Home / Topik / Kajian / Metafora Budaya dalam Pasar Uang

Metafora Budaya dalam Pasar Uang

oleh: Hatib Abdul Kadir *

Tulisan ini membahas bahwa pasar finansial mempunyai metaforisasi sama dengan gerak kebudayaan yang ada dalam masyarakat. Asumsinya adalah, pertama, gerak pasar uang sama dengan apa yang terjadi dalam sistem tengkulak di dunia agrikultur. Dalam asumsi ini saya menggunakan pendekatan ide Peter Bernstein. Kedua, pasar uang sama dengan mode interaksi dalam sistem bazaar, dalam analogi ini saya menggunakan pendekatan Clifford James Geertz. Ketiga, pasar uang mempunyai metaforisasi yang sama dengan gerak teologis dan ketidaksadaran dalam beragama. Dalam asumsi ini saya menggunakan pandangan Bill Maurer. Keempat, saya menggunakan pendekatan Benjamin Lee dan Edward LiPuma dalam melihat pasar uang dengan menggunakan pisau analisis sosiolog David Émile Durkheim, Karl Heinrich Marx dan Karl Emil Maximilian “Max” Weber.

Dalam dunia antropologi, metafora sangat penting untuk melihat sisi lain manusia. Sebuah esai terkenal ditulis oleh Clifford James Geertz misalnya tentang sabung ayam, dengan jelas menujukkan bahwa perilaku binatang mempunyai banyak kesamaan dengan manusia. Dari perilaku binatang tersebut, manusia mampu melakukan refleksi terhadap apa yang ia lakukan. Meminjam istilah dari Max Weber, Geertz mengatakan bahwa manusia adalah seperti laba-laba di mana mereka terjerat dengan jejaring makna yang ia ciptakan sendiri. Metafora sebagai model analisis sangat berguna untuk membantu memahami perilaku manusia, dan metafora dapat diadopsi sebagai perilaku reflektif. Manusia juga merefleksikkan dirinya terhadap perilaku binatang.

Claude Lévi-Strauss maupun Kenneth Duva Burke telah mengembangkan pendekatan metafor dalam analisis antropologi linguistik dan kognitif. Mengacu pada Kenneth Burke, James Fernandez kemudian menyederhanakan makna metafor sebagai “a strategic predication upon inchoate pronoun (“an I, a we, a you, a they, which makes a movement and leads to performance”) (Fernandez, 1986: 8). Fernandez lebih menekankan metafora sebagai strategi untuk bernegosiasi terhadap sebuah situasi.

Terdapat dua faktor dalam melihat metafor, melalui kajian struktural dan tekstual. Metafora struktural merupakan kemampuan manusia untuk memparalelkan dan mentranslasikan apa yang ia tangkap terhadap dunia di sekitarnya. Penerjemahan ini didasarkan pada kemiripan hubungan pada bagian-bagian tertentu. Sedangkan kajian tekstual lebih pada sebuah penyerapan yang dibuat berdasarkan keserupaan perasaan dalam sebuah teks, suara dan visual (Fernandes, 1986: 12). Dengan kata lain, perilaku manusia didorong oleh fantasi metaforis yang ia bangun dan percayai melalui media teks dan lainnya.

Di sisi lain, Fernandez juga menekankan metafora secara sinkronik. Budaya manusia modern pada saat ini mempunyai paralelitas dengan sejarah kehidupannya sebelumnya. Dengan kata lain, metafora tidak hanya berlaku dalam melihat perilaku binatang sebagai contoh, melainkan juga, metafor dapat digunakan untuk melihat contoh masa lalu dan pola perilaku manusia yang selama ini dianggap paling tradisional atau primitif. Karena itu, dalam melihat perilaku di dunia keuangan dan kapitalisme mutakhir, saya juga mengacu pada kemiripan yang terjadi pada pola budaya di masyarakat agrikultur. Demikian juga kemiripan-kemiripan dunia finansial dengan tindakan relijiusitas.

Dengan demikian pendekatan sosiolog klasik, seperti Karl Marx dan Émile Durkheim dalam melihat gejala sosial dunia finansial masih berlaku. Sebagai misal adalah ketergantungan manusia pada kondisi “likuidasi“ yang dapat dimaknai sebagai subjek atau siapapun shareholder melepaskan nilai (value) nya dalam bentuk saham ke pasar finansial yang fluktuatif, di mana volatilitas likuidasi sangat dipengaruhi ulah para spekulan, rasa ingin tahu, ekspektasi dan kepanikan. Elemen terakhir ini lebih dikarenakan gonjang-ganjing di ranah politik misalnya. Efek volatilitas atau naik turunnya saham ini seperti konsep yang diutarakan oleh Émile Durkheim tentang social effervescence, di mana masyarakat secara ramai-ramai menaruh harapan pada pasar yang tidak nampak dan fluktuatif yang mereka ciptakan sendiri. Ini persis sebuah agama, di mana manusia menciptakan agama itu sendiri secara sosial, dan mereka cemas sekaligus menaruh harapan pada idealisme yang mereka ciptakan.

Pasar Hepengizzz

Pasar Uang dalam Metaforisasi Dunia Agrikultur

Peter Bernstein dalam bukunya Capital Ideas: The Improbable Origins of Modern Wall Street (1992) menjelaskan beberapa kinerja finansial yang mirip dengan sistem dagang sederhana di masa Yunani Kuno. Sebagai misal adalah konsep call option, yang dapat didefinisikan sebagai bentuk pembelian sebuah aset pada harga dan dalam jangka waktu tertentu yang disepakati, baik pada akhir masa jatuh tempo ataupun di antara tenggang waktu masa sebelum jatuh tempo.

Bernstenin bercerita tentang seorang bernama Thales yang hidup di periode Aristoteles. Ia adalah seorang yang miskin namun mempunyai kemampuan aritmetika dalam menghitung bintang. Di sisi lain, ia mampu meramal masa panen zaitun usai musim dingin. Ia mendepositokan sedikit uang kepada para petani untuk membeli hasil panen. Thales sengaja membeli harga zaitun jauh sebelum tumbuh, atau sembilan bulan sebelum panen. Dengan demikian harganya jauh lebih murah. Seperti dalam dunia judi, tidak ada yang tahu, apakah panen zaitun akan berhasil atau gagal. Dalam hal ini Thales tengah melakukan spekulasi.

Bernstein melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Thales ini mirip dengan kegiatan option dalam pasar uang, di mana ia secara metaforis mendefinisikan: “an option is essentially a contract that gives the owner the right to take a stipulated action under conditions specified and agreed to in advance” (Bernstein, 1992: 204). Option contract menempatkan call option buyer berada pada resiko di mana jika pohon zaitun tidak berbuah di kemudian hari maka ia akan merugi, dan sebaliknya. Sedangkan pemilik zaitun secara sederhana hanya ingin melakukan hedging atau lindung nilai dari resiko yang datang pada waktu masa panen. Ketika ia melepaskan zaitunnya kepada pembeli, dan ternyata hasil panen buruk, maka ia akan terselamatkan dari kerugian.

Dengan demikian, orang seperti Thales, yang mempunyai kemampuan meramal, menggunakan options sebagai sarana untuk berspekulasi terhadap masa depan. Dengan modal yang sedikit yang ia bayar di awal, ia berharap mendapatkan keuntungan besar di sembilan bulan kemudian, ketika masa panen zaitun tiba. Sedangkan penanam zaitun, yang tidak mempunyai kemampuan meramal masa depan, cenderung hanya melakukan hedging terhadap resiko dengan cara menjual sejumlah lahan zaitunnya. Singkatnya, options mampu memuaskan kebutuhan baik hedgers atau si pemilik zaitun atau olive, maupun Thales sebagai spekulator. Option terjadi dalam kehidupan sehari-hari manusia, di mana kita dihadapkan pada banyak pilihan dengan resiko-resikonya masing-masing. Demikian pula dalam transaksi pasar finansial, banyak sekali options seperti ribuan saham individu, options pada obligasi, commodities, foreign currencies, hingga futures, yang semuanya mengharuskan si pemegang (the holder) mengirimkan aset-asetnya ke pihak pembeli pada waktu yang telah ditentukan.

Konsep transaksi mode derivatif juga mengingatkan saya dengan model sistem ekonomi Bazaar yang pernah dipopulerkan oleh Clifford Geertz (1978). Penjual atau pelaku hedging mencari keuntungan maksimum, sedangkan spekulan mencari utilitas maksimum. Harga terhubungkan dengan hukum supply and demand. Dalam transaksi, tidak ada distribusi seremonial dan yang terpenting adalah level pengabaian terhadap kualitas produk aset yang ditransaksikan (Geertz, 1978: 29). Pengabaian terhadap harga dan kualitas bukan karena kurangnya informasi, melainkan jikapun kualitas aset dalam bazaar diketahui ternyata buruk, tidak ada jaminan perlindungan terhadap aset tersebut. Dengan demikian, seperti dalam sistem ekonomi bazaar, pasar uang mencampurkan antara modal, ketrampilan (skill) dan kerajinan yang dicampur dengan faktor permainan dan keuntungan.

Faktor dalam interaksi bazaar ini persis dengan pasar uang seperti yang dikatakan oleh Geertz bahwa sistem pasar sangat rumit dan bising dengan jaringan komunikasi yang kompleks dan diwarnai dengan fluktuasi harga yang jauh di luar kontrol terhadap harga dan bersifat ireguler. Energi lebih dipusatkan dalam keahlian pertukaran di banding pada penekanan produksi atau manajerial (Geertz, 1978: 30). Karena itulah antara hedging dan spekulan mempunyai hubungan yang terus berulang karena mereka tidak memperhatikan pada produksi melainkan relasi klien yang sifatnya saling mencari keuntungan dan mencari nilai utilitas secara maksimum.

Terdapat dua prinsip bazaar yang menyerupai sistem pasar uang. Pertama sistem penetapan harga adalah aspek yang paling mencolok. Harga tidak berada dalm satu paket yang kaku dan teregulasi, melainkan terkira-kira dan mempunyai probabilitas yang tinggi. Kedua, heterogenitas produk aset yang membuat tingginya intensitas eksplorasi terhadap komoditas, sehingga spekulan tidak terpaku pada satu aset melainkan menempatkan investasinya pada keranjang komoditas yang beragam untuk mendapatkan margin keuntungan. Pada titik inilah sebenarnya apa yang terjadi di pasar uang menyerupai tawar-menawar di bazaar (Geertz, 1978: 31)

Pasar Uang dalam Metafora Teologis

Option merupakan bagian dari transaksi dalam dunia pasar uang yang disebut derivatif. Financial derivative merupakan kontrak perjanjian antara dua pihak yang menukarkan sebuah aset. Manfaat utama dari derivatif adalah untuk mengalihkan risiko atau mengambil suatu risiko. Tergantung apakah posisinya sebagai hedger (pelaku lindung nilai) atau spekulator seperti cerita Thales di atas. Dalam derivative terdapat beragam rentang nilai antara aset acuan dan berbagai alternatif pembayaran dan kontrak derivatif yang diperdagangkan di pasaran. Sedangkan jenis utama derivatif antara lain kontrak berjangka (futures), kontrak serah (forward), transaksi pertukaran dua valuta melalui pembelian atau penjualan tunai (spot, swap) dan options. Dalam transaksi ini, produk-produk seperti option, warrant atau futures menjadi acuan yang disebut underlying commodities atau underlying product.

Dengan demikian, derivatif dapat berfungsi sebagai lindung nilai dalam menghadapi resiko atau sebagai bentuk asuransi terhadap fluktuasi pasar. Derivatif dapat diperdagangkan di pasar sekunder, sehingga hal ini memicu munculnya spekulasi. Sebagai misal seseorang membeli futures bukan semata untuk membeli komoditi tersebut, melainkan untuk berspekulasi terhadap komoditas harga. Pembelian akan meningkatkan harga aset di pasar, khususnya nilai di pasar sekunder. Tindakan berspekulasi ini tak lebih merupakan godaan seperti melakukan judi. Teknik derivatif yang spekulatif ini secara luas juga mampu mengancam kestabilan ekonomi suatu negara, seperti menyebabkan krisis ekonomi di Asia Tenggara pada tahun 1998. Teknik spekulasi dalam derivatif merupakan budaya keberanian dalam mengambil resiko. Tindakan ini juga merupakan rasionalisasi terhadap resiko, dengan cara tidak menempatkan telur pada satu keranjang. Sedangkan Arjun Appadurai dalam salah satu tulisannya di Social Life of Things (1986), menyebutnya sebagai fetish terhadap etos kompetisi dalam pasar finansial.

Tindakan keberanian mengambil resiko, menurut Bill Maurer pada akhirnya mengubah makna uang. Ia menyebutnya sebagai “new imaginary money”. Dengan menggunakan pendekatan semiotika Peirce, Maurer melihat bahwa makna uang telah kehilangan referensinya benda. Klaim bahwa “things” atau benda mendahului “sign” atau tanda karena manusia pertama kali menciptakan “things“ menjadi terbantahkan. Karena “things” mengacu pada ”zero referential“, di mana “things” tidak memberikan acuan pada konsep semiotika yang bersifat referensial (Maurer, 2002: 17-18).

Sebagai benda yang diimajinasikan, “money imaginary” ditempatkan di masa depan dengan tingkat penambahan nilainya yang bersifat fluktuatif. Uang bisa sangat rasional, tapi dapat berubah menjadi sangat beresiko seiring dengan jangka waktu transaksi. Dengan demikian, uang mempunyai indeks yang fluktuatif karena diinvestasikan dalam spasial ruang dan waktu berdasarkan transaksi derivatif (Maurer, 2002: 20). Untuk mencapai tingkat kestabilan, transaksi derivatif dihantui oleh represi, eksklusi, dan penggolongan aset yang menimbulkan semacam “traumatic neurosis“. Dalam hal ini, Maurer melihat bahwa sebelum ditemukannya formula “Black Scholes“ sebagai hedging atau sarana lindung saham aset, transaksi derivatif lebih menyerupai sebuah kepercayaan terhadap agama. Untuk mencapai sebuah kestabilan, manusia perlu melewati ketidaknyamanan dan trauma. Tahap pencapaian kestabilan ini dilakukan secara berulang sehingga menyerupai symptomatology sebagaimana dalam analisis-analisis tentang kemunculan agama yang dilakukan oleh Sigmund Freud.

Maurer menyebutnya sebagai “moral contingencies“ di mana transaksi atau kontrak di pasar uang mencoba untuk menebak masa depan yang dapat dilihat namun tidak dapat diprediksi dengan kepastian (Maurer, 30). Uang kehilangan makna “referensi objeknya“ karena ia ditempatkan di masa depan. Kondisi ini merupakan pemisahan benda (things) dari tanda (sign) yang persis dalam pemisahan fakta terhadap penafsiran, pemisahan sejarah dari memori, dan pemisahan antara yang sakral dan yang profan, maupun dalam dunia sekularisme adalah memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari.

Dengan meminjam pemikiran antropolog Inggris, Dame Ann Marilyn Strathern, Bill Maurer melihat bahwa kontrak saham menunjukkan bahwa manusia berada di suatu wilayah di mana subjek, objek dan relasinya mendekonstruksi fakta dan tanda dan makna-makna referensial lainnya. Hal ini justru menunjukkan bahwa konsepsi pengetahuan manusia sebenarnya tidak memadai terhadap objek-objek di sekitarnya, karena itu relasi (relations) berupaya menciptakan separasi subjek dari objek dan subjek dengan bentuk-bentuk komoditas seperti yang terjadi pada kontrak derivatif (Maurer, 2002: 31).

Dengan demikian pengetahuan dalam menebak probabilitas merupakan instrumen penting dalam transaksi derivatif. Ketika aset diletakkan di berbagai tempat, maka ada proses fetisisme terhadap kestabilan (fetishism of equilibrium). Di mana ramalan terhadap posisi gerak saham atau stochastic bertujuan untuk menghindari overbought dan oversold terhadap aset dan juga menghindari jatuhnya harga komoditas. Tujuan utama ini persis dalam dunia ke-Tuhan-an monoteistik di mana keseimbangan merupakan fetisisme utama. Fetisisme terhadap ekuilibrium merupakan reaksi terhadap serangkaian trauma kegagalan terhadap masa lalu, represi dan reknik ramalan terhadap masa depan yang sifatnya acak.

Ritual dan Performativitas dalam Pasar Uang

Sebenarnya kita dapat mengacu pada banyak metafora dari para antropolog dalam melihat kinerja pasar finansial, seperti menggunakan pendekatan Stanley Jeyaraja Tambiah, Michael Silversten dan Roy Rappaport, namun dalam hal ini saya mengacu pada Benjamin Lee dan Edward LiPuma yang merangkum dua sosiolog besar Max Weber dan Émile Durkheim dalam melihat kinerja pasar uang.

Max Weber melihat bahwa didorong oleh rasa ketidakpastian memotivasi manusia mencari keselamatan dan mentransformasi dirinya untuk bekerja dan terlibat dalam permainan. Pengambilan keputusan dalam kondisi ketidakpastian ini yang nantinya akan menjadi “rutinisasi” dalam kinerja pasar uang. Ketidakpastian adalah isu yang paling menghantui dalam pasar finansial kontemporer. Gejolak harga aset (asset pricing). Dalam hal ini contoh yang paling jelas adalah model financial arbitrage. Arbitrageur mencari idealisasi pasar yang efisien untuk mendapatkan surplus value (nilai lebih) dengan cara mencari keuntungan di antara transaksi dua pasar uang. Kombinasi ini merupakan penyesuaian transaksi dua pasar keuangan di mana keuntungan yang didapat berasal dari selisih harga pasar yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan tindakan yang sifatnya non-profit didapat ketika harga pasar tidak memungkinkan dilakukannya arbitrase yang menguntungkan, sehingga harga aset berada pada tahap arbitrage equilibrium. Jikapun tidak mendapatkan keuntungan, maka mencapai titik keseimbangan arbitrase yang seimbang sudah mencapai totalitas yang bebas dari resiko merugi.

Sedangkan dinamika replikasi aset dalam arbitrase, misalkan perdagangan options menyerupai pandangan Émile Durkheim dalam melihat pencarian manusia terhadap pola ideal tatanan makro kosmos. Ritual merupakan titik puncak dari gelembung masyarakat kolektif (collective effervescence) yang bergerak bersama sehingga menimbulkan gerak performativitas. Hal ini serupa pula dengan pandangan Erving Goffman, transaksi arbitrase adalah upaya untuk mencapai “interaction order” Proses pencapaian ke sana dipenuhi dengan presentasi diri, peranan diri dan bermain game, ritual dramaturgi, penyelamatan diri (face-saving), dan saling tumpang tindih dengan resiko, kecemasan dan ketidakpastian (Lee and Li Puma, 7).

Clifford Geertz menunjukkan bahwa sabung ayam adalah bentuk kompetisi sosial yang te-ritual-kan. Semakin dalam permainan, semakin memproduksi ketidakpastian, apalagi ketika orang di kasta tertinggi ikut sabung ayam. Semakin tinggi kastanya, tentu ayam yang dimainkan sesuai dengan kastanya, dan permainan terasa semakin janggal suasananya, taruhan semakin tinggi dan semakin banyak melibatkan kolektivitas masyarakat di dalamnya (Lee and LiPuma, 9).

Dengan demikian, persamaan dunia ritual dan kinerja pasar finansial adalah pada cara menghadapi resiko ketidakpastian. Volatilitas dalam harga derivatif sangatlah tidak terprediksi. Karena itulah Black-Scholes yang disebut juga “the physics of finance” adalah formula terbaru dengan resiko netral dalam menghindari anjloknya harga aset. Diambil dari analogi gerakan fisika, model Black-Scholes merupakan upaya mencapai titik keseimbangan dari keadaan ketidakpastian dan probabilitas pasar uang. Dengan model Black-Scholes pembeli saham dapat meminjam pinjaman jangka pendek dengan tingkat suku bunga bebas risiko. Di sisi lain, tujuan penilaian opsi dengan menggunakan model Black-Scholes ini adalah untuk mengetahui nilai wajar dari sebuah opsi, baik harga opsi beli maupun harga opsi jual. Dalam gerak ilmu ekonomi, subjek tidak hanya berupaya mencari keuntungan, namun pada saat yang sama juga mengurangi resiko. Karena itu, teori keseimbangan menjadi sangat penting ditekankan. Pada titik inilah model dalam pasar uang mirip dengan kehidupan ekonomi masyarakat agrikultur yang sebenarnya sangat rasional dan kalkulatif. Namun pada saat yang sama hidup para pelaku ekonomi riil juga mencari keseimbangan dengan cara mengurangi resiko hutang, kerugian dan kebangkrutan melalui cara seperti membangun relasi sosial yang bersifat mutualistik.

Teori pencarian keseimbangan ini yang dalam ilmu antropologi ekonomi menempatkan ekonomi dalam dunia agrikultur sebenarnya terikat dengan agama, kekerabatan, etnisitas, dan berbagai hal primordial lainnya. [ ]

9 Agustus 2014

 

* hakadir@ucsc.edu


Referensi:

—Appadurai, Arjun. 1988. “Introduction: Commodities and the politics of value”. In The Social Life of Things. Cambridge Studies in Social & Cultural Anthropology.
—Bernstein, Peter. 1992. Capital Ideas: The Improbsable Origins of Modern Wall Street. The Free Press.
—Fernandez, James. 1986. “Persuasions and Performances: The Play of Tropes in Culture, Persuasions and Performances: The Play of Tropes in Culture. Indiana University Press.
—Geertz, Clifford “The Bazaar Economy: Information and Search in Peasant Marketing” The American Economic Review, Vol. 68, No. 2. (May, 1978), pp: 28-32.
—Lee, Benjamin and Edward LiPuma, “Marx, Weber, and Durkheim for Traders” (unpublished draft)
—Maurer, Bill “Repressed Futures: financial derivatives’ theological unconscious”. Economy and Society, Volume 31, Number 1, February 2012: 15-36.

Tulisan Terkait:

Marshall Sahlins: Antropolog Berpengaruh yang “Tersisa” di Abad ini
Uang dan Hutang dalam Pembentukan Peradaban Manusia
Interogasi terhadap Antroposentrisme dan Rasionalisme
Kinerja Pasar Finansial: Sebuah Etnografi Wall Street
Antropolog Marxis di Amerika Serikat

K a j i a n

Baca Juga

SACP

Hak Bagi Hasil dalam Penambangan Sumber Daya Alam: Tinjauan Teori Antropologi Ekonomi

oleh: Hatib Abdul Kadir * Apa arti bagi hasil pertambangan dalam pandangan masyarakat kita? Banyak ...

Tanggapan

  • Hello, guest
  • Thanks , I’ve just been looking for info approximately this subject for ages and yours is the best I’ve came upon so far. But, what in regards to the bottom line? Are you certain in regards to the supply?