Home / Edisional / Saksikan Sendiri: Samson Jagoan Betawi Asli!

Saksikan Sendiri: Samson Jagoan Betawi Asli!

 

oleh: Laraswati Ariadne Anwar *

 

Dukun Beranak: Gimana kalo namanya Si Doel?
Pak Hamid: Kampungan!
Dukun Beranak: Kalo mau kotaan ya Robert.
Pak Hamid: Aye tau! Sam..son!

 

Samson Betawi **
Samson Betawi **

Kisah Samson adalah kisah kuno dari Taurat, Injil, dan juga diyakini oleh umat Islam. Bercerita tentang seorang pemuda perkasa yang melawan penguasa lalim. Letak kekuatan Samson yang perkasa adalah di ikal rambutnya. Semenjak kecil Samson dilarang oleh Tuhan untuk mencukur atau memotong rambutnya, karena tanpa rambutnya, ia hanyalah pria biasa. Samson kemudian bertemu dan jatuh cinta pada Delilah, wanita cantik yang kini menjadi simbol wanita penakluk sama seperti Salome dan Jezebel. Delilah yang cantik berhasil menggoda Samson untuk menceritakan rahasia kekuatannya, dan demi uang dipangkasnyalah rambut Samson. Selama beberapa bulan Samson menjadi budak penggiling gandum di penjara bawah tanah. Untungnya selama itu rambutnya tumbuh kembali dan otomatis kekuatannya pun pulih. Puncak cerita terjadi di Kuil Dagon ketika Samson akan dihukum mati. Sebelum hukuman dilaksanakan, Samson meruntuhkan dua pilar utama Kuil Dagon, hancur leburlah kuil tersebut bersama seluruh orang di dalamnya.

Indonesia tentunya tidak mau ketinggalan mengadaptasi cerita mengenai pengkhianatan cinta ini. Pada tahun 1987 Ratu Horor Indonesia, Suzanna, membintangi film berjudul Samson dan Delilah. Suzanna berperan sebagai Delilah, seorang noni Belanda, putri dari seorang Jendral Belanda. Hatinya jatuh kepada Samson, seorang peranakan Jawa-Belanda, yang memperjuangkan hak kaum pribumi. Hubungan Samson dan Delilah pada versi ini lebih beruntung karena setelah Samson meruntuhkan rumah Sang Jendral dan menewaskan semua orang kecuali ia dan Delilah, ia dan Delilah pun kemudian pergi untuk hidup bersama.

Berbicara mengenai Samson tak akan lengkap tanpa menyinggung film Samson Betawi, film karya sutradara Nawi Ismail dan dibintangi oleh legenda Indonesia, Benyamin S. Samson versi Benyamin bersifat lebih kontemporer dan berlatar tahun 1975. Samson, anak pasangan juragan Betawi, Pak Hamid dan Mak Wok, berada di kandungan ibunya selama 13 bulan. Pak Hamid dan Mak Wok memanggil seorang “tukang lihat-lihat” untuk mencari tahu mengenai jabang bayi mereka. Si Tukang Lihat-Lihat mengatakan bahwa Si Jabang Bayi ketika tumbuh besar akan memiliki kekuatan yang luar biasa asal bulu ketiaknya tidak dicukur. Suatu malam Mak Wok pun melahirkan seorang bayi laki-laki yang ketika lahir wujudnya sudah seperti bayi berumur 4 bulan. Menginjak umur 12 tahun Samson menghabiskan 5 liter nasi dalam sekali makan, memecahkan kaca rumah orang dengan ketapel raksasanya, mematahkan tangan kawan bermain gundunya, membuat memar mata kawan satunya, dan meminum 4 peti Fanta tanpa membuatnya kembung. Tetangga (wajahnya bagai George Harrison versi lokal), orang tua anak (Nani Widjaya masih muda dan manis), dan tukang warung akhirnya minta ganti rugi pada Pak Hamid. Pak Hamid geram pada putranya dan menghukumnya dengan cara memukul pantat Samson dengan kemoceng, alhasil kemoceng yang malang itu pun patah.

Samson: Sape? Aujubile?
Duile: Aijubile?! Enak aja lu ganti-ganti nama orang. Siti Duile!
 

Harta Pak Hamid resmi amblas dan pada saat Samson berusia 29 tahun, mereka hanya tinggal di gubuk sederhana. Samson yang tak tahan dengan kehidupan desa dan omelan ayahnya memutuskan untuk mengadu nasib di kota. Dalam perjalanan ia menyelamatkan seorang wanita cantik yang nyaris ditabrak oleh seorang supir ugal-ugalan (wajahnya mirip Wingky Wiryawan berjenggot). Pesona wanita bernama Duile ini membuat hati Samson terpincut, tapi lebih penting lagi adegan Samson menyelamatkan Duile terlihat oleh Sultan Melenggang Di Langit.

Samson: Ini besi beratnya 200 kilo lebih, biar saya angkat. Bismillahirrohmanirrohiiim…
Sultan Malenggang Di Langit: Mari mari saksikan Samson Betawi yang juga anak yatim. Mari mari…sumbangan untuk anak yatim.
 

Sultan Melenggang Di Langit dan Samson memutuskan untuk bekerja sama mendapatkan uang. Samson tampil sebagai atraksi orang kuat sementara Sultan Melenggang Di Langit bertindak sebagai promotor. Kesal hanya dibayar pas-pasan, Samson memutuskan untuk pergi mudik sementara. Di saat yang bersamaan Sultan Melenggang Di Langit memutuskan untuk menerima tawaran menggiurkan dari seorang cukong: Samson diadu melawan banteng. Hari yang dinantikan pun tiba, Samson sudah tidak sabar melawan banteng dengan syarat dosa membunuh binatang ditanggung oleh Sultan Melenggang Di Langit. Tak dinyana yang datang adalah seekor sapi kecil. Samson yang terkesiap menolak untuk melawan cucu banteng yang pastinya juga anak yatim. Penonton kecewa, Si Cukong kabur meninggalkan Samson dan Sultan Melenggang Di Langit menghadapi amukan penonton dan cek kosong.

Marah, bangkrut, dan kecewa, duo naas ini tak punya pilihan lain selain mempromosikan Samson sebagai penggulat bayaran. Samson tentunya tak terkalahkan. Sebut saja Si Botak dan Si Jantuk, keduanya dibuat Samson bertekuk lutut. Berikutnya Samson dijadwalkan melawan Si Jabrik yang ternyata adalah kakak Duile. Duile diutus kakaknya untuk mencari kelemahan Samson dan memutuskan untuk mengajak Samson bertamasya ke pantai. Setelah puas berenang dengan memakai ban pelampung di air yang galak, tak mau diam, dan asin Samson pun bersantai bersama Duile. Biar dikatai cerewet oleh Samson Duile berhasil membujuk Samson mengatakan rahasianya. Ketika Samson tertidur oleh buaian angin pantai dan senandung Duile, bulu ketiaknya dicukur habis. Esoknya ketika bertarung melawan Si Jabrik Samson pun babak belur. Kedongkolan Samson makin bertambah ketika ia menemukan bahwa Duile adalah adik Si Jabrik dan memutuskan hubungan dengan Samson. Film ditutup dengan pesan moral dari Sultan Melenggang Di Langit: “makanya, lain kali kalau cari teman itu hati-hati.”

Memang dari segi visualisasi dan teknologi banyak kekurangan dari film Samson Betawi. Kebanyakan adegan disorot dengan posisi zoom muka atau setengah badan. Setengah jam pertama juga terasa agak molor diakibatkan jalan cerita yang lamban. Namun demikian, Samson Betawi biarpun sudah 36 tahun berlalu pastinya masih tetap bisa membuat penonton terpingkal-pingkal. Kuncinya adalah jalan cerita yang sederhana dan pastinya adalah dialog yang renyah. Coba kita lihat kapan terakhir kalinya kita menonton film Indonesia yang dialognya terdengar alami di telinga? Kebanyakan tokoh film Indonesia kontemporer mengucapkan kalimat yang tak mungkin kita ucapkan di kehidupan sehari-hari, sudah begitu dialognya tak masuk akal pula. Samson Betawi menawarkan dialog yang akrab di kehidupan sehari-hari dan berkesinambungan dengan alur cerita. Tak sekalipun tokoh-tokoh di dalam film tampak canggung dalam bertutur kata atau lebih parahnya lagi, mengeluarkan suara seperti orang tercekik. Ini kerap ditemukan di film-film Indonesia akhir-akhir ini. Harap diingat juga kalau film ini dibuat sebelum Badan Sensor Perfilman menyensor kata-kata seperti “bangsat” atau “setan”.

Kisah Samson yang diangkat dari peradaban Timur Tengah sama sekali tidak tampak ganjil ketika diadaptasi menjadi sebuah kisah dari kampung Betawi. Tampaknya nama Delilah memang dirancang untuk diadaptasi menjadi Duile. Duile merupakan nama yang sempurna bagi tokoh wanita Betawi yang cantik memesona. Memangnya ada laki-laki yang cocok dengan nama Duile? Samson Betawi, sama seperti film-film Benyamin lainnya, adalah lenong versi modern. Biar konyol dan mengundang tawa, tapi jalan ceritanya masuk di akal. Di samping itu cerita Samson Betawi sangatlah akrab dengan budaya Indonesia, tidak cuma budaya Betawi. Kisah anak laki-laki yang pergi merantau di kota tertarik untuk mencari uang dengan cara meragukan dan pada akhirnya hanya mendatangkan masalah.

Para pemeran film juga merupakan faktor penting. A. Hamid Arief adalah aktor tetap dalam film-film Benyamin, biasanya ia memerankan bos atau majikan yang galak dan takut istri, namun di sini ia memerankan ayah Samson. Mak Wok juga merupakan langganan film-film Benyamin berperan sebagai ibu Samson yang frustasi dengan kelakuan anak semata wayangnya. Adapula Mansyur Syah sebagai Sultan Melenggang Di Langit yang licik, namun setia kawan. Pemeran utama wanita adalah Yatni Ardi. Yatni mungkin tidak seterkenal Ida Royani yang biasa disandingkan dengan Benyamin, namun ia sukses memerankan Duile yang tidak hanya cantik, tapi di akhir cerita terbukti galak. Lalu tentu saja orang yang memungkinkan tokoh Samson untuk hidup, yaitu Benyamin. Peran-peran Benyamin di dalam filmnya mungkin selalu terpaku pada satu stereotipe: orang Betawi banyak omong, lucu, dan terkadang lancang. Namun demikian, Benyamin selalu gemilang dalam memerankan tokohnya. Film-filmnya mustahil untuk didaur ulang karena tidak ada seorang pun aktor masa kini baik Tora, Ringgo, dan lainnya memiliki karisma dan kelucuan alami seperti Benyamin. Seperti lazimnya penghargaan terhadap hal-hal luar biasa dalam budaya Betawi, saya tutup resensi tentang jago dalam dongeng Betawi ini dengan mengatakan: Seeet… dahh…!

 

* Antropolog belajar Sejarah; Mahasiswi Master di National Chung Hsing University.

5 Juli 2011

** sumber poster

 

 

Etnohistori Edisional Jago, Preman & Negara

 

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

3 Tanggapan

  • Hello, guest