ETNOHISTORI

Perubahan Ruang Sosial Pada Empat Ruang Publik Utama Kota Blitar: Sebuah Catatan

 

Catatan oleh: Arif Agus Setiawan *

 

Setiap perubahan selalu membawa dampak bagi individu maupun masyarakat, baik itu dengan cara yang lambat ataupun cepat. Indikatornya dapat terlihat dari berbagai bidang seperti, sosial, politik maupun ekonomi. Masyarakat Kota Blitar yang merasakan perubahan atas hadirnya ruang publik, seolah dituntut untuk mengakses serta memfungsikannya.

Tulisan ini, akan membicarakan empat ruang publik Kota Blitar, yakni Stadion Soeprijadi, taman rekreasi Kebon Rojo, Museum dan Perpustakaan Nasional Bung Karno, serta Water Park Sumber Udel. Menurut Abidin Kusno ruang publik bisa berupa ruang fisik atau non-fisik seperti taman, jalan, pusat perbelanjaan, instansi pemerintah, media serta perpustakaan[1].

Secara yuridis−administratif, kota adalah semua daerah yang berada dalam batas-batas kota (daerah perkotaan)[2]. Blitar merupakan sebuah kota kecil yang terletak di pedalaman selatan Provinsi Jawa Timur. Secara geografis, Blitar berbatasan dengan wilayah Kabupaten Malang, Kabupaten Kediri serta Kabupaten Tulung Agung. Di sisi wilayah selatan, langsung berbatasan dengan Samudera Hindia.

Blitar adalah kota di mana sektor industrinya kurang berkembang. Ini terlihat dari kluster industri yang tidak nampak di pinggiran kota. Sebaliknya sektor jasa serta perdagangan kecil-lah yang mulai berkembang[3]. Hal ini dikarenakan secara geografis jauh dari kota perdagangan seperti Surabaya. Blitar juga bukan merupakan kota satelit, yakni kota kecil yang berada di sekitar kota besar dan mempunyai kinerja hampir mirip, namun skalanya lebih kecil[4].

 

Ruang Publik Kota Blitar

Pasca reformasi pemerintah daerah melaksanakan pembangunan secara cepat, ini terlihat dengan hadir dan berfungsinya ruang publik. Pembangunan serta renovasi ruang publik diharapkan memberi perbedaan dari sebelumnya, meskipun akan membawa berbagai dampak sosial pada masyarakat.

Keberadaan stadion Soeprijadi Blitar sebelum era reformasi hanyalah stadion dengan bangunan minim, hampir-hampir tidak terurus dan hanya dipergunakan pada waktu tertentu. Di sekeliling stadion tidak tampak ruko-ruko serta keramaian. Pasca reformasi pemerintah daerah melakukan renovasi total terhadap stadion, hal ini berhasil membuat stadion menjulang tinggi, megah, serta menggeliatnya aktivitas perekonomian sekitar stadion. Implikasinya yakni pertama, terangkatnya prestasi persepakbolaan, meskipun saat ini masih berada di kompetisi nasional divisi utama. Kefanatikan supporter telah mampu memberi warna berbeda dari sebelumnya. Hingar-bingar keberadaan supporter menambah kepercayaan diri masyarakat, bahwa persepakbolaan Blitar mampu disejajarkan dengan klub sepakbola kota lainnya. Kedua, di sekitaran stadion mulai marak dengan adanya perdagangan kecil, baik itu pedagang aksesoris untuk kebutuhan supporter ataupun pedagang makanan. Bisnis sablon mulai tumbuh, karena berkaitan dengan pemesanan konsumen akan motif-motif aksesoris yang berhubungan dengan tim persepakbolaan Blitar. Sektor jasa seperti, parkir juga tak kalah pentingnya dalam memberikan sumbangan pemasukan masyarakat.

Sedangkan di sisi timur Kota Blitar terdapat taman rekreasi Kebon Rojo. Dulunya bernama kebun Ratu Wilhelmina yang notabene adalah peninggalan pemerintah kolonial Belanda. Taman ini terletak di Jalan Diponegoro atau tepatnya di belakang rumah dinas Walikota Blitar, dan berdekatan dengan rumah mendiang orangtua mantan Presiden Dr. Ir. Soekarno di Jalan Sultan Agung. Di sekeliling taman Kebon Rojo terdapat bangunan kolonial seperti gereja dan gedung-gedung sekolah yang sampai saat ini masih dipergunakan. Bangunan besar nan kokoh serta banyaknya pohon membuat Jalan Diponegoro tampak asri. Taman ini, selain sebagai paru-paru Kota Blitar juga berfungsi untuk tempat berkumpul, belajar, berekreasi, berdebat dan berlibur[5], serta tempat mencari udara segar bagi masyarakat. Keberadaan ruang publik seperti taman, sering pula dipergunakan untuk pertunjukan musik, panjat tebing, basar dan lainnya. Sisi barat dalam taman, terdapat kebun binatang kecil sebagai cagar budaya lokal. Saat malam hari, sepanjang Jalan Diponegoro menjadi kluster warung lesehan anak muda dan pedagang kaki lima. Tempat ini menjadi sarana bergaul hingga melakukan transaksi dalam dunia malam. Dalam artian, selain untuk tempat bersantai, daerah ini juga merupakan mangkalnya wanita malam[6]. Namun demikian taman Kebon Rojo yang telah mengubah wajah kota, juga menyebabkan berbagai permasalahan sosial seperti munculnya sektor informal di atas[7].

 

Blitar Kota Patria (dokumentasi: Arif Agus Setiawan)

Blitar Kota Patria (dokumentasi: Arif Agus Setiawan)

 

Stadion Soeprijadi (dokumentasi: Arif Agus Setiawan)

Stadion Soeprijadi (dokumentasi: Arif Agus Setiawan)

 

Perpustakaan Bung Karno (dokumentasi: Arif Agus Setiawan)

Perpustakaan Nasional Bung Karno (dokumentasi: Arif Agus Setiawan)

 

Kebon Rojo (dokumentasi: Arif Agus Setiawan)

Kebon Rojo (dokumentasi: Arif Agus Setiawan)

 

Perubahan secara cepat telah mampu mengubah paradigma pola pikir masyarakat. Hal ini tampak dengan berdirinya Museum dan Perpustakaan Nasional Bung Karno, ternyata mampu memberikan dampak manfaat. Pertama, dampak pendidikan dan budaya. Keberadaan perpustakaan menambah kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca, serta mendukung mahasiswa-mahasiswa di berbagai universitas kecil untuk mengakses perpustakaan tersebut. Selain itu, di area museum dan perpustakaan terdapat tempat untuk mengadakan kegiatan-kegiatan kepemudaan seperti drama, teater, musik maupun pemutaran film yang sifatnya memberikan pencerahan. Dengan adanya kegiatan di atas, diharapkan bermanfaat untuk mengubah pola pikir masyarakat. Kedua, dampak ekonomi. Berkembangnya sektor jasa dan perdagangan, ditandai dengan munculnya hotel, depot serta kios cinderamata di sepanjang jalan menuju perpustakaan. Seiring perpaduan Makam, Museum serta Perpustakaan Nasional Bung Karno, sektor wisata sejarah mampu memberikan sumbangkan cukup berarti bagi pemasukan pemerintah daerah maupun masyarakat.

Sebelah utara kota terdapat tempat untuk berlibur sekaligus melepas kejenuhan, yakni Water Park Sumber Udel. Pemandian ini merupakan salah satu aset yang dimiliki pemerintah daerah. Dari sejarahnya, nama “Sumber Udel” diambil karena di lokasi tersebut terdapat sumber hilir yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan air. Water Park Sumber Udel sempat diganti dengan nama “Pemandian Telaga Blitar”. Meskipun begitu masyarakat tetap terbiasa menjulukinya “Sumber Udel”, mengingat nama tersebut begitu melekat dan mempunyai perjalanan sejarah sendiri bagi perkembangan water park. Selain sebagai pemandian, setiap hari tertentu water park juga menghadirkan acara musik. Dengan acara tersebut, diharapkan dapat menarik pengunjung. Di seputaran water park, muncul sektor informal seperti, warung-warung makan dan juga penjual jasa parkir yang memberikan pemasukan bagi warga sekitar. Dengan demikian manfaat yang didapat dari water park selain untuk pemasukan pemerintah daerah, juga dapat dirasakan masyarakat.

……..

 

Ruang publik di wilayah perkotaan memang diperlukan, mengingat ruang ini bermanfaat untuk setiap individu maupun masyarakat. Namun keberadaan ruang publik perkotaan juga tidak mungkin berjalan sesuai fungsi dan harapan bersama. Munculnya sektor informal yang semakin tak teratur, hadirnya aktivitas preman, pengamen, pengemis dan gelandangan, serta sampai-sampai digunakan sebagai tempat mesum, akan memberikan nilai negatif ruang publik tersebut.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa, stadion merupakan ruang publik yang kebanyakan dinikmati oleh anak muda, khususnya supporter sepakbola. Mirip dengan ruang publik ini, Kebon Rojo adalah ruang publik yang pada siang hari lebih banyak dinikmati dan dipergunakan oleh berbagai kelas masyarakat, baik itu kelas bawah, menengah maupun atas. Sedangkan pada malam hari, taman ini kebanyakan dinikmati oleh anak muda. Sebaliknya, ruang publik Museum dan Perpustakan Nasional Bung Karno lebih dinikmati kelas menengah perkotaan khususnya mahasiswa, meskipun banyak masyarakat luar Kota Blitar berkunjung karena keberadaannya. Sedangkan Water Park Sumber Udel merupakan ruang publik yang mampu dinikmati dan menyerap masyarakat kelas bawah, menengah dan atas, meskipun ruang publik bersifat komersial namun biaya masih terjangkau.

 

8 Maret 2011

Catatan

(1) Ruang publik adalah sebuah ruang yang aktif mengontrol dan membentuk kesadaran masyarakat. Lebih lanjut sapa Abidin Kusno dalam 
......Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Soeharto” (Ombak, Yogyakarta 2009), hal 3.
(2)
Lebih lanjut baca Hadi Sabari Yunus dalam “Manajemen Kota, Perspektif Spasial” (Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2005), hal. 12.
(3)
Laporan BPS Kota Blitar tahun 2007.
(4)
Hadi Sabari Yunus, 2005, hal. 285.
(5)
Abidin Kusno, 2009, hal. 2.
(6)
Warung lesehan sekitar taman Kebon Rojo sering disalahgunakan beberapa anak muda. Setiap malam semakin banyak pria dan wanita di
......tempat ini, entah mereka hanya nongkrong maupun kegiatan lainnya. Tetapi isu yang berkembang selama ini, warung lesehan sering
......dipergunakan sebagai tempat minum (minum-minuman keras) serta bertransaksi antara pria dan wanita dalam menjajakan cinta.
(7)
Sektor Informal ialah kegiatan-kegiatan ekonomi yang berada di luar jangkauan pencacahan Negara atau tak terliput oleh statistik
......pemerintah, oleh karenanya tak terkena aturan dan pajak Negara. Lebih lanjut baca Hans-Dieter Evers, “Ekonomi Bayangan dan
......Sektor Informal”
. Prisma, 5 Mei 1991.

 

 

 

* Arif Agus Setiawan, aktif di lembaga kajian The Post−Institute Blitar & bermain musik di Komunitas Musik Trotoar.

 

 

[ C A T A T A N ]

 

 

 

_

5 Tanggapan

    • Hello, guest
      • Buat Iwan : ok wan suwon atas apresiasinya || sebetulnya banyak yg nulis ttg ini di kota Blitar wan || oya kapan2 kirim tulisanmu ke aku bro..||

    • To Boeng Arif Faizin :
      Trims / Soewon Atas Supportnya Mas..
      || Toelisan Ini Hanya Mentjoba Melihat Peroebahan-peroebahan Jang Terjadi Selama Ini di Blitar Raja ||

    • tulisan yang bagus..tulisan etnograf sangat bernilai jika mampu memberikan gambaran yang utuh dari sudut pandang budaya pelaku, mengungkap gambaran dengan kata-kata asli pelaku budaya yang hendak diungkap…terus menulis bro…lanjutkan…

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org