Home / Topik / Ulasan Film / Metode Film & Foto Etnografi: Margaret Mead & Gregory Bateson di Bali (1936−1939)

Metode Film & Foto Etnografi: Margaret Mead & Gregory Bateson di Bali (1936−1939)

oleh: Anjar Wahyuningtyas & Asry Nurul Hutami *

 

Gregory Bateson dan Margaret Mead dalam penelitiannya di Bali menggunakan metode visual yakni dengan fokus menggunakan kamera dan film dokumenter. Sebenarnya, tidak hanya kali ini Mead dan Bateson menggunakan metode visual ini. Dalam beberapa penelitiannya di tempat lain seperti di New Guinea ia juga menggunakan metode tersebut. Mead sepakat untuk kembali berpasangan dengan Bateson dalam melakukan riset mengamati pola hidup orang-orang Bali, ritus-ritus mereka bahkan mengenai pola pengasuhan anak-anak. Semuanya dilakukan dengan mengandalkan media visual serta beberapa catatan pendukung lainnya. Mead dan Bateson membagi fokus tugas mereka masing-masing. Mead bertanggung jawab terhadap fokus pengambilan gambar, pengaturan skala besar kecilnya objek (gambar) dan kedetailannya. Sementara Bateson fokus terhadap proses pengambilan gambar-gambar atau rekaman-rekaman, menciptakan narasi-narasi mengenai catatan yang inovatif serta banyak melakukan analisis terakhir terhadap gambar-gambar yang telah diambil.

 

Margaret Mead & I Madé Kalér mewawancarai Nang Karma & I Gata (atas); Margaret Mead & Gregory Bateson (bawah) [sumber foto: http://www.loc.gov/exhibits/mead/field-bali.html]

Margaret Mead & Gregory Bateson **

 

Mengapa Bali menjadi pilihan selanjutnya dalam perjalanan penelitian Mead dan Bateson? Hal ini dikarenakan ada beberapa hal yang menarik menurut mereka berdua. Bali memiliki kekhasan dan kebudayaan yang kaya akan adat istiadat yang khas seperti: fenomena kesurupan yang biasa terjadi pada keseharian masyarakat Bali dan dimasukkan dalam konteks kesenian tradisional.

Mead dan Bateson tiba di Bali pada Maret 1936. Banyak yang memprediksikan bahwa penelitian mereka di Bali akan menuai kesuksesan, karena Bali dikenal memiliki budaya yang indah, kompleks, dan natural. Hal ini dibuktikan juga dengan keberhasilan mereka mengumpulkan data foto sebanyak 25.000 (dua puluh lima ribu) dan cuplikan-cuplikan untuk film sebanyak 22.000 (dua puluh dua ribu). Bulan kedua mereka di Bali, mereka mengganti fokus pada sekumpulan seniman di Ubud. Sedangkan pada Juni 1936, mereka kembali bergerak menuju Bajoeng Gede, sebuah desa kecil di pegunungan. Di sana mereka banyak menghabiskan waktunya kurang lebih selama setahun untuk melakukan penelitian, dimana selama 8 bulannya mereka berpindah-pindah tempat untuk mengamati srata di kehidupan orang Bali. Lantas, pada Maret 1938 mereka kembali ke New Guinea untuk mencari data-data komparatif (mereka memperoleh sekitar 8000 foto dan 10.000 klip film). Akhirnya, pada Februari dan Maret 1939 mereka kembali ke Bali selama 6 minggu untuk mengisi data-data dan rekaman yang sempat hilang selama mereka kembali ke New Guinea. Sesungguhnya, penelitian ini dilakukan secara kolaboratif karena dibantu oleh beberapa orang Eropa-Amerika dan orang Bali sendiri, termasuk I Madé Kalér, seorang budayawan Bali.

Metode khusus yang ditemukan oleh Bateson dan Mead ini dalam pendokumentasian ribuan gambar dan cuplikan film, serta pengumpulan koleksi-koleksi artefak serta catatan tertulis dilakukannya selama 2 tahun. Gambar-gambar dan cuplikan-cuplikan film ini didefinisikan oleh Mead sebagai “catatan berjalan” (Running Field Notes), karena dapat menceritakan kronologis perjalanan budaya dengan merekam kejadian-kejadian dan mengabadikannya dalam gambar-gambar. “Catatan berjalan” ini juga dikuatkan dengan catatan harian yang di dalamnya berisi beberapa kategori seperti: fotografi, kelahiran dan kematian, macam-macam penyakit, surat-surat dan kunjungan. Meskipun demikian, semua kategori ini tidak diperoleh langsung ketika mereka pertama kali melakukan skenario pembuatan film pada 12 Mei 1936, dan juga tidak semua kategori tersebut dicatat dalam buku catatan.

 

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=ruKduyXoBZw[/youtube]

Trance and Dance in Bali; karya Margaret Mead & Gregory Bateson

 

Pada dasarnya, Bateson-lah yang mengatur rekaman-rekaman, sedangkan Mead lebih fokus pada percakapan verbal dan kemudian mendokumentasikannya. Di lapangan Mead berperan layaknya seorang sutradara yang mengatur jalannya kronologis adegan, fokus pengambilan gambar serta apa saja yang berkaitan dengan aturan pengambilan gambar. Salah satu metode yang dilakukan dalam penelitian visual ini adalah dengan memperlihatkan cuplikan film pada informan (orang Bali) mengenai gambaran diri mereka sendiri.

Sebenarnya penggunaan metodologi kamera ini bukan hal yang pertama bagi Mead dan Bateson, namun untuk studi di daerah Bali sendiri, ini merupakan hal yang pertama. Oleh karena itu, mereka berusaha menggunakan kamera sebagai alat yang biasa muncul dalam keseharian orang-orang Bali, sehingga dengan keterbiasaan tersebut mereka dapat melakukan segala sesuatunya secara spontan tanpa direkayasa. [ ]


12 April 2012


* Antropologi Budaya—Universitas Brawijaya

** Sumber foto

 

Tulisan Terkait: Menonton Film Etnografis Aryo Danusiri

Antropologi Visual & Antropologi Seni

 

 

 

 

Baca Juga

India Edisional Etnohistori

Ah, India

  oleh: Laraswati Ariadne Anwar *   MEMBICARAKAN pengaruh budaya India di Indonesia tentunya akan ...

Tanggapan

  • Hello, guest
  • I was just looking for this info for some time. After 6 hours of continuous Googleing, at last I got it in your site. I wonder what is the lack of Google strategy that do not rank this type of informative sites in top of the list. Usually the top websites are full of garbage.