Home / Topik / Catatan / Potret Gepeng (Gelandangan & Pengemis) di Amerika Serikat

Potret Gepeng (Gelandangan & Pengemis) di Amerika Serikat

Bagian 1

 

Catatan oleh: Karim *

 

Di Indonesia, kita barangkali sudah sangat akrab dengan akronim gepeng (gelandangan dan pengemis) yang tidak hanya menjadi kosakata umum dalam percakapan sehari-hari dan menu harian media massa, tetapi juga sudah menjadi istilah dalam kebijakan pemerintah merujuk pada sekelompok orang tertentu yang lazim ditemui di kota-kota besar. Pada tahun 1980, pemerintah bahkan telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis yang kemudian menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk menangani masalah gelandangan dan pengemis, meskipun faktanya jumlah gepeng terus bertambah. Dua istilah tersebut sebenarnya tidak memiliki korelasi baik secara harfiah maupun historis. Secara harfiah, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa ‘gelandangan’ berasal dari kata ‘gelandang’ yang berarti “berkeliaran atau berjalan ke sana-sini tidak tentu tujuannya”. Ini barangkali yang menjadi alasan mengapa salah satu posisi dalam sebuah tim sepak bola ada yang disebut ‘gelandang’, sebagai pemain yang tidak hanya dituntut mempunyai mobilitas tinggi untuk memberikan umpan bola matang bagi pemain penyerang, penghadang pertama serangan lawan di lini depan, tetapi juga mampu menjadi alternatif pencetak goal jika sang striker “mandul”. KBBI mendefinisikan secara sederhana gelandangan sebagai orang yang tidak tentu tempat kediaman dan pekerjaannya. Sebagaimana diabadikan dalam sebuah bait legendaris dari salah satu hits Bang Haji Rhoma Irama di era 1970-an berjudul Gelandangan, kosakata lain yang juga sering digunakan serta memiliki konotasi eufemistik sering kita kenal dengan tunawisma. Yang menarik, lagu gelandangan ini kemudian menjadi salah satu lagu favorit profesor “dangdut”, Andrew Noah Weintraub[1] dari University of Pittsburgh, bahkan menjadi salah satu lagu dangdut terpopuler sepanjang masa versi dangdutlengkap.blogspot.com. Dalam wawancara dengan Tempo di bulan Juni 2013, Andrew Weintraub berpendapat:

“Musik dangdut patut diteliti karena menyangkut kelompok marjinal―karena mereka yang menjadi subyek lagu-lagu dangdut. Tanpa dangdut, 30−40 tahun lalu, mungkin kita tak mengerti kehidupan mereka. Misalnya, lagu Gelandangan. Kita baca teksnya, kita menyanyi, kita bisa mengerti kehidupan dan perasaan mereka.”[2

 

Kosakata kedua dari akronim gepeng adalah pengemis. Meskipun terdapat sedikit kerancuan tentang asal kata pengemis (kemis atau emis), dan definisi singkat di dalam KBBI adalah “orang yang meminta-minta”, istilah ini diadopsi dari bahasa Jawa “ngemis” yang memiliki asal-usul historis yang lebih jelas. Profesor Gorys Keraf (1936−1997) mencatat bahwa kata pengemis ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan kebiasaan orang Jawa yang memiliki kecenderungan menamakan sesuatu berdasarkan kejadian atau waktu-waktu tertentu, seperti nyadran, sekaten, minggon, mitoni dan banyak lagi yang lain. Tradisi sedekah menjelang hari Jumat atau Kamis sore yang dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwono dengan berjalan kaki dari keraton menuju Masjid Agung melewati Alun-Alun Lor oleh rakyat Surakarta disebut “ngemis” mengacu pada prosesi sedekah yang dilakukan setiap hari Kamis (Kemis dalam bahasa Jawa). Transliterasi dari “ngemis” (mengharap sedekah raja setiap hari Kamis) sampai muncul kata “pengemis” (orang yang mengharap pemberian orang lain) pun sebenarnya kurang begitu pas karena makna dan konteksnya berbeda, meskipun memiliki kesamaan konotasi “mengharap”.

Lalu bagaimana dengan fenomena gepeng di Amerika Serikat? Salah satu etnografi tentang kemiskinan yang menjadi inspirasi saya untuk belajar bersama orang-orang marjinal adalah Five Families: Mexican Case Studies in the Culture of Poverty karya Oscar Lewis (1959). Meskipun tesisnya tentang the culture of poverty mengandung bias dan menjadi perdebatan yang cukup lama di kalangan antropolog dan ilmuwan sosial lain, pendekatan Lewis yang mampu merangkum detail keseharian keluarga miskin dan kejelian melihat budaya “orang lain” membuat karya ini sebagai salah satu literatur penting yang membahas kemiskinan dari perspektif antropologi. Tulisan ini adalah catatan lapangan awal dari penelusuran saya tentang kehidupan homeless di pusat Kota Indianapolis. Istilah untuk gelandangan dan pengemis di negeri Paman Sam ini lebih populer dengan sebutan homeless. Beberapa literatur etnografis tentang homelessness yang masih cukup hangat dan memotret kehidupan kaum marjinal ini dari berbagai analisis yang kemudian akan menjadi ramuan dalam eksplorasi saya tentang realitas gepeng di Amerika Serikat, misalnya Shelter Blues: Sanity and Selfhood Among the Homeless (Contemporary Ethnography) karya Robert Desjarlais (1997); Inequality, Poverty, and Neoliberal Governance: Activist Ethnography in the Homeless Sheltering Industry karya Vincent Lyon-Callo (2004); Hobos, Hustlers, and Backsliders: Homeless in San Francisco karya Teresa Gowan (2010), dan beberapa tulisan etnografis lain yang hampir di setiap jurusan antropologi di universitas-universitas Amerika Serikat memiliki profesor yang menggeluti kehidupan komunitas marjinal.

Ketertarikan terhadap isu kemiskinan termasuk gepeng dan homelessness di Amerika Serikat berawal dari keterlibatan saya sejak semester 2 di Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada dalam kegiatan survey lapangan untuk evaluasi program-program penanggulangan kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta, di bawah naungan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM. Keterbatasan biaya kuliah waktu itu memaksa saya untuk lebih sibuk mengikuti “proyek” dosen bersama Setiadi dan Pande Made Kutanegara daripada mengikuti kuliah di kelas. Tidak jarang, saya masuk ke kelas sekedar untuk tanda-tangan dan meninggalkan tas di dalam kelas, mengesankan bahwa saya menghadiri kuliah, padahal di saat yang sama sudah meluncur ke pelosok Kabupaten Gunung Kidul untuk sekedar memenuhi jatah kuesioner di hari itu. Seorang sahabat, Djenk Tata, yang cukup berjasa karena selalu mau membawakan tas yang saya tinggal di kelas dan cukup sering “memberi makan” dengan menggratiskan menu apapun di Kantin Sastra-nya ketika saya pulang dari lapangan dan kelaparan. Pengalaman tersebut, dibantu beasiswa dari rektorat hingga semester akhir, tidak hanya membantu saya menuntaskan pendidikan Strata 1 di UGM tetapi menumbuhkan minat saya terhadap isu-isu kemiskinan, bahkan kemudian mengantar saya bekerja di Direktorat Penanggulangan Kemiskinan di Bappenas, alumnus jurusan antropologi yang sebelumnya tidak pernah dilirik dan tercatat di kementerian perencanaan itu. Ini pun karena salah satu direktur Bappenas yang kebetulan alumnus The Massachusetts Institute of Technology (MIT) tertarik dengan pendekatan antropologi untuk pengembangan program-program pemberdayaan masyarakat dan sempat mengambil kelas antropologi saat menempuh program master dan doktoral di Amerika Serikat.

Selain itu, kenyataan bahwa antropologi adalah ilmu yang lahir karena adanya kebutuhan untuk mempelajari “orang lain” (Barat mempelajari Timur), ada kegelisahan yang mengetuk saya tentang orang-orang Indonesia yang berkesempatan melanjutkan studi di luar negeri, baik di Amerika Serikat, Australia, Eropa, dan Jepang, untuk program master maupun doktoral, dari tahun ke tahun sudah tidak terhitung jumlah penelitian tentang Indonesia. Hal ini menggelitik saya untuk tidak menulis tentang Indonesia. Sudah tidak terhitung jumlah para sarjana dari negara-negara tersebut yang berbondong-bondong melakukan penelitian dan pengkajian tentang Indonesia dan orang-orang Indonesia. Dari beasiswa Ford Foundation, The United States Agency for International Development (USAID), The Australian Agency for International Development (AusAID), dan Studeren in Nederland (StuNED) sebagai contoh, bisa dibayangkan betapa melimpahnya tesis dan disertasi yang berisi informasi, cerita, dan analisis, bahkan arsip tentang Indonesia dan seluk-beluknya yang saat ini tersimpan rapi di perpustakaan-perpustakaan di kampus-kampus Amerika, Australia, dan Belanda atau Eropa yang barangkali lebih lengkap mendokumentasikan kebhinekaan Indonesia dibandingkan dengan informasi yang tersedia di perpustakaan nasional atau di kampus-kampus di seluruh Indonesia. Di bidang Antropologi misalnya, dari generasi pertama yang dirintis oleh Kanjeng Pangeran Haryo Koentjaraningrat di masa paling produktif beliau (akhir 1950-an hingga awal 1980-an), Parsudi Suparlan, James Danandjaja, Masri Singarimbun (yang konsen dengan isu-isu kemiskinan), dan Hans J. Daeng, semua telah berkontribusi besar dalam meletakkan dasar-dasar ilmu Antropologi di Indonesia menulis berbagai aspek ke-Indonesia-an dalam perspektif Antropologi. Sampai dengan masa Sjafri Sairin, Amri Marzali, Paschalis Maria Laksono, Subur Budhi Santoso dan selanjutnya Meutia Farida Hatta Swasono, Pujo Semedi Hargo Yuwono, Irwan Abdullah, hingga generasi antropolog muda seperti Johannes Nicolaas Warouw, Sirojuddin Arif, Hatib Abdul Kadir, Ulil Amri, dan lain-lain, hampir semua memfokuskan penelitian untuk jenjang master dan doktoral tentang Indonesia dan orang-orang Indonesia. Meskipun diakui dengan itu kajian-kajian dan penelitian antropologi oleh para antropolog Indonesia masih sangat terbatas dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain, paling tidak sudah saatnyalah generasi muda antropologi Indonesia juga melihat dan meneliti dunia Barat dan orang-orang Barat, meminjam istilah Judith Schlehe dari Universitas Freiburg “Melihat Barat dari Kacamata Timur”[3]. Jika para pengusaha bisa belajar dari Barat tentang efisiensi untuk memaksimalkan profit, para akademisi bisa belajar tentang tradisi akademik untuk memaksimalkan ketajaman analitik, para punggawa birokasi juga bisa belajar tentang best practices untuk memaksimalkan benefit. Susan Brin Hyatt (yang juga mempunyai perhatian khusus tentang isu-isu masyarakat marjinal di Amerika Serikat)[4], advisor saya pernah mengungkapkan:

“Being in outside increases your senses of thinking, smelling, and feeling that are more alive than you are staying and observing your own, that’s what an ethnographers deal with” (Hyatt, 2013).

 

Kita kembali ke isu homeless di Amerika Serikat. Pada masa Perang Vietnam (1956−1975), homelessness sempat menjadi trend bagi anak muda Amerika Serikat, bukan karena keren atau alasan eksperimentasi, tetapi lebih karena untuk menghindar dari menerima surat undangan wajib militer. Bahkan, Howard Hughes yang kita kenal sebagai salah satu miliarder di era tersebut pernah dengan sengaja memutuskan dan menggelandang menjadi tuna wisma. Irene Glasser (1994: 9-10), yang juga menulis etnografi apik berjudul Ethnography of a Soup Kitchen (1988) tentang orang-orang marjinal di New England, mencatat, jika penyebab homelessness di dunia Timur umumnya adalah karena isu urbanisasi, pengangguran, perang, atau bencana alam, di dunia Barat lebih disebabkan karena ketidakmampuan seseorang untuk mengakses kredit rumah, karena broken home, efek kecanduan obat-obatan terlarang dan alkohol, deindustrialisasi, dan gangguan kejiwaan. Sebenarnya banyak sekali isu yang bisa dikupas dan berkaitan erat dengan homelessness yang bisat dirunut mulai dari ide tentang War on Poverty-nya presiden Lyndon Baines Johnson tahun 1964, fenomena deindustrialisasi tahun 1980-an, public policy dan tata kota, isu ras dan diskriminasi, sheltering industry, misi gereja dan faith−based organizations, sampai kepada isu penjara dan veteran di Amerika Serikat. Tulisan ini saya mulai dengan isu homelessness dan peran faith−based organizations di Indianapolis yang menurut saya menarik karena masih segar di ingatan saya beberapa bulan yang lalu terjadi penggusuran besar-besaran kepada sekitar 67 gepeng penghuni kolong jembatan Davidson Street. Tempat ini telah lama dikenal dengan Irish Hill Homeless Camp yang terletak hanya 1 mil dari downtown atau pusat Kota Indianapolis. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian the Archaeology of Homelessness di Indianapolis dan St. Paul, Minnesota oleh Larry Zimmerman (2011), salah seorang profesor dan juga advisor saya di IUPUI, dari tahun ke tahun, pola kehidupan homeless dia bilang mostly short term and less organized karena menghindari dua hal: penggusuran dan “Religious/Jesus Indoctrination”. Oleh karena itu, ada sebagian kelompok gepeng ini yang tidak mau disebut dengan panggilan homeless tetapi lebih suka dengan sebutan homefree, sehingga kemudian dia menyebut studinya sebagai the Archaeology of Ten Minutes Ago untuk menunjukkan betapa dinamisnya kehidupan kaum gepeng di campsite atau kolong jembatan di kota-kota metropolitan Amerika Serikat.

Berdasarkan pendataan terakhir yang dilakukan oleh Indiana University Public Policy Institute (PPI) dan the Coalition for Homelessness Intervention and Prevention (CHIP) tanggal 29 Januari 2013 (Point-in-Time Homeless Count secara intensif dan berkelanjutan sudah dilakukan di Indianapolis dan kota-kota lain di Amerika Serikat sejak tahun 2007) terdapat sekitar 1.599 orang terhitung sebagai gepeng. Estimasi selama kurun waktu Januari 2012―Januari 2013 terdapat sekitar 4.800−8.000 orang mengalami homeless. Sebagai perbandingan, populasi penduduk Kota Indianapolis berdasarkan data sensus tahun 2010 adalah 820.445 jiwa yang menempati wilayah seluas 963.5 kilometer persegi, dan pendapatan per-kapita penduduknya sebesar 24.430 dollar Amerika Serikat[5]. Sementara Jakarta, jumlah penduduknya berdasarkan sensus tahun yang sama tercatat lebih dari 10 juta jiwa, menempati areal 740.28 kilometer persegi dengan pendapatan per-kapita hanya 5.128 dollar Amerika Serikat, dan tentunya dengan jumlah gelandangan yang luar biasa banyaknya. Di Indianapolis, dan di Amerika Serikat pada umumnya, kita tidak akan melihat atau akan sangat jarang menjumpai adanya homeless anak-anak di jalanan atau di kolong jembatan karena pemerintah setempat akan memberikan perhatian khusus dan aturan yang lebih ketat kepada anak-anak untuk tinggal di shelter/panti/tempat penampungan bagi homeless children/family

Pemerintah setempat tidak secara langsung menangani permasalahan homeless dengan mendirikan shelter atau panti, pusat rehabilitasi dan sebagainya, tetapi memang ada alokasi anggaran, baik dari pemerintah federal (pusat) maupun state (lokal) untuk penanganan homelessness kepada lembaga-lembaga swasta dan Non−Governmental Organization (NGO). Yang menarik di Indianapolis, sekitar lebih dari 20 shelters yang ada (tempat-tempat yang bisa diakses oleh kaum homeless untuk menginap mulai dari 1 malam hingga maksimum 40 hari, mendapatkan makanan, pakaian, pelayanan kesehatan, dan pelatihan keterampilan kerja), tidak satupun dari mereka yang bukan merupakan lembaga faith−based yang berafiliasi dengan gereja. Homeless Initiative Program (HIP) yang lebih bersifat prefessional (non faith−based) dan Horizon House (satu-satunya lembaga yang awalnya adalah faith−based dan kemudian yang menyebut dirinya sebagai “professional institution” dengan The United Way of America sebagai sponsor utama) keduanya tidak menyediakan shelter untuk tempat menginap tetapi hanya memberikan fasilitas training, outreach, dan semacam penghubung bagi lembaga-lembaga service providers yang ada.

 

Potret Homeless di Downtown/Pusat Kota Indianapolis, Spring 2013 (courtesy: Karim)

 

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ide dan misi utama dari lembaga-lembaga tersebut adalah “building more bridges from homelessness to hope”, menjembatani homeless menjadi homeowner dan mencoba menjadi jembatan dari yang “sesat” menjadi “beriman”. Jika kita Googling dua kata homeless dan bridge secara bersamaan, yang akan muncul adalah sederet organisasi di seantero Amerika Serikat, bahkan juga di Eropa yang menggunakan nama bridge, misalnya NH Under The Bridge di Manchester, UK, Bridge Ministry di Georgia, Beyond The Bridge di Portland, The Bridge Homeless Assistance Center di Dallas, Bridges Communities di Illinois, Bridges Outreach, Inc. dan Destiny’s Bridges di New Jersey, The Memphis Bridge di Memphis, Under The Bridge and On the Streets di Los Angeles, dan terakhir Meet Me Under the Bridge di Indianapolis. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa kolong jembatan menjadi tempat favorit untuk kaum gepeng di Amerika Serikat karena dua alasan utama: pertama, terdapat banyak jembatan layang di kota-kota metropolitan yang biasanya juga tidak jauh dengan akses ke downtown dan stasiun kereta api; kedua, tidak ada public spaces (fasilitas umum) lain yang lebih nyaman untuk berteduh selain jembatan karena adanya No Trespassing Rule (aturan yang tegas dengan ancaman denda yang tinggi atau dipenjara untuk penggunaan fasilitas baik gedung, rumah, atau areal tanah kosong milik perseorangan atau pemerintah untuk menginap, memakai, atau menempati tanpa izin dan dengan sengaja menerobos No Trespassing Signs). Dengan itu, berita di televisi dan media massa tentang homeless meninggal di jalan atau di bawah jembatan terutama karena kedinginan pada musim dingin menjadi fenomena yang umum di Amerika Serikat.

 

Beberapa Trespassing Signs yang lazim digunakan untuk melindungi properti pribadi di Amerika Serikat

(courtesy: mysecuritysign.com, 2013)

 

Dari studi kasus yang sedang saya pelajari di Indianapolis, Meet Me Under the Bridge sebagai salah satu lembaga faith−based yang paling aktif “melayani” para “penghuni” Irish Hill Homeless camp di kolong jembatan Davidson Street memiliki peran yang cukup unik baik dalam konteks “menghidupi” sampai dengan eviction atau penggusuran seluruh homeless yang ada. Berdasarkan penuturan salah satu informan yang lahir dan telah tinggal tidak jauh dari lokasi campsite lebih dari 25 tahun, sudah sejak dia masih kecil lokasi tersebut menjadi tempat berkumpul, tidur, dan manjadi sebuah “komunitas” kaum homeless. Selama kurun waktu lebih dari 6 tahun sejak 2005, Meet Me Under the Bridge dan beberapa afiliasi organisasi faith−based secara rutin menyelenggarakan berbagai aktivitas di campsite, mulai dari pemberian makanan, pakaian dan selimut, penggalangan dana, dan bahkan perayaan Natal layaknya di sebuah komunitas dengan beragam jadwal kegiatan.

 

Aktivitas di Irish Hill Homeless Camp sebelum penggusuran (courtesy: meetmeunderthebridge.com, 2009−2012)

 

Pada tahun 2010, penggusuran dilakukan, bahkan Mayor Kota Indianapolis turun langsung menyaksikan sebanyak 36 penghuni kolong jembatan Davidson Street diusir dari “tempat tingggal” mereka dan memerintahkan agar tempat tersebut dipagari dan dipasang No Trespassing Sign. Selama bertahun-tahun warga sekitar jembatan mengeluhkan ketidaknyamanan karena kolong jembatan tersebut juga menjadi tempat prostitusi, penggunaan obat-obat terlarang, dan toilet umum untuk lebih dari 30 orang. Upaya penggusuran pun sering batal dilakukan karena pertimbangan keterbatasan shelter untuk menampung mereka. Beberapa bulan setelah penggusuran, lokasi tersebut kembali menjadi homeless camp, bahkan dihuni lebih dari 60 orang dan selama 2 tahun terakhir bahkan memiliki seorang “mayor” atau semacam kepala komunitas.

Dari hasil investigasi saya kepada salah seorang Case Manager di Horizan House, sang mayor bersama 4 anggota yang lain ternyata bukanlah homeless, melainkan “agent” berasal dari organisasi faith−based tertentu yang sengaja “menyamar” menjadi bagian dari penghuni Irish Hill Homeless Camp. Pada penggusuran besar-besaran yang dilakukan tanggal 26 Agustus 2013, terjadi “drama” yang cukup unik karena sang mayor bersama 4 anggota tersebut ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan menolak meninggalkan lokasi campsite sampai batas waktu yang telah ditentukan oleh polisi serta pihak yang berwenang. Di hari penggusuran, dia menuliskan protes yang tidak hanya ditujukan kepada pihak kepolisian Indianapolis tetapi juga kepada organisasi-organisasi faith−based (yang notabene dia merupakan bagian dari itu) yang rutin melakukan kegiatan “kerohanian” di kolong jembatan. Sampai tulisan ini saya buat, saya belum berhasil menemui dan mewawancarai sang mayor untuk mendapatkan cerita yang lebih rinci tentang ide dan perannya di campsite.

 

  

Hari Penggusuran Irish Hill Homeless Camp, Indianapolis (courtesy: Indystar.com, August 26, 2013)

 

Sekitar satu bulan yang lalu, saya sempat mengabadikan lokasi Irish Hill Homeless Camp dan memang benar bahwa kolong jembatan yang manjadi “rumah” bagi kaum gepeng di Indianapolis sudah dipagari dengan kawat besi. Yang jelas, lokasi tersebut masih digunakan sebagai “tempat berteduh”, meskipun tidak lagi tepat di bawah kolong jembatan, karena saya masih menemukan banyak sekali “buangan” segar dan properti pribadi di sekitar jembatan. Salah seorang Case Manager dari HIP menuturkan, sebagian besar mantan “penghuni” telah pindah ke kolong jembatan lain, ada yang mendapatkan shelter sementara, dan sangat sedikit yang “lulus” serta mendapatkan tempat tinggal yang layak, karena permasalahan homeless tidak selesai jika mereka hanya diberi bantuan rumah atau apartemen tanpa dukungan pemenuhan kebutuhan dasar lain, terlebih untuk mereka yang mengalami gangguan kejiwaan dan kecanduan alkohol kronis.

Kompleksitas persoalan homelessness dari perbedaan pendekatan antara faith−based versus professional saja sudah sedikit memberikan gambaran kepada kita bagaimana tidak mudahnya menangani masalah gepeng di Amerika Serikat. Gaps antara kedua lembaga tersebut, dan pemerintah yang terkesan “cuci tangan” dengan alasan klasik bahwa memfasilitasi homeless berarti memberi ruang dan kesempatan kepada mereka untuk bertambah jumlahnya atau karena mereka juga umumnya tanpa identity card sehinggga tidak eligible untuk mendapatkan asistensi program pemerintah semacam Food Stam atau kini disebut The Supplemental Nutrition Assistance Program (SNAP) dan Obama Care, semua itu menghasilkan cerita yang sama bahwa “keep the homelessness homeless”, belum terkait dengan isu-isu lain. Tanggal 21 Desember ini (sejak tahun 1990), di Amerika Serikat diperingati sebagai ‘National Homeless Persons’ Memorial Service di mana gereja-gereja diselenggarakan kebaktian untuk menghormati kaum gepeng yang meninggal di jalan. Di Indianapolis, upacara yang saya ikuti dilaksanakan sehari sebelumnya dan dipusatkan di Christ Church Cathedral dengan meninggalkan catatan: Homeless Count tahun 2013 menemukan peningkatan yang signifikan untuk jumlah homeless dari para veteran (320 orang) serta lebih dari 480 orang telah meninggal dalam kondisi homelessness sejak tahun 1996.

Semoga cerita akhir tahun ini menjadi sebuah renungan bagi siapa saja yang akan merayakan tahun baru, selain memiliki semangat baru juga kepekaan dan kepedulian baru kepada orang-orang yang kurang beruntung, tanpa batas keyakinan, geografis, bahkan warna kulit sekalipun. Selamat tahun baru 2014 dari Indianapolis, The Racing Capital of The World.

Selanjutnya hubungan antara homelessness dengan isu ras, diskriminasi dan penjara di Amerika Serikat akan melengkapi cerita gepeng di Amerika Serikat untuk edisi berikutnya. Salam.

 

8 Januari 2014

 

* Penulis adalah pekerja di Direktorat Penanggulangan Kemiskinan−Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas); saat ini sedang melanjutkan sekolah 
....pasca sarjana kajian Antropologi Terapan di Indiana University at IUPUI Indianapolis, USA
.

 

 

 

Bibliografi

− Glasser, Irene. 1994. Homelessness in Global Perspective. New York: K. Hall.
− Lewis, Oscar. 1959. Five Families: Mexican Case Studies in the Culture of Poverty. New York: Basic Books, Inc.
− Zimmerman, Larry J. and Jessica Welch. 2011. “Displaced and Barely Visible: Archaeology and the Material Culture of Homelessness”. In Historical Archaeology:
...........Archaeologies of Engagement, Representation, and Identity
, Vol. 45 (1): 67-85.

 

Footnotes

[1] Andrew Weintraub pertama kali datang ke Indonesia tahun 1984 untuk belajar dan meneliti gamelan di Bandung. Lagu Rhoma Irama yang pertama dia dengar dari 
.....radio berjudul Perjuangan dan Doa. Sejak saat itu, ia mulai berburu koleksi lagu-lagu Rhoma Irama dan serius meneliti musik dangdut di Indonesia. Salah satu bukunya
.....yang mengupas tuntas perjalanan sang raja dangdut yang saat ini berubah haluan ingin menjadi raja di dunia nyata berjudul Dangdut Stories: A Social and Musical
.....History of Indonesia's Most Popular Music
(Oxford University Press, September 2010).
[2] Wawancara Profesor Dangdut dari Amerika, bisa diakses di http://www.tempo.co/read/news/2012/06/03/112407970/Wawancara-Profesor-Dangdut-dari-Amerika.
[3] Ide ini muncul dari Prof. Judith Sclehe ketika saya bersama beberapa teman di Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada berkesempatan dalam program tandem 
.....untuk melakukan latihan penulisan etnografi tentang orang-orang Freiburg di Jerman pada tahun 2005. Ringkasan tentang pengalaman ini dapat dibaca di buku berjudul:
.....Budaya Barat Dalam Kacamata Timur: Pengalaman dan Hasil Penelitian Antropologis di Sebuah Kota di Jerman (Pustaka Pelajar, 2006).
[4] Lihat misalnya Hyatt, dalam Susan Brin. (2001). “From Citizen to Volunteer: Neoliberal Governance and the Erasure of Poverty”. In Judith Goode and Jeff Maskovsky. 
.....(Eds.). The New Poverty Studies: The Ethnography of Power, Politics and Impoverished People in The United States. (Pp. 210-235). New York: New York University Press. 
[5] Kota Indianapolis tidak sebesar New York, Boston, atau San Francisco, tetapi pada tahun 2013, Livability.com menempatkan Indianapolis sebagai salah satu “the fastest 
.....growing metropolitan areas in the United States”
namun dengan satu catatan unik: “the city will give you the big-city experience minus the actual big city”. Wilayah
.....downtown district
Indianapolis hanya seluas 6 square miles. (“Top 10 Downtowns”. Livability.com. http://livability.com/top-10/top-10-downtowns/indianapolis/in).

 

 

 

[  C A T A T A N  ]

 

 

 

 

 

Baca Juga

Suasana the Irish Hill Homeless Camp

Belajar Kepemimpinan dari “Kepala Suku” Kaum Homeless di Ibukota Balap Dunia

Catatan oleh: Karim * “The best way to find yourself is to lose yourself in ...

Tanggapan

  • Hello, guest