Home / Topik / Ulasan Film / Menonton Film Etnografis Aryo Danusiri

Menonton Film Etnografis Aryo Danusiri

oleh: Anjar Wahyuningtyas & Asry Nurul Hutami *

 

FILM dokumenter etnografis berbasis metode partisipan mulai muncul dan dibuat di Amerika Serikat dan Eropa sekitar tahun 1960-an, dengan berbagai macam bentuk dan berbagai jenis judul. Kemudian pada era yang sama, di Paris muncul pula hal serupa dan tetap memiliki kaitan dengan apa yang disebut “pergerakan dokumenter etnografis”. Seorang antropolog asal Prancis, Jean Rouch telah lebih dahulu membuat film dokumenter partisipan dengan mengambil orang-orang Afrika sebagai subjeknya. Selain itu, film dokumenter dengan metode direct cinema juga banyak mendapat perhatian khusus di tahun-tahun perkembangannya. Sebagai contoh film dokumenter mengenai catatan perjalanan Bob Dylan, Dont Look Back. Fenomena ini melatar-belakangi munculnya banyak film-film dokumenter lain dengan sudut pandang yang berbeda. Salah satu pembuat film dokumenter yang terilhami dengan hal ini adalah Aryo Danusiri. Ia adalah seorang antropolog lulusan Universitas Indonesia (UI) yang menghasilkan karya film khususnya masa pasca Orde Baru.

 

Film Dokumenter Berbasis Observasi

Metode terkini yang diusung oleh Aryo Danusiri adalah ‘film dokumenter observasi’. Ia wujudkan dalam filmnya, Lukas’ Moment (2005) dan Playing Between Elephants (2007), dengan pendekatan metode khasnya dengan konsep Direct Cinema (yang dipopulerkan pula oleh Frederick Wiseman). Seperti sebuah metode etnografi pasca Perang Dunia II, film Aryo menangkap kompleksitas permasalahan global dengan cara hanya melihat pada profil satu orang atau hubungan relasi yang sangat sederhana namun mendalam.

Aryo Danusiri (Foto: Ragam Network)
Aryo Danusiri (Foto: Ragam Network)

Dalam film Lukas’ Moment, Aryo Danusiri mengambil latar belakang daerah Merauke, Provinsi Papua. David Hanan (2008) dalam artikelnya mengenai film-film Aryo Danusiri, memfokuskan pembahasannya mengenai film-film karya Aryo Danusiri dengan berpatokan pada dua hal mendasar pada pembuatan film Lukas’ Moment. Pertama, terlepas dari film-film yang pernah dibuat oleh para pembuat film terkenal dan juga terlepas dari kekurangan-kekurangan perfilman Indonesia, Aryo berusaha membuat sebuah film dokumenter dengan metode langsung (direct cinema) yang tidak pernah ada sebelumnya. Kamera seolah-olah menjadi bagian dari tubuh Aryo. Tidak ada voice over yang seolah-olah merepresentasi keseluruhan orang Papua. Perbincangan Aryo dengan Lukas berjalan “alami” tanpa ada wawancara sepihak. Setelah melihat keterlibatan kamera Aryo yang diterima Lukas dan kawan–kawannya mampu mengubah aspek tertentu antara Lukas dan lingkungannya. Hal ini menunjukkan bahwa Aryo tidak hanya melakukan pengamatan mendalam namun melibatkan dirinya di tengah–tengah aktivitas Lukas tanpa menganggu kesibukannya. Seperti ketika Lukas dan pamannya datang ke airport guna mengekspor udang–udangnya. Lukas bertemu dengan seseorang yang bernama Aloy Openg. Saat Aloy membantu Lukas untuk memberikan uangnya di petugas, Aryo menangkap ekspresi Lukas yang berbeda dan bertanya kepada Lukas mengenai peristiwa ini. Pada saat itu, Lukas juga berbicara dengan Aryo. Kejadian ini bisa disebut bukti dari metode direct cinema yang diterapkan Aryo. Tidak ada model wawancara, melainkan perbincangan seadanya. Selain itu, untuk menangkap realitas, sinema yang hanya men-shot satu orang atau individu, dan si pembuat film bisa mengobrol atau mengajak berbicara dengan si individu tersebut.

Kedua, isu absennya Papua Barat dari wajah media di Indonesia terkecuali pada kasus stereotipe yang pernah difilmkan oleh media mainstream dan pada akhirnya menjadi salah satu film paling terkenal dan kontroversial di dunia perfilman Indonesia. Sebagai misal adalah Ibunda, karya sutradara ternama Teguh Karya yang bermuatan “rasisme” tentang orang-orang Papua Barat dalam kacamata Jakarta. Film Aryo juga dianggap film dokumenter observasi karena ia mengamati, melihat, mendengar, dan merasakan apa saja yang ia ketahui melalui kamera digitalnya. Dia men-shot setiap aktivitas Lukas dengan pengamatan yang mendalam. Ia mencoba memahami karakteristik sosial budaya Lukas dari segi ekonomi.

Lukas’ Moment (2005), film berdurasi 60 menit menceritakan kehidupan seorang pelajar muda di Papua Barat yang bekerja dan melakukan usaha sampingan sebagai pengail udang. Ia bekerja pada semacam lembaga swadaya masyarakat setempat yang bernama ‘Mitra Mandiri’ yang didirikan dengan tujuan menambah wawasan dan kemampuan para pemuda setempat dalam hal mengail udang dan memasarkannya. Lukas digambarkan sebagai seorang tokoh utama. Ia mengalami berbagai konflik yang rumit dalam kehidupan pribadi maupun secara sosialnya. Sebagai contoh pada adegan ketika Lukas ingin mengirimkan udang hasil tangkapannya kepada pengepul di ibukota provinsi. Ia baru mengetahui bahwa harga pengiriman ternyata lebih mahal ketimbang harga udang pasarannya. Selain itu, hasil tangkapan yang dikirimkan dan dijualnya ke pengepul namun dibayar tidak sesuai harapannya. Fenomena ini menunjukkan bahwa satu peristiwa (Lukas hendak mengirim udang) menjelaskan peristiwa lainnya yang lebih besar, seperti ketidak-adilan pasar global, “tipu-tipu” di tingkatan yang lebih besar dan seterusnya. Pada dasarnya film Lukas’ Moment ini merupakan suatu contoh film dokumenter berjenis observasi dan partisipasi, karena Aryo Danusiri tentunya telah melakukan riset dan penelitian mendalam sebelum melakukan proyek film ini. Selain itu, ia pun tentu turut serta beraktivitas berbaur dengan masyarakat setempat sehingga mampu menghasilkan sebuah film yang tidak begitu berjarak dengan subjek. Sedangkan pada film Playing Between Elephants (2007) yang berdurasi sekitar 87 menit, mengisahkan kasus-kasus rumit mengenai konflik antara Kepala Desa Geunteng di Pidie, Aceh Timur, dengan para pemberi dana (sponsor) yang mendanai pembangunan perumahan-perumahan di desa Geunteng. Film ini menunjukkan kompleksitas hubungan antara pemberi dana dan penerima yang dilihatnya dari kacamata masyarakat penerima dana.

Dengan demikian, film-film Aryo Danusiri perlu dibedakan dengan film etnografis klasik Margaret Mead. Terdapat perbedaan mencolok tampilan visual dari keduanya. Jika Mead lebih cenderung dan senang menggunakan pengantar naratif yang biasanya diceritakan sendiri olehnya, untuk mempertegas jalannya cerita (voice over/voice of God). [ ]

 

26 Mei 2012

 

* Antropologi Budaya—Universitas Brawijaya

 

Tulisan Terkait:

― Metode Film & Foto Etnografi: Margaret Mead & Gregory Bateson di Bali
Antropologi Visual & Antropologi Seni

 

 

 


Baca Juga

India Edisional Etnohistori

Ah, India

  oleh: Laraswati Ariadne Anwar *   MEMBICARAKAN pengaruh budaya India di Indonesia tentunya akan ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest