Home / Topik / Catatan / “Sektor Informal” Pedagang Kaki Lima di Kota Blitar

“Sektor Informal” Pedagang Kaki Lima di Kota Blitar

 

oleh: Arif Agus Setiawan *

 

Sampai saat ini, terdapat dualisme ekonomi di Indonesia, yakni sektor yang berfungsi atas prinsip-prinsip kapitalistik, perusahaan multi-nasional dan industri-industri modern (sektor formal), di sisi lain, terdapat sektor tradisional, seperti pedagang kaki-lima, pengrajin, dan pedagang kecil lainnya (sektor informal)[1]. Sektor informal sering juga disebut ekonomi bayangan, yakni seluruh kegiatan ekonomi yang tidak terliput oleh statistik resmi pemerintah dan karenanya tidak terjangkau oleh aturan-aturan pemerintah, seperti pajak serta surat izin usaha[2]. Munculnya sektor informal juga dari beberapa sebab, seperti (a) sektor formal yang tidak mampu menampung angkatan kerja; (b) tidak terjangkaunya harga pada barang dan jasa di sektor formal oleh masyarakat; (c) pendirian usaha di sektor formal yang memerlukan biaya tinggi; (d) izin usaha yang berbelit-belit; (e) tidak membutuhkan keahlian dan keterampilan yang tinggi; (f) urbanisasi.

Selain itu, dapat ditambahkan bahwa kesulitan dalam menganalisa data membengkaknya jumlah sektor informal disebabkan oleh kompleksnya permasalahan ekonomi maupun sosial saat ini. Pola struktur terpenting adalah, sektor informal tidak permanen atau dapat berubah kapanpun jika dikehendaki. Sebagai sektor yang merupakan salah satu bentuk ekonomi kelas bawah, sektor informal seperti pedagang kaki lima juga menjadi penghidupan sebagian masyarakat. Dalam tulisan ini, akan mengkaji bagaimana profesi pedagang kaki lima di Kota Blitar menjadi benteng terakhir atau menurut Ray Bromley adalah “jawaban terakhir” ketika kesempatan kerja sudah semakin sempit[3].

 

Pedagang Kaki Lima

Blitar merupakan sebuah kota dimana sektor industrinya kurang begitu berkembang, dan lebih pantas sebagai tempat untuk menenangkan diri. Hal ini dikarenakan kesibukan dan dinamika kota yang tidak begitu keras. Perkembangan yang lambat dari sektor industri, menjadi salah satu sebab sektor perdagangan kecil seperti profesi pedagang kaki lima menjadi tumpuan sebagian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonominya[4]. Muncul dan hadirnya pedagang kaki lima di jalan sepanjang sudut kota, juga sudah menjadi hal biasa yang terjadi saat ini.

Pedagang kaki lima di Kota Blitar akan banyak ditemui di sepanjang jalan Tanjung, Mawar, Cepaka, Cemara, Mastrip, Kenanga, A. Yani, seputaran Alun-alun, Taman Makam Pahlawan, dan sisanya berada di jalan-jalan lain sudut kota. Mereka rata-rata menggunakan trotoar sebagai tempat berjualan. Terkadang harus rela berdempet-dempatan antar pedagang dan  melakukan bongkar pasang tenda setiap harinya. Peraturan yang melarang menggunakan fasilitas umum, bukan menjadi halangan untuk terus melakukan aktivitas ekonomi.

 

Sektor Informal Blitar (dokumentasi: Arif Agus Setiawan)

Sektor Informal Blitar (dokumentasi: Arif Agus Setiawan)

 

Di tahun 2007 kami melakukan survei pedagang kaki lima, dari hasil tersebut 72,58% rata-rata mereka berasal dari dalam kota. Selain itu mereka sudah menekuni profesinya hampir 10 sampai dengan 34 tahun lamanya, dan 76% mengatakan bahwa ini satu-satunya sumber ekonomi. Sedangkan mengenai lokasi, 100% mengutarakan bahwa tempat tersebut satu-satunya tempat untuk berjualan mencari nafkah. Sementara itu untuk omset, berkisar antara (minimal) Rp. 40 ribu hingga (maksimal) Rp 300 ribu per hari, atau dapat  dirata-rata sebesar Rp 183 ribu per hari. Dari rata-rata omset tersebut, tentunya total perbulan dapat menghasilkan sebesar Rp 5.490.000. Jumlah tersebut, belum dikurangi kebutuhan lain dan hari libur ketika tidak berjualan. Dari angka di atas tentunya penghasilan sudah cukup besar, jika dibandingkan dengan upah minimum Kota Blitar Rp 488.500 di tahun 2007[5].

Memang, sektor informal pedagang kaki lima terlihat mudah rapuh. Hal ini berdasar dari struktur organisasi dan manajemen yang kurang tertata. Tetapi di sisi lain, sektor ini memberikan kontribusi besar pada seluruh penghidupan masyarakat dan merupakan alternatif pemecahan masalah lapangan pekerjaan di perkotaan[6]. Sektor ini tidak hanya milik mereka yang tersingkir dari sektor formal. Tetapi mereka yang sudah bekerja pada sektor formal, terkadang masih bergelut dalam usaha informal sebagai sampingan.

Dari uraian di atas, sektor informal khususnya pedagang kaki-lima yang selama ini sering dipandang sebelah mata sebagai pekerjaan ekonomi pinggiran, ternyata mampu menjadi sektor terpenting warga Kota Blitar. Sektor ini, juga menjadi jawaban terakhir ketika lapangan pekerjaan pada sektor formal sudah tidak mampu menampung angkatan kerja yang semakin bertambah[7]. Profesi pekerjaan sebagai pedagang kaki lima, juga menjadi alternatif benteng terakhir bagi mereka yang secara pendidikan rendah, seperti putus sekolah dan hanya lulus sekolah dasar atau sekolah menengah pertama. [ ]

 

26 April 2012

 

* Aktif di lembaga kajian The Post−Institute Blitar & Komunitas Musik Trotoar.

Catatan

[1] Sektor informal merupakan unit-unit usaha dan kegiatan-kegiatan ekonomi yang berada di luar jangkauan statistik serta pencacahan Negara. Lihat 
......Revrisond Baswir Agenda Ekonomi Kerakyatan”, Pustaka Pelajar dan IDEA, Yogyakarta 1997, hal. 41-42.
[2]
  Lebih lanjut lihat Hans-Dieter Evers ”Ekonomi Bayangan dan Sektor Informal” dalam Prisma 5 Mei 1991.
[3]
Lihat Ray Bromley “Organisasi, Peraturan dan Pengusahaan “Sektor Informal di Kota” Pedagang Kaki Lima di Cali, Colombia dalam
......Urbanisasi, Pengangguran dan Sektor Informal di Kota”, Penyunting Chris Manning & Tadjoeddin Noer Effendi, Yayasan Obor Indonesia. Jakarta, 1985.
[4]
Arif Agus Setiawan,Perubahan Ruang Sosial Pada Empat Ruang Publik Utama Kota Blitar: Sebuah Catatan . dalam Etnohistori 8 Maret 2011.
[5]
Kota Blitar dalam Angka 2011, BPS Kota Blitar.
[6]
Alan Gilbert dan Josef Gulger ”Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga”, Tiara Wacana, Yogyakarta 1996.
[7]
Ray Bromley, Jakarta 1991.

 

 

 

C a t a t a n

 

 

 

 

 

Baca Juga

Suasana the Irish Hill Homeless Camp

Belajar Kepemimpinan dari “Kepala Suku” Kaum Homeless di Ibukota Balap Dunia

Catatan oleh: Karim * “The best way to find yourself is to lose yourself in ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest