ETNOHISTORI

Menelisik Masyarakat Kulit Putih di Indonesia

 

Ulasan Buku oleh: Hatib Abdul Kadir *

 

Buku tentang kehidupan masyarakat kulit putih di Indonesia selama ini hanya diteliti oleh para sejarawan. Beberapa telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti karya Frances Gouda (Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda 19001942); Rudolf Mrazek (Engineers of Happy Land, Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme); Jean Gelman Taylor (Kehidupan Sosial di Batavia) hingga yang paling terbaru di tahun 2010 telah terbit karya Reggie Baay (Nyai dan Pergundikan di HindiaBelanda). Namun demikian, kajian masyarakat tentang kehidupan masyarakat kulit putih pascakolonial, khususnya dari perspektif antropologi dan dengan menggunakan pendekatan etnografi dan metode kualitatif masih sangatlah jarang. Hal ini karena semenjak dekolonisasi yang dilakukan oleh Soekarno pada tahun 1957, mengusir jumlah orang kulit putih di kantung-kantung kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang dan Malang, serta mereka yang tinggal di berbagai dataran tinggi perkebunan menjadi berkurang signifikan. Karena itu, buku yang ditulis Anne-Meike Fechter ini, Transnational Lives: Expatriates in Indonesia tentunya akan mengundang rasa penasaran kalangan publik pembaca terhadap bagaimana masyarakat kulit putih saat ini bertahan hidup di negara tropis Indonesia dan apa saja yang membedakan kehidupan mereka dengan masyarakat kulit putih di jaman kolonial yang notabene didominasi oleh orang-orang Belanda.

Transnational Lives. Expatriates in Indonesia [Klik untuk detil buku]

Transnational Lives. Expatriates in Indonesia [Klik untuk detil buku]

Buku ini menarik, mengingat menjadi representasi bagi masyarakat Indonesia yang selalu penasaran dengan orang-orang kulit putih yang melintas di jalan, dan hadir di ruang publik Indonesia. Buku ini mengupas dengan jeli kehidupan orang-orang kulit putih, sehingga mampu mengobati rasa penasaran kita. Di sisi lain, buku ini juga menjadi sangat provokatif karena di dalamnya terdapat stereotype-stereotype tentang orang Indonesia dari kacamata orang Barat, yakni jorok, malas, orang yang bersikap sopan berlebihan, malas dan lambat dalam belajar, wc jongkok yang kotor, perempuan Indonesia yang menggoda dan materialistis. Lingkungan perkotaannya penuh dengan pengemis cacat, anak jalanan, pedagang kaki lima, panas, rumah bobrok, kendaraaan butut dan bising, penuh polusi, debu dan asap, kurangnya daerah pejalan kaki, transportasi publik yang penuh penjahat, kurangnya ruang hijau, barang dagangan hampir semuanya palsu, kesibukan kerumunan orang di perkampungan padat, dan orang-orang yang duduk di warung-warung di pinggir jalan tanpa tujuan.

Anne melakukan wawancara dengan para ekspatriat, atau yang popular disebut bule (oleh kalangan masyarakat bawah) berasal dari beragam Negara mulai dari Inggris, Amerika, Jerman, Kanada, Perancis hingga Australia. Kelebihan Anne dalam melakukan penelitian etnografis ini, ia sendiri adalah seorang Jerman yang kini tinggal di Inggris, sehingga ia mampu masuk dalam kehidupan ekspatriat di Jakarta yang terkenal eksklusif. Hampir semua informannya terkesan paling banyak adalah orang Inggris dan Jerman sekaligus, yang tentu saja dalam stereotype masyarakat negara dunia ketiga, mereka adalah orang-orang yang angkuh, tegas, dingin dan disiplin, dibandingkan dengan para ekspatriat Amerika atau Australia di Indonesia yang jauh lebih ramah, terbuka, bahkan sesekali berangasan. Saya tidak bisa membayangkan jika penelitian ini dilakukan oleh orang Indonesia sendiri, selain kesulitan untuk masuk ke dalam subjek komunitas yang diteliti, peneliti juga akan menghasilkan gambaran yang datar, kecuali ia adalah seorang peneliti yang memang mempunyai modal budaya dan ekonomi dengan latar belakang Barat, atau pernah tinggal di luar negeri dalam jangka waktu panjang, pernah sekolah, dan mempunyai kemampuan bahasa Inggris mumpuni. Selain itu, Anne juga adalah seorang peneliti perempuan, sehingga buku ini mempunyai perspektif gender yang kuat. Di dalamnya terdapat kajian-kajian domestik yang diangkatnya secara kritis, misalkan soal gosip, stereotype, dapur, makanan, ke salon, menulis surat elektronik, pakaian, pola mengasuh anak hingga perbincangan tentang suami-suami mereka.

Tulisan Anne ini tentunya sangat terinspirasi dari analisis-analisis Ann Laura Stoler, seorang sejarawan antropolog yang juga meneliti kehidupan di Hindia Belanda pada ranah domestik pula. Namun demikian, Anne tidak menceritakan genealogis masuknya ekspatriat ini secara lebih rinci sejak kapan mereka masuk ke Indonesia, khususnya para ekspatriat berkeluarga. Buku ini benar-benar melihat Indonesia dari kacamata Barat, sehingga ia benar-benar mengabaikan keberadaan orang Indonesia di sekitarnya. Sebagai misal, Anne tidak mengeksplorasi lebih lanjut bagaimana anak-anak para ekspatriat ini berinteraksi dengan para pembantunya misalnya, atau bagaimana kesan-kesan orang Indonesia terhadap warga kulit putih.

Terlepas dari kekurangan di atas, buku Anne ini sangat penting dalam melihat hubungan antara masyarakat Indonesia dengan orang asing yang selama ini jarang dikaji. Di sisi lain, meminjam konsep “history of the present” dari Paul−Michel Foucault, studi ini sekaligus mampu menapaki jejak-jejak yang masih tersisa di beberapa hal tentang hubungan antara orang-orang pribumi dengan masyarakat kulit putih yang sampai saat ini esensinya masih sama dengan praktik masa kolonial antara yang menjajah dan terjajah, seperti penjagaan batas baik secara fisik maupun simbolik, perasaan superior kulit putih dan stereotype-stereotype yang diciptakan terhadap masyarakat pribumi. Membaca tulisan Anne ini sekaligus membantah mitos bahwa globalisasi dan kehidupan transnasional menyebabkan cairnya identitas seperti yang selama ini diargumentasikan oleh Arjun Appadurai (1998), karena identitas dari komunitas kulit putih yang mengaku paling kosmopolit dan internasional ini justru menciptakan dan mempertegas batas-batas itu sendiri. Batas antara orang kaya dan miskin, batas ras antara mereka yang putih dan kulit gelap dan batas antara mereka yang “menjajah” dan “terjajah” tetap dipelihara, bahkan semakin dipertegas.

 

13 Maret 2012

 

* Pengajar Antropologi Budaya−Universitas Brawijaya

 

 

U L A S A N__B U K U

 

 

 

 

0 Tanggapan

    • Hello, guest

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org