Etnohistori.org

Menggelar Indonesia: Sebuah Film tentang Duta Budaya Indonesia tahun 50-an

oleh: Hatib Abdul Kadir*

PERTAMA kali saya melihat film ini di musim gugur yang abu-abu, di sebuah ruang sempit KITLV, kawasan Universitas Leiden. Setelah pemutaran film ini, Jennifer Lindsay yang seorang peneliti berkebangsaan Australia ini menjelaskan bahwa pembuatan filmnya mendapatkan bantuan dari Australia-Netherlands Research Collaboration Scheme dan membutuhkan waktu sekitar 2 tahun. Lindsay mengakui bahwa pembuatan film ini merupakan bagian dari kecintaan terhadap sejarah dan budaya Indonesia, dan juga sekaligus ingin menghargai orang-orang yang pernah berjasa dalam menjadi duta Indonesia melalui tampilan seni dan budaya. Lindsay pun menggabungkan para narasumbernya yang sekaligus rekan kerjanya dalam pembuatan film ini seperti Bulantrisna Djelantik, Irawati Durban Ardjo dan Menu Robi Sularto. Maka mulailah mereka mengacak data-data sejarah dan literature mentah di Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial–Universitas Muhammadiyah Surakarta, kekayaan koleksi manuskrip di Kewedanaan Hageng Punakawan Perpustakaan Widya Budaya, serta Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Hal yang menyentuh, kepentingan film ini sekaligus mempertemukan para pegiat seni yang selama ini terpisah selama 40 tahun.

Menggelar Indonesia (rovinginsight.org)

Menggelar Indonesia (rovinginsight.org)

Film ini sebenarnya bercerita tentang “masa keemasan” Orde Lama dengan rentang waktunya antara tahun 1952–1965. Selama 13 tahun masa kepemimpinan, Presiden Soekarno mengirimkan berbagai delegasi ke luar negeri sebagai utusan misi kesenian Indonesia. Film ini sengaja diberhentikan hingga tahun tersebut karena saya yakin bahwa para penari di Jaman Orde Lama mengalami diskriminasi dan pembungkaman politik yang luar biasa di Jaman Orde Baru. Selain itu, kebanyakan informan mempunyai saksi terhadap masa transisi antara antara zaman transisi kemerdekaan yang pahit menuju ke kemerdekaan yang benar-benar dilepaskan oleh Belanda pada tahun 1949 pasca perjanjian KMB (Konferensi Meja Bundar). Rasa simpati dimunculkan dalam film ini, misalkan bagaimana seorang perempuan remaja tiba-tiba harus memperkenalkan sebuah Negara bangsa baru bernama Indonesia ke Negara-negara yang menjadi rekan politik Soekarno. Sebagai misal Irawati Jogasuria, merupakan seorang penari yang masih berumur 14 tahun. Pada awalnya ia ragu dan merasa tak mampu, namun akhirnya berhasil menerjemahkan maksud dan tujuannya berada di luar negeri untuk memopulerkan kesenian Indonesia di mata dunia.

Fethisisme Soekarno

Selain itu, mungkin ini yang menjadi semacam “fetish” Soekarno untuk merekrut kebanyakan perempuan yang menurutnya “ideal” dalam parameter kecantikan Indonesia, yakni para perempuan Jawa, Bali, Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan. Bisa dipastikan pula bahwa daerah lain memang tidak mempunyai tradisi menari dan instrumentasi musik “sehalus” dan sekuat wilayah-wilayah yang disebutkan diatas. Selain itu, Soekarno memang dapat dikatakan tidak dekat dengan budaya “Indonesia Timur”. Meski sebelumnya pada tahun 1949 pemerintah kolonial pernah mengasingkannya ke Ende, Flores, tapi ia tidak mempunyai emosi kedekatan dengan “social milieu” dan “social acquitance” dengan orang-orang di sekitarnya. Ini berbeda dengan rasa emosional Soekarno terhadap masyarakat yang dianggap mempunyai akar nasionalisme kuat seperti Sulawesi Selatan, Bali, Sumatera apalagi Jawa. Soekarno juga tidak pernah ke Kalimantan, Timor, Sulawesi, Maluku atau Lombok. Dan kunjungan pertama kalinya ke Papua adalah tahun 1963, delapan belas tahun setelah kemerdekaan, menunjukkan bahwa ia tidak mempunyai imajinasi kuat terhadap Indonesia Timur sebagai bagian dari nasionalisme yang dibayangkannya. Efeknya, tentu pada perekrutan penari-penari yang menjadi duta budaya Indonesia ini.

Pada tahun 1951, Soekarno telah berusia di atas 50 tahun, tentunya ia merupakan sosok ayah yang bijak, berperangai momong terhadap para penari yang pada waktu itu berusia rata-rata tak lebih dari 20 tahun. Sehingga dapat dipastikan tidak ada “affair” yang dilakukan Soekarno terhadap para penari yang mulus-mulus, cantik gemulai namun masih berbau kencur ini. Namun tokh, Soekarno tetap ingin terlihat elegan di semua pihak, dengan menggunakan kopyah, tongkat, pita selusin di dadanya, dan juga kacamata hitam, meski hari sudah mulai gelap. Di film ini anda dapat saksikan potongan gambar-gambar tersebut.

Sedangkan bagi yang malas membaca buku tebal ratusan halaman, tentang afiliasi Soekarno dengan Negara-negara blok komunis dan nasionalis, film ini cukup merepresentasi keberpihakan Soekarno tersebut. Sebagai misal dalam ingatan Kris Sukardi yang telah mengikuti lawatan keluar negeri sebanyak enam kali. Misi kesenian ke mancanegara ini diawali dengan lawatan Indonesia di Colombo (1952), kemudian dilanjutkan RRC untuk misi kesenian pertama (1954), Pakistan Timur/Bangladesh (1954) untuk festival tari dan musik, Cekoslovakia, Hongaria, Polandia, Uni Soviet dan Kairo (1957), Singapura (1959), Floating Fair di Honolulu, Osaka-Jepang, Hongkong, Filipina-Manila, Singapura (1961), Uni Soviet-Moscow, RRC-Beijing, Korea Utara-Pyongyang, Vietnam Utara-Hanoi Utara (1961), Thailand-Bangkok (1962), Filipina-Cebu-Manila (1963), Pakistan Timur/Dhaka dan Pakistan Barat/Karachi (1964), Kamboja, Jepang (1964), New York, Belanda, Paris (1964), Tanzania (1965), RRC, Korea Utara, hingga Jepang (1965) di penghujung keruntuhan Orde Lama.

Jaringan kunjungan budaya dalam film ini juga sekaligus menunjukkan kesadaran Soekarno terhadap dunia global dan pentingnya menjalin hubungan dengan para pemimpin internasional. Tak megherankan jika Soekarno mempunyai semacam sense transbudaya, karena Soekarno sendiri adalah seorang yang dilahirkan dari pernikahan orang tuanya yang Jawa dan Bali. Sebuah pernikahan campuran multikultural yang tentunya jarang dan “melompat jauh” di masa tahun 1901. Di sisi lain, kunjungan para duta budaya ini sekaligus memperkuat figur Soekarno sebagai pemimpin dunia dan pemimpin global Negara-negara berkembang, pasca jatuhnya rejim Mao Tse Tung di Cina tahun 1949. Meski para duta budaya ini juga pernah melakukan kunjungan ke Belanda, jaringan kunjungan yang didatangi oleh para duta budaya ini juga menunjukkan garis perintah Bung Karno ketika melaunching konsepnya tentang the New Emerging Forces (Nefos) yakni menjalin poros-poros Negara sosialis Pyongyang–Peking–Hanoi–Phnom Penh–Jakarta. Soekarno ini menunjukkan bahwa ia adalah pemain internasional yang patut diperhitungkan di hadapan raksasa seperti Jepang, Cina, komunitas Eropa, Soviet dan Amerika Serikat.

Meski demikian, Lindsay, sang sutradara, sayangnya tidak menampilkan kepentingan dan perbenturan ideologi di tahun-tahun tersebut yang sangatlah tajam. Lindsay seakan-akan hendak menunjukkan sisi manis dari nostalgia tahun 50–60an ketimbang masa-masa pahit yang tentunya tidak mengenakkan bagi para penonton. Dalam film ini, Lindsay merekam sebanyak 30 narasumber yang bercerita banyak tentang perjalanan misi kebudayaan Indonesia di awal kelahirannya. Ketiga puluh narasumber yang ikut dalam misi tersebut beberapa cukup dikenal hingga saat ini seperti, Edi Sedyawati, Pringgohadiwijoyo atau yang dikenal dengan nama Kris Sukardi, Irawati Durban Ardjo, Rahayu Supanggah, Theresia Suharti dan Menul Robi Sularto.

Kecintaan Lindsay terhadap budaya Indonesia dan kemampuan mengolah data yang mumpuni secara metodologi tidak lepas dari studi S-2 nya di Universitas Cornell, Amerika Serikat, pada 1978–1980. Pada tahun-tahun ini studi kawasan Asia Tenggara dan Indonesia Modern sangat berkembang pesat. Sejak tahun 2008 Lindsay juga telah menjadi peneliti tamu pada International Institute of Asian Studies dan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde) Leiden, Belanda. Latar belakang dan pendidikan, serta lingkungan dimana tempat ia bekerja sangatlah mendukung Lindsay dalam membuat film yang menggugah rasa nostalgia dan romantisasi nasionalisme orang-orang Indonesia. [ ]

Malang, akhir Agustus 2011

* Pengasuh etnohistori.org

 

2011—2012 • Etnohistori.org • Some Rights Reserved Kembali ke atas