ETNOHISTORI

Sejarah Masuknya Islam ke Masyarakat Wamena-Papua (2)

oleh: Ade Yamin *

 

Data tertulis tentang kontak pertama antara orang Dani dengan Agama Islam tidak banyak tersedia, namun berdasarkan penuturan dari beberapa informan, disimpulkan kontak pertama antara orang Dani dengan ajaran Islam dimulai pada saat Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia membentuk relawan yang disebut Pelopor Pembangunan Irian Barat (PPIB) yang diterjunkan ke seluruh pelosok Papua, untuk mempersiapkan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) Tahun 1969. Para relawan yang dikirim ke Papua Barat dan menjadi bagian PPIB di Kabupaten Jayawijaya tahun 1962, sebahagian besar atau bahkan barangkali seluruhnya beragama Islam, dan berasal dari Jawa Tengah. H. Maskur Adam, salah seorang pemuka Umat Islam Jayawijaya menjelaskan,

“…..kita pemerintah baru masuk di sini, sekitar tahun 1962, kita baru memulai pemerintahan, belanda sendiri tidak sempat melakukan kegiatan pemerintahan yang baik, hanya membentuk pos-pos yang pertama di sini waktu itu, tahun 1962 Irian Barat sudah kembali ke pangkuan ibu pertiwi, Belanda sudah meninggalkan Irian Barat, kita sudah masuk, mulai di situlah kita proses politik Irian Barat waktu itu, Indonesia memulai kekuasaannya di Irian Barat. Tahun 1962 sebelum Pepera itu Pemerintah Republik Indonesia itu mengirim sejumlah orang yang namanya disebut sebagai Pelopor Pembangunan Irian Barat (PPIB), yang masuk duluan dan berpusat di Megapura, yang di Musa Wetipo itu. Mulai dari situlah mereka mulai mengenal agama Islam, karena mereka yang dikirim kemari adalah orang-orang yang dari Jawa, dan pada umumnya beragama Islam, mereka melaksanakan ibadah, kemudian pada waktu itu, petugas petugas pemerintah yang sudah datang di Jayawijaya, ada yang tentara, polisi, maupun sipil itu beragama Islam, yah di sinilah mulai terjadi sosialisasi agama Islam.”

 

Hal yang sama juga disampaikan oleh Karsiman Yaleget meskipun berbeda dalam penyebutan tahun, menceritakan proses masuknya Islam di Wamena dimulai pada tahun 1965,

“Pertama kali Islam ini dibawa ke Wamena oleh orang Jawa yaitu dari Jawa Tengah, namanya Pelopor Pembangunan Irian Barat (PPIB), atau dapat kita sebut saja transmigran, dari Jawa dikirim ke sini sekitar 38 kepala keluarga, ketua rombongannya itu bapak angkat saya, H. Marwan, tahun 1965, ditempatkan langsung di Megapura, tugas mereka waktu itu selain sebagai pelopor Pembangunan Irian Barat (PPIB), tapi juga mengamankan masyarakat yang masih terlibat perang suku waktu itu, nah sambil mengamankan itu mereka lalu mengembangkan Islam, lalu masjid pertama kali dibangun di Wamena ini adalah masjid Baiturrahman yang di YAPIS itu dengan tiang kayu buah dan atap alang-alang, dan dinding papan.”

 

Kronologis yang lebih rinci diceritakan oleh bapak Musa Wuka, bagaimana proses atau kontak pertama masyarakat dengan ajaran Islam yang terjadi di dusun beliau:

“…, pada tahun 1968, ayah saya bersama 6 orang kepala suku ke Jakarta, 6 orang kepala suku ini ketemu dengan presiden Sukarno, orang tua saya berbincang-bincang dengan Presiden Sukarno, bahwa di daerah saya ini selalu perang, makan orang, kalau bisa kirim masyarakat sini ke Papua, beliau setuju, akhirnya dia siapkan sebanyak 50 orang, dari Jateng semua, dia campur dari perikanan, perkebunan, pertukangan, pertanian, guru, yang berhasil ke sini 35 orang, yang 15 orang takut, karena bapak saya sudah cerita ke mereka, bahwa orang Papua itu musuhnya dia seret ke kebun kemudian dia potong-potong makan, akhirnya yang 15 orang keberatan, mereka awalnya masuk ke wilayah ini (Megapura), ada yang masuk di SMP di sana (Kirikora), ada yang di sini (Sinata)..”

 

Dari berbagai informasi yang didapatkan di atas, memang terdapat perbedaan penyebutan tahun, namun dapat dibuat beberapa benang merah menyangkut siapakah orang-orang yang membawa Islam ke jantung Pegunungan Tengah Papua. Orang-orang yang membawa Islam itu adalah para tenaga pemerintahan yang berasal dari Jawa tengah, kedatangan mereka bukan dengan misi penyiaran agama, tetapi dengan misi pengamanan kepentingan negara, yaitu menyukseskan Penentuan Pendapat Rakyat, dan mengamankan masyarakat yang sedang terlibat perang suku.

Islam masuk ke Wamena diperkirakan terjadi antara 1962–1968, aktivitas kegiatan ke-Islam-an pertama di Wamena terpusat di Megapura, salah satu kampung yang terdapat pada Distrik Assolokobal, dimana para anggota PPIB ini membangun surau-surau kecil untuk melaksanakan ibadah (shalat 5 waktu). Aktivitas shalat yang dilakukan oleh para anggota PPIB memancing rasa keingintahuan warga dusun akan apa yang mereka lakukan, bermula dari rasa ingin tahu tersebut, beberapa anak muda Dani kemudian akhirnya ikut terlibat dan menjadi pemeluk Islam. (© Ade Yamin, 2011)

 

11 Mei 2011

* Dosen STAIN–Al Fatah, Jayapura.

 

Selanjutnya: Generasi Pertama Orang Dani Pemeluk Islam

 

Edisional Etnohistori & Papua

 

 

 

 

 

0 Tanggapan

    • Hello, guest

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org