Home / Topik / Esai / Sejarah dan Identitas orang Gorontalo (3-Habis)

Sejarah dan Identitas orang Gorontalo (3-Habis)

Gorontalo dalam Dokumentasi Perang Pasifik

oleh: Basri Amin *

 

Dalam karya seminal terbaru Peter Post dan kawan-kawan (2010), The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War, Gorontalo memperoleh tempat istimewa, tepatnya di halaman awal ensiklopedi ini (hal. 13, 24–25). Karya setebal 713 halaman ini dikerjakan selama hampir 10 tahun (penelitian sejak 2000) oleh puluhan sarjana dunia dari Eropa, Asia, Australia, dan Amerika. Tujuannya untuk mengungkap tabir gelap dari perang Pasifik, khususnya ketika Jepang berkuasa selama 3,5 tahun. Karya yang diedit oleh Peter Post (VU, Amsterdam), William Frederick (Ohio, USA), Iris Heidenbrink (The Hague, Netherlands), dan Shigeru Sato (Griffith University, Australia) cukup pantas kita hargai dan pelajari, terutama karena kita belum punya pengetahuan memadai tentang Pasifik periode 1930-an/1940-an, kecuali melalui karya G. S. S. J. Ratulangie, Indonesia di Pasifik (terjemahan, 1982).

Catatan ini bermaksud membahasnya secara terbatas. Saya belum berhasil membaca ensiklopedi ini seluruhnya karena keterbatasan waktu, dan memang saya tak bisa membawanya keluar perpustakaan karena demikianlah kebijakan KITLV Leiden untuk setiap buku baru yang “eksepsional”.

Perang Pasifik dikenal sebagai salah satu perang terburuk yang pernah dialami oleh bangsa Asia, Indonesia pada khususnya. Meski demikian, semua bangsa yang terlibat, pada akhirnya bisa dikatakan sebagai ”korban” perang brutal itu (1942–1945). Bermula dari sebuah janji dan harapan, terutama oleh jargon Jepang sebagai ”cahaya Asia”, atau ”Asia untuk orang Asia”, tapi semuanya berakhir dengan zaman kegelapan, penderitaan, kelaparan, dan kebingungan. Bagi bangsa Jepang sendiri, periode itu dikenal sebagai masa ”mimpi besar”, tapi akhirnya hanya berbuah kekalahan dan penyesalan. Ketika itu, kekaisaran Jepang seperti tak berbekas dan hilang muka dalam pentas dunia. Dan tak ada kata yang cukup untuk bisa menjelaskan sejauh mana penderitaan manusia dan brutalisme yang terjadi antara 1942–1945. Militer jepang yang mati lebih dari 1.555.308. Ratusan ribu pasukan Indonesia yang membantu militer Jepang (romusha) ikut terbunuh (Post, 2010: 1).

Djepang Tjahaja Asia (www.schizodoxe.com)
Djepang Tjahaja Asia (www.schizodoxe.com)

Dalam memori masyarakat Indonesia, periode Jepang dikenal dengan ”masa kegelapan dan penderitaan”. Tapi pada masa itu pula ”kemerdekaan Indonesia” berhasil diproklamasikan (1945). Sejauh ini, penulisan tentang Perang Pasifik relatif terpisah-pisah, bahkan lebih banyak berpusat di/tentang Jawa, atau berdasarkan perspektif yang sepihak dari setiap bangsa yang terlibat (Jepang, Belanda, Amerika [sekutu] dan Indonesia). Jepang sendiri sangat intensif menjadikan periode Pasifik sebagai bagian dari sejarah penting mereka. Tak heran kalau Jepang sudah berhasil mendigitalisasi dokumen mereka sebanyak 14.300.000 dokumen (2008), meski dokumen tersebut sudah bisa diakses oleh publik sejak 2001. Di Belanda, proyek ”oral history” sudah berjalan sejak 1997 sampai 2001, dengan hasil wawancara 724 orang –dari berbagai latar belakang– yang dulunya pernah tinggal di Indonesia pada periode 1930-an hingga 1960-an. Meski banyak dokumen yang ada di Belanda sendiri untuk periode Jepang itu lebih banyak bersifat ”propaganda”.

Australia sendiri punya proyek khusus, tapi hanya secara khusus memberi perhatian tentang peran Australia di Pasifik, dan sedikit menyentuh Jawa dan Sumatera. Di Indonesia, hanya Universitas Hasanuddin di Makassar yang tercatat punya proyek riset (oral history) tentang pendudukan Jepang di Sulawesi Selatan, yang kemudian dibantu oleh Universitas Tokyo sehingga rekaman itu akhirnya berhasil ditranskripsi dan didigitalisasi.

Ensiklopedi ini disebut seminal karena cakupan data (fakta, kronologi, konteks, dan peristiwa) dan analisis yang berhasil dilahirkannya, serta keterlibatan banyak pihak pada periode penelitian yang cukup panjang. Lebih dari itu, karya ini banyak merekam tentang ”pengalaman nyata” sehari-hari dari pihak-pihak yang terlibat atau yang mengalami masa pahit itu. Data lisan dan visual lumayan seimbang ditampilkan, termasuk sejumlah foto, puisi, gambar majalah, sketsa, kartun, manuskrip, dst.

Editor mengakui bahwa ensiklopedi ini punya kekurangan, terutama soal sumber-sumber lokal yang tidak begitu tercakup dengan baik, misalnya tentang Jepang di Sulawesi dan Kalimantan. Hal ini disebabkan, menurut temuan para peneliti ini, bahwa kekuasaan Jepang hanya sekitar dua tahun di daerah luar Jawa dan Sumatera, dan tidak pernah sepenuhnya berhasil mewujudkan sebuah administrasi militer Jepang karena hebatnya serangan sekutu. Sementara di Jawa dan Sumatera nyaris tak ada perlawanan sengit.

Keterbatasan lain yang saya temukan adalah bahwa rupanya peristiwa ”23 Januari 1942” Gorontalo belum berhasil masuk (tercatat) dalam daftar tabel kronologi (peristiwa) pada tahun 1942. Padahal Kendari, Balikpapan, Bima dan Ambon, disebut dengan jelas masing-masing pada tanggal 16, 24, 26 dan 31 JANUARI 1942. Karena itu, adalah tugas kita untuk menyebarkan tulisan-tulisan akademik bermutu Gorontalo agar publikasi-publikasi Asia Tenggara/Pasifik berikutnya bisa lebih utuh ”memberi tempat” bagi Gorontalo.

 

Menempatkan Gorontalo dalam Konstelasi Perang Pasifik

Ensiklopedi ini menuliskan dengan jelas dan secara khusus bahwa “pada periode Desember 1941 sampai Maret 1942, Jepang relatif sudah menguasai beberapa lokasi di Indonesia dan memperoleh impresi dari penduduk setempat. Dan hanya di Gorontalo dan Aceh pada masa itu di mana penduduknya melakukan pemberontakan kepada penguasa kolonial Belanda” (halaman 13).

Selanjutnya, bagaimana masa Jepang itu tergambarkan secara lokal di Gorontalo? Sebanyak 250 baris Tanggomo Gorontalo merupakan suatu kesaksian kolektif penting yang mengungkapkan bagaimana penderitaan rakyat, kebingungan, korban-korban, dan kekerasan yang terjadi pada masa pendudukan Jepang di Gorontalo. Adalah Temey Sahala, penutur Tanggomo yang sangat terkenal, lahir 1903 di kampung Talumopatu, yang berhasil mengungkapkan suasana batin itu dalam bait-bait Tanggomo. John Little, dari Universitas Wisconsin, Madison, Amerika Serikat, yang kemudian menyalinkannya dalam bahasa Inggris yang hingga kini masih sering dirujuk orang. John Little adalah peneliti Bahasa Gorontalo tahun 1970-an.

Selain itu tercatat pula sebuah tulisan singkat John Little and Hamzah Machmoed, A Gorontalo (North Celebes) Poet Chronicler: the Work of Temey Sahala (Manuli), dalam prosiding konferensi “Modern Indonesia History” oleh The Center for Southeast Asian Studies at the University of Wisconsin–Madison, USA (July 18-19, 1975: 132–170). Tulisan John Little dan Hamzah Machmoed tersebut tergolong cukup panjang, dan berhasil menguraikan dimensi-dimensi ingatan kolektif masyarakat Gorontalo –tentang beberapa peristiwa penting di masa lalu seperti kedatangan Gubernur Jenderal Belanda, perjuangan Nani Wartabone, Permesta di Gorontalo, hingga perang pasifik, yang diekspresikan melalui penuturan lisan-puitis, Tanggomo, dan menguraikan sejumlah keterangan tentang isi dan makna Tanggomo ini dalam kehidupan masyarakat Gorontalo. Dalam pelacakan saya, mungkin paper 1975 itulah yang bisa disebut sebagai tulisan pertama tentang Gorontalo yang ditampilkan dalam forum ilmiah Asia Tenggara di Amerika Serikat. Dan kita patut bangga karena Hamzah Machmoed adalah putra Gorontalo sendiri (kini sebagai guru besar bahasa di Universitas Hasanuddin).

Semoga catatan sederhana ini bisa menjadi bahan kajian lebih lanjut untuk memperkaya pengetahuan dan memperkuat agenda-agenda peradaban Gorontalo yang lebih progresif dan utuh, demi kemajuan bersama. Banyak karya-karya tulis di dunia sudah berhasil “memberi tempat” bagi Gorontalo, terutama untuk karya-karya lokalnya, dalam bidang sosial budaya dan humaniora, selain kajian sumber daya alam dan studi-studi pembangunan. [ ] (© Basri Amin, Juni 2011)

 

* Penulis adalah kandidat Ph. D. Antropologi, Universitas Leiden.

 

Rabu, 15 Juni 2011

 

 

E S A I

 

 

 

Baca Juga

tugu-jogja

Bagaimana Rasanya Takut?

Prima Sulistya Wardhani* 21 AGUSTUS 2014. Kami sedang mengobrol di teras asrama mahasiswa Halmahera Tengah ...

3 Tanggapan

  • Hello, guest