Nonton Bola di Gajayana: Sebuah Catatan Lapangan
oleh: Antariksa*

Stadion Gajayana Malang
Di Stadion Gajayana Malang, markas Arema, Yuli dan Kepet mesti berbagi wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan Yuli adalah tribun bagian timur, tepat di bawah papan skor. Wilayah Kepet adalah tribun bagian selatan. Sementara tribun VIP dibiarkan tanpa dirigen.
Pertandingan sepakbola biasanya dimulai jam 15.30 sore, tetapi para suporter sudah memadati stadion sejak 2 jam sebelumnya. Mereka memainkan genderang, terompet, menyanyi, menari dan menyulut kembang api dan petasan. Sebelum dirigen datang, atraksi-atraksi ini berlangsung sporadis, dalam kelompok-kelompok kecil, dan tidak kompak. Tetapi begitu mereka melihat kedatangan Yuli dan Kepet, secara otomatis semuanya akan bertepuk tangan dan bertempik-sorak seperti menyambut kedatangan presiden mereka. Yuli dan Kepet tersenyum, dan begitu mereka melambaikan tangan, ribuan suporter ini menjadi lebih tenang. Semua musik, lagu, dan tarian dihentikan. Yuli dan Kepet akan segera menaiki singgasana mereka, yaitu pagar besi pembatas lapangan setinggi 2 meter. Mereka mulai menjalankan tugasnya; sambil berdiri di atas pagar menghadap ke tribun penonton mereka menggerakkan tangan dan kaki, memiringkan dan memutar tubuhnya ke kiri, kanan, depan, dan belakang sebagai alat untuk memberi aba-aba. Ribuan penonton menjadi kompak dan memainkan musik, menyanyi, dan menari. Semuanya mengikuti aba-aba dan contoh gerakan yang dilakukan Yuli dan Kepet.
Sepuluh menit sebelum pertandingan dimulai, Yuli dan Kepet memberi aba-aba berhenti. Kalau mereka sudah menaikkan tangan kanan ke atas, itu artinya tarian akan berhenti dan para suporter akan segera menyanyikan lagu Padamu Negeri.1 Para pemain memasuki lapangan, wasit meniup peluit, pertandingan segera dimulai, tarian dan lagu dimainkan kembali. Karena atraksi-atraksinya yang menarik, Arema pernah memenangi penghargaan suporter terbaik dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).
Sebelumnya Aremania bereputasi buruk sebagai suporter yang sering membuat kerusuhan. Sama halnya dengan Bonek. Sebagai suporter dari klub sepakbola besar dan sudah cukup tua (Persebaya berdiri 1927),2 yang sering menjadi juara liga, Bonek bahkan punya sejarah yang lebih panjang dalam berbagai kerusuhan sepakbola di Indonesia. Mereka terkenal karena dengan aksinya merusak kereta api, sarana-sarana umum dan menjarah warung dan toko bahan makanan di kota-kota tempat Persebaya bermain. Itulah sebabnya sekarang gelandangan, perusuh, dan penjarah yang berkeliaran di kota-kota disebut saja dengan Bonek. Para demonstran yang menyatakan berani mati untuk memertahankan jabatan mantan Presiden Abdurrahman Wahid bahkan juga disebut “demonstran Bonek”.
Bonek dan Aremania adalah musuh bebuyutan. Jika Aremania dan Persebaya bertemu dalam satu pertandingan, hampir bisa dipastikan bahwa kedua kelompok suporternya akan terlibat dalam bentrokan, yang tak jarang menyebabkan korban tewas. Sampai beberapa tahun lalu, di Surabaya dan Malang masih ada “tradisi” merusak kendaraan umum dan pribadi. Jadi jika Persebaya bermain di Malang, maka Aremania akan merusaki semua kendaraan berplat nomor L (plat nomor Surabaya), sebaliknya jika Arema bermain di Surabaya, ganti para Bonek lah yang akan merusaki kendaraan berplat nomor N (plat nomor Malang). Kalau tidak merusaki, biasanya para suporter ini mencegat kendaraan-kendaraan dan meminta sejumlah uang; bisa 10 ribu, 20 ribu atau 50 ribu, tergantung keberhasilan negosiasi yang dilakukan. Sebuah kendaraan bisa juga selamat jika si pengemudi bisa menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang menunjukkan bahwa ia adalah warga setempat.
Tingkat kerusuhan makin berkurang sejalan dengan profesionalisasi Liga Sepakbola Indonesia; pemain-pemain asing didatangkan, modal asing mulai masuk, dan sanksi bagi klub sepakbola yang suporternya membuat kerusuhan dijalankan dengan keras oleh PSSI. Pihak manajemen klub, biasanya bekerjasama dengan pemerintah daerah (Pemda), lantas mulai mendirikan dan membiayai organisasi-organisasi untuk mengatur suporternya. Kelompok-kelompok suporter yang tumbuh dengan sendirinya di kalangan rakyat kemudian dianggap liar dan berbahaya, dan karena itu dianggap perlu dididik dan diorganisasikan. Maka kini Bonek secara rutin memperoleh dana pembinaan dari Pemda Surabaya dan dana operasional dari Persebaya. Dan beberapa tahun lalu di Jakarta berdiri organisasi Persija (Persatuan Sepakbola Jakarta) yang disebut The Jack dan juga di Solo berdiri organisasi suporter Pelita Solo yang disebut Pasoepati.3
Satu-satunya kelompok suporter besar yang tetap tinggal “liar” adalah Aremania. Klub dan Pemda tidak memberi bantuan dana atau berkeinginan membuat organisasi formal untuk suporter. Para suporter tetap membuat kelompoknya sendiri dengan keinginan mereka sendiri, kelompok-kelompok ini mereka sebut dengan Korwil (Koordinator Wilayah). Di Malang sekarang ini sekurang-kurangnya ada 125 Korwil Aremania. Tiap Korwil punya seorang ketua yang hanya bertugas mengumpulkan suporter di wilayahnya menjelang Arema bertanding. “Tidak perlu organisasi-organisasian. Kalau ada organisasi itu repot, nanti malah diatur-atur, disuruh begini, disuruh begitu, bayar ini, bayar itu. Apalagi kalau sampai dikait-kaitkan sama partai politik segala”, kata Ponidi—Ketua Korwil Stasiun. Meski tiap Korwil punya ciri khas sendiri, yang ditandai dengan bendera, spanduk, seragam, dan dandanannya, komando di stadion tetap ada di tangan dirigen. Hanya Yuli dan Kepet yang mampu mengatur dan menenangkan merea. “Pengurus klub atau walikota sekalipun tidak akan bisa ada artinya bagi suporter. Dia tak akan mampu mengatur 30 ribu orang. Tapi begitu Yuli atau Kepet yang ngomong, ya semuanya manut”, jelasnya.
* * *
Yuli adalah pemuda dari keluarga miskin yang tinggal di sebuah kampung di bagian timur Malang. Sebelum menjadi dirigen Aremania, sejak lulus dari sebuah Madarasah Aliyah, Yuli bekerja sebagai pencuci mikrolet—angkutan umum dalam kota. Ia biasa bekerja dari jam 4 sore hingga jam 12 malam, dari pekerjaannya, dalam sehari Yuli bisa memperoleh 10 ribu hingga 15 ribu rupiah.
Sejak menjadi dirigen, Yuli praktis berhenti bekerja. Menurutnya pilihan ini adalah saran orang tuanya yang tak tahan melihat Yuli menghabiskan hampir semua waktunya untuk mengurusi sepakbola, sepakbola, dan sepakbola. Ia kini menggantungkan hidupnya pada orang tuanya. Bapaknya, Asip, bekerja sebagai tukang kayu panggilan. Sementara ibunya, Juwariyah, mendapatkan uang dengan menjual makanan rumahan bikinannya ke warung-warung di sekitar kampungnya. Yuli mengatakan setiap hari mendapat uang saku antara 500 hingga 2000 rupiah dari bapak atau ibunya. “Yul, ini ada sedikit uang untuk beli rokok”, kata Yuli menirukan ibunya.
Jika Liga sedang berjalan—yang berarti setiap minggu hampir selalu saja ada pertandingan sepakbola—Yuli harus menyisihkan sedikit jatah uang rokoknya agar bisa membeli tiket dan masuk stadion. Tetapi kalau kondisi keuangan keluarganya yang benar-benar sulit, Yuli kadang terpaksa menjual asesoris-asesoris suporternya untuk bisa membeli tiket. Tak jarang ia harus merelakan kaus atau syal kesayangannya dengan harga 10 hingga 20 ribu rupiah. “Sebenarnya sedih juga, karena barang-barang itu punya nilai sejarah bagi saya. Tapi saya akan lebih sedih lagi kalau tidak bisa masuk ke stadion dan menjadi dirigen bagi teman-teman”, katanya. Kadang-kadang Yuli juga membantu menjual tiket pertandingan. Beberapa hari sebelum pertandingan Yuli akan mengambil tiket di Mess Arema. Untuk tiap tiket seharga 10 ribu rupiah yang bisa dijualnya, ia mendapat bagian 10 persen atau seribu rupiah. Agar bisa nonton pertandingan, sekurang-kurangnya Yuli harus bisa menjual 10 tiket.
Seperti kebanyakan pemuda kota yang tinggal di kampung padat dan miskin, Yuli gemar sepakbola dan sering terlibat tawuran (perkelahian massal) antar kampung. “Buat saya dulu tawuran adalah bagian dari sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti sepakbola banci”, kata Yuli. Ia kemudian bercerita, beberapa tahun lalu—sebelum menjadi dirigen—bersama 30 temannya ia datang ke Jakarta untuk melihat Arema bertanding. Ia berangkat dari rumah dengan sudah menyiapkan sebilah pedang. “Waktu itu, ini perlengkapan standar”, katanya. Di Jakarta ia terlibat bentrokan dengan kelompok Bonek di depan Stasiun Pasar Senen. Mula-mula hanya saling melempar batu, tapi kemudian menjadi saling kejar, memukul dengan potongan kayu atau besi, bahkan hingga sabetan pedang. “Yang saya ingat, keesokan harinya saya baca di koran ternyata ada 3 orang Bonek yang mati. Sementara kami semua selamat”, katanya.4
* * *
Yuli kini ingin melupakan masa lalunya. Di ruang tamu rumahnya yang sempit, ia memasang fotonya ketika bersalaman dengan Ketua PSSI Agum Gumelar. Di foto itu, Yuli—berambut gondrong dan berkaus Arema warna biru—tampak tersenyum bangga. Katanya, “Saya diundang di acara pembukaan Liga Indonesia dan dikirimi tiket pesawat untuk hadir mewakili suporter”.
Karena tak bekerja, sehari-hari Yuli menghabiskan waktunya dengan nongkrong saja. Saya ingat waktu bertemu dengannya pertama kali tiga tahun lalu, ia tengah nongkrong di Salon Cimenk yang terletak beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Didik, pemilik salon ini, adalah teman Yuli sesama Aremania. Ketika saya datang rupanya mereka sedang membicarakan rencana menjahit pakaian dirigen baru buat Yuli. Untuk urusan dandanan Yuli mengaku memang sering dibantu Didik. Sekali mencat rambut ia cuma akan membayar 10 atau 20 ribu. Tapi Yuli lebih sering tak membayar, karena ia memang jarang punya cukup uang. Suatu ketika karena merasa sungkan dan terlalu sering tidak membayar, sebelum berangkat ke stadion Yuli pernah mencat saja rambut gondrongnya dengan cat kayu, warna biru. Jelasnya, “Agar mudah membersihkannya, saya lumuri dulu rambut saya dengan minyak goreng, setelah itu baru saya cat. Saya ingin selalu bisa menarik perhatian di lapangan.”
Yuli punya cukup banyak koleksi asesoris Aremania. Dengan bersemangat ia menunjukkan koleksi kaus dan pakaian dirigennya pada saya. Yuli punya macam-macam kaus Arema, dari kaus seperti yang dipakai para pemain—warna biru putih—sampai kaus-kaus bergambar kepala singa, lambang Arema, yang memang punya julukan sebagai tim Singo Edan (singa gila). Kebanyakan kaus macam ini bertuliskan “Kera Ngalam” atau “Ongis Nade”. Keduanya adalah bahasa slang Malang yang berarti “Arek Malang” dan “Singo Edan”.
“Saya biasanya pakai kaus Arema, tapi bawahannya bisa ganti-ganti, yang penting warna dan modelnya menyolok mata. Seorang teman suporter pernah memberi saya pakaian Skotlandia”, kata Yuli sembari mengeluarkan pakaian bermotif kotak-kotak khas Skotlandia dari lemarinya. Sebentar kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa pakaian,dari yang berbahan kulit sintetis hingga kain sarung dan kain perca. Hampir semua pakaian ini dirancang sendiri oleh Yuli. Biasanya ia mendapat ide model-model pakaian baru setelah menonton pertandiangan sepakbola Liga Italia atau Inggris di televisi.
Saya membuka-buka koleksi foto Yuli. Ia memberikan penjelasan detil untuk tiap foto yang saya lihat. Ketika saya sampai pada sebuh foto yang memperlihatkan sepasang lelaki dan perempuan berbaju pengantin, sementara di sekelilingnya adalah laki-laki dan peremuan yang semuanya berkaos biru Arema, Yuli menjelaskan bahwa itu adalah acara pernikahan seorang Aremania. Ia malah menceritakan tentang seorang Aremania lain yang naik haji ke Mekkah dengan membawa syal dan bendera Arema.
Kamar Yuli kecil saja, 3 kali 3 meter. Dindingnya dicat biru, dipenuhi poster dan macam-macam hiasan dinding yang berbau Arema. Sebuah poster paling besar, kira-kira berukuran 1 kali 1,5 meter, dibuat dengan teknik cetak yang baik, memperlihatkan gambar kepala singa, foto tim Arema, dan ribuan suporter Arema. Bagian bawah poster itu bertuliskan “Di saat prestasi bangsa Indonesia sedang terpuruk, bumi pertiwi bersimbah darah, nusantara sedang tercabik, Aremania melalui panggung sepakbola telah membuat jutaan pasang mata di layar kaca terkagum oleh sportivitas”, kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat berbahasa Inggris, “Aremania, pride of the city, friendship without frontier, footbal without violence, the incorporable suporter, the incredible Malangese“.
Di kamar ini Yuli mengarang tarian dan lagu-lagu buat Aremania. Sebenarnya ia tak benar benar-benar mengarang, ia hanya memodifikasi saja syair lagu-lagu yang sudah asa, sementara nada dan iramanya tetap dipertahankan. Sumbernya bisa datang dari mana saja. Bisa lagu-lagu tentara Indonesia, lagu pop, lagu anak-anak, lagu pramuka, lagu selamat ulang tahun, sampai lagu suporter Juventus, suporter kesebalasan Cili, atau lagu marinir Amerika yang dilihatnya di film atau televisi. Yuli hafal di luar kepala semua lagu yang berjumlah 30-an itu. Untuk tarian, Yuli mengaku sekenanya saja. Prinsipnya adalah ia harus bisa membuat gerakan tubuh yang mudah ditirukan dan diingat orang lain. Menurut Yuli, seringkali para suporter juga memberikan usulan tarian dan lagu baru beberapa saat sebelum sebuah pertandingan dimulai.
* * *
Kini orang ramai berdatangan ke Stadion Gajayana. Mereka datang bukan hanya untuk sepakbola, tetapi juga untuk melihat bagaimana Aremania menyanyi dan menari. Dulu menonton sepakbola di Gajayana hanyalah monopoli orang-orang pribumi laki-laki, tapi kini perempuan dan orang-orang keturunan Cina juga datang menonton ke stadion. Hampir-hampir tak ada lagi kerusuhan dan perkelahian.
“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama”, kata Yuli. [ ]
[1] Menurut Yuli lagu ini dipilih agar, “Para suporter ingat bahwa membuat kerusuhan dalam pertandingan sepakbola hanya akan memperburuk citra bangsa Indonesia.” Sepakbola memang merupakan medium yang unik bagi cita rasa nasional. Menurut Hobsbawm, para pemain sepakbola, meskipun yang perannya paling sedikit, merupakan simbol dari apa yang disebut sebagai “bangsa”. Di Jawa pada awal 1920-an, para pemuda pergerakan juga melihat sepakbola sebagai lambang cita-cita mereka, yaitu Jawa Raya. Sejak Kongres Jong Java 1919, sudah mulai ada keluhan tentang para anggota yang “berdada datar dan berpunggung bengkok”, karena itu diusulkan diadakan pendidikan jasmani. Pada Kongres 1921 para anggota untuk pertama kali melihat “benda bulat cokelat” itu menggelinding di acara resmi Jong Java, memperebutkan “piala perak yang indah dan mahal harganya”. Pertandingan paling berapi-api dimenangi oleh Cabang Surabaya, baik di ruangan rapat maupun di lapangan hijau. Tetapi program ini bukannya tanpa kritik. Anggota-anggota yang lebih tua mengkritik pertandingan-pertandingan itu telah memerosotkan Jong Java menjadi “sebuah perhimpunan sekolah yang rendah mutunya”. Tentang posisi olahraga dalam lintasan nasionalisme di Indonesia, lihat karya Hans van Miert Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesia, 1918-1930 (KITLV―Hasta Mitra―Pustaka Utan Kayu, 2003) dan karya Savitri Scherer Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX (Sinar Harapan: 1985).
[2] Klub sepakbola pertama di Indonesia adalah Road-Wit (Merah-Putih) yang didirikan oleh orang-orang Belanda pada 1894. Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB, Persatuan Sepakbola Hindia Belanda) terbentuk pada 1919 dan hingga 1936 organisasi ini secara rutin menyelenggarakan pertandingan sepakbola antarkota di Semarang, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Lebih jauh tentang sejarah sepakbola di Indonesia lihat artikel Freek Colombijn “The Politics of Indonesian Football” (Archipel No. 59, 2000) dan buku Srie Agustina Palupi, Politik dan Sepakbola di Jawa, 1920-1940 (Ombak, 2004).
[3] Ini adalah gejala yang juga terjadi di negara-negara lain (di Eropa telah dimulai sejak 1950-an), dimana suporter sepakbola dilihat sebagai sebuah kelompok sosial pembuat masalah yang harus direhabilitasi. Pemerintah, klub, persatuan-persatuan sepakbola, dan aparat keamanan merupakan aparat-aparat kuasa rehabilitasi. Tugas dan tujuan mereka adalah melindungi masyarakat dari “kepanikan moral” yang muncul karena ulah para suporter sepakbola, dan menciptakan “suporter jinak” (disebut loyal supporter). Karena itulah aparat-aparat ini sebenarnya juga merupakan bagian dari penciptaaan kepanikan moral itu sendiri. Lihat karangan Steve Readhead “The Politics of Soccer Hooliganism” dan “The Rehabilitation of Soccer” dalam Subculture to Clubcultures (Blackwell, 1997).
[4] Menurut saya salah satu karya tulis tentang budaya kekerasan dan kehidupan suporter sepakbola adalah The Football Factory karangan John King (Vintage, 1997). Kini telah difilmkan dengan judul yang sama [The Football Factory] oleh Nick Love (Vertigo Films, 2004).
* Penggiat di KUNCI Cultural Studies Center & iCAN
[Tulisan ini dimuat ulang dari Lèbur: Theater Quarterly, 02/2003]
Tulisan Terkait: • Sejarah Popularitas dan Kompleksitas Supporter Arema
Etnohistori, 15 Januari 2012







