Home / Topik / Esai / Sejarah dan Identitas orang Gorontalo (1)

Sejarah dan Identitas orang Gorontalo (1)

Gorontalo dalam Kartu Pos: Koleksi Han Kian Lim

oleh: Basri Amin *

 

Catatan ini adalah sebuah narasi sederhana tentang Han Kian Lim dan koleksi kartu pos Gorontalo, 1898–1930-an. Hampir tidak ada orang yang pernah melihat koleksinya secara langsung, apalagi menyentuhnya. Dia adalah kolektor (deltiologist) profesional. Dia melayani berbagai permintaan dari bermacam kolektor, pengelola museum, para ahli dan peminat, perorangan dan lembaga-lembaga penerbit di seluruh dunia. Di Asia, salah satunya adalah Professor Cheah Jin Seng, Direktur Museum Kartu Pos Singapura. Kini Han Kian menjual koleksinya dengan cara online, tepatnya di: ebay.com

Setelah hampir dua tahun menjalin hubungan, saya akhirnya bisa bertemu dengan Han Kian Lim di rumahnya, di kota Tilburg, bagian selatan Belanda, Sabtu 23 Mei 2009. Han Kian adalah salah satu kolektor untuk foto dan kartu pos dunia yang punya nama untuk wilayah Asia, khususnya Indonesia. Profesi sebagai kolektor sudah dijalaninya lebih dari 25 tahun. Saat ini ia memiliki koleksi foto dan kartu pos sekitar 7000-an, dan sekitar 2.200 kartu pos bertema Indonesia, di antaranya adalah “kartu pos Gorontalo”. Setelah dua jam berbincang-bincang dengannya, sambil dia memperlihatkan koleksi-koleksi Gorontalo-nya yang “asli”. Saya kemudian meminta izin untuk mencatat beberapa hal yang dia perkenankan, termasuk memintakan jawaban atas beberapa pertanyaan saya tentang kartu pos Gorontalo.

Han Kian menjemput saya di stasiun Tilburg, setelah naik kereta hampir dua jam dari kota Leiden. Kemudian dengan berjalan kaki kami menuju rumahnya, sekitar 10 menit tiba. Dalam perjalanan itulah dia mengatakan kepada saya, “… sebenarnya tidak ada orang yang bisa melihat langsung koleksi saya. Karena ini bukan museum dan galeri karya seni. Tapi Anda datang dari jauh-jauh, jadi saya membuat pengecualian. ..kalau tahun lalu Anda lihat photo copy-nya, hari ini Anda akan lihat aslinya …”.

Koleksi Gorontalo disimpannya dalam satu album tersendiri, bersama koleksi Sulawesi lainnya. Tak sempat saya menghitung jumlah pastinya, tapi menurut pengakuan Han Kian ada 65 lembar “kartu pos Gorontalo”. Sayang saya tidak bisa begitu saja bertindak progresif melihat ulang-ulang dan menyentuh koleksi Han Kian. Ini adalah “barang langka” yang memiliki kisah yang sangat sulit –selama 25 tahun dia mengumpulkannya di seluruh penjuru dunia– dan dunia seni, ilmu dan sejarah begitu menghargai pekerjaannya. Setiap kali Han Kian membuka koleksinya, dia lakukan dengan ekstra hati-hati dan sepenuh jiwa. Sekali waktu dia “menegur” saya karena tangan saya menyentuh lapisan plastik pengaman di album kartu pos-nya dengan agak keras. Itu bisa membuatnya lecet, bahkan permukaan asli kartu pos bisa berubah. Saya meminta maaf padanya, sambil berkata “saya agak gugup melihat koleksi Anda tentang Gorontalo… ”

Koleksi Han Kian Lim tentang Gorontalo belum di-katalog-kan dengan baik. Kita belum bisa mendapatkannya dengan online. Harganya pun relatif belum ada. Tapi saya yakin, kelak, ketika dia menjual sebagiannya, pasti harganya tidak akan jauh dari harga-harga kartu pos-nya yang lain. Di ebay.com, harganya bervariasi, ada yang harganya puluhan dollar, dan cukup banyak yang ratusan dollar per buah.

Saya terus kuatkan hati saya untuk menunggu keikhlasan Han Kian untuk memberi momen kepada saya untuk bisa sedikit mencatat dan bertanya padanya tentang kartu pos Gorontalo. Saya bahkan tidak membawa cangkir kopi saya di meja kerjanya karena khawatir kopi tersebut tumpah dan merusak koleksinya. Saya menyimpan tas di sudut ruangan koleksinya, demi menghindari “godaan” atau “tuduhan” kalau-kalau ada yang hilang di ruangan koleksinya. Tapi, saya selalu merasa apalah artinya kalau hanya saya yang bisa melihat dan merasakan bagaimana Gorontalo di akhir abad 19 dan di awal abad 20 “bersentuhan” dengan dunia luar, melalui foto dan kartu pos. Niat saya adalah menghasilkan catatan yang bisa dibagi kepada publik tentang kartu pos Gorontalo.

Inilah catatan ringkasnya. Sebuah kartu pos tertanggal 20 Oktober 1898 dikirimkan dari Gorontalo ke Berlin, Jerman. Kartu pos ini bergambarkan suasana teluk Gorontalo dengan gambar kapal di pelabuhan. Kartu pos ini tiba di Berlin tanggal 12 Desember 1898. Ada juga kartu pos yang dikirim dari luar, misalnya dari Switzerland tanggal 28 Juli 1926 dan tiba di Gorontalo 20 Agustus 1926. Kartu pos menarik lainnya dikirimkan oleh Takao Yamada dari Sapporo, Jepang kepada Yo Seng Po di Gorontalo. Dalam kartu-kartu pos ini, alamat tujuan di Gorontalo tanpa nomor, hanya alamat umum saja: Gorontalo, Nederlands Indie. Mengapa? Tentu saja karena kita belum punya sistem alamat ketika itu, selain jumlah penduduk kelas menengah, keluarga asing yang sangat kecil, jadi setiap orang nyaris kenal satu sama lain.

Yo Sing Po mengirimkan kartu pos “ucapan tahun baru” dari Gorontalo ke Gymar Anderson, teman klub filateli-nya di Chicago, Amerika Serikat, 20 Desember 1930. Kartu tersebut tiba di Amerika dua bulan kemudian, 5 Februari 1931. Sebuah kartu pos bergambar Masjid Besar Baiturrahim Kota Gorontalo tertanggal 23 Februari 1935 dikirim oleh Jo Sen Kay ke Arnaldo Ghisla di Argentina.

 

Teluk Gorontalo, 1880 (koleksi KITLV)
Teluk Gorontalo, 1880 (koleksi KITLV)

 

Gambar-gambar Gorontalo yang ditampilkan setiap kartu pos bermacam-macam. Mulai dari suasana pelabuhan, teluk Gorontalo, rumah asisten residen, sekolah Belanda, Masjid Baiturrahim, Kampung Bugis, Kampung Cina, gambar gudang pelabuhan, ekspedisi KPM di Togean, sungai dan jembatan Talamolo, sungai Bolango, sungai Bone, jembatan Potanga dan danau Limboto. Juga ada suasana pasar, kantor polisi, pelabuhan Kwandang, penduduk Gorontalo, kuda-kuda dan kerbau mereka dan suasana banjir di pusat kota tahun 1930-an.

 

Kota Gorontalo dilihat dari perbukitan, 1910 (koleksi KITLV)
Kota Gorontalo dilihat dari perbukitan, 1910 (koleksi KITLV)

 

Gorontalo, 1919 (koleksi KITLV)
Gorontalo, 1919 (koleksi KITLV)

 

Tampaknya periode 1920–1930-an cukup ramai pendatang asing di Gorontalo, begitu juga dengan warga asing di Gorontalo sendiri. Tercatat ada dua perusahaan percetakan ketika itu di Gorontalo: Yo Un Ann dan Liem Ka Soet. Melihat koleksi postcards Han Kian, tampaknya periode 1920/1930-an adalah sebuah masa yang sangat aktif bagi warga asing untuk berinteraksi dengan dunia luar, bukan hanya karena intensitas perdagangan (era kolonial) yang meluas, tapi juga karena adanya fasilitas pelayaran yang menyokong terciptanya pertukaran akan “kebutuhan rasa ingin tahu” dari masyarakat Barat. Melalui perusahaan ekspedisi/navigasi kerajaan Belanda bernama KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), maka lalu lintas pelayaran laut kian intensif ke/dari pelabuhan Gorontalo.

Sebagian pendatang dan sebagian warga asing di Gorontalo akhirnya menjalin pertukaran pengalaman mereka dengan dunia luar melalui pesan-pesan gambar dan tulisan, melalui kartu pos terutama. Ini wajar karena pada zaman itu belum ada telepon, apalagi internet. Transportasi utama juga masih menggunakan jalur laut. Para warga asing bisa menggunakan kapal-kapal KPM untuk mengunjungi daerah-daerah koloni Belanda ketika itu, meskipun tidak semua penumpang kapal adalah warga Belanda. Menurut keterangan Han Kian Lim, ternyata di atas kapal KPM inilah mereka-mereka yang berada di first class, mereka menerima semacam daftar menu setiap jadwal makan mereka di atas kapal. Saya sempat melihat dua contoh “daftar menu” yang dikoleksi Han Kian. Dan telah dirancang sedemikian rupa pada bagian atas lembaran daftar menu itu terdapat sebuah lipatan kartu pos yang mereka bisa potong untuk kemudian mereka kirimkan kabar perjalanan mereka tentang Gorontalo ke teman-teman anggota klub-nya di seluruh dunia. Itulah sebabnya, tidak mengherankan kalau kartu pos ini “diburu” dan “ditemukan” oleh Han Kian Lim dalam kunjungan-kunjungan dia ke tempat-tempat koleksi dan toko-toko buku tua di seluruh dunia, termasuk melalui jaringan profesional dia sebagai kolektor foto dan kartu pos. Kartu pos juga seringkali disimpan oleh kalangan keluarga tertentu, bahkan dijadikan sebuah album sendiri.

Han Kian misalnya berhasil menemukan beberapa kartu pos yang dikirimkan dari Gorontalo di Jepang, di Argentina, di Amerika, di Switzerland dan di Belanda sendiri; sebagiannya lagi dia peroleh dari koleksi keluarganya yang beberapa generasi sebelumnya pernah tinggal di Gorontalo dan Manado. Tapi, Han Kian tidak memperolehnya dengan mudah dan gratis. Hampir 25 tahun dia menjalani profesinya sebagai kolektor Asia. Sebagai kolektor, dia tidak hanya fokus pada foto dan kartu pos. Bahan-bahan apa saja yang menarik pasti dia kumpulkan. Misalnya, sebuah majalah “Indie” tahun 1917 yang di dalamnya ada tulisan tentang Gorontalo oleh G.F.E. Gonggrijp berhasil pula dia koleksi. Dan yang agak lucu, sebuah “patung kecil penari Gorontalo” berhasil dia temukan dan beli di Amerika beberapa tahun yang lalu –mungkin ini dulunya dibeli oleh wisatawan, atau karena sebab lain?–.

Dan yang lebih menarik lagi adalah koleksi dia berupa sebuah peta klasik dari Von Hovell (abad 17) tentang wilayah Gorontalo dan Kwandang. Peta ini lumayan rinci menyebut seluruh kampung-kampung utama di Gorontalo dengan lokasi yang sangat terang. Temuan lain yang menarik adalah sebuah koleksi “surat saham Paguat” –bentuknya seperti ijazah– dari sebuah perusahaan tambang emas di Gorontalo yang berkedudukan di Amsterdam. Operasi bisnis perusahaan ini sejak 1898, tapi kemudian akhirnya berhenti 1915 karena deposit emas di Paguat dianggap kurang memadai. Koleksi lainnya, sebuah buku intelijen Belanda menjelang perang dunia kedua, di dalamnya juga terdapat informasi tentang Gorontalo. Yang paling baru dari koleksinya adalah sebuah buku catatan perjalanan oleh Louis L’Amour (1989) yang berjudul “West from Singapore”. Gambar sampulnya adalah sebuah foto lama pelabuhan dan Teluk Gorontalo. Bagian awal buku ini berjudul “Gorontalo”, meskipun isinya hanya bercerita tentang suasana pelayaran kapal.

Han Kian Lim adalah salah satu kontributor buku ekslusif, Indonesia: 500 Early Postcards karya Leo Haks dan Steven Wachlin (2004, Archipelago Press, Singapore). Dalam buku ini tampil sebuah kartu pos Gorontalo bergambar “suasana kampong dan penduduk setempat yang sedang menunggang kuda dan sebagiannya lagi berdiri” (hal. 258). Han Kian Lim tidak keberatan kalau koleksi-koleksinya ini kelak bisa menjadi “milik” Gorontalo, terutama menjadi koleksi museum daerah. Dia pun mau berbagi cerita dan akan terus memburu benda-benda berharga ini sepanjang karir dia. Sebuah koleksi panjang kartu pos mungkin tidak akan mampu menjawabnya. Tapi satu hal yang patut direnungkan: suatu masyarakat yang tidak pernah tahu masa lalunya dengan baik tak akan pernah bisa mengenali dirinya sendiri, juga tidak akan bisa mampu mengenali arah masa depannya. (© Basri Amin, Mei 2011)

 

* Penulis adalah kandidat Ph. D. Antropologi, Universitas Leiden.

 

Kamis, 19 Mei 2011

 

Selanjutnya:

Sejarah dan Identitas orang Gorontalo (2): Gorontalo dalam Peta: Jan M. Pluvier

 

 

Baca Juga

tugu-jogja

Bagaimana Rasanya Takut?

Prima Sulistya Wardhani* 21 AGUSTUS 2014. Kami sedang mengobrol di teras asrama mahasiswa Halmahera Tengah ...

11 Tanggapan

  • Hello, guest