Home / Topik / Esai / Sejarah dan Identitas orang Gorontalo (2)

Sejarah dan Identitas orang Gorontalo (2)

Gorontalo dalam Peta: Jan M. Pluvier

 oleh: Basri Amin *

 

Pada bagian ini saya kembali mencoba melanjutkan tulisan sederhana tentang Gorontalo. Jika sebelumnya saya menggunakan bahan-bahan empiris tentang catatan pengalaman bertemu dengan materi dokumen berupa kartu pos, catatan kali ini saya lebih memilih “atlas” atau “peta” sebagai sumber data dalam melihat sejarah orang Gorontalo. Semoga ini bisa menjadi bahan diskusi, juga barangkali sedikit menambah informasi, dan untuk selanjutnya dikembangkan lebih dalam oleh pembaca.

Adalah Jan M. Pluvier, setelah bertahun-tahun bekerja akhirnya berhasil membuat sebuah buku besar: Historical Atlas of Southeast Asia (Brill, 1995). Sebelum membuka-bukanya, hanya ada satu hal yang ada di pikiran saya: seperti apa Gorontalo yang ditampilkan oleh peta besar ini?

Tampak jelas, tepat di halaman awal Atlas Pluvier ini, secara rinci mewarnai Nusantara, dan pada wilayah pesisir Gorontalo di Teluk Tomini digambarkan sebagai wilayah pengaruh Majapahit sebagaimana pernah ditulis Prapanca (1350) dalam “Nagara Kretagama”. Sebelum itu, pada masa dimana tulisan belum dikenal di Nusantara, sumber-sumber Asia telah menempatkan Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi dalam pengaruh budaya Cina “Don Son”. Dalam soal migrasi penduduk, seluruh pulau Sulawesi dan umumnya wilayah Melayu diklaim sebagai termasuk lingkaran “migrasi Austronesia” (hal. 2).

Selanjutnya, pada halaman 16-17 Atlas Pluvier menampilkan sebuah garis melingkar yang menarik kita telusuri lebih jauh. Meskipun disebutkan bahwa proses Islamisasi di daerah ini berlangsung intensif karena adanya “rute perdagangan Asia Tenggara”, tapi khusus posisi Gorontalo tampak jelas di sana berada dalam kawasan persinggungan antara dua (2) jalur perdagangan maritim yang besar di masa itu, yakni, pertama, dari jalur Makassar (periode 1600) sebagai pusat ekonomi maritim di Sulawesi; dan jalur kedua, melalui Ternate yang jauh sebelumnya sudah memiliki persinggungan dengan jalur Brunei (periode 1500). Jalur kedua ini penting dicatat karena “titik perjumpaannya” tepat berada di depan wilayah Gorontalo, tepatnya di laut Sulawesi bagian Utara. Jalur ini langsung berhubungan dengan Selat Malaka. Dalam konteks teritorial yang sama, periode Kesultanan Sulu di Filipina juga sangat aktif memainkan peran pada periode ini. Tidak mengherankan, pada Atlas Pluvier juga mencantumkan dengan jelas bahwa Islam sudah hadir di Sulu pada 1450 Masehi, sementara di Ternate Islam masuk pada 1470 Masehi, sedangkan di Makassar sekitar 1600 Masehi. Jalur Islam cepat memasuki wilayah Ternate melalui Jalur Tuban-Gresik dan berkembang intensif melalui jalur perdagangan maritim ke kepulauan Maluku. Sebagian terpecah jalurnya ke Ambon, dan sebagian yang lain langsung menuju Ternate dan Tidore.

 

Islam Gorontalo dalam Peta

Tampak jelas bahwa peta ini mewarnai bahwa proses Islamisasi wilayah Gorontalo berlangsung pada periode abad ke-16. Dan kalau dilihat rute transmisinya, tampaknya jalur Ternate dan persinggungannya dengan “jalur Brunei-Malaka” merupakan periode yang dinamis dan berlangsung lebih awal dibandingkan dengan jalur Gowa-Makassar. Pada halaman 17 dan 19 tampak terang digambarkan dalam bentuk garis-garis wilayah pengaruh Kerajaan Maritim Gowa-Makassar pada abad ke-15. Dan Gorontalo “tidak berada” dalam garis kekuasaan Gowa/Makassar tersebut. Pengaruh perdagangan dan kekuasaan Gowa bermula dari bagian Selatan pulau Sulawesi, terus menuju Sumba, sebagian Sumbawa, daerah Bima, daerah luar Flores, terus berlanjut sampai ke Sulawesi bagian Tengah (Toli-Toli dan Buol) kemudian “garis pengaruh” Gowa ini belok menuju Kalimantan Timur.

Cukup “membanggakan” karena peta klasik Pluvier (abad 15) ini cukup jelas memberi “tanda” (noktah khusus) untuk beberapa wilayah penting di Sulawesi, yaitu: Gorontalo, Maje’ne/Mandar, Makassar/Gowa, Luwu’, Bone, Bantaeng, Banggai, Poso dan Butung. Hanya titik-titik penting inilah yang disebut pada abad ke-15. Manado dan Minahasa belum tertera dalam peta (hal.17). Sementara di Maluku Utara, hanya Ternate dan Tidore yang diberi noktah khusus.

Melengkapi data Gorontalo dari Atlas Pluvier yang mendokumenkan Asia Tenggara dengan rinci, saya kemudian membuka-buka sumber lain, sebuah Atlas Historis serupa karya Robert Cribb, “Historical Atlas of Indonesia” (2000). Dalam pandangan saya, meskipun Atlas Cribb relatif lebih rendah tingkat kerincian deskripsi kawasan dan garis-garis isu yang dipetakannya, tapi Atlas ini jelas sangat penting untuk mengkonfirmasi jaringan penyebaran Islam di Nusantara. Pada halaman 44, saya bisa melihat sebuah noktasi yang jelas tentang ekspansi Islam di Kawasan Timur Nusantara, di mana Gorontalo mengalami proses itu dalam jaringan-jaringan yang dinamis. Digambarkan bahwa pada mulanya ekspansi Islam ke Ternate, kemudian dari Ternate-lah ke Sulawesi. Ini berlangsung intensif sejak tahun 1460 Masehi. Ternate menerima Islam dari jalur Gresik yang telah menerima Islam sejak 1410 Masehi, sementara Demak (1480), Cirebon (1525) dan Banten (1525). Di pesisir Minangkabau, Islam masuk pada periode 1500 Masehi, sementara di Makassar pada periode 1600 Masehi (baca: halaman 44). Data ini cukup penting, karena kalau kita kembali melihat artefak Islam di Gorontalo saat ini, setidaknya di dua lokasi utama: di Masjid Hunto (tertulis 1495 Masehi?), dan di Masjid Boki Uwotango, Tamalate (1525 Masehi).

 

Gorontalo dalam peta (sumber: www.raremapsandbooks.com)
Gorontalo dalam peta (sumber: www.raremapsandbooks.com)

 

Lebih jauh, untuk memperoleh gambaran yang lebih memadai tentang Gorontalo, sebuah Atlas klasik Hindia Belanda yang lain, karya J. R. Van Diessen & R. P. G. A. Voskuil, “Stedenatlas NederlandsIndie” (1998), saya jadikan sumber pembanding untuk membuktikan sejauh mana periode kolonial berpengaruh dalam konstruk sosial dan spatial Gorontalo. Atlas ini khusus memuat semua peta kota dan tata ruang yang dirancang oleh Hindia Belanda di Nusantara. Sayangnya, Atlas Diessen dan Voskuil ini tidak memuat Gorontalo, lebih banyak menggambarkan kota-kota utama di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Kita tidak tahu mengapa Gorontalo tidak ada di dalam Atlas. Secara spekulatif bisa kita katakan bahwa Gorontalo belum sempat dirancang, atau karena faktor lain, misalnya karena Gorontalo tidak menjadi target utama penguasaan ruang di wilayah Hindia Belanda; atau bisa jadi karena Gorontalo (memang) tidak pada “posisi kunci” dari kepentingan ekonomi kolonial (melalui jaringan dagang). Semuanya bisa jadi. Tapi, yang jelas, ketidakhadiran peta kota dalam Atlas ini tidak serta merta menghilangkan pengaruh kolonial dalam tata ruang awal kota Gorontalo. Pada tulisan sebelumnya, saya merujuk tulisan J. Bastiaans (1939) tentang topik Kota Gorontalo.

 

Gorontalo dan Peta Kekuasaan

Dalam bacaan saya atas Atlas Pluvier, cukup meyakinkan bahwa hanya pengaruh kolonial Belanda yang mempengaruhi konstruk dan ekspansi teritorial Gorontalo di pulau Sulawesi. Dan kalau melihat jalur pengaruhnya, hal itu terjadi dari bagian Utara Sulawesi (Manado) pada tahun 1663 Masehi, tapi nanti 16 tahun kemudian, tepatnya 1679 Masehi baru pengaruh kolonial itu bisa sampai di Gorontalo. Sebuah peristiwa politik besar terjadi di Sulawesi pada pasca Perjanjian Bongaya (1667) dimana klaim pengaruh Ternate atas wilayah Sulawesi Bagian Utara, khususnya yang berada di kawasan Teluk Tomini (termasuk Poso, Todjo, Togian, Banggai, Luwuk, Moutong, dst.) secara politik diserahkan kepada pemerintah kolonial Belanda. Dalam faktanya, Belanda membutuhkan waktu cukup lama, 10 tahun (1677) untuk benar-benar bisa memperoleh penyerahan resmi tersebut. Tahun 1677 Masehi juga menjadi masa awal dari berakhirnya kekuasaan langsung Ternate atas wilayah Utara Sulawesi, meskipun hubungan lebih lanjut tetap terjadi di wilayah perdagangan dan interaksi budaya.

Bahkan, penguasaan yang benar-benar nyata, sebagaimana dipetakan oleh Atlas Pluvier ini nanti terjadi pada 1681 Masehi untuk wilayah Limboto–Gorontalo dan tahun 1681 Masehi untuk Boalemo. Sementara untuk Bolaang Mongondow tahun 1654 dan Manado 1679 Masehi. Tentu saja riwayat penguasaan ini mengalami pasang-surut dan suatu dinamika yang tidak sederhana. Tegasnya, wilayah Gorontalo relatif memakan waktu lama untuk bisa dikuasai secara langsung. Penjelasan tentang hal ini tentu membutuhkan ruang dan sumber data yang lain karena tidak mungkin bisa dijelaskan oleh sebuah Atlas Kawasan.

Halaman 30 Atlas Pluvier kemudian menunjukkan sebuah perubahan pada abad 17, di mana Gorontalo tampil menjadi salah satu pelabuhan utama dalam peta jaringan perdagangan Eropa. Walaupun Makassar dan Manado lebih berposisi sebagai pelabuhan utama di Sulawesi. Atlas Pluvier lebih lanjut merinci Atlas kekuasaan kolonial di Sulawesi dalam bahasa “pemerintahan langsung” (hal.40). Dikatakan bahwa sebuah relasi disebut langsung dan berpengaruh besar ditandai oleh dua hal, yakni ketika kolonial menempatkan asisten residen atau controleur di sebuah wilayah dan membuat perjanjian-perjanjian yang mengikat dengan otoritas lokal (terutama dengan raja). Atlas ini menandai bagaimana peta penguasaan langsung kolonial itu di wilayah Gorontalo (tahun 1816) dan melalui strategi (perjanjian mengikat) pada 1824, dan secara mutlak di bawah kekuasaan langsung pada tahun 1889 Masehi. Bedanya dengan daerah-daerah lain, periode penguasaan langsung itu cenderung terjadi lebih awal dan bahkan ada yang berulang-ulang, misalnya Bolaang Mongondow (tahun 1825, 1858, 1895 dan 1905 Masehi). Demikian juga untuk daerah Palele, Moutong, Buol, Toli-Toli dan Donggala, mereka mengalami suatu periode penguasaan yang berlain-lainan. Sementara Minahasa, penguasaan mutlak kolonial Belanda itu sudah terjadi sejak 1816 Masehi.

Atlas Pluvier juga memberi gambaran tentang migrasi Chinese di wilayah Sulawesi. Migrasi ini berlangsung intensif pada periode 1940-an. Gorontalo termasuk daerah yang menerima migrasi ini, selain Makassar dan Manado, tapi polanya tidak berlangsung intensif dan tidak begitu terkonsentrasi. Sejak 1940-an, gambaran yang diberikan oleh Atlas klasik ini mulai berubah. Gorontalo tidak lagi begitu tampak dengan noktah-noktah dan garis-garis khusus, dan mulailah titik-titik teritorial baru muncul. Di Sulawesi misalnya, dalam peta yang ada, Makassar dan Manado tetap dominan, kemudian ditambah oleh Enrekang dan Kendari.

Sebuah Atlas klasik, seperti yang dibuat oleh Pluvier ini tentu bisa dilihat dari berbagai sisi. Atlas atau Peta bisa dianggap barang “mati”, tapi ia bisa “hidup” sekaligus, yakni ketika sebuah konteks historis dan tafsiran zaman menjadi senter yang aktif untuk memberinya terang kemudian membubuhkan penjelasan dan perbandingan atasnya. Entah oleh pencermatan atas suatu masa dan isu tertentu, atau oleh sebuah kesadaran dan upaya baru oleh generasi yang baru. (© Basri Amin, Mei 2011)

 

* Penulis adalah kandidat Ph. D. Antropologi, Universitas Leiden.

 

Kamis, 26 Mei 2011

 

Selanjutnya:

Sejarah dan Identitas orang Gorontalo (3-Habis): Gorontalo dalam Dokumentasi Perang Pasifik

 

 

 

Baca Juga

tugu-jogja

Bagaimana Rasanya Takut?

Prima Sulistya Wardhani* 21 AGUSTUS 2014. Kami sedang mengobrol di teras asrama mahasiswa Halmahera Tengah ...

Tanggapan

  • Hello, guest
  • tulisan yang langka tp kontennya ok banget, tulisan yang lain tentang gorontalo khusus sejarah perdagangan di gorontalo ada pak basri…. ???