Home / Tokoh / Sejarah dan Antropologi sebagai Penyemai Jalan Damai: Mengenang Muridan S. Widjojo

Sejarah dan Antropologi sebagai Penyemai Jalan Damai: Mengenang Muridan S. Widjojo

oleh: Yogi Setya Permana *

“Bagus. Kamu semangat terus. Semua ilmuwan harus mempertimbangkan sejarah. Sukses ya. Aku lagi berurusan dengan penyakit yang tak beres-beres.”

Komunikasi lewat surat elektronik pada akhir Februari 2014 lalu ternyata merupakan kalimat terakhirnya. Saat itu kami sedang membincangkan betapa konteks sejarah sama sekali tidak bisa dilepaskan dalam memahami politik lokal. Mas Muridan menghembuskan nafas terakhir pada hari Jumat, 7 Maret 2014 pada umur 47 tahun.

Sejak saya masuk menjadi peneliti politik lokal di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mas Muridan tak henti-hentinya menekankan untuk memperhatikan konteks sejarah dalam penelitian-penelitian tentang politik lokal yang kami kerjakan. Memang untuk Muridan Widjojo, sejarah adalah salah satu alat utama untuk menjelaskan realita sosial. Dengan memperhatikan sejarah dalam kajian, maka kita bisa menangkap struktur dan pola yang mempengaruhi realitas.

Kecintaannya pada sejarah terlihat dari jawabannya kepada penulis suatu malam di Kaimana saat kami sedang melakukan penelitian lapangan tentang sejarah dan politik di Papua Barat. “Daripada jadi Kepala LIPI mending jadi Kepala Arsip Nasional”, ungkapnya. Arsip dan dokumen-dokumen historis bukanlah artefak usang melainkan warisan bangsa yang sangat bernilai. Arsip nasional  bukanlah museum namun harus dikelola secara maksimal sehingga menjadi pusat aktivitas akademis yang terpandang. Tampaknya Muridan terinsipirasi dari perpustakaan di Universitas Leiden tempatnya menyelesaikan sekolah doktoralnya yang menghasilkan disertasi tentang Pemberontakan Sultan Nuku. Saya juga ingat ia selalu membanggakan kemampuan dirinya untuk membedakan kekhasan tulisan tangan dalam bahasa Belanda dari abad 16-18 sebagai bagian dalam usaha mencari data untuk disertasinya. Riset doktoralnya mendapatkan cukup perhatian dari publik Belanda sehingga pada hari ujian disertasinya diliput oleh media-media lokal.

Pengalamannya sekolah di Leiden sangat melekat di ingatan Muridan Widjojo. Ia beberapa kali bercerita tentang kedekatannya dengan Sardjio Mintardjo sewaktu kuliah di Universitas Leiden. Para mahasiswa Indonesia yang pernah tinggal dan belajar di Leiden pasti mengenal Pak Mintardjo. Dalam kunjungannya yang terakhir ke Belanda tahun lalu, Muridan menyempatkan untuk mengisi diskusi tentang Papua di rumah Pak Min. Pergaulan Muridan dengan orang-orang eksil yang tinggal di Belanda, membuat kami di Pusat Penelitian Politik LIPI memfasilitasi Ibrahim Isa untuk mengisi diskusi sewaktu beliau berkunjung ke Indonesia.

Pendekatan sejarah digunakannya untuk menguraikan persoalan di Papua. Satu dari empat poin utama akar konflik Papua yang ditulisnya di Papua Road Map: Negotiating The Past, Improving The Present, and Securing The Future (ISEAS, 2010) adalah sejarah integrasi dan kontruksi identitas politik di antara Papua―Jakarta. Ingatan orang Papua akan sejarah integrasi yang menyakitkan dan disalurkan terus-menerus dari generasi ke generasi akhirnya menubuh menjadi memori kolektif yang tidak bisa begitu saja bisa ditundukkan oleh kuasa represi negara. Perlu jalan dialog dengan Jakarta untuk menegosiasikan masa lalu secara damai.

Keteguhan sikap anti kekerasan Muridan itu tidak terlepas dari pengalaman masa kecilnya yang menyaksikan kekerasan fisik dan psikologis yang dilakukan negara. Sejak saat itu lah ia merasa bahwa kekerasan tidak akan menyumbangkan apa-apa selain traumatisme yang dapat melahirkan anak-anak kecil, generasi baru yang penuh dendam. Inilah yg selalu Muridan maksud akan bahaya terjadinya spiral kekerasan. Pengalaman akan kekerasan negara inilah yang juga menjadikannya oposan dalam garis politiknya. Ia adalah salah satu dari para penandatangan petisi peneliti LIPI yang menolak Suharto diangkat menjadi presiden kembali pada tahun 1998. Sebuah pilihan sikap yang penuh resiko mengingat status mereka saat itu adalah pegawai negeri.

Muridan mengerti dialog untuk perdamian adalah agenda yang sulit. Butuh kerja nafas panjang, lobi sana-sini, dihajar kritik kanan-kiri. Namun justru para pengritiknya adalah tujuan pertama perjalanannya. Ia diskusi habis-habisan dengan para ilmuwan yang anti dialog, menjalin persahabatan dengan tokoh-tokoh exile Papua seperti Victor Kaisepo di Belanda, naik turun lembah dan gunung untuk meyakinkan pemimpin-pemimpin OPM (Organisasi Papua Merdeka), dan tak bosan-bosannya meladeni pertanyaan para jenderal garis keras dan birokrat “NKRI Harga Mati” di Jakarta. Permintaan untuk memaparkan konsep dialog di Kantor Pusat Badan Intelijen Negara, Kalibata pun dipenuhi dengan senang hati.

Selain sejarah, pendekatan antropologi juga ia tekankan. “Gelas pecah di daerah pun, peneliti politik lokal harus tahu”, ucap Mas Muridan dalam beberapa kesempatan. Seorang peneliti politik lokal harus mampu untuk menelisik hingga detail kejadian. Kita harus mampu menangkap makna dari tiap tindakan melalui kacamata atau perspektif dari yang sedang diteliti. Membuka ruang untuk menampung suara yang berhak didengar: voice of the voiceless.

Bagaimana Muridan Widjojo turut mendamaikan perang 7 konfederasi di Kabupaten Jayawijaya 20 tahun lalu dikenangnya sebagai manfaat dari belajar antropologi. Keputusan untuk mau perang atau tidak bukanlah di tangan kepala suku namun para dukun. Hal ini yang selalu gagal dipahami oleh pemerintah saat itu. Namun sangat susah untuk mencari siapa saja yang menjadi dukun. Tak kurang akal, Muridan kemudian mengidentifikasinya dengan melihat siapa saja orang yang memegang ekor babi saat upacara adat. Dalam penelusuran akan praktik adat setempat, Muridan menemukan fakta bahwa pemegang ekor babi saat ritual tertentu diperuntukkan kepada para dukun atau shaman. Mereka inilah yang menentukan maju perang atau tidaknya. Muridan pun melobi dukun dari tiap suku untuk mau duduk berunding mengakhiri konflik.

Muridan mempunyai taktik yang menarik ketika melakukan lobi untuk keperluan dialog. Kalau yang dihadapinya orang Papua pegunungan maka yang diajaknya menemani adalah orang pegunungan. Sebaliknya jika yang dihadapinya orang Papua pesisir maka yang diajaknya juga orang Papua pesisir. Cara ini akan lebih baik lagi jika mereka ternyata satu fam. Pembicaraan akan lebih bisa diterima. Sensitivitas seperti ini tidak mungkin bisa dimiliki jika Muridan tidak menggunakan pendekatan kultural.

Kanker tak mampu menghabisi kegandrungannya akan penelitian lapangan. Walau sudah tak bisa lagi menelan makanan, Ia tetap bepergian ke sana-ke mari untuk melengkapi data yang diperlukan. Pernah sewaktu penelitian di Papua Barat, kami harus membuatkan jus dari buah-buahan terlebih dahulu dan membawa beberapa buah pisang sebagai bekal Mas Muridan di perjalanan. Saat itu kami harus mendata kembali jaringan kekeluargaan masyarakat Kaimana hingga ke pelosok-pelosok pesisir dengan menggunakan perahu.

Pendekatan sejarah dan antropologi inilah yang kemudian digunakan Muridan Widjojo untuk memahami persoalan di Papua. Analisa yang dibangun kemudian tidak ahistoris dan tidak berjarak dengan realita empirik. Papua dibaca dengan penuh penghormatan terhadap harga diri orang-orangnya dalam kerangka perdamaian.

Lebih jauh lagi, pada diri Muridan Widjojo lah kita bisa melihat dialog antara Papua dan Indonesia itu sendiri. Bagaimana Ia berusaha untuk mendefinisikan Indonesia di Papua dan Papua di Indonesia. Indonesia hadir di Papua bukan dengan prajurit, pos-pos serdadu, dan bedil. Indonesia seharusnya hadir dengan tersedianya guru, bangunan sekolah yang layak, rumah sakit dan dokter-perawatnya, serta pemenuhan hak dasar lainnya. Dengan demikian, Papua juga hadir di Indonesia karena sama-sama memiliki imajinasi kolektif atas Indonesia. Imajinasi yang mampu merawat kebersamaan.

Selamat jalan Mas.

Karena engkau telah menyantuni sejarah dengan sepenuh hati, maka kini sejarah yang akan merawatmu.

9 April 2014

* Peneliti Pusat Penelitian Politik—LIPI, sedang menyelesaikan program master di The Australian National University.

Baca Juga

beyonds

Hidup di Luar Tempurung

Oleh: Shah Priyanka Aziz   Ben Anderson, lahir di Tiongkok, sekolah di Eropa, diundang mengajar ...

Tanggapan

  • Hello, guest