggap tidak cukup realistis. Pesantren masih digambarkan sangatlah kolot, sangat eksklusif, anti reformasi, dan kolot. Seorang Imam Besar masjid Istiqlal, Ali Mustafa Yaqub yang juga menjadi Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), menyatakan untuk melakukan terhadap film ini. PBS menunjukkan bahwa peran kyai dan eksistensinya seolah-olah berada di posisi yang salah. Hanung mendapatkan kritik karena tidak mengobservasi secara mendalam dunia pesantren itu sendiri, melainkan hanya mengetahuinya semata melalui novel Abidah El. Khalieqy.
Sebelum film PBS, ada juga film mengenai dunia santri dan pesantren, yakni 3 Doa 3 Cinta. Film ini disutradarai secara langsung oleh Nurman Hakim, yang menceritakan tentang harapan dan cita-cita tiga santri yang mondok di Pondok Pesantren Al Hakim. Ketiganya saling bersahabat, Huda (Nicholas Syahputra), Rian (Yoga Pratama) dan Syahid (Yoga Bagus). Mereka tinggal di Pesantren Pabelan, tidak jauh dari Magelang, Jawa Tengah. Meskipun demikian, masing-masing dari mereka mempunyai rencana dan mimpi-mimpinya. Masing-masing santri pada awal bulan Hijriah berkumpul bersama di pojok pesantren. Mereka berharap sesuatu dengan menuliskan di dinding permohonan dan target tahun depan dalam bentuk tulisan Arab. Sebagai misal, Huda menginginkan bertemu dengan ibunya; Ryan ingin mendirikan studio fotografi dan Syahid hanya ingin mati di jalan Allah.
Huda adalah seorang anak muda yang dingin, tenang dan cerdas, karena itu Kyai Wahab, pemimpin pesantren salafi ini menginginkan agar Huda menikahi anak perempuannya. Ryan, mempunyai selera yang modern karena ia menginginkan untuk belajar segala sesuatu yang berkaitan dengan audio visual, namun pada kenyataannya keinginan ini dilarang oleh Pesantren Al Hakim. Pesantren tidak mengijinkan sama sekali santri untuk membawa barang elektronik seperti radio dan handy cam. Sedangkan Syahid berasal dari sebuah keluarga miskin, karena latar belakang ekonominya ia berafiliasi dengan seorang kyai fundamentalis yang tidak jauh dari pondok pesantrennya. Syahid bahkan berencana untuk menjadi seorang jihadist dengan melakukan bom bunuh diri.
Dibanding dengan Hanung Bramantyo, Nurman Hakim adalah seorang sutradara yang mempunyai latar belakang pendidikan pesantren, karena itu dalam mengambarkan karakter Syahid, ia mencoba melakukan semacam advokasi bahwa pesantren tidak terhubung dekat dengan terorisme. Sayangnya, isu ini agak terlambat semenjak bom WTC tahun 2001 yang kemudian berakibat pada tuduhan bahwa Islam dan pesantren telah menstimulasi dan memproduksi munculnya gerakan terorisme global. Delapan tahun kemudian (2009) adalah masa yang kesiangan untuk membantah itu. Dalam film ini, Nurman Hakim tidak dengan jelas menunjukkan perbedaan antara pesantren tradisional yang mengusung ide toleransi lokalitas dan multikulturalisme dengan pesantren fundamentalis yang hamper sukse untuk membujuk Syahid untuk menjadi seorang radikalis.
Pada awal film ini juga menunjukkan bahwa Kyai Wahab yang juga dipanggil sebagai Romo memberikan pengajian harian dari Kitab Kuning, yang ditranslasikan ke dalam bahasa Jawa, dan santri menulis terjemahan Romo tersebut ke dalam tulisan Arab dan skrip Jawa. Sebagai seorang sutradara, Nurman lebih detail dalam menggambarkan kondisi pesantren, dibanding dengan film PBS, garapan Hanung Bramantyo. Nurman menggambarkan sistem struktural pesantren. Kyai sebagai seorang guru mempunyai peran untuk mengajarkan bahwa Islam adalah sebuah agama yang Rahmantan lil A’lamin (Penuh cinta terhadap segala isi dunia), Kyai juga menjadi contoh yang baik bagi para santrinya, Kyai menjadi seorang pemimpin (imam), tidak hanya ketika melakukan sholat namun juga di masyarakat. Ada pula seorang ustadz, yang tugasnya melakukan pengawasan langsung terhadap para santri, mendisiplinkan santri untuk bangun pagi tatkala adzan subuh mengumandang, melatih bagaimana bermain instrumen rebana di senja hari, bertanggung jawab terhadap bersihnya dapur, dan pada saat yang sama seorang santri senior bisa menjadi ustadz. Sedangkan santri digambarkan mempunyai kecenderungan untuk melakukan hubungan seks sejenis, terkena peraturan untuk tidak membawa peralatan elektronik, tidak merokok, tidak mencuri, tidak berbohong, dan tidak keluar malam tanpa ijin dari pesantren. Segala peraturan ini menyebabkan para santri melakukan resistensinya, dengan keluar tengah malam, mengintip perempuan yang tidak tengah mengenak jilbab, dan merokok.
Tidak seperti PBS, di 3D3C Nurman juga menunjukkan kaburnya batas antara hasrat santri dengan dunia luar pesantren. Layaknya manusia biasa, seorang santri juga dapat jatuh cinta, bahakan dengan seorang penyanyi dangdut seksi yang kampungan; santri juga mempunyai hasrat terhadap dunia material. Santri pun juga manusia yang mempunyai hasrat dan mimpi terhadap berbagai “masalah keduniawian”. Tiga dilema dan problem dari tiga santri ini justeru bukan pada permasalahan ketakwaan, melainkan pada permasalahan yang sifatnya horizontal. Permasalahan Huda adalah dengan ibunya yang entah masih hidup atau tidak, dan Huda ingin sangat tahu dimana keberadaan ibunya; permasalahan Ryan adalaah dengan ambisi-ambisinya untuk menjadi ahli di bidang broadcasting dan permasalahan Syahid adalah dengan sakit ayahnya yang tak kunjung membaik. Oleh Karena itu, dapat kita katakan bahwa agama menjadi latar hanya menjadi penengah dari inti latar belakang permasalahan-permasalahan duniawi yang lebih didiskusikan dalam film relijius ini.
Secara implisit, Nurman ingin melihat bahwa membicarakan pesantren tidak harus hanya menggambarkan sebuah dunia yang hanya membicarakan permasalahan ubudiyah dan problem taqwa semata, melainkan juga bagaimana seorang santri dapat memecahkan permasalahan mereka masing-masing di dunia ini. Meskipun demikian, haruskah kita cukup puas dengan dua film relijius ini? Pada sisi lain, dapatkah kita mengatakan bahwa film-film Islam telah menggambarkan dan merepresentasikan kehidupan pesantren dan elemennya secara mendalam dan tidak penuh dengan stereotypical? Jawaban saya, saya belum begitu yakin, karena kita masih mengenal kultur visual sebagai model representasi yang cukup mumpuni dan telah mampu berbicara dari sudut pandang santri itu sendiri. [ ]
20 Maret 2011







