Home / Topik / Catatan / Sekelumit Kisah tentang Orang-Orang Terbuang

Sekelumit Kisah tentang Orang-Orang Terbuang

 

Suatu sore yang cerah di pinggir pantai Colombo, Sri Lanka. Dua orang tengah berjalan-jalan menikmati pemandangan laut sembari berbicara dengan mimik serius. Mereka bukan orang Sri Lanka atau India meskipun salah satu di antaranya memiliki perawakan dan kulit tubuh hampir sama dengan penduduk asli, sementara yang satunya jelas-jelas orang kulit putih. Mereka adalah Ali Chanafiah, duta besar Indonesia di Sri Lanka, dan pejabat Partai Komunis Uni Soviet (PKUS).

Akhir tahun 1965. Di negeri Ali Chanafiah sebuah prahara politik merenggut ratusan atau bahkan ribuan nyawa. Berita-berita yang sampai pada mereka simpang-siur. PKI, dijadikan kambing hitam dan dicap melakukan kudeta. Perang saudara membayang di depan mata. Orang-orang yang dianggap berafiliasi pada PKI dan dianggap Soekarnois mengalami nasib tak menentu. Di pantai Colombo itulah mereka membicarakan kemungkinan suaka politik yang dibutuhkan oleh Ali Chanafiah.

Ali Chanafiah adalah seorang kader dari Partai Komunis Indonesia. Ia adalah satu dari ribuan orang yang menjadi eksil, yaitu orang yang ada dalam pengasingan atau pembuangan. Mereka berada diluar negeri karena dianggap bagian dari PKI atau pendukung loyal Soekarno. Jika dia kembali ke Indonesia mungkin penjara dan penyiksaan sudah siap menantinya. Karena tak ingin mengambil resiko, setelah diskusi panjang dengan pejabat Partai Komunis Uni Soviet itu, akhirnya dia mencari suaka politik ke pemerintahan Soviet. Di pinggir pantai Colombo yang indah itulah ia tengah menimbang-nimbang senjakala hidupnya sebagai warga Indonesia yang terhormat dan memulai sebuah perjalanan yang tak ia ketahui akan berakhir seperti apa.

Empat puluh lima tahun berlalu, satu generasi lama Indonesia digantikan oleh generasi yang baru. Peta politik pun mengalami banyak perubahan. Tak semua generasi baru Indonesia mengerti atau mendapatkan pemahaman yang memadai tentang masa-masa transisi politik tersebut. Sementara kaum eksil kini mungkin kurang dikenal oleh generasi muda Indonesia sekarang ini. Entah karena sejarah yang selama 30 tahun itu telah dibungkam atau karena memang kita tak ingin mengetahui hal itu. Banyak dari generasi saat ini ketika ditanya mengenai eksil malah balik bertanya atau menggelengkan kepala sebagai tanda tak tahu.

Kebanyakan dari kaum eksil ini dulunya merupakan intelektual yang dikirim keluar negeri untuk belajar ataupun kepentingan diplomasi. Sebagai negara yang baru merdeka, untuk mengejar berbagai ketertinggalan, Indonesia membutuhkan banyak tenaga intelektual guna menyetarakan kekuatan ekonomi-politik-budayanya dengan negara-negara berdaulat lainnya. Beruntunglah Indonesia karena memiliki seorang presiden seperti Soekarno. Perannya di dunia internasional, dengan memotori gerakan non-blok, kharismanya yang kuat dalam diplomasi internasional, dan seruannya yang tak kenal henti dan konsisten dalam menentang kekuatan nekolim, membuat pamor Indonesia di dunia internasional naik. Akibatnya para pelajar dan orang-orang Indonesia secara umum dihormati di dunia luar.

Namun siapa yang bisa memperkirakan arah sejarah di masa depan? Sebuah kudeta militer dengan mengkambing-hitamkan PKI terjadi di akhir September 1965. Peta politik pun berubah. Soeharto naik kekuasaan. PKI dan segala yang berhubungan dengannya diberangus. Termasuk orang-orang yang tengah menjalankan tugas kenegaraan, bekerja, dan belajar di luar negeri yang dianggap berafiliasi pada PKI dan memiliki kedekatan ideologis dengan Soekarno. Harapan mereka untuk menjadi seorang yang berguna bagi bangsa sendiripun telah pupus. Keahlian yang mereka miliki terpaksa harus dibuang jauh dari ingatan bangsa kita. Rindu akan tanah air yang begitu dalam harus rela mereka tahan hingga berpuluh-puluh tahun. Entah bagaimana perasaan mereka, yang jelas ini merupakan masa sulit bagi mereka. Masa-masa dimana mereka tak bisa melihat sanak saudara mereka.

Para intelektual ini pun terpaksa menerima kewarganegaraan bukan sebagai orang Indonesia lagi. Ini konsekuensi pahit yang harus mereka jalani. Cerita lain muncul dari orang-orang seperti Koesalah Subagio Toer yang rela pulang, mendekam dalam dinginnya kamar penjara Rezim yang bertahan selama lebih dari 30 tahun itu telah benar-benar menyia-nyiakan orang terpelajar yang memiliki berbagai potensi bagi usaha pembangunan bangsa ini.

Orang yang memiliki kecerdasaan itu terpaksa harus menerima pekerjaan apapun untuk bisa bertahan hidup. Menjadi opas kantor, membuka restoran, bekerja di pabrik sebagai buruh, dan kalau lebih beruntung mengajar di Universitas. Mereka mungkin tak bisa lagi menerapkan ilmu yang dimiliki sebagaimana mestinya. Selain harus menerima pekerjaan apa adanya, mereka juga harus siap berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketika tak bisa mendapatkan suaka politik di sebuah negeri atau suaka politiknya dicabut, mereka harus mencari dan terus berjalan sampai ada yang menerimanya.

Sayangnya banyak di antara generasi muda kita sekarang tak mendapatkan pembelajaran sejarah tentang kaum eksil ini. Sejarah monotafsir Orde Baru telah memberangus eksistensi orang-orang buangan ini dalam pembelajaran sejarah di sekolah hingga Universitas. Barangkali inilah yang menyebabkan kita sekarang ini menjadi sebuah bangsa yang cenderung melupakan sejarah negerinya sendiri, sejarah berdiri dan bertahannya sebuah bangsa yang dibangun dengan darah dan airmata. Sejarah bangsa yang didirikan dengan mengorbankan anak-anak bangsanya sendiri. [Dimas Dhifka Saputro, 20 Maret 2011]

 

 

[Sumber foto]

 

 

 

Baca Juga

Suasana the Irish Hill Homeless Camp

Belajar Kepemimpinan dari “Kepala Suku” Kaum Homeless di Ibukota Balap Dunia

Catatan oleh: Karim * “The best way to find yourself is to lose yourself in ...

4 Tanggapan

  • Hello, guest