Tanah Air (yang masih versi) Beta: “Membayangkan” Indonesia Timur dalam Film
oleh: Laraswati Ariadne Anwar*
Apa yang kita, orang awam, tahu tentang Indonesia Timur? Di pelajaran sejarah SD dan PSPB kita belajar tentang Maluku yang kaya akan rempah, bahkan merupakan alasan bagi para penjelajah Eropa untuk datang ke Nusantara. Lalu adapula berita terus-menerus dari Papua, dulunya Irian Jaya, mulai dari unjuk rasa di PT. Freeport sampai aktivis hilang diculik GPK. Lalu muncullah konflik di Indonesia Timur, Timor Timur memutuskan untuk memisahkan diri dari Indonesia dan menjadi negara merdeka Timor Leste. Maluku dilanda kekacauan lalu dibagi menjadi dua propinsi. Irian Jaya berganti nama menjadi Papua dan dibagi menjadi tiga propinsi. Rasanya bagi kita yang mayoritas tinggal di wilayah barat berita yang terus-menerus datang dari wilayah timur tidaklah dapat dikatakan menghibur. Namun demikian, anggapan warga bagian barat mengenai warga timur juga tak dapat dibilang baik. Jujur saja, kita selalu menganggap Indonesia bagian timur itu terbelakang, dihuni oleh suku bangsa yang masih kita anggap primitif. Jangankan paham dengan teknologi canggih, memakai pakaian saja tidak.
Sebenarnya keindahan Indonesia Timur sudah pernah diulas di tahun 1972 ketika dua kakak-beradik antropolog berkebangsaan Inggris, Lorne dan Lawrence Blair, memutuskan untuk menjelajah bagian timur Indonesia selama sepuluh tahun. Perjalanan mereka dapat ditonton lewat miniseri dokumenter berjudul Ring of Fire: An Indonesian Odyssey. Miniseri ini tidak hanya menarik dan bermanfaat, tapi juga dituturkan dengan selera humor bermutu. Sayang sekali banyak orang Indonesia yang tidak tahu mengenai mereka. Beberapa tahun lalu muncullah ulasan di majalah National Geographic yang mengatakan bahwa telah ditemukan tempat menyelam dengan kekayaan bahari luar biasa. Tempat tersebut bernama Raja Ampat dan termasuk ke dalam Propinsi Papua Barat. Berhubung ini adalah majalah luar negeri yang mempromosikan, kontan kita semua merasa bangga bahwa ternyata di tempat nun jauh di sana terdapat peti harta yang masih belum dibuka sepenuhnya. Tiba-tiba promosi wisata ke Indonesia Timur melejit, mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri melakukan promosi gratis kepada rekan-rekan asing mengenai Raja Ampat. Kita berharap turis-turis asing bernyali besar dan hobi berpetualang akan datang melancong ke daerah timur, sementara kebanyakan orang Indonesia masih lebih memilih kenyamanan hotel berbintang. Hal yang sama juga dialami oleh Indonesia Tengah ketika Pulau Komodo yang gersang mendadak menjadi calon keajaiban dunia yang entah keberapa. Ayo, coba diingat-ingat lagi berapa dari kita yang memasang foto Pulau Komodo sebagai foto profil di Facebook? Atau men-tag foto-foto tersebut kepada teman-teman asing dengan embel-embel “please vote Komodo Island as one of the new seven wonders of the world”?

Di tengah-tengah hiruk pikuk promosi Indonesia Timur, Alenia Pictures memunculkan film Tanah Air Beta. Sebelumnya pasangan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen berhasil mencuri hati penonton Indonesia melalui film Denias: Senandung di Atas Awan. Alenia Pictures tampaknya sudah mantap untuk menyorot ragam kehidupan di Indonesia dan menunjukkannya di layar perak. Tanah Air Beta bercerita tentang seorang wanita muda bernama Tatiana. Ia dan putrinya, Merry, memutuskan untuk tinggal di Nusa Tenggara Timur, tempat Tatiana mengajar sebagai guru SD. Tatiana sebenarnya memiliki seorang putra bernama Mauro yang karena sakit-sakitan tidak dapat ikut mengungsi ke Indonesia dan terpaksa tinggal bersama pamannya di Timor Leste. Merry tak pernah sedetikpun melupakan Mauro, kakaknya. Setiap hari ia mengkhayal bisa menelepon Mauro dan menceritakan kesehariannya. Pada suatu hari Tatiana mendapatkan pesan dari Mauro yang disampaikan melalui seorang relawan yang bekerja di perbatasan Motain. Pesannya mengatakan bahwa Mauro tak mau lagi bertemu dengan Tatiana, karena ia merasa sakit hati ditinggalkan oleh ibunya. Namun demikian, Mauro juga mengatakan bahwa ia masih merindukan Merry. Tatiana memutuskan untuk tak memberitahu Merry mengenai hal ini dan berbohong bahwa tak lama lagi Mauro akan menyusul mereka ke Indonesia. Pada akhirnya Merry tak sengaja mengetahui hal tersebut ketika ia menguping pembicaraan Tatiana dengan tetangga mereka, Abu. Merry pun memutuskan untuk pergi seorang diri ke Motain demi bertemu Mauro. Tatiana panik dan meminta tolong pada Abu yang menyuruh Carlo, seorang bocah yatim piatu dan juga teman sekelas sekaligus “musuh” bebuyutan Merry, untuk pergi menyusul Merry ke Motain. Carlo berhasil menemukan Merry, sebagai tanda berbaikan dan bersahabat, ia pun menemani Merry untuk pergi ke Motain.
Sebagai orang yang skeptis ketika saya pertama kali mendengar tentang film ini, jujur saja saya berprasangka film ini akan dipenuhi adegan berderai air mata. Untungnya dugaan saya salah. Tanah Air Beta bukanlah tamparan bagi kita, para orang awam Indonesia, melainkan cubitan di pipi yang mengingatkan bahwa kita masih punya bagian tubuh di sebelah timur yang tidak seburuk kita bayangkan, namun juga butuh lebih banyak perhatian. Cerita Tanah Air Beta cukup sederhana, tidak sedramatis yang saya bayangkan sebelumnya, dan di sinilah salah satu kekuatan film ini. Dari segi penokohan, tokoh-tokoh yang ditampilkan cukuplah beragam. Ada Tatiana yang bersuku bangsa Timor dan beragama Katolik, ada Abu yang beragama Islam, dan ada pula pasangan Koh Ipin dan Ci Iren yang bersuku bangsa Tionghoa. Mereka semua ditampilkan hidup rukun, meskipun hanya punya seberapa. Kekuatan kedua film ini adalah cerita yang ringan dan mudah dicerna. Kita semua tahu kehidupan yang dialami para tokoh film ini tidaklah mudah, namun tidaklah perlu menggunakan penggambaran-penggambaran yang mengibakan atau mendayu-dayu. Hidup tidaklah selalu menyedihkan. Kita akan tertawa melihat Abu (Asrul Dahlan) yang buta huruf ingin menyampaikan pesan pada Renata, istrinya, yang tinggal di Timor Leste. Relawan yang membantunya mengusulkan agar Abu merekam saja suaranya, Abu yang terhanyut emosi malah bersenandung untuk Renata sambil menari-nari sementara Si Relawan kerepotan mengikuti Abu. Ada si Tukang POM Bensin yang selalu saja dikerjai oleh Abu dan teman-temannya, tetapi dia sukses mencuri perhatian penonton. Alexandra Gottardo menurut saya agak terlalu muda untuk memerankan Tatiana, tapi ia berakting bagus di film ini. Robby Tumewu seperti biasa berakting ciamik dan sukses menukarkan logat Betawi ciri khasnya menjadi logat Timor. Thessa Kaunang yang biasanya berperan sebagai perempuan cantik, cerewet, dan kosmopolitan pun cukup meyakinkan sebagai pemeliki toko kelontong yang juga merupakan istri Robby Tumewu. Aktor-aktor senior di film ini lumayan patut diacungi jempol, tapi kita tahu yang memberi darah bagi film ini adalah duo Merry dan Carlo yang diperankan oleh Griffit Patricia dan Yehuda Rumbindi. Alenia Pictures sungguh bijak memberikan peran utama kepada mereka berdua karena duo ini sukses membuat tertawa, terharu, sebal, dan tertawa lagi. Merry digambarkan sebagai anak yang baik, tetapi cengeng dan keras kepala. Carlo si anak bandel dan gemar mengganggu Merry sehingga Merry sering mengancam bahwa jikalau Mauro datang, ia akan menghajar Carlo habis-habisan. Carlo sendiri yatim piatu dan diasuh oleh Abu, cita-citanya hanyalah tidak ingin sendirian di dunia ini. Biarpun memiliki awal yang tidak terlalu baik, Carlo dan Merry membuktikan bahwa mereka bisa bersahabat dan selama mereka tidak menyerah, apapun bisa dilakukan.
Sekarang sampai ke bagian yang tidak disukai, yaitu kritik. Terus terang saja sama seperti Denias; Senandung di Atas Awan, Tanah Air Beta merupakan propaganda Aku Cinta Indonesia. Tampak sekali pentingnya pendidikan ditekankan dengan cermat di film ini, dan yang lebih penting lagi adalah rasa patriotisme terhadap bangsa dan negara. Tampak adegan-adegan seperti upacara bendera yang sederhana, bendera merah putih tersebar di sudut-sudut strategis film, lagu “Tanah Air Beta” dan “Kasih Ibu”. Sempat terpikir rasanya patriotisme yang ditampilkan agak-agak berlebihan, namun ketika saya berpikir lebih panjang akhirnya masuk akal juga. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang emosional. Sering kali kita memutuskan sesuatu karena berdasarkan perasaan, bukan karena pertimbangan yang matang. Jadi, jika penampilan patriotisme yang berlebihan di film bisa membuat para penonton peduli dan mulai memperhatikan keadaan bangsa kita, sah-sah saja kan?
Uniknya ketika saya mencari ulasan mengenai film ini di media-media Indonesia yang muncul malahan artikel seperti “Alexandra Gottardo Rela Mengitamkan Kulit Demi Peran”. Ini baru tamparan. Di balik semua promosi tentang keindahan alam, perdamaian dan persaudaraan, ternyata bangsa Indonesia adalah bangsa yang rasis, termasuk terhadap diri kita sendiri. Kulit hitam si bintang film menjadi sorotan, tampaknya bagi kita menghitamkan kulit adalah suatu pengorbanan. Ini membuktikan bahwa di dalam benak kita, baik disadari atau tidak, salah satu penyebab ketidakpedulian kita kepada orang lain adalah akibat warna kulit yang lebih gelap. Padahal kita dihadapkan pada kenyataan ironis bahwa orang-orang kulit putih yang kita anggap indah kita panggil dengan sebutan “bule”. Rupanya kita sudah lupa bahwa kata “bule” yang berasal dari Bahasa Jawa itu berarti albino, kata ini adalah cemoohan yang diberikan oleh nenek moyang kita kepada orang-orang asing yang mereka anggap tak memiliki warna kulit. Jadi sebenarnya kita tidak hanya rasis kepada kulit gelap, tetapi juga kepada kulit putih. Lalu kulit seperti apa yang kita suka dan inginkan? Ini adalah pertanyaan bernilai satu milyar untuk kita. Tampaknya judul Tanah Air Beta cocok juga untuk dijadikan kiasan. Seperti situs-situs internet, embel-embel “beta” terdengar lebih canggih daripada “under construction” atau “masih dalam perbaikan”. Kita semua masihlah Indonesia!Beta. [ ]
10 Februari 2012
Edisional Studi Indonesia Timur yang Terlupakan
* Mahasiswi master bidang Sejarah di National Chung Hsing University―Taiwan

















Trims, dapet buat tugas bahan referensi tugasku
Rheina-Gunadarma