Etnohistori.org

Pulung Gantung; Membalik Teror menjadi Peringatan Bahaya

oleh: Pandu Yuhsina Adaba*

Sekilas tentang Pulung Gantung

Pulung Gantung, begitulah masyarakat menyebutnya untuk sebuah benda mirip komet berwarna kemerahan. Dia terbang di malam hari lalu jatuh di “suwungan” rumah seseorang1. Di rumah yang kejatuhan “komet merah” itulah, dalam waktu dekat akan ada orang yang gantung diri. Mistis memang, namun itulah keyakinan masyarakat Gunung Kidul terutama bagian selatan. Angka bunuh diri di daerah ini memang tinggi, dan uniknya, gantung diri jadi cara favorit untuk mengakhiri hidup. Perlu dicatat, sepanjang 2001-2009 terdapat 272 kasus, dan sepanjang 2009 saja terdapat 34 kasus bunuh diri.2

Pulung punya banyak varian, dan pulung gantung hanyalah satu dari sekian banyak jenis pulung. Secara general masyarakat Gunung Kidul membagi jenis-jenis pulung ke dalam dua kategori besar. Kategori yang membawa malapetaka diasosiasikan dengan warna-warna yang mendekati merah. Pulung dengan kategori baik berwarna hijau/biru. Kepercayaan tentang pulung memang tidak hanya ada di Gunung Kidul, namun khusus untuk pulung gantung adalah fenomena khas kabupaten sebelah timur kota Yogyakarta itu.3 Setiap terjadi peristiwa gantung diri yang berujung kematian, warga masyarakat cenderung mengaitkannya dengan pulung gantung. Teror tidak berhenti di satu peristiwa saja karena dalam mitos itu, pulung gantung dianggap bisa menular. Arah menghadap korban bunuh diri ketika tergantung dipercaya sebagai arah jatuhnya pulung gantung selanjutnya. Misalnya jika korban gantung diri tewas dalam posisi menghadap ke utara, maka pulung gantung selanjutnya akan jatuh di sebelah utara.

Sepanjang yang saya ketahui, ada beberapa penelitian ilmiah terkait fenomena pulung gantung. Darmaningtyas, seorang Guru Sekolah menulis sebuah buku dengan judul “Pulung Gantung; Menyingkap Tragedi Bunuh Diri di Gunung Kidul”.4 Peneliti UGM pernah meneliti tentang aspek sosial pulung gantung. Seorang dokter spesialis kejiwaan, Ida Rochmawati juga menulis sebuah buku berjudul “Nglalu”, sebuah istilah bahasa Jawa yang artinya adalah bunuh diri.5 Ada benang merah yang bisa ditarik dari 3 tulisan itu. Semuanya menyepakati bahwa masalah ekonomi merupakan salah satu faktor penting dalam kasus gantung diri di Gunung Kidul.

Sedikitnya, saya pernah menemui 3 kasus gantung diri dimana peristiwa itu terjadi di wilayah yang tidak jauh dari domisili saya. Untuk memberikan gambaran kepada pembaca akan saya ceritakan mengenai ketiga kasus tersebut.

Beberapa Contoh Kasus

Kasus pertama menimpa SP, seorang perempuan berusia lanjut. Sehari-hari, SP berprofesi sebagai petani kacang. SP tinggal bersama suaminya di sebuah rumah sederhana. Kemampuan ekonominya bisa dikatakan termasuk golongan menengah ke bawah, namun tidaklah terlalu miskin. Setidaknya SP masih mempunyai beberapa sapi. Di usianya yang sudah tergolong tua, SP menderita beberapa penyakit yang tak kunjung sembuh. Semua anaknya merantau ke ibukota. Beberapa tetangga sempat menyarankan agar SP ikut saja dengan salah satu anaknya dengan pertimbangan agar ada yang merawat. SP menolak dengan alasan tidak ingin tinggal di kota besar seperti Jakarta, dan tidak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya.

Menjelang bulan puasa di tahun 2003, SP ditemukan gantung diri di kandang sapi miliknya. Beberapa warga yang pulang dari Shalat Isya berjamaah di masjid menemukannya sudah tak bernyawa lagi, tergantung dengan sebuah jarik6 melilit di lehernya. Singkat kata, warga kampung dan aparat kemudian berdatangan. Jenazah diturunkan, dilakukan visum dan beberapa prosedur lain. Esoknya jenazah SP dimakamkan. Beberapa warga kemudian menggali tanah yang berada tepat di bawah tubuh SP ketiga tergantung. Kepercayaan tradisional mengatakan bahwa tanah tepat di bawah tubuh korban gantung diri dan tiang tempat tali/jarik dikaitkan saat gantung diri harus dibuang.7 Hal itu dilakukan agar malapetaka tidak menimpa penduduk sekitar. Kasak-kusuk di kalangan warga kampung muncul. Beberapa mengatakan bahwa sebelum terjadinya peristiwa gantung diri, mereka melihat pulung gantung melintas di atas kampung dan jatuh di suatu tempat, namun tidak jelas di rumah mana tepatnya dia jatuh.

Kasus gantung diri kedua menimpa GD, seorang peternak ayam. Selain beternak ayam, GD mempunyai usaha Sate Ayam bersama kakaknya. Perawakannya cukup besar, sehingga dia disegani oleh kawan-kawannya. GD bahkan bisa digolongkan sebagai jagoan kampung. Namanya cukup ditakuti oleh preman-preman pemuda kampung tetangga. Sejak kecil memang GD terkenal hobi berkelahi. Dia adalah anak yatim. Pada usia yang tergolong muda (sekitar kurang dari 30-an tahun), GD menderita asam urat yang kadang-kadang kambuh.

Pertengahan 2007, virus Flu Burung melanda. Banyak unggas-unggas yang terserang dan kemudian mati. Ayam-ayam milik GD tak luput dari serangan wabah. Seperti peternak-peternak ayam lain, GD sangat terpukul dengan datangnya wabah yang membuatnya merugi. Suatu ketika di hari Jumat, warga kampung melaksanakan Shalat Jumat di Masjid. Ada sesuatu yang janggal ketika Shalat Jumat berakhir. GD mengajak semua jamaah bersalaman. Sore harinya setelah Ashar, kampung mendadak gempar. Adik GD yang baru pulang dari photocopy, berteriak histeris menemukan kakaknya tergantung pada blandar8 kamarnya dalam kondisi sudah tak bernyawa namun dengan mata yang tidak terpejam. GD gantung diri menggunakan stagen.9 Kematian GD dengan cara gantung diri kemudian dikaitkan dengan perkataan beberapa warga yang mengaku melihat pulung gantung beberapa malam sebelum tragedi itu. Seperti tindakan yang dilakukan pada SP, warga menggali tanah di bawah bekas tempat GD gantung diri, dan mengganti blandar tempat GD mengaitkan “stagen maut” itu.

Kasus gantung diri ketiga terjadi tahun 2009, menimpa HS, seorang PNS di sebuah Dinas Kabupaten. Pria 40-an tahun dengan 2 anak itu cukup kaya. Di instansinya, dia ditempatkan pada posisi mengurusi pengadaan barang dan jasa, sebuah posisi yang dianggap sebagai “lahan basah”. Hubungan HS dengan warga sekitar cukup baik. Bahkan dengan pemuda kampung, HS cukup akrab karena anak kedua HS yang cukup cantik dianggap sebagai kembang desa. Tak jarang pemuda-pemuda kampung bertandang ke rumahnya, dan HS selalu menyambutnya dengan baik.

Suatu ketika, terdengar kabar bahwa terjadi korupsi di instansi tempat HS bekerja. Beberapa surat kabar lokal memberitakan bahwa korupsi itu melibatkan beberapa pegawai dan nilainya lumayan besar. HS disebut-sebut terlibat dalam tindak korupsi itu dan akan segera ditetapkan sebagai tersangka. Kabar itu menjadi buah bibir di kampung, termasuk di kalangan tetangga-tetangga HS. Suatu sore, anak HS yang baru pulang dari rumah temannya menemukan HS dalam kondisi tak bernyawa. HS mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di dalam rumah. Seperti pada kasus SP dan GD, kematian HS dikaitkan dengan mitos pulung gantung juga. Beberapa warga mengaku melihat pulung gantung sebelum kejadian itu.

Pulung Gantung dan Logika Sistem Peringatan Dini

Dari 3 kasus bunuh diri yang telah dikemukakan, terdapat kesamaan yaitu beberapa warga mengaku melihat pulung gantung sebelum kejadian. Hal inilah yang semakin menguatkan mitos bahwa apabila ada pulung gantung jatuh ke suatu tempat maka akan ada orang yang mengakhiri hidup dengan gantung diri. Permasalahannya adalah, keberadaan pulung gantung ini belum dapat dijelaskan secara ilmiah. Keberadaannya hanya terdeteksi dari cerita-cerita warga yang menyatakan bahwa sebelum kejadian terlihat ada pulung gantung melintas dan jatuh di suatu tempat. Cerita-cerita itu diproduksi ulang manakala terjadi lagi peristiwa gantung diri. Pulung gantung terlepas dari benar atau tidak keberadaannya menjadi teror yang menakutkan bagi warga. Logika inilah yang seharusnya dibalik. Seandainya pulung gantung itu memang benar-benar ada, dia haruslah dimaknai sebagai sistem peringatan dini. Kehadiran pulung gantung justru harus dijadikan penanda bahwa ada penduduk yang sedang tertimpa masalah dan sangat membutuhkan bantuan. Dengan begitu, keinginan untuk bunuh diri justru bisa dicegah. [ ]

19 Februari 2012

sumber gambar: Suara Merdeka

* Peneliti di Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P―LIPI)


[1] Bagian paling atas rumah orang Jawa, lekukan dari genteng yang mengarah ke bawah. Orang Jawa mengkeramatkan bagian ini dan menghindari tidur tepat di bawahnya karena mereka percaya bisa mengakibatkan “tindihen”, yaitu dalam kondisi sadar namun tidak dapat menggerakkan bagian tubuh.

[3] Dalam konsep Jawa dikenal “Pulung Keprabon” atau “Wahyu Cakraningrat”. Pulung ini jatuh kepada orang yang mampu meraih kekuasaan. Ketika pulung keprabon pergi dari orang yang berkuasa itu, dia akan segera kehilangan kekuasaannya. Sebelum terjadi peristiwa reformasi 1998, sebagian masyarakat menganggap Pulung Keprabon Presiden Soeharto sudah pergi bersamaan dengan meninggalnya Ibu Tien Soeharto.

[4] Darmaningtyas. 2002. Pulung Gantung; Menyingkap Tragedi Bunuh Diri di Gunung Kidul”, Salwa: Yogyakarta.

[5] Ida Rochmawati. 2009. Nglalu: Melihat Fenomena Bunuh Diri dengan Hati”, Jejak Kata Kita: Yogyakarta.

[6] Kain Batik yang biasa digunakan untuk menggendong bayi, biasa digunakan wanita Jawa di pedesaan sebagai rok. Jarik dan stagen seringkali menjadi alat yang digunakan untuk gantung diri di Gunung Kidul.

[7] Tanah di bawah korban gantung diri saat masih tergantung diambil sebesar bola tennis, dan dibuang ke laut (dilarung). Dalam kasus SP, tidak jelas apakah gundukan tanah itu dibuang ke laut, atau ke tempat lain.

[8] Blandar: Kayu penyangga genteng yang berukuran besar pada rumah-rumah di Jawa.

[9] Stagen: Kain yang digunakan sebagai sabuk pada pakaian tradisional wanita-wanita Jawa.

Komentar:
  1. Dane

    apa ada hubungan dengan banyaknya mengkonsumsi singkong yang mengandung zat penyebab munculnya hormon depresi?

  2. Pandu Yuhsina Adaba

    wah, saya tidak tau apakah ada hubungannya atau tidak. coba kalau ada yg tau :)

 

2011—2012 • Etnohistori.org • Some Rights Reserved Kembali ke atas