Home / Topik / Kajian / Paska−Pembangunan & Pertanyaan tentang Alternatif (Bagian 1)

Paska−Pembangunan & Pertanyaan tentang Alternatif (Bagian 1)

oleh: Sirojuddin Arif *

 

Dalam kritiknya terhadap pembangunan, Arturo Escobar (1995)[1] menuliskan bahwa yang dibutuhkan sekarang bukan sekedar pembangunan alternatif (alternative development), melainkan alternatif lain untuk menggantikan pembangunan (alternative to development). Menurutnya, gagasan pembangunan secara mendasar tidak berpihak kepada masyarakat-masyarakat negara miskin dan berkembang. Munculnya gagasan pembangunan tidak terlepas dari proses transisi dari era kolonial ke era negara bangsa yang melatarbelakanginya. Ia dikembangkan oleh negara-negara bekas penjajah atau maju lainnya, terutama Amerika Serikat (AS) yang tampil menjadi pembuka dalam pembentukan tata dunia baru itu, untuk menguatkan pengaruh serta mengamankan kepentingan ekonomi mereka di berbagai belahan dunia lain, terutama Asia dan Afrika. Meski telah sekian dekade melakukan pembangunan sebagaimana diresepkan oleh ahli-ahli Barat serta lembaga-lembaga pembangunan dan kreditor internasional seperti Bank Dunia (World Bank) maupun Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund), negara-negara yang biasa disebut sebagai Dunia Ketiga ini tetap menderita keterbelakangan, kemiskinan, kelaparan dan kini bahkan seringkali ditambah dengan kerusakan lingkungan yang parah. Oleh karena itu, Escobar menyarankan perlunya keluar dari narasi ini, dan menggantinya dengan apa yang disebutnya sebagai era paska−pembangunan.

Di kalangan studi pembangunan, pernyataan Arturo Escobar ini memicu perdebatan sengit tentang masa depan pembangunan dan juga studi pembangunan itu sendiri. Encountering Development menjadi bukan hanya sumber rujukan melainkan juga bahan kritikan. Bagi sebagian penulis, karya ini seolah menjadi ikon yang mampu membahasakan dengan lebih jelas apa yang selama ini mereka suarakan, yakni keinginan untuk mewujudkan kehidupan baru yang lebih baik bagi masyarakat-masyarakat miskin dan terbelakang. Namun bagi sebagian penulis lain, kritik tajam Escobar menguliti tidak hanya apa yang selama ini mereka teorisasikan tentang pembangunan, namun lebih dalam tentang paradigma yang mereka gunakan dalam merumuskan teori-teori tersebut. Gagasan paska−pembangunan banyak mengubah wajah studi pembangunan dengan mengalihkan perdebatan tidak sebatas pada level teori, melainkan lebih jauh ke level paradigma. Namun pada akhirnya, apa yang penting untuk disimak dari gagasan paska−pembangunan dan perdebatan yang ditimbulkannya ini tentu saja adalah seberapa jauh tawaran yang diberikan sebenarnya dapat membebaskan masyarakat-masyarakat miskin dan berkembang dari kemiskinan dan keterbelakangan mereka. Perlukah mereka keluar dari proyek besar pembangunan sebagai disarankan oleh penganjur paska−pembangunan? Kalau ya, apa kemudian yang akan menjadi alternative to development’ itu? Tapi apakah itu suatu pilihan yang bijak dan mungkin di tengah-tengah kemiskinan dan keterbelakangan yang ada?

 

Kritik Pembangunan dan Imajinasi Paska−Pembangunan

Sejak akhir tahun 1980-an, suara-suara kritis yang menentang proyek pembangunan mulai dikemukakan oleh berbagai kalangan. Tidak hanya bernada revisionis sebagaimana yang telah banyak disampaikan oleh para ahli atau kritikus sebelumnya, pandangan-pandangan kritis baru ini secara mendasar menentang pembangunan dengan menyerang landasan berpikir atau alasan paling mendasar dilaksanakannya agenda-agenda pembangunan di negara-negara Dunia Ketiga. Implikasinya, agenda yang diperjuangkan atau solusi yang ditawarkannya pun juga secara mendasar berbeda dengan agenda-agenda atau solusi-solusi yang pernah ditawarkan sebelumnya. Dengan bernas beberapa kalangan membahasakan bahwa yang perlu dilakukan adalah justru membebaskan diri dari agenda pembangunan, bukan memperharuinya atau lebih jauh memerangkap diri di dalamnya.

Pada kritik-kritik sebelumnya —untuk alasan memudahkan pembahasan ijinkan saya untuk mengelompokkan mereka secara kasar dalam kelompok besar revisionis—, penentangan mendasar semacam itu jarang kita temukan. Suara-suara yang ada lebih berupaya mengkoreksi jalannya proyek besar pembangunan dengan mencermati penyimpangan program atau secara sedikit lebih mendasar dengan mengajak berefleksi pada level metode atau pendekatan yang layak atau tepat bagi pembangunan. Sementara penyimpangan program menjadi salah satu poin wajib yang selalu diamati dalam setiap studi evaluasi terhadap program-program pembangunan, beragam pendekatan pembangunan silih berganti telah mewarnai wacana yang berkembang tentang pembangunan masyarakat Dunia Ketiga. Seiring dengan semakin banyak kerusakan alam di negara-negara miskin dan berkembang, para ahli menawarkan pembangunan berkelanjutan sebagai pendekatan baru yang dianggap ramah terhadap alam[2]. Sebelumnya, pakar pembangunan Pakistan yang kenamaan, Mahbub ul-Haq menawarkan konsep pembangunan manusia untuk merevisi penekanan terhadap pertumbuhan pada era sebelumnya[3]. Ahli lain menyuarakan apa yang dikenal sebagai pendekatan kebutuhan dasar[4]. Di kalangan feminis dan pegiat gender khususnya, perhatian terhadap nasib perempuan telah melahirkan konsep-konsep seperti perempuan dan pembangunan (women and development/ WAD) serta gender dan pembangunan (gender and development/ GAD)[5]. Pada level terbatas negara, kritik revisionis terhadap pembangunan juga tak kalah nyaringnya. Di Indonesia beberapa kalangan mengkritik pembangunan Orde Baru sebagai modernisasi tanpa perubahan struktur sosial. Namun terlepas dari perbedaan suara dan aspirasi ini, satu hal yang menyamakan beragam kritik atau pandangan ini adalah perlunya proyek pembangunan diperbaiki untuk kemudian diteruskan sehingga tujuan yang diidealkannya benar-benar bisa terwujud.

Berbeda dari pandangan-pandangan di atas, kritik baru terhadap pembangunan tidak dimaksudkan untuk merevisi atau memperbarui praktik pembangunan yang ada. Sebaliknya, ia justru ingin merubuhkan dan menggantikannya dengan agenda lain yang dirasa lebih sesuai dengan kepentingan masyarakat negara-negara miskin dan berkembang. Proyek besar bernama pembangunan itu dirasa telah gagal mewujudkan kemajuan dan kemakmuran sebagaimana yang dijanjikan. Untuk membuktikan argumen ini, kritik baru ini juga mengambil cara yang berbeda dengan kritik-kritik yang pernah dilontarkan sebelumnya. Tidak dimulai dengan paparan tentang kegagalan-kegagalan proyek pembangunan, para pendukung kritik baru biasanya berangkat dari tilikan post−strukturalisme tentang besarnya kekuatan wacana dalam pembentukan realitas sosial, politik maupun ekonomi. Atau jika tidak berangkat dari pembacaan pembangunan sebagai wacana, kritik baru ini akan menekankan sisi relasi kuasa dalam pelaksanaan proyek-proyek pembangunan serta efek yang ditimbulkannya. Apa yang dinilai sebagai krisis pembangunan dipandang sebagai efek dari beroperasinya wacana pembangunan yang sedari awal memang disusun dari sudut pandang luar, terutama negara-negara maju melalui ahli-ahli dan agen-agen pembangunan internasional[6], atau pengabaian terhadap proses-proses politik atau kekuasaan di tingkat lokal oleh pelaksana pembangunan[7].

Dalam pandangan post−strukturalisme, wacana tidak dianggap sekedar pantulan atau cerminan realitas sosial. Sebaliknya, ia ikut menentukan bentuk realitas sosial sesuai dengan gambaran yang diwacanakan. Menurut Paul-Michel Foucault, tokoh kunci yang karya-karyanya banyak menjadi sandaran utama post−strukturalisme, wacana bukan sekadar ujaran atau teks. Ia adalah praktik sosial dan juga politik. Wacana selalu memuat kondisi, prasyarat dan aturan serta sejarah pembentukan tersendiri. ‘Menambahkan suatu pernyataan atas rangkaian pernyataan yang sudah ada sebelumnya’, tulisnya, ‘adalah melakukan tindakan yang mahal dan kompleks’ (Foucault, 1972: 209). Dalam kaitannya dengan realitas sosial yang mengitari atau dibentuknya, tugas analisis wacana kemudian adalah untuk:
 
‘…menyingkap mekanisme bagaimana suatu sistem wacana memproduksi cara berpikir atau bertindak yang diperbolehkan, dan sebaliknya menyingkirkan atau bahkan menghalangi munculnya cara berpikir atau bertindak lain’.
 
Dengan mendasarkan diri pada piranti teoretik ini, generasi kritikus baru ini melakukan pembacaan ulang terhadap praktek-praktek pembangunan selama ini. Dimulai dari menyingkapkan distingsi-distingsi atau konsep-konsep dasar yang membangun konstruksi gagasan besar pembangunan seperti ‘negara miskin’, ‘negara berkembang’, ‘kemiskinan’, ‘keterbelakangan’, ‘mal−nutrisi’, dan hal-hal sejenis lainnya, analisis dilanjutkan dengan mengungkapkan bagaimana ‘pembangunan’ dikonstruksikan sebagai satu-satunya jalan untuk mengatasi persoalan tersebut.
 
Lebih lanjut, analisis wacana pembangunan kemudian berusaha mengungkap bagaimana masyarakat-masyarakat yang dipandang ‘terbelakang’ tersebut berusaha mengatasi masalah-masalah ‘keterbelakangan’ mereka dengan menerapkan serangkaian intervensi yang menyeluruh dan sistematis. Pada poin inilah kemudian biasanya akan terungkap ketimpangan-ketimpangan atau kecacatan-kecacatan yang ada di proyek-proyek pembangunan yang dijalankan.
 
Dilihat dari genealoginya, pembangunan (development) dalam pengertiannya yang dipahami sekarang sebagai upaya untuk keluar dari kondisi keterbelakangan (under−development) baru dikenal pada masa setelah Perang Dunia II. Sebagaimana ditelusuri oleh Gustavo Esteva[8], pada mulanya kata ‘development’ mengandung metafora biologi, yakni merujuk pada perkembangan alamiah organisme biologis. Dalam perkembangan selanjutnya, ia berevolusi kepada metafora makna sosial pada pertengahan abad XIX. Dalam catatan Raymond Henry Williams, ia kemudian sering digunakan untuk menggambarkan perkembangan ekonomi, terutama proses-proses perkembangan industri dan hubungan perdagangan[9]. Namun baru pada era paska Perang Dunia II lah, terutama setelah pidato Harry Shipp Truman pada tahun 1949, pembangunan kemudian dimaknai sebagai lawan dari keterbelakangan. Menurutnya, bangsa Amerika dan negara-negara maju umumnya perlu melakukan upaya baru untuk menghadirkan keunggulan sains dan teknologi industri mereka di daerah-daerah yang terbelakang, yakni melalui program pembangunan[10]. Pidato ini sekaligus juga menandai awal dimulainya era baru, yakni era pembangunan di mana serangkaian intervensi yang sistematis dan menyeluruh ditawarkan oleh negara-negara maju untuk ‘membantu’ negara-negara yang dinilai miskin atau terbelakang untuk keluar dari kondisi kemiskinan atau keterbelakangan mereka.
 
Dengan semangat sebagaimana dikobarkan oleh Truman di atas, disusunlah kemudian konsep-konsep dan rencana-rencana pembangunan oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu di negara-negara maju. Dengan gamblang Escobar (1995) mengulas bagaimana persoalan-persoalan yang ada di negara-negara yang dianggap terbelakang kemudian diungkapkan dalam konsep-konsep ‘kekurangan’ seperti kekurangan makanan atau gizi, kekurangan modal, rendahnya tingkat pendidikan dan sejenisnya, yang atas dasar konsep-konsep ini disusunlah kemudian rencana-rencana tindakan yang terukur dan terperinci. Proses-proses ini juga didukung oleh perkembangan disiplin ilmu ekonomi pembangunan yang memang sengaja diciptakan untuk mendukung intervensi pembangunan di negara-negara miskin dan berkembang. Dibangunlah model-model pembangunan yang dianggap dapat membantu negara-negara ini mengatasi hambatan-hambatan dan memenuhi syarat-syarat yang diperlukan untuk proses industrialisasi dan mengejar ketertinggalan mereka. Misalnya, di Indonesia, kita mengenal baik model take–off yang diperkenalkan Walt Whitman Rostow yang kemudian diadaptasi dalam rencana pembangunan lima tahunan era Orde Baru.
 
Namun demikian, karena hanya ditentukan oleh para ahli, tanpa disadari pembangunan menjadi pendekatan yang bersifat top–down, teknokratik dan etnosentrik. Profesionalisasi pembangunan di tangan para ahli ini telah mengalihkan pembangunan dari wilayah politik dan kebudayaan kepada sepenuhnya persoalan ilmu pengetahuan yang dianggap netral dan objektif. Wacana yang dibangun kemudian mengkonstruksikan masyarakat dan beraneka kebudayaan mereka secara seragam sebagai deretan angka statistik dalam grafik ‘kemajuan’ yang ditawarkan oleh model yang dia pakai. Dalam bentuk lain, sisi etnosentrik proses ini telah mengalihkan kebudayaan masyarakat-masyarakat Asia dan Afrika ke dalam data penelitian para ahli dari Amerika dan Eropa yang seringkali berbeda cara pandang dan landasan budayanya. Salah seorang intelektual Afrika mengeluhkan bahwa:
 
‘Our own history, culture and practices, good and bad, are discovered and translated in the journals of the North and come back to us re-concetualized, couched in languages and paradigms which make it all sound new and novel’.[11]
 
Proses pembangunan biasanya dimulai dari perencanaan yang dilakukan dari meja para ahli dengan melibatkan beragam disiplin ilmu. Ini seringkali diawali dengan pendefinisian problem dan juga mereka yang dianggap menghadapi problem ini. Escobar mencatat bahwa di antara problem besar yang menginisiasi munculnya beragam proyek pembangunan di berbagai belahan dunia adalah apa yang disebutkan sebagai problem kelaparan dan kekurangan pangan. Dimulai dari pertemuan para ahli dari berbagai latar belakang disiplin ilmu di Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada tahun 1971, untuk pertama kalinya persoalan pangan dilihat dalam hubungannya dengan pembangunan nasional[12]. Pertemuan ini sekaligus mendefinisikan kembali problem pangan tidak lagi sebatas persoalan kesehatan, melainkan lebih bersifat multi−disiplin yang melibatkan tidak hanya ahli gizi melainkan juga ekonom, ahli pertanian dan hingga ahli sosial. Untuk mengatasi problem kekurangan pangan di berbagai negara miskin dan terbelakang, pada sisi produksi diusulkan dua proposal besar, yakni reforma agraria dan revolusi hijau. Sejarah mencatat bahwa revolusi hijau kemudian menjadi kebijakan utama yang diterapkan banyak negara, termasuk Indonesia, untuk mewujudkan ketersediaan pangan bagi penduduk mereka.
 
Di Amerika Latin, keinginan untuk merealisasikan hasil-hasil konferensi ini mendorong berbagai lembaga internasional di bawah naungan PBB (United Nations); seperti FAO, WHO, UNESCO, UNICEF, PAHO (The Pan−American Health Organization), dan ECLA (Economic Commission for Latin America) untuk membentuk suatu lembaga tersendiri bernama The Inter−Agency Project for the Promotion of National Food and Nutrition Policies (PIA/ PNAN) pada tahun yang bersamaan (1971). Lembaga ini ditugaskan untuk mengelaborasi lebih lanjut petunjuk pelaksanaan program pangan dan nutrisi nasional. Namun apa yang dirumuskan oleh lembaga ini tak jarang hanya berhenti pada dokumen perencanaan atau penelitian. Di Colombia, misalnya, meski beragam studi dan kegiatan telah dilakukan di bawah naungan PIA/ PNAN, secara umum tidak ada apa yang bisa dipandang sebagai kebijakan pangan dan nutrisi nasional. Program-program pangan yang ada di negara tersebut sebagian besar terkait dengan program bantuan pangan internasional oleh AS, yang menurut beberapa penulis sebenarnya merupakan bagian dari strategi AS untuk menghabiskan surplus produksi pertaniannya dengan cara mendonasikannya ke negara-negara Dunia Ketiga yang bersahabat dengannya. Ironi atau ‘keanehan’ selanjutnya yang muncul dari PIA/ PNAN ini adalah bahwa rencana-rencana yang disusun sebagai penjabaran agenda besar ini kemudian ditiadakan pada pertengahan dekade selanjutnya (1980-an), dan digantikan dengan rencana-rencana lain[13].
 
Beberapa kalangan mungkin melihat bahwa penggantian ini adalah hal yang wajar dalam suatu proses pembelajaran. Akan tetapi, alih-alih sebatas proses pembelajaran, Escobar melihat ironi atau keanehan ini menunjukkan karakter sesungguhnya dari pembangunan, yakni profesionalisasi dan institusionalisasi persoalan. Dalam konteks PIA/ PNAN, apa yang dipertaruhkan sesungguhnya bukanlah pengurangan  kelaparan dan kekurangan pangan itu sendiri, melainkan pengalihan objek dan penampakannya ke dalam suatu lansekap permasalahan yang lebih rumit dan detail di mana hanya para ahli saja yang bisa ikut terlibat dalam membicarakan dan mendefinisikannya. Masyarakat umum, terutama mereka yang akan dilibatkan  dalam program-program yang disusun hanya diposisikan sebagai objek yang harus tunduk. Jauh dari pertimbangan para ahli yang terlibat dalam perencanaan aspirasi atau kepentingan masyarakat di tingkat bawah ini.
 
Di Colombia, kesepakatan untuk ikut melaksanakan PIA/ PNAN dijabarkan dalam dua program besar, yakni pembangunan pedesaan dan rencana pangan dan nutrisi nasional. Sementara program terakhir lebih terfokus pada persoalan ketersediaan pangan, program pembangunan pedesaan lebih ambisius dimaksudkan untuk menjamin sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi pangan. Ia mencakup elemen-elemen seperti peningkatan hasil produksi serta pembangunan infrastruktur pertanian dan perdesaan. Sebagai sasaran utamanya adalah para petani kecil atau mereka yang dianggap petani tradisional atau terbelakang. Dengan bantuan teknologi, modal, infrastruktur dan pelatihan —hal-hal yang dirasa kurang pada para petani kecil tersebut— diharapkan mereka dapat meningkatkan hasil produksi mereka dan sebisa mungkin mengubah mereka menjadi wirausahawan yang bisa bersaing di pasar.
 
Namun hasil evaluasi terhadap program ini menunjukkan bahwa mayoritas petani kecil di Colombia tetap hidup miskin dan terbelakang. Menurut Darío Alcides Fajardo Montaña, hal ini disebabkan secara umum karena program tersebut masih mengandung bias terhadap sektor kapitalis modern. Secara mendasar, disebabkan karena program pembangunan perdesaan dilakukan tanpa menyentuh sistem kepemilikan tanah yang timpang di Colombia. Kedua, menolak pandangan sebagian kalangan bahwa kegagalan ini disebabkan karena proses eksklusi para petani kecil ini dari pasar dan kebijakan negara, Fajardo[14] melihat bahwa persoalannya adalah karena adanya eksploitasi dalam pasar dan kebijakan negara. Secara lebih detail Escobar (1995) menjelaskan bahwa persoalannya lebih luas menyangkut politik ekonomi pertanian di negara-negara yang tengah memulai proses industrialisasi seperti Colombia, yang seringkali tidak berpihak pada petani kecil. Sebagaimana dikemukakan oleh Alain de Janvry, industrialisasi di wilayah-wilayah kapitalis pinggiran seringkali menggantungkan diri pada ketersediaan tenaga kerja murah. Produktivitas terus diupayakan namun tanpa mau menaikkan upah pekerja. Tujuannya jelas, yakni untuk memaksimalkan keuntungan. Untuk mendukung logika upah murah inilah maka diperlukan juga pangan yang murah, yang kemudian ditempuh dengan revolusi hijau.
 
 
 

 

26 Maret 2013

 

* Menyelesaikan pendidikan master dalam Antropologi Sosial dari The University of Oxford, Inggris; 
....kini menjadi mahasiswa Ilmu Politik di Northern Illinois University, DeKalb, USA. Penulis bisa di-
....hubungi di e-mail: sirojuddin.arif@gmail.com. Penulis juga berterima kasih pada peserta diskusi
....di Lembaga Penelitian SMERU atas kritik dan masukan yang konstruktif terhadap draft tulisan ini.

|   C A T A T A N  |

[1] Escobar, Arturo. 1995. Encountering Development; The Making and Unmaking of the Third World. Princeton: Princeton University Press.
[2] Ibid.
[3] Sanchez, Oscar Arias. 2000. The Legacy of Human Development: A Tribute to Mahbub ul-Haq. Journal of Human Development and Capabilities, Vol. 1(1), pp. 9-16.
[4] Sumodiningrat, Gunawan. 2007. Pemberdayaan Sosial. Jakarta: Kompas, hal. 26.
[5] Fakih, Mansour. 1997. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[6] Sebagaimana yang akan dijelaskan selanjutnya, sebagian besar penulis paska−pembangunan menekankan besarnya pengaruh relasi kuasa, dalam hal ini antara 
__._negara-negara maju dan berkembang, pada proses pembentukan wacana pembangunan.
[7] Tesis ini pertama kali dikemukakan oleh James Ferguson, 1994. The Anti−Politics Machine. Development, Depoliticization, and Bureaucratic Power in Lesotho. 
__._The
University of Minnesota Press.
[8] Esteva, Gustavo. 1992. Development. dalam Wolfgang Sachs (Ed.), The Development Dictionary: A Guide to Knowledge as Power. London: Zed Books.
[9] Williams, Raymond. 1983. Keywords: A Vocabulary of Culture and Society. London: Fontana Press.
[10] Dikutip dari Gustavo Esteva, 1992. Development. Kutipan langsung pidato Harry S. Truman yang lebih panjang juga dapat ditemukan dalam buku Escobar.
[11] Dikutip dari Escobar, Arturo. 1995. Encountering Development; The Making and Unmaking of the Third World. Princeton: Princeton University Press. p. 46.
[12] Ibid, p. 113-4.
[13] Ibid, p. 117.
[14] Ibid, p. 150.
 
 
 
 
 
 

Baca Juga

SACP

Hak Bagi Hasil dalam Penambangan Sumber Daya Alam: Tinjauan Teori Antropologi Ekonomi

oleh: Hatib Abdul Kadir * Apa arti bagi hasil pertambangan dalam pandangan masyarakat kita? Banyak ...

Tanggapan

  • Hello, guest