Home / Edisional / Si Pitung dalam Sinema

Si Pitung dalam Sinema

 

oleh: Margreet van Till*

 

Pada tahun 1931, awal dari industri film Indonesia, Wong Brothers memproduksi sebuah film dengan judul Si Pitoeng. Film dari Wong Brothers, yang juga adalah orang Indonesia keturunan Chinese dan Amerika, bertujuan untuk mengarah kepada penonton lokal. Kemungkinan karena latar belakang Amerika-nya ini, produser Wong menggunakan tokoh jagoan Si Pitung ini dengan penuh adegan action dan gerakan jatuh bangun. Sayangnya, film ini hanya mengedepankan adegan adu jotos, dan hampir tidak menjelaskan siapa Si Pitung sebenarnya. Orang Indonesia yang melihat film ini menganggap bahwa ini adalah semacam ideologisasi barat, dimana Si Pitung digambarkan sebagai seorang bandit yang riil. Pemeran Si Pitung dimainkan oleh seorang keturunan Cina bernama Herman Shin, sedangkan aktris utama dimainkan oleh perempuan bernama Ining Resmi, yang dikenal sebagai seorang penyanyi keroncong terkenal pada waktu itu.

Sedangkan film Si Pitoeng yang kedua, dibuat hampir empat dekade kemudian, pada tahun 1970 mendapatkan box office, versi ini sangat dinikmati secara luas oleh kalangan masyarakat. Masyarakat melihat film ini begitu dirilis dan menjadikan sebagai film terbaik dan terpopuler pada tahun itu. Dalam film ini Si Pitung digambarkan sebagai seseorang yang rancak dan bersifat lenong: yakni seorang teman yang loyal, seorang Muslim yang taat, dan seorang pengkampanye menentang ketidakadilan sosial. Film ini untuk pertama kalinya memotret Si Pitung dalam adegan romansa dengan seorang perempuan yang dinamakan Aisjah. Namun demikian, tema utamanya adalah, pertarungan antara kucing dan tikus, antara Heyne melawan Si Pitung. Dominasi Belanda digambarkan dengan humor yang menggelitik. Sedangkan Heyne dimainkan oleh seorang aktor Indonesia  bernama A. Hamid Arief, yang dalam filmnya selalu bersumpah serapah dan memaki dengan menggunakan bahasa Belanda. Dalam salah satu adegan Heyne tengan berbaring dengan gundik pribuminya Marietje ketika ia tiba-tiba diganggu dengan sebuah pesan bahwa Pitung kabur dari penjara di Meester Cornelis (sekarang penjara Cipinang di Jatinegara).

‘Heyne: Djangan omong soal Pitung. Ia orang sudah tidak berdaja di belakang tralli pendjara. Ini malam saja mau senang-senang.
(Suara pintu diketok.)
Heyne: Verdomme … siapa itu…? Kurang adjar…!!!!! Zoo, ada apa, kowe?
Polisi: Pitung … tuan … Pitung … kabur dari pendjara …
Heyne: Waatt? Pitung … kabur…?? Kowe tidur, ja … semua…!!!!!
Heyne: Verrrdomme … donder op … jij …! Terlalu … zeg … Pitung…!!!!!’
(Skrip Si Pitung, 1970)
 

Di samping menggunakan gambaran komikal Belanda, ada pula beberapa jokes yang menggambarkan hubungan antara orang-orang desa Indonesia dan pimpinan kolonial Belanda. Salah satu lelucon standar dalam film ini adalah tentang Heyne yang diombang-ambingkan setelah kehilangan jejak Pitung di desa, ia menanyakan tentang keberadaan Si Pitung dan dijawab dengan petunjuk membingungkan: ‘Kiri, kanan, kiri, kanan, kiri, kanan …lurus’

Cerita ini berujung dengan diakhiri oleh adegan pernikahan demang dan tunangan Si Pitung, namun pada akhirnya pengantin perempuan telah ditukar dan Si Pitung lari dengan tunangannya tersebut. Sedangkan film Banteng Betawi, yang dirilis pada tahun 1971, adalah sekuel dari film di atas. Kali ini tema utamanya adalah tentang pengkhianatan dan kematian Si Pitung. Di film ini digambarkan kolaborasi antara penduduk lokal dengan Belanda yang mendapatkan porsi cukup banyak. Pada akhir film ini Si Pitung ditembak setelah terpisah dengan jimat yang dikenakannya. Ia mati di lengan Heyne.

Pitung: Lu … Heyne. Gue haus… minum Heyne.
Heyne: Jaja, vooruit.
Pitung: Lu … sekarang menang Heyne … dibalik. Lu sebenarnje baik … tapi andjing-andjing lu djahat… Terima kasih Heyne. Heyne, urus-urus baik-baik orang-orang kampung.’
(Skrip Banteng Betawi 1971:72.)
 

Kepala polisi ini menitikkan air mata dan hormat ketika Pitung meninggal. Mengingat permusuhan antara dua karakter utama, Pitung and Heyne, dalam film ini digambarkan mempunyai hubungan yang saling menghormati di antara mereka, khususnya ditegaskan di akhir film.

Film ketiga adalah tentang Si Pitung, dengan judul Pembalasan Si Pitung yang dirilis pada tahun 1977. Produksii film ini pada utamanya difokuskan pada teman Pitung, Dji-ih, karena Dicky Zulkarnain, yang bermain di film sebelumnya Si Pitung, Banteng Betawi, tidak puas dengan gaji yang ditawarkan, dan ia menolak untuk bermain lagi di film ketiga ini. Film Keempat tentang Si Pitung, diproduksi pada tahun 1981, dengan judul Si Pitung Bangkit Kembali atau Si Pitung Beraksi Kembali. Kenyataan bahwa produsernya adalah seorang keturunan Tionghoa, mungkin menjelaskan mengapa pada adegan seksi orang Cina sebagai penduduk Betawi mendapatkan perhatian yang cukup besar. Film ini menunjukkan Si Pitung dengan kampung-kampung orang Cina yang mereka saling bekerja sama, dengan perhatian penuh pada seni beladiri dan hampir tidak ada humor di dalam adegan ini. Di film ini Pitung digambarkan mempunyai peran sebagai seseorang yang layak menjadi pahlawan nasional. Ia menjadi guru bagi beberapa pemuda revolusi.

 

Si Pitung, 1990 (www.die-blumenbinderei.de)
Si Pitung, 1990 (www.die-blumenbinderei.de)

 

Ada pemberontakan melawan Belanda, dan tentara kompeni yang membakar kampung. Seorang pemuda digambarkan memanjat sebuah bangunan dan menurunkan bendera Belanda, meski ia tertembak dan jatuh, namun berhasil merobek warna biru pada bendera Belanda. Dan meninggalkan sisa warna merah dan putih berkibar. Si Pitung berduka atas kematian pemuda ini, dan kekasihnya Siti menenangkan Pitung dengan mengatakan: ‘Sejarah berulang kembali Bang! Tak sia-sia pengorbanan rakyat membantu abang.’ (Skrip Si Pitung Bangkit Kembali)

Pada waktu itu, industri film Indonesia tidak lagi berkembang alias mati suri. Banyak produser dan penulis naskah, di antaranya adalah Lukman Karmani, telah berganti profesi menjadi penulis pendek untuk pemutaran acara di televisi. Pada tahun 1994, Si Pitung kembali diputar di sebuah stasiun televisi bernama TPI, setiap selasa sore. Di televisi, karakter Pitung dan Heyne tidak begitu berwarna, sedangkan produksi yang lebih murah ini kuranglah begitu menyenangkan di mata produser Barat, namun demikian, mereka masih menunjukkan bahwa publik Indonesia masih sangatlah tertarik dengan Si Pitung, jago dari Betawi yang melegenda.

 

* Master spesialisasi sejarah kolonial Belanda, Universitas Groningen.

28 Juni 2011

 

Etnohistori Edisional Jago, Preman & Negara

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

Tanggapan

  • Hello, guest