Menjadi Modern: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (3-Habis)
oleh: Afif Futaqi*
Orang Rote dan Sawu mempunyai penyikapan berbeda terhadap Pemerintahan Belanda. Di Pulau Rote, Belanda menghadapi sistem pemerintahan setempat dengan politiknya yang mereka anggap picik dan kadang-kadang sangat menjengkelkan. Namun, tradisi pemerintahannya dapat dipahami oleh orang-orang asing dan terbuka bagi campur tangan dari luar. Di Pulau Sawu, Belanda menghadapi suatu sistem yang tertutup, yang selama sejarah hubungan mereka, Sawu tetap tidak dapat dipahami. Sementara di Pulau Rote Belanda terlibat dalam politik di bagian-bagian pulau itu, di Pulau Sawu Belanda hanya berurusan dengan pulau itu sebagai suatu kesatuan.
Perkembangan Agama Kristen dan Pendidikan
Penduduk Rote menerima agama Kristen dan pendidikan dengan cepat. Namun, perubahan itu, bukanlah perubahan yang dikehendaki oleh Belanda pada abad ke-18 di pulau itu. Kompeni bertugas untuk berdagang; bertanggung jawab atas semua anggotanya agar tetap menganut agama Kristen, tetapi tidak bertugas untuk memajukan agama Kristen. Perubahan orang Rote menjadi Kristen itu diragukan kebenarannya. Penyebarannya tidak seperti yang terjadi di pulau-pulau lain di wilayah Timor. Karena orang Rote telah memeluk agama Kristen pada abad ke-18, rnaka campur tangan para penginjil dalam masalah keagamaan itu dianggap tidak perlu. Hampir semua kegiatan para penginjil hanya dilaksanakan dari Kupang dan semuanya tergantung pada orang Rote sendiri. Beberapa kali penginjil dari Jerman dan Belanda dikirim untuk berdiam di pulau itu, tetapi kebanyakan dari mereka mengakui bahwa mereka tidak berhasil dalam usahanya untuk memperbaharui dan meningkatkan kondisi gereja-gereja di Pulau Rote. Di antara para penginjil yang berturut-turut ditugaskan pada abad ke-19, hanya satu atau dua yang tahan tinggal di pulau itu selama dua tahun. Iklim yang panas, angin kering, malaria atau disebabkan karena kegagalan berhubungan dengan orang Rote yang selalu menghalangi usaha-usaha dari misi tersebut.

Raja dari Roti memberikan penghormatan kepada Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff untuk Soe selama kunjungannya ke pulau ini pada tanggal 6-7 Oktober 1927. (foto: kitlv.pictura-dp.nl)
Contoh ketidakberhasilan terjadi pada penginjil yang pertama berdiam di pulau itu. Seorang Belanda muda bernama J. K. ter Linder, yang ditunjuk oleh Le Bruijn pada tahun 1827. Kedatangannya disambut oleh para raja dan kemana pun dia pergi diiringi oleh banyak orang. Suratnya yang pertama kepada Lembaga Penginjil penuh dengan kegembiraan. Dalam duapuluh tahun berikutnya, diadakan usaha-usaha untuk membuka kembali sekolah-sekolah di bawah pengawasan para penginjil. Rote adalah satu-satunya pulau di Indonesia Timur yang berhasil mempertahankan tradisi lembaga pendidikannya yang bebas, yang mengajarkan bahasa Melayu selama dua ratus tahun, meski beberapa kali terhenti. Di samping itu, Rote adalah pulau yang berhasil mempertahankan adat kebiasaan asli atas nama agama. Pada abad ke-20, sejumlah pendeta Rote yang ditahbiskan berhasil mempertahankan adat kebiasaan untuk membayar emas kawin dan adat pemakaman di kalangan orang Kristen. Dengan tegas mereka memperjuangkan keterpaduan antara adat kebiasaan asli dan agama Kristen yang sudah berkembang di pulau itu diterima.
Sekolah-sekolah misionaris di Pulau Rote ditutup pada tahun 1851. Untuk beberapa tahun berikutnya sekolah-sekolah itu secara tidak resmi diselenggarakan oleh masing-masing kerajaan setempat. Kemudian pada tahun 1855, S. N. Buddingh mengunjungi Pulau Rote selama sepuluh hari dalam rangka peninjauan sekolah-sekolah pemerintah. Tanpa mengetahui pengalaman lain dari mereka yang mengadakan kunjungan singkat sebelumnya, ia sangat terkesan oleh sambutan dan kesungguhan orang Rote yang mengajukan permintaan untuk membuka kembali sekolah-sekolah di pulau itu. Sebagai penutup laporannya, ia mencatatkan “orang Rote gemar belajar, pandai dan cerdas dan dari sudut kecerdasan dan budi pekertinya, mereka pantas mendapat tempat yang layak di antara orang-orang di daerah tropis.” Usul tersebut diterima. Dengan keputusan pemerintah pada tanggal 8 Mei 1875, Rote diberi anggaran tahunan sebanyak ƒ 4.380, untuk membiayai delapan belas sekolah: satu sekolah untuk setiap kerajaan. Dengan adanya dorongan itu, sistem pendidikan di Pulau Rote makin berkembang. Sejak semula, guru sekolah (mese dari bahasa Belanda meester) mempunyai kedudukan khusus dan sangat dihargai. Bahkan sampai kini, mereka masih disamakan dengan kepala marga atau bangsawan tinggi.
Penggunaan Bahasa Melayu oleh Penduduk Rote
Sepanjang sejarah orang Rote, sekolah-sekolah di Pulau Rote dibangun berdasarkan prinsip-prinsip yang sangat sederhana dengan menggunakan bahan-bahan sederhana. Seperti rumah-rumah orang Rote, sekolah-sekolah dan perlengkapannya dibangun dari hasil pohon lontar. Apa yang tidak diperoleh dari Belanda, maka akan dibuat dengan bahan yang ada. Sebagai alat tulis digunakan papan yang dibuat dari kayu idite; sebagai tinta digunakan auk (indigo) atau tinta yang dibuat dari daun dodoa; dan penggaris dibuat dari bambu. Buku-buku sekolah Melayu dipakai untuk bacaan. Di sekolah-sekolah yang tidak memiliki buku itu, pelajaran membaca diambil dari Alkitab bahasa Melayu.
Sekolah terdiri dari enam tingkat dengan murid-murid laki-laki dan perempuan. Pelajaran dilakukan kira-kira empat jam setiap hari. Kenaikan ke tingkat yang lebih tinggi tidak secara otomatis dilakukan pada akhir tahun, sehingga usia murid-murid di sekolah itu antara dua sampai delapan belas tahun. Raja-raja menentukan penerimaan murid, setiap anak harus membayar dengan seekor kerbau atau kuda, agar dapat menyelesaikan pendidikannya. Rupanya raja-raja itu saling bersaing untuk memperoleh jumlah murid yang terbanyak dalam sekolah masing-masing.
Pemakaian bahasa Melayu itulah yang dikecam oleh para penginjil dan guru-guru di semua sekolah dan gereja-gereja di Rote. Namun sejak hubungan dengan Belanda yang pertama-tama, bahasa Melayu adalah suatu sarana yang sangat penting bagi perhubungan dengan dunia luar. Kompeni dalam berurusan dengan orang Rote menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa perantara. Mula-mula mereka mengirim orang Rote ke Kupang untuk belajar bahasa Melayu.
Pada abad keduapuluh, agama Kristen dan bahasa Melayu sudah merupakan suatu paduan. Raja-raja dan bangsawan tinggi mendapat kesempatan pertama untuk menjadi Kristen dan beruntung menikmati pendidikan dalam bahasa Melayu, yang keuntungan ini sampai di kalangan rakyat secara berangsur-angsur.
Pada tahun 1900 Le Grand melaporkan bahwa kurang dari seperenam rakyat yang resmi menjadi Kristen. Perubahan menjadi Kristen berlangsung dengan lambat. Dalam suatu kumpulan catatan gereja dari awal abad ke 20, terdapat catatan mengenai suatu percakapan penting dengan seorang Rote yang tidak beragama Kristen. Mula-mula, dengan tegas ia menentang puteranya untuk menjadi Kristen. Hanya setelah anak itu mempelajari bahasa Melayu di sekolah, ia berpendapat bahwa puteranya sudah layak menjadi orang Kristen. Hal yang sedemikian itu terjadi di seluruh pulau. Pada tahun 1950, ketika kampanye pemberantasan buta huruf yang diadakan oleh Presiden Soekarno berakhir, pulau itu dinyatakan bebas buta huruf dalam bahasa Indonesia (bahasa Melayu modern yang digunakan oleh seluruh bangsa). Pada waktu itulah terjadi perubahan menjadi Kristen secara besar-besaran. Pada waktu itu Pulau Rote tergabung dalam suatu negara baru, dan suatu keuntungan bagi Rote, karena alat komunikasi yang dipakai adalah suatu unsur lama dari adat kebiasaannya sendiri. [ ]
10 Desember 2011
*Antropolog UI
Edisional: Studi Indonesia Timur yang Terlupakan








Mungkin yang masih dibutuhkan dalam karya ini adalah data etnografi tentang implikasi sosial, ekonomi dan politik dari suatu sistem yang tertutup bagi masyarakat P Sawu. Sebab, gambaran pada masyarakat Rote sangat jelas perkembangan baik di bidang pendidikan maupun keagamaannya sebagai akibat dari sistem pemerintahannya yang dapat dipahami pihak asing karena keterbukaannya.
Pendekatan agama, bahasa dan pendidikan dapat mengubah kehidupan masyarakat.
Belanda menggunakan para kaum Indolog (Istilah untuk orientalis yang bekerja untuk ekspansi kolonial) yang berorientasi politik dan ekonomi lebih memfokuskan pada pulau Jawa dan Sumatra.
artikel yang menarik. sebagai orang Rote saya senang membaca tulisan anda karena menambah pengetahuan saya tentang Rote sendiri. Terima kasih untuk tulisannya
mohon info referensi yang dipakai, artikel ini penting untuk dibaca. terimakasih