ETNOHISTORI

Moral Ekonomi Petani: Antara Subsistensi dan Resistensi

 

Ulasan Buku oleh: Victor T. King *

 

Buku James C. Scott, “The Moral Economy of The Peasant. Rebellion and Subsistence in Southeast Asia” (1976) ini mengkompilasi dan mensintesiskan keluasan sejarah beserta data-data numerik yang tersedia selama periode kolonial. Ekspansi negara-negara barat dan kapitalisme global di era kolonialisme abad 19 dan 20, pada gilirannya mengubah pandangan petani terhadap ekonomi secara dramatis. Istilah “ekonomi moral” di buku Scott ini diambil dari istilah Edward Palmer Thompson dalam sebuah studi klasiknya mengenai para klas pekerja di Inggris (1966); The Making of the English Working Class.

 

 

 

James C. Scott meneliti karakteristik ekonomi petani subsisten yang khas dalam hal mengurangi resiko atau mencegahnya secara bersama-sama demi kebutuhan pokok sehari-hari. Hal ini merupakan “hasrat sekuritas subsisten” atau dengan kata lain “rasa takut akan kelangkaan” dari petani (1976: vii, 6). Pengaturan sosial dan institusi-institusi dalam kehidupan petani atau yang disebut dengan “pola-pola resiprositas“, juga menggiring mereka ke garis batas di bawah kehidupan subsisten (ibid: 3). Dalam hal ini Scott juga membantah pandangan bahwa kehidupan masyarakat desa penuh dengan harmoni dan kasih sayang serta berimplikasi pada relasi sosial egalitarianisme (ibid: 5), meski ia juga menekankan pada resiprositas, kerjasama, nilai-nilai bersama, redistribusi, kasih-sayang, kesejahteraan, paternalisme, anti transaksi pasar. Menurutnya, kekuatan yang lebih besar memaksa para “petani miskin dan penyewa”, yang berpemasukan rendah, tanah sedikit dan keluarga besar, mempunyai kesempatan akses yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan para petani kaya (1976: 25). Meskipun demikian, terkadang Scott tidak menampilkan narasi-narasi yang cukup mengenai relasi klas dalam masyarakat pedesaan, ketegangan beserta konflik-konflik yang menyebabkan adanya ketidakadilan sosial dalam struktur-struktur kekuasaan, kepemimpinan, dan mobilisasi politik di tingkatan lokal, pengambilan resiko dan mobilitas sosial di antara para petani.

Scott dalam buku ini menggambarkan beberapa tampilan penting dari kehidupan sosial ekonomi dan organisasi kultural, khususnya yang berkenaan dengan orang miskin, ia menyoroti respon-respon mereka terhadap penetrasi negara dan pasar selama periode kolonial. Scott juga melihat kontrol negara dalam bentuk pajak yang telah ditetapkan (khususnya pajak per-kepala), naik turunnya harga untuk komoditas-komoditas utama (khususnya beras), registrasi tanah dan komodifikasinya, kepemilikan tanah, spesialisasi ekonomi dan individualisme serta polarisasi klas. Scott menggambarkan transformasi tanah menjadi komoditas yang dijual telah mempunyai efek yang sangat mendalam. Kontrol terhadap tanah semakin terlepas dari tangan-tangan orang desa; petani secara progresif kehilangan hak-hak kebebasan hak guna hasil dan menjadi penyewa atau petani pekerja berupah; nilai-nilai yang diproduksi semakin diukur dengan fluktuasi pasar yang bersifat impersonal (ibid: 7). Negara sendiri menjadi agen yang mengeksploitasi sumber daya petani. Berbagai bentuk administrasinya dilakukan dengan cara menghitung serta mensurvei para petani dan tanah hanya bertujuan untuk pajak (ibid: 8).

Scott menganalisis proses-proses ini dalam konteks masyarakat kelas bawah jajahan Inggris di Burma dan jajahan Perancis di Indochina beserta ekspresi mereka yang disebut dengan “depresi” atau “pemberontakan pajak” pada tahun 19301931. Ia berpendapat bahwa penyebab utama dari pemberontakan petani adalah karena terjadinya penurunan drastis dari ikatan tradisional antara elit lokal dan petani, hilangnya proteksi, dukungan dan bantuan keuangan dari ikatan mereka-mereka yang biasanya saling memberi.

Scott juga secara tepat mengkritik premis-premis tertentu mengenai teori-teori Marxis dengan menganggap eksploitasi terhadap petani adalah bagian dari pencurian dari nilai lebih. Scott menggunakan konsep-konsep dalam ranah para ilmuwan sosial yang berorientasi pada Marxis; seperti “proletariat”, “feudalisme”, “kapitalisme”, kemudian ia menggunakannya untuk menggambarkan klas-klas pedesaan dan perkotaan termasuk klas-klas petani (orang miskin, menengah dan kaya, penyewa, petani bagi hasil), pemilik tanah dan peminjam uang, serta buruh upahan pedesaan. Sayang penggunaan dari istilah-istilah ini semua agaknya kurang tepat sehingga pada saat petani muncul sebagai sebuah kesatuan klas dan di waktu yang lain muncul sebagai beberapa klas yang terbedakan, tidak terepresentasikan dengan baik.

Kesan dari pandangan Scott ini seakan memandang bahwa petani adalah kaum yang lemah dan hanya mampu melakukan resistensi kecil-kecilan serta sekedar subsisten atau hanya mampu menghidupi ekonominya di hari itu saja. Samuel L. Popkin, seorang antropolog sejarah menunjukkan dengan menggunakan contoh respon-respon petani selama periode kolonial di Vietnam. Menurutnya kerangka Scott tidak dapat diaplikasikan terhadap petani pada umumnya. Para petani tetap mempunyai pandangan ke depan, memimpin dan dipimpin dengan baik, berdiri secara mapan, terinstitusionalisasi, mempunyai institusi supra lokal, dan melibatkan para petani kaya serta anggota-anggota elit pedesaan lainnya. Para petani juga mampu melakukan perbaikan terhadap nilai-nilai sosiokultural “tradisional” dan praktik-praktik yang berupaya untuk memperbaiki, mentransformasi atau menggantikan elemen-elemen lokal dan tatanan kultural, untuk menangkap kesempatan-kesempatan baru terhadap penawaran kapitalisme dan pasar. (© Victor T. King, Mei 2011)

 

 

 

Profesor emeritus Southeast Asian Studies, Universitas Leeds, Inggris.

….E-mail: v.t.king@leeds.ac.uk

 

29 Mei 2011

 

 

[ ULASAN BUKU ]

 

 

 


0 Tanggapan

    • Hello, guest

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org