Home / Topik / Kajian / Paska−Pembangunan & Pertanyaan tentang Alternatif (Bagian 2)

Paska−Pembangunan & Pertanyaan tentang Alternatif (Bagian 2)

oleh: Sirojuddin Arif *

 

[ Lanjutan Bagian 1 ]

Tidak hanya pada ranah ekonomi, wacana pembangunan lebih jauh merasuk pada ranah sosial budaya. Sebagian kalangan menyebutnya sebagai suatu praktik bio−politik. Efek pembangunan tidak terbatas pada ranah ekonomi, nutrisi, kesehatan atau pendidikan sebagaimana dikemukakan secara eksplisit dalam penjelasan-penjelasannya, melainkan lebih lanjut wacana pembangunan menghasilkan proses reorganisasi diri individu dan masyarakat secara keseluruhan. Pada kasus pembangunan perdesaan atau pertanian, wacana pembangunan tidak hanya mendasarkan diri pada konsep nutrisi atau ketersediaan pangan yang menjadi motor penggerak utamanya, namun lebih lanjut wacana pembangunan membahasakan dan menampilkan kembali realitas masyarakat desa ke dalam konsep-konsep yang saling terkait satu sama lainnya, yang secara tertutup membentuk kondisi ideal yang diharapkan. Wacana pembangunan pertanian menampilkan masyarakat desa sebagai petani-petani kecil dengan teknik bertani tradisional, tidak terdidik, tidak memiliki cukup modal, tidak memiliki kemampuan berorganisasi dan akhirnya tidak memiliki akses terhadap infrastruktur yang memadai.

Mendasari konstruksi ini adalah distingsi antara tradisional dan modern, di mana yang pertama lebih rendah dibanding yang kedua. Wacana pembangunan didasarkan pada asumsi-asumsi tertentu tentang kemajuan, sains dan juga ekonomi; Bahwa secara mendasar Barat yang modern lebih maju dibandingkan dengan masyarakat-masyarakat Dunia Ketiga yang tradisional, dan untuk mengejar ketertinggalan itu masyarakat-masyarakat miskin dan terbelakang ini musti mengikuti jalan yang dibentangkan dan diajarkan Barat modern dalam hal sains dan ekonomi. Tanpa diperhitungkan bahwa apa yang ditawarkan oleh Barat dalam banyak hal berakar pada sejarah dan keutuhan sosial masyarakat Barat sementara kondisi masyarakat Dunia Ketiga secara mendasar juga menyatu dalam perkembangan sejarah dan keutuhan sosial mereka. Dalam pembangunan pertanian, misalnya, Arturo Escobar (1995) menilai bahwa gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh para ahli sering kali menampilkan petani dalam narasi yang murni ekonomi. Dalam aktivitas pertanian mereka, para petani ini dipahami sebatas dalam kerangka mencari penghidupan di bidang pertanian, tidak dalam kerangka keutuhan cara hidup mereka yang salah satunya terbentuk dari kegiatan bertani mereka. Dalam bahasa-bahasa ekonomi, para petani ini dipandang sebagai tenaga kerja berproduktivitas rendah yang harus dipacu untuk meningkatkan produktivitas mereka melalui seperangkat sistem pertanian komersial yang akan mengeluarkan mereka dari ekonomi subsisten mereka. Tak terbayang dalam perencanaan-perencanaan ini bahwa perubahan tersebut akan berimplikasi pada perubahan identitas, simbol, makna dan secara keseluruhan budaya mereka. Resistensi-resistensi petani di tingkat lokal menunjukkan bahwa perjuangan mereka tidak hanya terkait dengan hak atas tanah atau penghidupan yang lebih baik, namun secara lebih luas merupakan perjuangan budaya untuk memperjuangkan identitas dan budaya mereka.

Pengabaian terhadap cara pandang atau perspektif lokal itulah, menurut Escobar, yang menjadi cacat utama narasi pembangunan. Pengabaian terjadi secara sistematis melalui relasi-relasi kuasa yang ada dan memproduksi wacana pembangunan itu sendiri. Sementara pada tingkat lokal, relasi kuasa yang ada menempatkan penduduk hanya sebatas sebagai objek pembangunan yang harus tunduk dan patuh dengan rencana-rencana yang disusun oleh para ahli di meja perencanaan, pada tingkat yang lebih tinggi relasi-relasi kuasa yang ada menempatkan negara-negara miskin dan terbelakang sebagai penerima resep yang diberikan oleh para ahli dan lembaga-lembaga internasional dari negara-negara maju. Dalam ungkapan yang bernada anti-imperialis, cacat utama wacana pembangunan adalah karena ia menyembunyikan narasi kolonial negara-negara maju untuk tetap mempertahankan supremasinya serta menjaga kepentingan-kepentingannya di negara-negara miskin dan terbelakang. Oleh karena itu, dalam pandangan Escobar, tidak ada gunanya merevisi atau memperbaharui pembangunan dengan menghadirkan suatu pembangunan alternatif. Satu-satunya jalan bagi masyarakat-masyarakat di Dunia Ketiga untuk memperbaiki keadaan mereka adalah dengan keluar dan membebaskan diri mereka dari narasi pembangunan. Alih-alih bentuk pembangunan alternatif, masyarakat-masyarakat ini perlu merumuskan alternatif lain di luar wacana pembangunan.

 

Paska−Pembangunan: Kritik atau Alternatif?

Kritik tajam yang dilontarkan Escobar dan koleganya terhadap wacana pembangunan mendapat tanggapan luas dari berbagai kalangan. Tak terhitung jumlah artikel atau bagian buku yang sengaja ditulis untuk merespon pemikiran kritis baru ini. Salah satu sumber polemik ini adalah bahwa paska−pembangunan dengan kritik-kritik tajamnya secara mendasar menyerang tidak hanya mereka dari kalangan pendukung pembangunan arus utama, melainkan juga mereka yang mendukung gagasan pembangunan alternatif. Diakui atau tidak, paska−pembangunan ikut menyumbang pada runtuhnya teori-teori besar pembangunan sehingga banyak sarjana yang bergelut di bidang ini berangsur-angsur mengganti kerangka kerja kajian mereka dari teori yang bersifat besar kepada kajian-kajian kecil yang lebih terbatas dan bersifat kontekstual. Tekanan pada kekhususan lokal sebagaimana yang diusung oleh Escobar dan pendukung paska−pembangunan lainnya menjadi tren baru yang membentuk muatan utama disiplin studi pembangunan yang tampil menggantikan kajian teori pembangunan. Namun demikian, ini tidak serta merta menunjukkan ‘kebenaran’ paska−pembangunan sebagai jawaban ultima terhadap persoalan-persoalan besar yang menghinggapi praktik-praktik pembangunan selama ini. Banyak pertanyaan mendasar yang belum sepenuhnya terjawab baik oleh pengkritik maupun pendukung utama paska−pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu, penilaian lebih mendalam menjadi hal yang mutlak, terutama terkait dengan turunan-turunan pemikiran ini pada level yang lebih praktis.

Mengawali penilaian ini, ada baiknya kita telaah terlebih dahulu tawaran-tawaran yang dikemukakan oleh pendukung paska−pembangunan sebelum lebih lanjut meletakkannya dalam konteks perdebatan kontemporer dalam studi-studi pembangunan. Sebagai suatu rumusan yang utuh, paska−pembangunan baru mendapatkan artikulasinya yang cukup jelas pada karya-karya Escobar. Karya Wolfgang Sachs (1992), The Dictionary of Development yang dianggap sebagai salah satu karya kunci awal tentang paska−pembangunan tidak memberikan batasan yang jelas tentang kosakata yang satu ini. Baru pada karya-karya Escobar, terutama Encountering Development yang pertama kali terbit tahun 1995, paska−pembangunan sebagai suatu gagasan mulai mendapatkan rumusannya yang lebih jelas. Meski pada tulisan sebelumnya (1992) secara eksplisit Escobar telah membayangkan datangnya apa  yang dia sebut sebagai era paska−pembangunan, namun upayanya masih sebatas menunjukkan landasan-landasan praktis-teoretis yang memungkinkan era tersebut dapat diwujudkan. Lebih jelas tentang apa yang dimaksudnya dengan paska−pembangunan, dalam Encountering Development dia mendefinisikan gerakan ini sebagai keinginan terhadap alternatif lain di luar pembangunan, perhatian terhadap kebudayaan dan pengetahuan lokal, sikap kritis terhadap wacana ilmiah yang  mapan, dan akhirnya pembelaan terhadap gerakan-gerakan akar rumput yang  bersifat lokal dan pluralistik[15].

Sejalan dengan poin terakhir tersebut, lebih lanjut Escobar mengemukakan bahwa masa depan paska−pembangunan akan banyak terdapat pada gerakan-gerakan sosial. Penjelasannya lebih lanjut bahkan mengimplikasikan bahwa gerakan-gerakan inilah yang akan menjadi alternatif masa depan di luar narasi besar pembangunan. Berdasarkan hasil-hasil kajian yang ada, Escobar melihat bahwa terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada, banyak kesamaan mendasar antara gerakan-gerakan akar rumput dengan pemikiran paska−pembangunan, terutama dalam hal minat terhadap budaya dan pengetahuan lokal dan sikap kritis terhadap wacana Barat yang mapan. Escobar mengakui bahwa dampak atau hasil capaian gerakan-gerakan ini secara umum memang belum terlihat jelas dan solid, akan tetapi paling tidak gerakan-gerakan akar rumput tersebut membuka ruang untuk menjadikan pembangunan tidak sekedar sebagai tindakan teknis-praktis, melainkan suatu tindakan politis.

Ini terkait dengan kegagalan pemikiran kritis selama ini untuk menghasilkan imajinasi baru tentang tata sosial alternatif di luar narasi pembangunan. Dalam tulisannya yang lain Escobar (1992)[16] menjelaskan bahwa dari sudut pandang kritik wacana, krisis pembangunan selama ini salah satunya diakibatkan oleh kemandulan pemikiran kritis dan kekuatan-kekuatan sosial lainnya untuk melampaui kondisi-kondisi historis modernitas Eropa/ Barat yang menyediakan dasar-dasar sosial maupun intelektual beroperasinya wacana pembangunan. Secara mendasar modernitas era Pencerahan tidak hanya melahirkan pengetahuan yang dimungkinkan oleh bekerjanya akal, melainkan juga apa yang yang disebut oleh Foucault sebagai disiplin, yakni pengawasan dan sekaligus pembentukan kepatuhan tubuh dan sosial sebagai bagian dari upaya penegakan masyarakat rasional yang dimungkinkan oleh produksi pengetahuan itu sendiri. Dalam kaitannya dengan negara-negara Dunia Ketiga, pembangunan merupakan bentuk terakhir penyebaran modernitas Barat ke wilayah-wilayah tersebut, yang kemudian secara peyoratif disebut wilayah miskin atau terbelakang, setelah berlalunya era kolonial. Banyak kalangan menilai bahwa pembangunan merupakan strategi negara-negara maju Eropa dan Amerika Serikat dalam berhubungan dengan negara-negara baru di Asia, Afrika dan Amerika Latin guna mempertahankan dominasinya di wilayah-wilayah ini setelah runtuhnya kekuasaan imperial mereka. Dalam bentuk yang lebih halus dari penjajan fisik era kolonial, mendasari beroperasinya wacana pembangunan adalah produksi pengetahuan dan relasi kuasa antar lembaga-lembaga pendukungnya sebagai mekanisme pengaturan sosial a la modernitas dan rasionalitas pengetahuan Barat. Lebih dari itu, wacana pembangunan sebagai sebuah teknologi pengaturan sosial masyarakat Dunia Ketiga hingga kini tetap berpusat pada dominasi Barat dengan tampilnya para ahli asing, pengetahuan dan lembaga-lembaga internasional mereka dalam proyek-proyek pembangunan di Dunia Ketiga.

Meski beragam kritik telah dialamatkan kepada dominasi ini, namun hingga kini tak satupun pemikiran alternatif yang bisa memberikan imajinasi tandingan tentang tata sosial baru di luar narasi pembangunan. Menurut Escobar, ini disebabkan karena secara mendasar kritik-kritik ini dilakukan masih dalam kerangka berpikir yang sama dengan cara pikir yang melahirkan wacana pembangunan itu sendiri. Meski terasa tajam dan menyengat, kritik-kritik yang dikemukakan oleh beragam kalangan, dari pendukung modernisasi, ekonomi politik Marxian, teori dependensi hingga apa yang disebut ‘pembangunan alternatif’ bermuara pada satu pandangan besar yang serupa bahwa proyek pembangunan perlu diperbaiki dan diteruskan[17]. Perdebatan-perdebatan yang ada sebenarnya masih menyangkut persoalan luar saja dari narasi pembangunan, yakni bagaimana proyek ini sebaiknya dilangsungkan, tanpa pernah menyentuh masalah-masalah yang lebih mendasar seperti apa sebenarnya hakikat pembangunan dan dasar-dasar pertimbangan apa yang membuat masyarakat Dunia Ketiga memerlukannya serta apa landasan-landasan etik negara-negara maju untuk ikut terlibat dalam pembangunan masyarakat-masyarakat miskin dan terbelakang.

Dalam konteks kemandulan teoretik inilah Escobar (1995) melihat bahwa gerakan-gerakan akar rumput di masyarakat Dunia Ketiga menawarkan suatu terobosan alternatif. Dalam kerangka pikir kritis paska−pembangunan di atas, gerakan-gerakan sosial itu membuka kesempatan untuk melakukan lompatan teoretik-politis guna keluar dari narasi besar pembangunan yang diresepkan teori-teori pembangunan modern yang mapan. Mengamini pandangan kritis beberapa sarjana sebelumnya, ia sepakat bahwa sudah saatnya pemikiran kritis tidak hanya berada pada tataran teori, namun lebih jauh membumi dalam konteks sosial politik tertentu. Ini paling mudah diwujudkan dalam landasan-landasan pemikiran yang mendasari gerakan-gerakan resistensi atau oposisi. Dalam konteks keberadaan gerakan-gerakan sosial ini, pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang politik, demokrasi, negara, pembangunan dan pertanyan-pertanyaan sejenis lain menunjukkan siginifikansinya untuk perlu dan bisa dirumuskan jawabannya secara lebih dalam dan bermakna sebagai efek atau perwujudan persoalan-persoalan ini secara langsung dan riil dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Namun sekeras kritik yang dikemukakannya, paska−pembangunan juga mendapat reaksi balik yang tak kalah keras dari beragam kalangan. Tidak hanya pada imperatif praktis yang ditawarkan oleh pemikiran ini, dasar-dasar pemikiran dan metodologis yang melandasi bangunan pemikiran ini juga tak luput dari kritikan. Lebih terperinci Escobar sendiri membedakan para pengkritiknya berdasarkan landasan  yang dipakai untuk mengajukan kritik. Sementara sebagian melakukannya atas dasar kebaikan atau nasib masyarakat di Dunia Ketiga, sebagian lain mengajukan kritikannya demi sesuatu yang dipandangnya lebih nyata dibandingkan wacana yang menjadi fokus analisis paska−pembangunan. Bagi kelompok yang kedua ini, wacana tidak menempati posisi penting dalam struktur kenyataan, karena kenyataan sebenarnya terletak lebih pada realitas empirik kehidupan masyarakat keseharian, bukan wacana yang tentangnya. Akhirnya, tak lepas dari perhatian para kritikus adalah konsistensi teoritik yang digunakan oleh para pendukung gagasan paska−pembangunan. Mereka melakukan kritik demi suatu konsistensi teoritik yang dinilai akan secara paralel memperbaiki signifikansi teoretik paska−pembangunan[18].

Di antara pengkritik paling tajam terhadap pandangan-pandangan Escobar dan paska−pembangunan pada umumnya, Jan Nederveen Pieterse (1998)[19] menegaskan bahwa di antara kelemahan mendasar gagasan ini adalah homogenisasi dan esensialisasi yang dilakukannya atas pembangunan. Analisis wacana terhadap pembangunan mengasumsikan pembangunan adalah suatu entitas tunggal yang seragam. Padahal, pembangunan bukanlah merupakan entitas yang statis dan homogen sebagaimana Escobar dan kubu pendukungnya membayangkan. Dengan menyamaratakan apa yang telah dilakukan oleh pembangunan selama lebih dari lima dekade terakhir, paska−pembangunan telah melakukan homogenisasi dan esensialisasi terhadap pembangunan yang berakibat pada hilangya perbedaan dan variasi yang ada dalam praktik pembangunan. Sebagaimana banyak dicatat, banyak perubahan-perubahan signifikan yang terjadi dalam wacana pembangunan seiring dengan terjadinya peristiwa-peristiwa atau perubahan-perubahan besar di tingkat dunia seperti, krisis utang di Amerika Latin atau runtuhnya komunisme a la Soviet. Dengan perubahan-perubahan itu, adalah sangat naïf untuk mengatakan bahwa hal-hal yang dilakukan oleh Bank Dunia atau agen-agen pembangunan internasional lainnya selama ini sebagai sesuatu yang, dalam ungkapan Escobar, “are all the same”. Peralihan-peralihan pendekatan dari pertumbuhan, pertumbuhan plus redistribusi, penyesuaian struktural, hingga pembangunan berkelanjutan dan partisipatoris dengan jelas menunjukkan dinamika dan perubahan-perubahan ini.

Tidak hanya homogenisasi dan esensialisasi, paska−pembangunan lebih jauh mempersepsikan pembangunan sebagai suatu struktur yang monolitik, di mana agen-agen pembangunan dibayangkan bersifat maha kuasa atas budaya dan penduduk lokal[20]. Ini disebabkan karena paska−pembangunan, meski secara formal bertekad membangun agensi masyarakat miskin dan terbalakang, tanpa sadar sebenarnya telah membayangkan mereka sebagai sosok pasif yang selama ini hanya bisa tunduk dan patuh pada negara atau agen-agen pembangunan lainnya (Kiely, 1999)[21]. Secara serampangan paska−pembangunan telah mereduksi kompleksitas relasi kuasa yang ada dalam praktik-praktik pembangunan. Berbeda dengan agen-agen atau ahli-ahli pembangunan yang dibayangkan sebagai sosok yang sangat berkuasa dan berpengaruh, penduduk lokal dipahami sebagai pihak yang tidak memiliki agensi sama sekali. Gillian Hart menulis bahwa paska−pembangunan telah salah memahami dimensi hubungan kuasa dalam pembangunan dengan mempersepsikan kuasa sebagai suatu yang bersifat top–down, mengalir tunggal dari atas ke bawah[22].

Terkait dengan persoalan relasi kuasa ini, dari sisi konsistensi teoretik, Aram Ziai (2004)[23] menilai bahwa paska−pembangunan banyak mengandung kontradiksi dan distorsi dari pemikiran Paul-Michel Foucault yang gagasan-gagasan teoretiknya banyak dijadikan sandaran utama oleh para pemikir paska−pembangunan, termasuk tentang persoalan relasi kuasa ini. Berseberangan dengan konsepsi paska−pembangunan tentang kuasa sebagai sesuatu yang tunggal dan bersifat top–down, Foucault sejak awal menekankan sifat menyebarnya kuasa sebagai entitas yang kadang tidak selalu terkait dengan agensi. Romantisasi dan glorifikasi terhadap budaya lokal menunjukkan ketidakritisan paska−pembangunan terhadap relasi kuasa yang dipastikan ada dan menyebar dalam sistem kebudayaan tradisional sekalipun. Selanjutnya, dalam perbedaannya dengan sejarah pemikiran, Foucault dengan arkeologi dan genealogi pengetahuannya menekankan pada perpecahan dan diskontinuitas, suatu wacana untuk menunjukkan beroperasinya kuasa di dalamnya. Akan tetapi, paska−pembangunan yang mengklaim menggunakan metode arkeologi pengetahuan dan analisis wacana justru menghasilkan gambaran pembangunan yang tunggal atau struktur yang monolitik. Alih-alih menerapkan arkeologi pengetahuan a la Foucault, paska−pembangunan tampaknya lebih dekat dengan linguistik struktural atau hermeneutik Marxian ketika mengemukakan tentang adanya semacam ‘kesadaran palsu’ masyarakat Dunia Ketiga tentang makna pembangunan yang mereka lakukan. Dengan kelemahan-kelemahan ini, Aram Ziai menulis bahwa paska−pembangunan telah secara vulgar menerapkan gagasan-gagasan Foucault tentang analisis wacana dan arkeologi pengetahuan. Hubungannya dengan pemikiran Foucault mungkin dapat disejajarkan dengan Marxisme-Leninisme sebagai manifestasi vulgar dari pemikiran Karl Heinrich Marx.

Terkait dengan wacana alternatif yang ditawarkan, ajakan para pendukung paska−pembangunan untuk kembali kepada budaya dan pengetahuan lokal banyak dikritik justru akan membawa kepada kemunduran. Menurut Nederveen Pieterse[24], alih-alih menghilangkan kemiskinan, problematisasi terhadap kemiskinan yang menjadi salah satu titik tolak paska−pembangunan, bahwa ‘kemiskinan global’ sebagai suatu konstruksi dan sekaligus kenyataan adalah ciptaan Barat setelah PD II, atau bahwa masyarakat-masyarakat lokal memiliki pandangan tersendiri tentang kemiskinan yang tidak selalu negatif sebagaimana pandangan Barat moderen justru akan mementahkan dan akhirnya menegasi upaya-upaya penanggulangan kemiskinan itu sendiri. Dengan nada agak merendahkan, Frans J. Schuurman (2000) beragumen bahwa ajakan untuk kembali kepada pengetahuan dan kebudayaan lokal adalah sama dengan pengabaian hak masyarakat miskin di Dunia Ketiga untuk menikmati kemajuan teknologi, mendapatkan perumahan yang layak, fasilitas kesehatan yang memadai, serta sarana-sarana kehidupan yang wajar lainnya[25]. Meski tajam dalam pemikiran, Nederveen Pieterse melihat bahwa paska−pembangunan mengandung nada-nada konservatif dengan melakukan romantisasi terhadap budaya dan pengetahuan lokal, seolah-olah hal-hal yang bersifat lokal adalah selalu sempurna dan bebas dari cacat atau kekurangan. Dalam ungkapan Hart (2001), paska−pembangunan dengan ceroboh telah mengunggulkan lokal tanpa disertai dengan sikap kritik yang seperlunya[26].

Lebih dari ini semua adalah kritik terhadap sisi empirik dan praktis dari gagasan ini. Meski secara formal paska−pembangunan menginginkan keterkaitan erat antara teori dengan praktik, terlihat bahwa landasan empirik menjadi salah satu titik lemah paska−pembangunan. Menurut Michael Watts, paska−pembangunan tidak memahami secara utuh kompleksitas beroperasinya dan hasil kerja lembaga-lembaga pembangunan yang dikritiknya. Senada dengan Nederveen Pieterse, David Simon (2006) melihat bahwa ada beragam ideologi, strategi dan metode pendekatan yang diterapkan oleh lembaga-lembaga pembangunan di berbagai masyarakat yang berbeda. Akan sangat salah jika kita mengabaikan keragaman ini dengan menggunakan kacamata karikaturis yang menampakkan pembangunan sebagai suatu struktur monolitik.[27]. Meski kuat dalam kerangka pemikiran yang dibangun, ketajaman kritik paska−pembangunan selama ini sayangnya tidak didukung dengan bukti-bukti empirik yang memadai. Sering kali refleksi yang dilakukan lebih bersifat abstrak dan global tanpa dukungan kasus empirik yang spesifik dan jelas. Escobar sendiri secara agak berlebihan telah menggeneralisir kasus Amerika Latin, terutama Colombia, yang ditelitinya untuk menggambarkan kondisi masyarakat Dunia Ketiga secara keseluruhan. Jika diperhatikan secara teliti, contoh-contoh yang dipakai oleh pendukung paska−pembangunan untuk menguatkan gagasan-gagasannya biasanya diambil dari Amerika Latin atau Afrika. Kasus-kasus Asia, terutama terkait dengan keberhasilan beberapa negara di kawasan Asia Timur tidak pernah diungkapkan.

Ironisnya, lemahnya sisi empirik ini banyak disebabkan oleh pilihan landasan metodologis yang diterapkan, yakni analisis wacana dan post−strukturalisme. Menurut Michael Watts, pengandalan paska−pembangunan terhadap representasi tekstual sebagai pintu masuk atau bahkan gambaran realitas yang utama mengakibatkan lemahnya perhatian paska−pembangunan kepada detil-detil proses sosial, politik dan historis di tingkat bawah[28]. Sebagian kalangan menilai lebih jauh bahwa paska−pembangunan telah bergerak lebih jauh dengan menjadikan analisis wacana dan post−strukturalisme tidak sekedar piranti pendekatan metodologis, melainkan menjadi ideologi.

Atas dasar hal-hal tersebut, lebih jauh beberapa kalangan menolak dengan tegas pemikiran paska−pembangunan. Tidak hanya dinilai lemah secara metodologis dan pendasaran empirik, menurut mereka paska−pembangunan tidak memiliki agenda masa depan yang jelas. Tidak ada tawaran konkrit yang bisa diturunkan dari kritik-kritik tajam yang dikemukakannya. Sementara kembali kepada budaya dan pengetahuan lokal justru menunjukkan kemunduran bertindak, saran Escobar tentang gerakan sosial atau politik hybrid dalam banyak hal masih berupa ajakan eksplorasi teoretik tentang kemungkinan potensi teoretik−politik dari praktik-prakik ini. Memang benar, sebagai suatu pemikiran, paska−pembangunan sangat kaya. Ia mengandung dalam dirinya beragam perspektif teoretik sekaligus, mulai dari analisis wacana, post−strukturalisme, gerakan sosial hingga teori pembangunan. Namun sebagai suatu posisi teoretik, paska−pembangunan penuh dengan kelemahan. Dikotomi yang dibuat oleh para pendukung paska−pembangunan antara ‘mendukung’ atau ‘menolak’ pembangunan adalah pilihan sikap yang terlalu menyederhanakan persoalan. ‘Alternative to development’ sebagaimana yang dinyatakan oleh Escobar menurut Nederveen Pieterse adalah penamaan yang keliru karena sebenarnya selain kritik tajam, paska−pembangunan tidak menawarkan suatu bentuk alternatif yang jelas[29].

Namun demikian, penilaian yang lebih simpatik menyebutkan bahwa tidak adanya instrumen ‘keras’ yang jelas untuk mewujudkan gambaran ideal yang dikemukakannya tidak dapat dijadikan argumen yang kuat untuk menolak paska−pembangunan[30]. Sebagaimana juga diakui oleh sebagian dari mereka yang menolaknya, paska−pembangunan memiliki bangunan pemikiran dan argumen yang cukup kuat dan masuk akal[31]. Dengan kelebihannya itu, lebih lanjut Knut Gunnar Nustad (2001) menyatakan bahwa paling tidak paska−pembangunan berhasil menunjukkan mengapa selama kurang lebih lima dekade terakhir pembangunan tidak menunjukkan hasil sebagaimana yang dijanjikannya. Paska−pembangunan berhasil mengungkapkan sisi-sisi dari pembangunan, terutama aspek relasi kuasa di dalamnya, yang selama ini diterima begitu saja secara alamiah sebagai sesuatu yang sudah sedemikian semestinya. Lagipula, sebagaimana diulas oleh Aram Ziai (2004), tidak semua kritik yang ditujukan pada paska−pembangunan didasarkan pada argumen yang kuat atau pemahaman yang utuh tentang pemikiran paska−pembangunan itu sendiri.

Seperti halnya pembangunan, paska−pembangunan juga jauh dari sifat tunggal dan seragam. Keberadaannya sebagai suatu ide besar didukung oleh sejumlah peneliti atau penulis dengan gagasan yang beragam pula[32]. Namun hal ini tidak dipahami dengan baik oleh para pengkritiknya. Sementara mereka yang disebut terakhir ini menuding para penulis paska−pembangunan melakukan homogenisasi dan esensialisasi pembangunan, pada saat bersamaan para pengkritik ini membuat kesalahan yang sama dengan melakukan homogenisasi dan esensialisasi balik terhadap gagasan paska−pembangunan. Di mata para pengkritiknya, paska−pembangunan tampak sebagai suatu aliran pemikiran yang tunggal, dan semua kritik dialamatkan pada gambaran yang tunggal tersebut. Tak terbayang dalam kritik-kritik ini perbedaan pandangan dan bahkan kontradiksi yang ada antar sesama pendukung gagasan paska−pembangunan. Sebagaimana dikemukakan Aram Ziai[33], tak jarang para penulis paska−pembangunan saling berbeda pendapat bahkan dalam hal-hal yang mendasar bagi mereka, seperti menyangkut budaya tradisional, pengetahuan lokal, modernitas, atau alternatif tatanan sosial yang diidealkan.

Lebih lanjut Aram Ziai menjelaskan bahwa sementara sebagian penulis berpandangan romantik terhadap budaya atau pengetahuan lokal, sebagian penulis yang lain mensyaratkan perlakuan kritis terhadapnya. Diakui bahwa budaya lokal juga tidak bebas dari dominasi atau represi. Escobar, misalnya, menekankan perlunya menghindari dua sikap yang sama-sama ekstrim, yakni menerima sepenuhnya budaya tradisional tanpa sikap kritis atau menolaknya sama sekali karena menerimanya dianggap sebagai sikap romantik yang tidak perlu[34]. Demikian juga dalam hal modernitas. Tidak semua penulis paska−pembangunan menolak sepenuhnya modernitas sebagaimana gambaran para pengkritiknya. Sebagian penulis menekankan perlunya re-evaluasi secara radikal baik terhadap pikiran ‘import’ dari Eropa maupun warisan pemikiran lokal atau tradisional sebagai cara alternatif untuk mewujudkan bentuk kehidupan yang lebih baik. Paska−pembangunan menganjurkan perlunya mengambil secara kritis kelebihan-kelebihan yang ditawarkan modernitas dan pembangunan, namun pada saat yang sama tetap menjadikan nilai-nilai lokal atau tradisional sebagai sumber inspirasi. Mendasari perbedaan ini adalah perbedaan pandangan tentang sifat dasar budaya. Sementara tidak sedikit yang beranggapan bahwa budaya lokal bersifat statis, sebagian lain memandang budaya lokal sesuatu yang dinamis dan terus berada dalam proses pembentukan.

Berdasarkan perbedaan-perbedaan tersebut, Aram Ziai (2004) melihat bahwa secara umum para penulis paska−pembangunan dapat dikelompokkan menjadi dua aliran besar. Kelompok pertama atau disebut Neo−Populis mendasarkan diri pada pandangan yang statis tentang budaya dan pengetahuan lokal dan penolakan total atas modernitas Barat. Menurut mereka, kembali kepada budaya lokal dan ekonomi subsistensi adalah pilihan alternatif yang paling tepat. Berbeda dengan kelompok ini, sebagian penulis lain berpendirian bahwa budaya bukanlah sesuatu yang statis. Tidak hanya berlaku pada budaya lokal, prinsip konstruktivis ini juga berlaku pada nilai-nilai modernitas dari Barat. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap keduanya sama-sama diperlukan untuk bisa mewujudkan keadaan yang lebih baik. Tidak seperti golongan neo−populis yang menekankan anti−modernitas dan kembali ke ekonomi subsistensi sebagai alternatif masa depan, kelompok yang oleh Aram Ziai disebut sebagai skeptis ini memilih untuk tidak meresepkan suatu bentuk alternatif tertentu. Akan tetapi, dengan sikap kritis dan pandangan konstruktivis yang dianutnya, paska−pembangunan bisa menolak konsep pembangunan tanpa mengingkari hal-hal positif yang disumbangkan pembangunan. Paska−pembangunan tidak sama dengan anti−pembangunan, karena paska−pembangunan tidak dimaksudkan untuk menolak Barat dan modernitasnya, melainkan untuk mengupayakan cara untuk dapat hidup berdampingan dan sekaligus melampauinya. Dalam bahasa Banuri, tujuan utama pandangan ini adalah “to transfer the power of defining problems and goals of a society from the hands of outside expert to the members of society itself”[35].

 

Penutup

Rasanya memang benar bahwa ‘teori tidak untuk dihapalkan melainkan untuk dilupakan’. Penelusuran kita yang relatif panjang tentang paska−pembangunan dan perdebatan yang ditimbulkannya dalam studi pembangunan, terutama terkait dengan pertanyaan tentang alternatif yang menjadi salah satu tujuan utama pemikiran paska−pembangunan, tidak menyisakan minat untuk mengingat apa yang telah dirumuskan tentang pembangunan atau alternatif terhadapnya. Karena yang muncul kemudian adalah tugas baru untuk merumuskan kembali alternatif yang dimaksudkan sesuai dengan persoalan dan konteks yang dihadapi. Bagi sebagian kalangan, ini barangkali akan semakin menunjukkan kebenaran premis bahwa paska−pembangunan memang tidak memiliki agenda yang jelas. Pemikiran ini lebih sibuk memikirkan hal-hal yang lebih terkait dengan prosedur dan metode ketimbang substansi persoalan. Namun demikian, melihat pemaparan di atas, pernyataan ini baru menangkap separuh dari kebenaran, karena separuh sisanya terletak pada penerimaan orang pada kenyataan bahwa metode dan cara berpengaruh pada hasil yang diperoleh, dan implikasi teoritis dan praktis dari pemikiran paska−pembangunan.

Perdebatan di atas menunjukkan bahwa jawaban terhadap pertanyaan tentang alternatif tidak hanya terletak pada level teori, namun lebih jauh menyangkut paradigma di belakang penyusunan teori. Pemikiran paska−pembangunan paling tidak menunjukkan besarnya pengaruh relasi kuasa tidak hanya di tingkat bawah (masyarakat) melainkan juga di tingkat wacana. Persoalannya tidak hanya menyangkut ‘apa yang benar’ tapi lebih jauh juga terkait dengan pertanyaan ‘benar menurut siapa’. Akan tetapi, paska−pembangunan sendiri sebagai pemikiran tidak menyediakan jawaban yang final tentang hal itu. Jawabannya masih harus dicari lebih lanjut dalam ekonomi politik beragam praktik baik di tingkat lokal maupun global, terkait dengan upaya masyarakat kecil atau miskin memperjuangkan hidup dan haknya. Bukan hanya dalam praktik-praktik sosial, jawaban ini mungkin juga perlu dicarikan dalam keberadaan lembaga-lembaga kunci di tingkat nasional maupun trans-nasional[36], sesuatu yang oleh para penulis paska−pembangunan sendiri tidak pernah dibayangkan. [ ]

 

27 Maret 2013

 

* Menyelesaikan pendidikan master dalam Antropologi Sosial dari The University of Oxford, Inggris; 
....kini menjadi mahasiswa Ilmu Politik di Northern Illinois University, DeKalb, USA. Penulis bisa di-
....hubungi di e-mail: sirojuddin.arif@gmail.com. Penulis juga berterima kasih pada peserta diskusi di
....Lembaga Penelitian SMERU atas kritik dan masukan yang konstruktif terhadap draft tulisan ini.

  C A T A T A N    |

[15] Escobar, Arturo. 1995. Encountering Development: The Making and Unmaking of the Third World. p. 215.
[16] Escobar, Arturo. 1992. Imagining a Post−Development Era? Critical Thought and Social Movements. Social Texts, No. 31/32, Third World and Post−Colonial Issues.
[17] Ibid.
[18] Escobar, Arturo. 2000. Beyond the Search for a Paradigm: Post−Development and Beyond Development, Vol. 43 (4).
[19] Nederveen Pieterse, Jan. 1998. May Paradigm or Yours? Alternative Development, Post−Development, Reflexive Development. Development and Change, p. 29.
[20] Grillo, Ralph D. (1997) dalam Knut Gunnar Nustad, 2001, Development: The Devil We Know? Third World Quarterly, Vol. 22 (4).
[21] Kiely, Ray. (1999) dalam Knut Gunnar Nustad, 2001, Development: The Devil We Know?, Third World Quarterly, Vol 22 (4).
[22] Hart, Gillian. 2001. Beyond Neoliberalism? Development Debates in Historical and Comparative Perspective, A paper prepared for 50th anniversary conference 
_____reviewing the first decade of development and democracy in South Africa, p. 10.
[23] Ziai, Aram. 2004, The Ambivalence of Post−Development: Between Reactionary Populism and Radical Democracy. Third World Quarterly, Vol. 25 (6).
[24] Nederveen Pieterse, Jan. 2000. After Post−Development. Third World Quarterly, Vol. 21 (2).
[25] Schuurman, Frans J. 2000. Paradigms Lost, Paradigms Regained? Development Studies in the Twenty-First Century. Third World Quarterly, Vol. 21, No. 1.
[26] Hart, Gillian. 2001. Beyond Neoliberalism? Development Debates in Historical and Comparative Perspective, A paper prepared for 50th anniversary conference 
_____reviewing the first decade of development and democracy in South Africa.
[27] Simon, David. 2006. Separated by Common Ground? Bringing (Post) Development and (Post) Colonialism Together. The Geographical Journal, Vol. 172 (1), pp. 10-21.
[28] Watts, Michael. (2000) dalam David Simon, 2006. Separated by Common ... p. 13.
[29] Nederveen Pieterse, Jan. 1998. My Paradigm …
[30] Nustad, Knut Gunnar. 2001. Development: The Devil We Know? Third World Quarterly, Vol. 22 (4).
[31] Nederveen Pieterse, Jan. 1998. My Paradigm …
[32] Kiely, Ray. dalam Aram Ziai, 2004. The Ambivalence…. p. 1049.
[33] Ziai, Aram. 2004. The Ambivalence ...
[34] Escobar, Arturo. dalam Aram Ziai, 2004. The Ambivalence ... p. 1051.
[35] Banuri (1990: 96) dalam Aram Ziai, 2004. The Ambivalence … p. 1054.
[36] Simon, David. 2006. Separated by Common Ground? Bringing (Post) Development and (Post) Colonialism Together. The Geographical Journal, Vol. 172 (1), p. 18.

 

 

  B I B L I O G R A F I    |

—Escobar, Arturo. 2000. Beyond The Search for A Paradigm: Post−Development and Beyond. Development, Vol. 43 (4), pp. 11-14.
—Escobar, Arturo. 1995. Encountering Development: The Making and Unmaking of The Third World. Princeton: Princeton University Press.
—Escobar, Arturo. 1992. Imagining A Post−Development Era? Critical Thought, Development and Social Movements. Social Texts, No. 31/32. Third World and Post−Colonial 
___Issues
, pp. 20-56.
—Esteva, Gustavo. 1992. Development, dalam Wolfgang Sachs (Ed.), The Development Dictionary. A Guide to Knowledge as Power. London: Zed Books.
—Fakih, Mansour. 1997. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
—Hart, Gillian. 2001. Beyond Neoliberalism? Development Debates in Historical and Comparative Perspective, A paper prepared for 50th anniversary conference reviewing the first 
___decade of development and democracy in South Africa.
—Nederveen Pieterse, Jan. 2000. After Post−Development. Third World Quarterly, Vol. 21 (2), pp. 175-191.
—Nederveen Pieterse, Jan. 1998. May Paradigm or Yours? Alternative Development, Post−Development, Reflexive Development. Development and Change, 29, pp. 343-373.
—Nustad, Knut Gunnar. 2001. Development: The Devil We Know? Third World Quarterly, Vol. 22 (4), pp. 479-489.
—Sanchez, Oscar Arias. 2000. The Legacy of Human Development: A Tribute to Mahbub ul-Haq. Journal of Human Development and Capabilities, Vol. 1 (1), pp. 9-16.
—Schuurman, Frans J. 2000. Paradigms Lost, Paradigms Gained? Development Studies in The Twenty-First Century. Third World Quarterly, Vol. 21 (1), pp. 7-20.
—Simon, David. 2006. Separated by Common Ground? Bringing (Post) Development And (Post) Colonialism Together. The Geographical Journal, Vol. 172 (1), pp. 10-21.
—Sumodiningrat, Gunawan. 2007. Pemberdayaan Sosial. Jakarta: Kompas.
—Williams, Raymond. 1983. Keywords: A Vocabulary of Culture and Society. London: Fontana Press.
—Ziai, Aram. 2004. The Ambivalence of Post−Development: Between Reactionary Populism and Radical Democracy. Third World Quarterly, Vol. 25 (6), pp. 1045-1060.
 
 

 

 

 

Baca Juga

SACP

Hak Bagi Hasil dalam Penambangan Sumber Daya Alam: Tinjauan Teori Antropologi Ekonomi

oleh: Hatib Abdul Kadir * Apa arti bagi hasil pertambangan dalam pandangan masyarakat kita? Banyak ...

Tanggapan

  • Hello, guest
  • Hello, I think your blog might be having browser compatibility issues. When I look at your blog in Ie, it looks fine but when opening in Internet Explorer, it has some overlapping. I just wanted to give you a quick heads up! Other then that, wonderful blog!|