Home / Topik / Ulasan Buku / Pemikiran Agraria Bulaksumur: Telaah Awal atas Pemikiran Sartono Kartodirdjo, Masri Singarimbun, dan Mubyarto

Pemikiran Agraria Bulaksumur: Telaah Awal atas Pemikiran Sartono Kartodirdjo, Masri Singarimbun, dan Mubyarto

 

Penulis: Ahmad Nashih Luthfi, Amin Tohari, dan Tarli Nugroho.
Penerbit: STPN Press, Yogyakarta; dan Sajogyo Institute, Bogor.
Cetakan: I, 2010.
Halaman: xii + 325 halaman.

 

 

 

Ulasan Buku oleh: Moh. Musthofa Harun *

Tulisan sederhana ini berangkat dari rasa hormat dan takzim sepenuhnya pada Sartono Kartodirdjo, Masri Singarimbun, dan Mubyarto. Hanya dengan menyebut atau mendengar nama ketiga begawan ini saja, perasaan segera bergetar. Getaran yang secara aneh diombang-ambingkan antara kebanggaan dan kesedihan, juga kedekatan dan keberjarakan. Bangga lantaran Universitas Gadjah Mada (UGM) ‘pernah’ menjadi milieu ketiga begawan itu, namun juga sedih mengingat betapa sulitnya menemukan posisi mereka secara tepat di lingkungan dan ingatan warga UGM hari ini. Ketiganya terasa dekat sebab ‘ada’ di Bulaksumur, namun sekaligus berjarak karena saya sering merasa kesasar, bahkan hanya untuk sekadar mengenangnya di lingkungan mahasiswa.

Rasa hormat dan takzim itu, dengan sendirinya, menjadi apresiasi pada ikhtiar Ahmad Nashih Luthfi, Amin Tohari, dan Tarli Nugroho yang mewujud dalam buku Pemikiran Agraria Bulaksumur; Telaah Awal atas Pemikiran Sartono Kartodirdjo, Masri Singarimbun, dan Mubyarto. Bagi saya, dari sudut pandang mahasiswa, karya ini mesti diapresiasi sekurang-kurangnya karena tiga alasan.

Pertama, selama ini istilah Mazhab Bulaksumur masih terlihat remang. Keremangan itu boleh jadi berasal dari dua arah sekaligus. Lentera yang meneranginya terlalu redup, sementara pandangan semakin rabun. Ketimbang bertungkus lumus mengaji ulang gagasan para Begawan Bulaksumur, mahasiswa sudah (di)sibuk(kan) merayakan banyak aktivitas tanpa aktivisme, menjalani laku kuliah yang kurang akademis, atau larut dalam konsumerisme yang mendangkalkan produktivitas.

Kedua, dalam pergaulan sehari-hari, latar belakang jurusan atau disiplin ilmu cenderung mengendap bukan sebagai laku epistemik, namun mengental menjadi identitas semu yang dengannya gengsi mahasiswa ikut ditentukan. Pernyataan ini bisa ditemukan secara kolosal, misalnya, dalam riuh rendah suasana upacara penerimaan mahasiswa baru di Lapangan Grha Sabha Pramana saban tahun. Barangkali, lantaran miskin refleksi atas disiplin ilmu yang dipelajari, pendekatan transdisipliner sebagaimana diteladankan para begawan Bulaksumur adalah wilayah yang mengalami defisit perhatian.

Ketiga, mulai nampak gejala pergeseran orientasi dalam tempurung otak mahasiswa UGM. Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah contoh yang bagus untuk itu. Iseng-iseng, saya mencari tahu tanggapan warga dari beberapa desa di Yogyakarta yang kebetulan ditempati KKN dari mahasiswa UGM dan Mahasiswa perguruan tinggi lain. Salah satu komentar komparatif yang muncul dari seorang warga Sidoagung, Godean berikut ini mungkin laik disimak, “Mas-mas KKN sing saged guyub nggih sing asale tiyang ndesa (sambil menyebut nama sebuah PT), mbok menawi sakniki sing saking UGM saking kutha sedaya.” (Mahasiswa KKN yang bisa cair bergaul ya mereka yang asalnya dari desa [sambil menyebut nama sebuah PT], mungkin sekarang ini mahasiswa UGM hampir semua berasal dari kota.)

Bagi saya, ujaran ini, sekalipun bernada sovinis, tetap mengandung abstraksi empiris. Tentu saja, buru-buru melakukan generalisasi ialah tindakan keliru, namun setidaknya dengan mencermati diskusi mahasiswa UGM di sejumlah forum virtual segera muncul kesan banyak mahasiswa memandang KKN sebagai beban dan kesia-siaan. Daftar gejala pergeseran orientasi ini bisa diperpanjang dan diperluas sampai level kurikulum, keseharian mahasiswa, hingga kebijakan universitas. Walaupun sebatas gejala, tapi itu cukup untuk menantang mentah-mentah visi almarhum Koesnadi Hardjasoemantri (1926−2007), peletak batu pertama KKN, yang membanggakan sebutan Universitas Ndesa untuk UGM. Buku ini merekam kembali intensi Pak Koesnadi mengenai orientasi UGM, misalnya, “itu (kampus ndesa) sebenarnya bukan ejekan, melainkan sebuah penghargaan yang membanggakan (hlm, 226)… Yang penting dalam KKN adalah bukan programnya, melainkan interaksi antara mahasiswa dengan masyarakat. Akan susah jika para mahasiswa, yang merupakan calon pemimpin, tidak mengenal rakyatnya (hlm. 225).”

Lebih-lebih, misi menjadi World Class Research University —kalaupun memang perlu— bukanlah hal yang benar-benar mendesak. Jauh lebih penting, menghidupkan ruh kerakyatan, orientasi ndesa, sebagai jangkar untuk melangkah ke depan. Karena itu, buku ini tentu saja menjadi bagian penting dalam memugar kembali khittah kerakyatan yang sudah lama tersemat di pundak UGM.

 

Mencari Terang Jalan Mazhab Bulaksumur

Pertengahan November 1990, dalam sebuah seminar di Universitas Kebangsaan Malaysia, Kuntowijoyo (1943−2005) mengeluhkan sejarah kesarjanaan di Indonesia selalu berjalan terputus-putus, lupa untuk “mengakumulasikan” dirinya.[1] Sebagai akibatnya, sejarah kesarjanaan di negeri ini nyaris tak memiliki tradisi. Anehnya, kita menderita kerugian yang justru terus menerus dipelihara. Upaya susah payah untuk merintis bangunan kesarjanaan Indonesia sering runtuh seiring dengan kepergian sang tokoh. Setelah itu, kembali ke titik nol lagi. Merintis lagi. Ambruk lagi. Merintis lagi. Ambruk lagi. Dan seterusnya.

Sikap intelektual semacam itu tentu berlawanan dengan kemapanan tradisi keilmuan di negeri-negeri asing yang menyadari tradisi keilmuan dalam sanad atau mata rantai yang sinambung dengan pendahulunya. Dengan mudah, misalnya, kita bisa menelusuri akar—atau setidaknya jejak-jejak hubungan—Mazhab Frankfurt yang menancap dalam tradisi Kant-ian dan Hegel-ian. Atau misal lain ialah kisah teori-teori politik Harold Dwight Lasswell yang banyak dipakai sebagai pijakan oleh sarjana-sarjana sesudahnya baik untuk disempurnakan atau digubah sedemikian rupa.

Setiap teori, betapapun abstraknya, tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa ia mengakar dalam lokus atau partikularitas tertentu. Manakala sebuah abstraksi teoritis dibawa berpindah ke seberang benua, sering dijumpai kesulitan untuk menerjemahkan dan menerapkannya dalam lokus dan partikularitas lain. Ini, misalnya, tercermin pada tahun 1976 saat Leonard Binder mengingatkan seorang petugas belajar dari Leknas bahwa ia boleh tinggal lima-enam tahun untuk meraih Ph. D., tapi mesti diingat ilmu-ilmu sosial di Amerika Serikat (AS) umumnya sesuai dengan masyarakat borjuis, sehingga belum tentu cocok dengan kenyataan masyarakat Indonesia. Terpulang pada sang petugas belajar untuk berlama-lama di AS atau mengambil ilmu secukupnya saja dan lekas pulang ke Indonesia.[2]

Maka, sebagai pembaca, saya tertarik untuk mendiskusikan isi buku ini dengan meminjam kelugasan judulnya: Pemikiran Agraria Bulaksumur; Telaah Awal atas Pemikiran Sartono Kartodirdjo, Masri Singarimbun, dan Mubyarto. Nuansa semantiknya ialah suguhan akan sesuatu yang utuh-luas namun terbatas. Mengandaikan dan menegaskan bahwa Pemikiran Agraria Bulaksumur memang benar-benar sebentuk bangunan pemikiran yang ada dan nyata, hanya saja, lantaran bersifat awalan, cukuplah kali ini didekati melalui tiga begawan terkemuka.Terus terang, judul selugas ini bagi mahasiswa seperti saya terdengar seperti janji yang menyenangkan.

Setidaknya, bagi saya, judul itu seakan membisiki dua janji:

Janji pertama, “Kamu tak perlu terlalu bersusah payah mengumpulkan serakan dokumen dan buku untuk berkenalan dengan tiga begawan, cukup baca buku ini. Selanjutnya terserah kamu.”

Buku ini berangkat dari keprihatinan akan miskinnya kajian pemikiran sarjana Indonesia oleh sarjana Indonesia sendiri. Selain lantaran hanya sedikit sarjana Indonesia yang berusaha membangun pemikirannya sendiri, kemiskinan kajian tersebut disebabkan ketiadaan peer-group di dunia kesarjanaan Indonesia. Sebab berikutnya adalah buruknya perpustakaan dan lembaga arsip di Indonesia, juga alasan bahwa tradisi riset di Indonesia masih didominasi riset terapan yang pada gilirannya tidak mempertanyakan ada-tidaknya kelemahan kerangka teori yang dipakai.

Siapapun yang membaca buku ini segera menangkap bahwa empat sebab tersebut disingkirkan jauh-jauh dalam proses kreatif tim penulis. Ketiga penulis buku yang tentu saja sarjana asli Indonesia ini mengulas pemikiran tiga begawan secara “ideologis”, kaya akan data, dan kritis. Kata ideologis di sini dipakai untuk menekankan kesepahaman dan optimisme para penulis akan tujuan etis-normatif pemikiran dari tiga begawan. Lalu, data primer dan sekunder yang dihadirkan tak hanya padu, namun relatif lengkap, sehingga detail informasi dan analisis berharga banyak bertaburan dari halaman ke halaman. Sedang kata kritis mengacu pada upaya para penulis untuk memproblematisasi pemikiran ketiga begawan dalam historisitas disiplin ilmu masing-masing.

Dan saya senang mengetahui, misalnya, mengapa Pak Sartono menggagas dan mengerjakan secara serius pendekatan multidisipliner. Pendekatan itu ternyata berhubungan dengan ketajaman “politik pengetahuan” yang diturunkan dari etika ilmu untuk menghindari jeratan kekuasaan rezim Orde Baru.[3] Cerita mengenai Claude Lévi-Strauss yang acap mengutip Karya Pak Masri (Kinship, Descent, and Alliance among the Karo Batak, 1966) dalam ceramah kuliahnya di Perancis juga mengagetkan.[4] Lalu, dalam ulasan pemikiran Pak Mubyarto, saya menjadi mengerti mengapa dan bagaimana “Polemik Ekonomi Pancasila” yang dimulai sejak akhir 1980 hingga sepanjang tahun 1981, sebuah polemik intelektual yang dalam sejarah ilmu sosial di Indonesia belum tertandingi sampai hari ini.

Pendek kata, dengan membaca buku ini, siapapun—terlebih bagi mahasiswa pemula—akan segera mengenal peta kontestasi pemikiran keilmuan dan pengaruh konteks politik Indonesia yang di sana baik Pak Sartono, Pak Masri, dan Pak Mubyarto terlibat di ranah teoritis sekaligus praksis.

Dengan demikian, janji pertama dari judul buku ini lunas sudah.

Janji kedua, kira-kira berbunyi, “bangunan Pemikiran Agraria Bulaksumur bisa dibaca di sini?” Janji yang kedua ini tentu lebih menarik lantaran berada dalam bayang-bayang Mazhab Bulaksumur yang sampai hari ini masih serupa bayangan.

Dalam pengantar ditanyakan, bagaimana bisa pemikiran ketiga begawan itu dijadikan bahan pemikiran Kajian Agraria, terutama jika yang dimaksud kajian utama dalam agraria adalah usaha-usaha yang dilakukan Sajogyo, Sediono M. P. Tjondronegoro, atau Gunawan Wiradi? Pertanyaan itu lantas dijawab bahwa studi agraria mencakup sub-sub persoalan, seperti sejarah agraria, kemiskinan pedesaan, reforma agraria, serta pembangunan pedesaan. Pada wilayah-wilayah itu, pemikiran ketiga begawan memiliki jejak panjang dan sumbangan epistemik yang penting bagi studi agraria di Indonesia. Ini tentu saja pernyataan kesarjanaan yang tepat.

Namun demikian, dalam hemat saya, buku ini lebih menekankan upaya penulisan biografi pemikiran ketimbang memusatkan perhatian pada kajian agraria. Andai judul buku ini diabaikan, kajian agraria akan dianggap sebagai salah satu bagian dari sketsa pemikiran ketiga begawan. Dengan kata lain, sebagai tiga serangkai biografi pemikiran, tentu saja buku ini berhasil, namun begitu ditarik secara spesifik dalam sub-bab studi agraria, penjelasan dan analisisnya tak sekaya sub bab lainnya. Kajian agraria lebih tampil sebagai sebuah wilayah irisan. Sesuatu yang dalam hemat saya bisa juga dilihat di wilayah kajian selain kajian agraria.

Mestinya problem ini bisa dituntaskan kalau saja buku ini ditutup dengan tulisan epilog yang serancak tulisan pengantarnya. Saya membayangkan irisan-irisan ketiga begawan itu bisa dirumuskan dalam sejumlah postulat, entah itu menyangkut kajian agraria, atau sukur-sukur, saran-saran yang menjadi pertimbangan agar apa yang disebut Mazhab Bulaksumur menemukan wujud formatifnya. Bukan lagi bayangan yang membayang-bayangi.

Kalaupun itu disebut kekurangan, maka kekurangan itu tentu bukan semacam privelegiatum yang hanya dimiliki Mas Luthfi, Mas Amin, dan Mas Tarli. Mestinya, anda juga.

Sekian. Semoga bermanfaat. [ ]

________________________________________
[1] Dinukil dari Tarli Nugroho, Dari Karsa ke Filsafat, dari Filsafat ke Ilmu. Pengantar buku Hidayat Nataatmaja, Melampaui Mitos dan Logos; Pemikiran ke Arah Ekonomi-Baru, Yogyakarta: Lanskap, hlm. xxx.
[2] Dinukil dari M. Amien Rais, Krisis Ilmu-Ilmu Sosial, Pengantar buku A. E. Priyono dan Asmar Oemar Saleh (ed.), Krisis Ilmu-Ilmu Sosial dalam Pembangunan di Dunia Ketiga, Jakarta: PT. Djaya Pirusa, 1984.
____Amien Rais mengamati kebanyakan alumni Universitas di Amerika Serikat yang pulang ke Indonesia hanya melanjutkan saja kerangka berpikir yang dipelajari di AS tanpa peduli apakah dengan rujukan baku
____Amerika itu mereka dapat ikut memecahkan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia atau tidak. Amien Rais memakai istilah parrotism atau beo-isme untuk menyebut kecenderungan itu.
[3] Politik pengetahuan sebagai terjemah atau turunan etika yang diulas dalam buku ini nampaknya luput diulas dalam karya M. Nursam, Membuka Pintu bagi Masa Depan; Biografi Sartono Kartodirdjo,
____Jakarta: Penerbit Kompas, 2008.
[4] Kumpulan ceramah Lévi-Strauss dibukukan dengan judul Paroles Donees, 1984 di Prancis dan kemudian diterbitkan dalam edisi Bahasa Inggris dengan judul Anthropology and Myth: Lectures 1951−1982.

 

11 Januari 2012

 

* Mahasiswa Komunikasi UGM

 

 

Ulasan Buku

 

 

 

Baca Juga

Etnografi Formasi Negara di Kawasan Perbatasan

Haryo Kunto*         Judul Buku: At The Edge of States: Dynamics of ...

Tanggapan

  • Hello, guest