Home / Topik / Teori & Metodologi / Polisentrisme: Sebuah Upaya Menggugat Antroposentrisme & Rasionalisme dalam Antropologi

Polisentrisme: Sebuah Upaya Menggugat Antroposentrisme & Rasionalisme dalam Antropologi

 

oleh: Ulil Amri *

 

Berawal dari ketidakpuasan terhadap antropologi yang ‘terlalu’ antroposentris (namanya juga antropologi) saya kemudian mencoba menggali sedikit-sedikit teori antropologi ke masa lalu. Sebelum saya lanjutkan, perkenankan saya mengemukakan posisi atau proyek akademik saya: Polisentrisme (istilah ini mungkin kurang tepat, tapi saya tidak punya yang lain), yakni mengakui dan memperjuangkan keberadaan entitas lain selain manusia (bisa hewan, tumbuhan, maupun benda-benda) sebagai mitra aktif manusia di alam semesta yang terus bersinergi menjalani proses kebersamaan. Proyek ini memang aneh, tapi saya serius dengan ini. Saya terinspirasi oleh Timothy Ingold yang menurut saya adalah antropolog paling radikal sepanjang usia ilmu antropologi dari sejak era Plato hingga sekarang. Meskipun saya sebenarnya belum sepenuhnya bisa menerima dia sebagai ‘guru’ saya, paling tidak sampai saat ini, karena evolusionisme-nya, tapi saya terus mencermati kemungkinan menjadi muridnya dan kemudian mengikuti alirannya.

Mata kuliah teori dan sejarah antropologi di Amerika Serikat—yang katanya paling progresif—ternyata sama tidak memuaskannya dengan yang diajarkan di negara-negara lain (sebelum ke Amerika Serikat, saya menimba ilmu antropologi di Indonesia dan Australia). Setelah satu catur wulan kuliah dan membandingkan dengan silabus perkuliahan dari universitas-universitas lain di negeri ini, tampak semua teori antropologi merujuk pada karya pemikir abad ke-19. Karya mereka ini kemudian disebut canonical works, sebagai titik mula antropologi. Benarkah karya-karya mereka ini canon? Menurut saya tidak sama sekali. Canonical works itu sesungguhnya bermula dari Plato dan Aristoteles, kemudian dilanjutkan oleh René Descartes, dan Immanuel Kant. Edward Burnett Tylor, Lewis Henry Morgan, Herbert Spencer, Franz Uri Boas, Bronisław Kasper Malinowski dan kawanannya hanyalah pengembang belaka. Kenapa Plato dan Aristoteles? Karena mereka—ini klaim saya (tapi ini juga bisa dibantah. Saya masih sedang mendalami karya-karya lain pra−Socrates: Homer, Hesiod dan lain-lain.)—yang pertama-tama merumuskan manusia dan kebudayaannya secara rinci. Bagi Plato inti kehidupan itu harus adil, dan untuk mencapai adil itu manusia harus memfokuskan hidup pada tiga hal: tubuh (ekonomi), jiwa (sekuriti), dan akal (filosofi). Keadilan bisa dicapai dengan hidup bersama sebagai masyarakat yang berbudaya. Di sinilah cikal bakal antropologi menurut saya. Plato membahas manusia dan kehidupan sosial−budayanya, tapi kemudian mengabaikan entitas lainnya. Terlebih Aristoteles yang secara terang-terangan merumuskan kehidupan manusia sebagai satu-satunya yang paling unggul di antara makhluk lainnya. Zoe (kehidupan binatang) kata dia berada di bawah bio (kehidupan manusia). Manusia unggul karena dia rasional (anthropos logon echon). Tidak hanya binatang dan tumbuhan, benda sekalipun—mati maupun hidup seperti angin, hujan, alam, tanah—ada untuk melayani manusia. Lagi-lagi ini titik sentral ‘terlalu’ antroposentris-nya antropologi yang saya temukan dari kedua filsuf Yunani ini.

Proyek antroposentris ini dilanjutkan oleh René Descartes yang menguatkan rasionalitas manusia. Bagi Descartes manusia sanggup menguak segala hal di muka bumi dengan pengetahuannya. Kebenaran itu harus dibuka oleh ilmu yang hanya dikuasai manusia. Berikutnya adalah Immanuel Kant. Yang menarik dari Kant adalah ternyata dia merupakan pemikir pertama (lagi-lagi bukan pemikir abad ke-19 seperti Taylor, Morgan, Spencer, Boas dan kawanannya) yang memberi kuliah antropologi di universitas sekaligus penulis pertama buku antropologi yang berjudul Anthropology from a Pragmatic Point of View. Buku ini memperkokoh posisi antroposentrisme dan rasionalisme dengan menyatakan bahwa tugas antropologi adalah mengkaji manusia, pendidikannya, ekonominya, dan yang terpenting moralnya, supaya hidup mereka menjadi lebih baik. Wow! Kant dengan demikian juga menjadi yang pertama kali merumuskan aspek praktis antropologi sekaligus membuka jalan bagi praktik kolonialisme Eropa ke belahan dunia lain. Lebih jauh dia membuka jalan kepada para pengembang antropologi setelahnya untuk mengabdikan diri secara serius pada disiplin ini.

 

A network diagram of subject headings in philosophy, published by The Library of Congress.

 

Para pengembang antropologi abad ke-19 berpusat di Inggris dan Amerika Serikat karena itu saya hanya munculkan dua orang saja yang mewakili: Edward Burnett Tylor dan Franz Uri Boas. Antropologi menurut Taylor merupakan ilmu yang dapat membantu masyarakat kulit putih di Eropa untuk memecahkan berbagai macam masalah hidupnya. Dengan mengkaji fenomena masyarakat kolonial, Eropa akan diuntungkan karena hasil studinya akan dipakai memperbaiki masa depan masyarakat Eropa. Demikian pula dengan Boas—meskipun orang ini disebut sebagai pencetus historical particularism (kekhususan budaya atau sering juga dianggap sebagai relativisme kebudayaan) yang dianggap progresif dan meraup banyak pengikut setia di Amerika Serikat—juga masih berada di gerbong ide yang sama dengan pendahulunya. Bagi Boas, antropologi sangat berguna bagi masyarakat kulit putih. Dengan pandangannya ini, Boas menunjukkan kalau dia seorang rasis, tapi menariknya di sisi lain dia juga meng-advokasi pluralitas (sungguh pribadi yang unik). Selanjutnya Boas mengatakan kalau antropologi harus netral dan objektif. Fieldwork karenanya menjadi alat bukan hanya sekadar untuk menyumbang pengetahuan, tapi juga memperkokoh kejayaan masyarakat modern kulit putih.

Singkat cerita, proyek kolonialisme ini kemudian dikritik habis-habisan oleh pemikir se-zamannya (di sini ada Karl Heinrich Marx. Menariknya, Karl Marx justru saat yang sama menjadi pengagum Ancient Society-nya Lewis Henry Morgan dan mengatakan bahwa Morgan telah melegitimasi karya-karyanya. Apa artinya? Marx menunjukkan bahwa dia seorang yang ambigu: di satu sisi dia pemuja modernitas yang secara tidak langsung menggabungkan diri dalam proyek evolusionisme keilmuwan, namun di sisi lain dia mengusung wacana posmodernitas dengan menginterogasi kemapanan ekonomi politik modern di Eropa) maupun sesudahnya (di sini berderet nama-nama beken yang tidak bisa saya sebut satu per satu karena tidak cuma antropolog yang melakukan kritik). Belakangan antropologi memulai proyek dekolonialnya, ada yang menyebut alternatif (Renato Rosaldo, Arturo Escobar dan lain-lain), posmodern (Paul Rabinow, James Clifford, George E. Marcus dan lain-lain), poskolonial (Arjun Appadurai, Akhil Gupta, John Loinel Comaroff & Jean Comaroff dan lain-lain), anarkis (Harold B. Barclay, David Graeber dan lain-lain), bahkan ada yang ingin mematikan antropologi sebagai ilmu (sila baca mission statement American Anthropological Association (AAA) pasca tahun 2010. Di situ antropologi bukan lagi ‘science’ tapi ‘public understanding’). Luar biasakah ini? Revolusioner-kah antropologi saat ini? Tidak juga. Menurut saya antropologi masih ‘terlalu’ antroposentris. Lalu apa yang salah (mungkin ‘salah’ bukan kata yang tepat, tapi ‘problematik’—meminjam istilah Paul-Michel Foucault) dengan antroposentrisme? Tidak ada. Saya hanya menganggap ‘terlalu’ antroposentris itu berbahaya untuk masa depan antropologi. Tujuan saya mengikis unsur ‘terlalu’ antroposentris dalam antropologi (mustahil untuk mematikan) adalah supaya dia mengurangi kecongkakannya dan bisa bersanding dengan ekosentrisme, biosentrisme, materialisme, dan isme-isme lainnya menuju pada polisentrisme persis seperti proyek yang ingin saya capai.

Proyek-proyek antropologi masa kini, termasuk yang dekolonial sekalipun, masih saja berpusat pada manusia sebagai yang maha unggul atas entitas lainnya. Perlu dicatat di sini, dengan mengusung polisentrisme bukan berarti saya mengabaikan misi profetik antropologi kontemporer sebagai pembebas manusia-manusia tertindas. Proyek polisentrisme ini tidak meminggirkan manusia. Saya justru ingin melakukan dekolonialisasi secara total—mengikis kedigdayaan antroposentrisme yang sudah kelewat batas—dengan harapan pada saat yang sama persoalan kolonialisasi di antara manusia juga bisa sedikit teratasi (mustahil untuk menyelesaikan secara keseluruhan) dengan cara melihat relasi semua subjek dalam kesejajaran. Bukankah kita seringkali menyaksikan manusia saling bermusuhan dan berbunuhan karena dipicu oleh faktor non-manusia (tanah, emas, ayam, sapi, uang dan lain sebagainya)? Di sini saya berargumen bahwa kolonialisme antar manusia itu sebagian besar merupakan efek aktif sekaligus atraktif subjek non-manusia. Sebagai contoh, konflik berdarah antara aparat keamanan yang mewakili penguasa berhadapan dengan penduduk lokal di Sape, Bima beberapa waktu lalu itu dipicu oleh tanah yang mengandung unsur emas. Signifikansi, kualitas, dan kapasitas material unik yang dimiliki oleh tanah inilah yang menarik kedua belah pihak untuk saling bertikai. Seandainya tidak ada tanah berikut emasnya, hubungan antar manusia mungkin baik-baik saja. Kita seringkali mengabaikan subjek non-manusia semacam ini. Padahal dia aktif, dinamis, dan kreatif, sebagaimana dikemukakan oleh Bruno Latour dengan teori aktor jaringannya (Actor Network Theory/ANT), Bjørnar Julius Olsen dengan ‘ontologi objek’-nya dan Timothy Ingold dengan ‘meshwork’-nya . Ketiga konsep ini—terutama Timothy Ingold—memberi saya amunisi untuk menggugat rasionalitas dan antroposentrisme.

Di sini saya ingin sedikit membahas ANT. Namun sebelum ke situ, saya ingin menyinggung buku Bruno Latour yang berjudul We Have Never Been Modern yang saya anggap agak menusuk rasionalitas secara langsung. Latour mengatakan bahwa manusia selalu mencampur-adukkan akal (ratio/reason) dan emosi (emotion) pada saat yang sama, makanya dia bilang manusia tidak pernah menjadi modern. Untuk menjelaskan pencampur-adukan itu, Latour menggunakan media yang disebut network—ini inti pemikiran dia menurut saya. Network kata dia adalah jaringan yang jauh lebih rumit dari sekadar sistem dan struktur. Jaringan ini memfasilitasi bertemunya ilmu pengetahuan, politik, dan diskursus secara bersamaan. Lalu apa itu modern? Latour mendefinisikan ini dengan unik: Pertama, berbaurnya alam dan kebudayaan (translasi). Contoh, berbaurnya politik dan ilmu pengetahuan alam dalam diskursus perubahan iklim, konservasi berbasis sains yang meminggirkan manusia dari tanah leluhurnya; Kedua, berpisahnya manusia dan non-manusia (purifikasi). Contoh, ilmuwan yang memisahkan diri dari subjek yang ditelitinya atau ahli statistik yang sedang mengutak-atik program komputer tertentu untuk menjelaskan fenomena sosial ‘di luar sana’ tanpa melakukan penelitian lapangan terlebih dahulu. Meskipun unik, Latour membuktikan bahwa ada ambiguitas dalam ke-modern-an yaitu bercampurnya translasi dan purifikasi yang tidak pernah memungkinkan manusia menjadi modern.

Spesifik mengenai ANT, tujuan Bruno Latour sebenarnya ingin meredam kecongkakan ilmuwan sosial yang selalu berambisi menjelaskan (merasionalisasi) fenomena sosial sebagai sesuatu yang statis (terikat) melalui hukum-hukum yang kaku, yang menurut Latour ini justru sangat dinamis. Latour menggunakan sosiologi sebagai pisau utama (sosiologi a la Jean-Gabriel De Tarde yang dinamis, bukan a la David Émile Durkheim yang statis). Aktor (actant istilah dia) di sini didefinisikan sebagai kekuatan dinamis yang selalu bisa bereaksi terhadap kekuatan-kekuatan lain yang hendak mengontrolnya (setahu saya dia memperjuangkan eksistensi agensi/individu atas sosial/kolektivitas. Tapi mungkin saya salah). Nah, ini yang menarik, bagi Latour fenomena sosial yang dinamis itu sesungguhnya adalah aktivitas bergaul dan bergaul kembali (associate and re-associate) serta berhimpun dan berhimpun kembali (assemblage and re-assemblage). Manusia tidak hanya mengasosiasikan diri dalam satu kelompok saja, tapi banyak. Seorang lelaki misalnya bisa saja menjadi anggota asosiasi suami sayang istri, asosiasi suami takut istri, dan asosiasi suami yang ditakuti istri di saat yang bersamaan—dan yang menarik, si lelaki ini tidak saja terasosiasi dengan kalangan manusia tapi juga dengan subjek non-manusia lainnya (hewan maupun benda-benda). Pada titik tertentu hubungan ini membentuk identitas/subjektivitas baru pada si manusia. Di sisi lain si hewan juga akan menemukan subjektivitas baru setelah berasosiasi dengan manusia. Rumit bukan? Lebih jauh, latar-belakang sejarah dan politik menjadi perhatian utama Latour dalam menjelaskan aktor jaringan karena kebanyakan manusia berasosiasi berdasarkan latar-belakang tersebut. ANT menguatkan argumen Latour pada buku sebelumnya bahwa percampur-bauran antara politik, sains, dan diskursus membuat manusia tidak pernah menjadi modern. Dengan kata lain, manusia tidak sepenuhnya bisa rasional.

Sayangnya ada problem dengan pemikiran Bruno Latour. Dia pada akhirnya memposisikan entitas non-manusia sebagai objek dan pada gilirannya statis. Sementara Bjørnar Julius Olsen dan Timothy Ingold dengan lebih radikal dan konsisten terus menempatkan entitas non-manusia sebagai subjek yang selalu dinamis dan transformatif. Nah, Latour sama sekali tidak menyentuh aspek transformasi non-manusia ini. Maksudnya, Latour tidak melihat kemungkinan entitas non-manusia bertumbuh dan berubah alias dia melihatnya sebagai sesuatu yang final, sementara Olsen dan Ingold memungkinkannya terus bertransformasi menuju bentuk yang lain yang tak berakhir. Olsen misalnya mengatakan bahwa benda-benda memiliki kontribusi yang signifikan pada sejarah kehidupan manusia. Tanpa benda-benda, manusia tidak akan sampai pada era pasca−industri seperti sekarang. Berikut kutipan dahsyat dari Olsen mengenai kontribusi benda-benda: “I do believe the material world exists and that things constitute a fundamental and persistent foundation for our existence. Things, materials, and landscapes posses real qualities affecting and shaping both our perception of them and our cohabitation with them”. Ini merupakan inti dari ontologi objek-nya Olsen.

Namun sayang Bjørnar Julius Olsen kemudian terjebak pada oposisi manusia dan benda yang menepikan entitas lainnya seperti hewan dan tumbuhan. Di sinilah keunggulan Timothy Ingold menurut saya. Dia terus memperjuangkan keberadaan subjek non-manusia secara total (hewan, tumbuhan, dan benda-benda) yang bisa menyetarai kemampuan yang dimiliki manusia. Salah satu argumennya yang saya suka adalah: “The farmer or herdsman does not make crops or livestock, but rather serves to set up certain condition of development within which plants and animals take on their particular forms and behavioral dispositions… We are dealing with process of growth”. Argumen ini mewakili konsep meshwork yang digagas Ingold (ini juga sebenarnya dibuat untuk menandingi network-nya Latour yang dianggap belum komprehesif menjelaskan hubungan antar subjek. Perlu diketahui konsep meshwork-nya Ingold diinspirasi oleh Henri Lefebvre). Meshwork oleh Ingold didefinisikan sebagai garis-garis yang berjalin−berkelindan tak beraturan di mana semua entitas terus berinteraksi dan berproses membentuk sesuatu yang baru. Garis-garis inilah yang membentuk manusia, hewan, dan benda-benda lainnya. Pada titik ini, tak ada lagi perbedaan antara manusia dan non-manusia karena bagi Ingold manusia tidak lebih dari benda itu sendiri. Persoalan dia memiliki pikiran, itu tidak lepas dari eksistensi kebendaannya bersama dengan yang lain, karena bagi Ingold pikiran itu bukanlah entitas terpisah dari benda di luarnya sebagaimana diyakini oleh para pemikir fenomenologi lainnya.

Pemikiran radikal Timothy Ingold ini sungguh memberi inspirasi untuk segera merealisasikan proyek dekolonialisasi terhadap antroposentrisme dan rasionalisme. Saya percaya dengan melakukan dekolonialisasi total, maka kondisi polisentris akan terwujud. Bukan berarti polisentrisme tanpa masalah ke depannya. Tentu akan ada masalah. Kendati begitu, saya yakin dengan modal kebiasaan otokritik dalam antropologi, proyek ini akan bisa berjalan relatif mulus.

Sebagai penutup, saya ingat tulisan Paul Rabinow bahwa kajian antropologi kontemporer semisal posmodernisme memang super progresif (kajian ini banyak digandrungi oleh kebanyakan mahasiswa antropologi saat ini). Namun perlu diketahui, kata Rabinow, dia tidak berhasil mengikis (apalagi membunuh) rasionalitas dan objektivitas yang menjadi jantung modernisme ilmu pengetahuan, termasuk dalam antropologi. Jadi, perjalanan masih panjang, proyek dekolonial total ini masih perlu dimatangkan lagi. Sampai jumpa!

 

19 Desember 2013

 

* Penulis adalah Peneliti di Pusat Penelitian Sumber Daya RegionalLembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Menyelesaikan Master of Applied Anthropology dari 
....The Australian National University
; saat ini sedang menempuh program Ph. D. in SocioCultural Anthropology di University of Washington, USA.

 

 

Sumber Bacaan:

— Plato (Phaedo) (Republic)
— Aristotle (Politics) (Physics) (Metaphysics)
— René Descartes (Discourse On The Method of Rightly Conducting The Reason, & Seeking Truth in The Sciences)
— Immanuel Kant (Anthropology from a Pragmatic Point of View)
— Edward Burnett Tylor (Primitive Culture)
— Franz Uri Boas (Anthropology and Modern Life) (Race, Language and Culture)
— Bruno Latour (We Have Never Been Modern) (Reassembling The Social: An Introduction to Actor Network Theory)
— Bjørnar Julius Olsen (In Defense of Things: Archaeology and The Ontology of Things)
Timothy Ingold (The Perception of The Environment: Essays on Livelihood, Dwelling & Skill) (Lines: a Brief History) (Toward an Ecology of Materials)
— Paul M. Rabinow (Essays on The Anthropology of Reason)

 

 

Tulisan Terkait:

Meretas Jalan dari “Kolonisasi” ke “Indigenisasi” Antropologi Indonesia
Marshall Sahlins: Antropolog Berpengaruh yang “Tersisa” di Abad ini
Melacak Perkembangan Antropologi Modern di Asia Tenggara
Antropolog Marxis di Amerika Serikat

 

 

 

 

Baca Juga

Panjar

Isu dan Pemikiran Kontemporer dalam Antropologi Ekonomi (2)

oleh: Hatib Abdul Kadir * [[ Lanjutan Bagian 1 ]] Berbagai studi antropologi ekonomi yang ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest