Home / Topik / Ulasan Buku / Teka-Teki Masa Silam dalam Tradisi Lisan

Teka-Teki Masa Silam dalam Tradisi Lisan

Ulasan Buku oleh: Adhi Pandoyo *

 

Ulasan atas Buku karangan Jan Vansina, Tradisi Lisan sebagai Sejarah (Yogyakarta: Ombak, 2014). Diterjemahkan oleh Astrid Reza dkk, dari judul asli: Jan Vansina, Oral Tradition as History (Madison, University of Wisconsin Press, 1985).

Ketika buku ini berada di genggaman saya, tersirat tentang perjumpaan mesra sejarah dan antropologi. Sejenak teringat pada kajian etnohistori, yang santer digadang laman etnohistori.org. Darinya pula sebagai bocah pemula istilah etnohistori saya ketahui secara perdana. Usut punya usut rupanya kajian etnohistori telah dipergunakan lebih tua ketimbang umur website ini, khususnya di Indonesia. Namun berbeda dengan yang termaktub dalam situs tersebut, sebagaimana ia bertendensi atas studi perkawinan dua disiplin ilmu bahkan dalam ranah yang lebih luas dari sekedar keduanya.

Dalam seminar nasional sejarah III di Jakarta pada November 1981, terdapat salah sesi panel diskusi yang memperbincangkan tentang etnohistori. Ditangguhkan bahwa metode etnohistori dinilai sebagai kebutuhan dalam rangka melengkapi eksplorasi sumber sejarah di samping sumber dokumen tertulis dan arsip, terlebih dalam mengungkap sejarah kelompok etnis sebagai bagian dari masyarakat-masyarakat bangsa.[1] Hal membingungkan saya temukan dalam salah satu makalah berjudul “Pengkajian Teks Lisan Sebagai Sumber Sejarah” gubahan Stephanus Djawanai. Djawanai mendefinisikan teks lisan sama saja dengan tradisi lisan dalam pengertian Jan Vansina, yakni oral testimony transmitted verbally, from one generation to the next one or more (hlm. 1).[2] Mengenai teks, Djawanai sengaja menukil Roland Barthes bahwa teks dimengerti dalam pengertian luas dan selalu bermakna ganda sebab ia bertautan dengan teks lain alias dibangun dari bahan sosial kemudian dijelmakan ke dalam bahasa. Lebih lanjut Djawanai justru menilai bahwa “tradisi lisan” adalah sebutan lain bagi “kebudayaan lisan” yang diartikan sebagai kebudayaan manusia yang belum mengembangkan teks demi pencatatan dan pewarisan pengetahuan maupun sejarah. Sampailah pada kerancuan pendefinisian antara teks lisan, tradisi lisan dan kebudayaan lisan. Padahal Djawanai merunut bahasan tradisi lisan dari Jan Vansina.[3] Apakah ini semua sekedar perbedaan interpretasi, ketidaksamaan penyebutan atau adanya kesalahan penerjemahan? Apakah penilaian Jan Vansina yang justru berubah dan memantapkan asumsinya dalam buku ini? Untuk hal terakhir, dalam pengantar edisi bahasa inggris (hlm. xiii−xviii), Vansina secara eksplisit mengakui bahwa buku ini merupakan buku baru dengan tujuan yang sama dengan karangan sebelumnya,[4] di mana menurut Peter Burke buku sebelumnya hampir sepenuhnya terfokus pada persoalan reliabilitas −tingkat kepercayaan− sedangkan dalam buku ini lebih banyak memberi perhatian pada genre kajian komunikasi.[5]

Sejatinya buku Vansina ini tidak cacat kritik. Roland Oliver menyebut karya ini tidak lebih dari sekedar versi baru dari Oral Tradition: A Study in Historical Methodology (hlm. xxvi). Vansina seolah menanggapi kritikan tersebut dalam pengantar khusus edisi Bahasa Indonesia ini (hlm. vii−xii). Sejarawan cum Antropolog asal Belgia ini berkilah bahwa asumsi yang digunakan tetaplah valid sejak ditulis pertama kali tahun 1985. Hanya saja Vansina membayangkan apabila harus mengulang penulisannya: Pertama, ada kemungkinan untuk mengubah presentasinya dengan lebih menajamkan tentang persoalan “sejarah lisan dan tradisi lisan” dalam merepresentasikan masa lalu yang kabur dan samar-samar. Kedua, untuk mengulas lebih cermat tentang tradisi asal-usul kehadiran manusia terkait adanya agama. Proses tradisi asal-usul yang menggunakan penjelasan-penjelasan supranatural, kejadian ajaib atau sering dikenal sebagai “mitos”. Hal ini menurutnya penting bagi pengkajian sejarah terutama perihal bagaimana orang mengalami dan menggolongkan dirinya dalam suatu identitas etnis, politik maupun religius. Ketiga, Vansina berminat untuk menambah bab baru tentang “bagaimana ingatan terbentuk”.

Ketiga alasan dari Vansina itulah yang akhirnya mengilhami arah dari ringkasan saya ini. Di samping menjadi alasan penting menurut saya, agar para sejarawan dan antropolog menyimak buku ini terlepas kayanya kritik terhadapnya. Seperti disinggung Bambang Purwanto dalam kata pengantar buku ini, yakni anggapan bahwa Vansina tidak memberikan penjelasan bagaimana menulis sejarah mengenai masyarakat terjajah pada era kolonial, dengan catatan ketika masyarakatnya tetap tidak sama sekali memproduksi tulisan tetapi setia dengan tradisi lisan. Terlebih mengandalkan sumber kolonial semata, tentu hanya akan menghasilkan karya sejarah yang bias. Kiranya kritik ini menghantui Vansina maupun kita yang gandrung dengan perbincangan sejarah kolonial dan tentunya pasca−kolonial. Sebagaimana kita mengerti bahwa kolonialisme merubah segalanya, termasuk saya kira tradisi lisan itu sendiri.

Sejarah Lisan dan Tradisi Lisan

Idiom no document, no history tentu saja telah lama usang. Di luar sana, sumber lisan menjadi hal penting ketika sejarawan hanya dihadapkan pada sumber lisan dalam penulisan karya sejarah. Hal yang sudah lama diwanti-wanti oleh James H. Morrison seiring munculnya penyebutan sejarawan lisan. Penyebutan ini menjadikan orang awam menganggap sejarawan sebagai pekerjaan tukang wawancara, penulis kronik atau tukang cerita. Lebih jauh Morrison merasa nyaman dengan menamainya metode sejarawan mengumpulkan sumber lisan sebagai penelitian lisan.[6]

Lain lagi ketika Kuntowijoyo menyimpulkan bahwa sejarah lisan merupakan tuntutan metodologi historiografi modern sekaligus metode mutakhir dalam proses penulisan sejarah. Pengalaman saya sebagai mahasiswa sejarah, ketika menginjak semester empat harus mengambil mata kuliah sejarah lisan. Hingga akhir masa perkuliahan, entah mengapa saya hanya merasa wawancara mendominasi mata kuliah tersebut. Saya hanya bisa menikmati bagaimana metode wawancara harus dilaksanakan di lapangan. Tugas yang ―sebenarnya dimanfaatkan sebagai proyek― harus dikerjakan saat mata kuliah tersebut ialah mewawancarai pekerja di pabrik gula Madukismo mulai dari petani tebu, buruh, mandor sampai jajaran elit perusahaan. Euforia proyek wawancara tersebut terkikis ketika saya mulai menyadari tentang kebingungan bagaimana harus mengadaptasikan wawancara ini dalam penulisan sejarah.

Padahal Paul Thompson telah lama menganjurkan sejarah lisan tak sekedar dimengerti sebagai pengumpulan sumber melalui wawancara. Sebab sejarah lisan sanggup menempatkan sejarah menjadi lebih manusiawi sehingga sejarah menjadi produksi dan kepemilikan setiap kelas sosial, tak heran metode investigasinya dapat diterapkan pada anak kecil usia 7−8 tahun sekalipun.[7] Dalam bahasa Eric John Ernest Hosbawm, sejarah lisan harus menjadi kepedulian bagi rakyat biasa, mereka yang tidak bersuara dan tidak mengenal teks. Wajar sejarah lisan sanggup menentang mitos-mitos sejarah hegemonik yang dikembangkan demi kepentingan kekuasaan, sekaligus mentransformasi secara radikal atas pemaknaan sosial dari suatu peristiwa sejarah.[8] Sejalan dengan itu, dalam akhir bab dua Vansina menyinggung sejarawan yang meneliti tradisi lisan agar tidak berhenti pada soal teknik pengumpulan tradisi lisan yang juga melalui wawancara, tetapi secara panjang lebar bagaimana memahami posisi peneliti, informan tradisi, hingga proses dan situasi perekaman serta pencatatan tradisimenjadi sebuah kesaksian (lisan) teks (hlm. 89−105). Selanjutnya dalam bab tiga, ketika memposisikan tradisi sebagai pesan yang mesti dibedah layaknya sebuah anatomi, mulai dari bentuk (linguistik dan struktur internal), genre, makna yang tersurat maupun tersirat, sampai sasaran dari pesan tradisi itu sendiri (hlm. 106−145). Vansina memberi klaim historisitas tradisi lisan sejak dalam akhir bab pertama. Alasannya tradisi lisan baik personal maupun kolektif memuat data urutan kejadian, situasi masa lalu, tren bahkan mentalitas sebagai bagian dari bukti adanya fakta. Meskipun tetap masih perlu diuji seberapa jauh historisitas serta kredibilitasnya karena terkandung nilai-nilai moral, keagamaan, adat-istiadat, cerita-cerita khayal, peribahasa, nyanyian ataupun mantra.

Perlu dibedakan dua hal yang oleh Morrison menjadi pokok penelitian lisan oleh sejarawan, yakni sejarah lisan dan tradisi lisan. Tradisi lisan diurai Kuntowijoyo hanya mencangkup pada kebudayaan lisan dalam masyarakat pre-literate. Akibatnya tradisi lisan menjadi semacam teks dalam masyarakat tersebut. Namun Vanisna menekankan bahwa pesan lisan tidak bisa diperlakukan layaknya pesan tertulis yang memiliki bentuk asli dan salinan, terlebih pesan lisan cenderung fleksibel dan rentan hilang dalam ingatan (hlm. 47). Untuk lebih detil Vansina mengemukakan bahwa sumber-sumber yang dipakai sejarawan peneliti lisan bertolak dari kenangan, desas-desus maupun keterangan saksi atau pelaku akan situasi pada waktu tertentu, hal yang terjadi selama kurun masa hidup narasumber. Vansina menyasar kinerja sejarawan lisan yang umumnya melakukan wawancara sebagaimana praktek saya saat kuliah sejarah lisan, dilanjutkan dengan tahap komparasi pada dokumen dan informasi tertulis seperti surat, nota maupun yang tercetak seperti surat kabar dan berbagai arsip lainnya. Alhasil metode semacam ini oleh Vansina −dengan mengutip Benoit Verhaegen− disebut sebagai immediate history.

Hal inilah yang membedakan dengan tradisi lisan yang jelas-jelas melampaui masa hidup informan. Mudah dipahami apabila sejarah lisan sebagai metode cenderung pada kesaksian para pelaku maupun saksi mata sehingga menjadi kenangan hidup atau kenangan langsung. Sedangkan tradisi lisan ibarat kenangan dari kenangan yang luas dan unik sebab menjelma testimoni yang beranak-pinak. Oleh sebab itu tradisi lisan bisa diibaratkan menjadi metodologi penelitian lisan. Dalam bab dua, Vansina sendiri menuntut kejelian sejarawan pengguna tradisi lisan agar memperhatikan bentuk-bentuk dari sebuah tradisi lisan, yakni performance dari pengkisah. Gaya yang ditunjukan si pengisah mulai dari intonasi, nada, gestur, mimik, gaya bicara, sampai memahami perbedaan antar pengisah karena menentukan interpretasi kita dalam meneliti. Namun Vansina percaya adanya satu kepastian dalam setiap performance, yakni garis besar cerita itu sendiri. Vansina banyak mengambil sampel tradisi-tradisi tutur yang ada di suku-suku di Kongo, Burundi, Rwanda, Zaire, Afrika Selatan sebagaimana pengalaman fokus studinya, meski memang beberapa menggunakan contoh dari Eropa, Amerika dan Asia yang diambil dari kajian orang lain. Usaha menghadirkan beragam sampel pendukung eksplanasi atas tradisi lisan tersebut yang bagi saya menunjukkan dalil mengapa Vansina teguh akan perbedaan karya ini daripada karya sebelumnya.

Namun demikian sama halnya dengan sumber tertulis, tradisi lisan tetaplah memiliki bias subjektivitas, tinggal bagaimana alat analisa bekerja secara teliti untuk terus mengkritik dan membandingkan serta menyimpulkan. Oleh sebabnya sejarawan memang harus menerima prinsip relativitas dan subjektivitas dalam konteks historis. Hal ini menjadi konsekuensi pergerakan dari rekonstruksi ke dekonstruksi dalam memahami sumber sejarah dan lebih spesifik adalah persepsi tentang fakta. Maka pengakuan atas tradisi lisan sebagai sejarah turut melanjutkan motif egalitarian sejarah lisan, yakni meruntuhkan anggapan banal orientalis terhadap masyarakat prasejarah −dalam banyak hal sangat berarti masyarakat yang mengenyam kolonialisme−, yang sering dirumuskan sebagai people without history. Seperti disinggung Purwanto dalam kata pengantar buku ini, yakni tentang pandangan antropolog Amerika, Robert Harry Lowie yang sejak akhir dekade kedua awal abad 20 telah menyatakan bahwa tradisi lisan hanya mengandung unsur primitif dan gagal mendokumentasikan kejadian secara akurat. Menurutnya tradisi lisan hanya dipergunakan demi kepentingan legitimatif massa pendukungnya, maka karya Vansina ini menjadi sebuah antitesis yang bagi para peneliti klasik sangatlah radikal.

Menarik ketika Purwanto mengaitkan pijakan studi Vansina atas kasus Afrika, adalah sejalan dengan kecenderungan para ilmuwan barat terhadap kajian Afrika antara 1960-an sampai 1980-an. Purwanto mencontohkan dua sejarawan asal Afrika yakni Kenneth Onwuku Dike dan Saburi Oladeni Biobaku yang terbukti berhasil mempertahankan tesisnya dengan memanfaatkan sumber tradisi lisan di Inggris (hlm. xxvii). Menjadi hal yang menarik memahami bagaimana perjuangan kedua sarjana kelahiran Nigeria tersebut selaku warga terjajah di hadapan sidang perguruan tinggi dalam prinsip-prinsip keilmuan penjajah demi menjelaskan fenomena sejarah masyarakat terjajah.

Perlu diketahui ide utama Vansina adalah bahwa tradisi lisan adalah sejarah itu sendiri. Seperti yang disinggung Purwanto, layaknya kalangan neo−rankenian, Vansina meyakini tradisi lisan sebagai sumber harus berbicara sendiri untuk dirinya. Walaupun begitu kita tidak bisa menyamakan sebuah karya sejarah dengan bahan-bahan atau sumber yang lengkap mulai dari yang tertulis sampai lisan, dengan karya sejarah yang hanya bermodalkan penelitian lisan semata. Maka pembedanya bukan lagi yang satu lebih baik atau sebaliknya, akan tetapi sejauh mana metode kritik sumber masing-masing dapat dipertanggungjawabkan peneliti. Vansina mau tak mau menyumbangkan khazanah penting tentang bagaimana tradisi lisan disikapi secara ilmiah, kalau tidak ingin disebut mengawali.

Lantas bagaimanakah menghadapi tradisi lisan masa kini dalam bentuk dan wujudnya yang diinterpretasi ulang atau direproduksi dalam gerak kapitalisme globalisasi? Bukankah bentuk-bentuk permanen dalam tradisi lisan, khususnya pertunjukkan telah direduksi sedemikian rupa dalam rangka mencukupi format kepentingan selera dan kebutuhan pasar? Masihkah performance tradisi lisan menyanggupi kebutuhan sejarawan akan sumber masa lampau atau dalam bahasa Vansina, mampukah “tradisi lisan senantiasa sebagai sejarah” di tengah gempuran komersialisasi? Buku ini sama sekali tak berkapasitas menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Diskursus Ingatan dan Kritik atas Strukturalisme

Apa yang dijabarkan hampir keseluruhan isi buku ini adalah bagaimana tradisi lisan menciptakan pesan yang layak ditafsir kadar kelampauannya. Terkait macam-macam produk dari pesan dari tradisi lisan tersebut, Vansina di awal bab mengklasifikasikan mulai dari Pidato yang dihafal; Keterangan –yang mencangkup gosip bersejarah, tradisi pribadi, keterangan kelompok, tradisi mengenai asal-usul atau kejadian dan keterangan-keterangan kumulatif−; Epos; Hikayat, Pepatah, dan Peribahasa. Saya ambil salah satu sampel pesan tersebut, yakni tradisi asal-usul yang menurut Vansina sering disebut oleh para antropolog sebagai mitos. Dalam hal ini Vansina menolak pemosisian mitos sebagai sekedar kisah, seperti halnya para antropolog strukturalis, khususnya Claude Lévi-Strauss.

Lévi-Strauss mendapat pengaruh dari ahli-ahli linguistik struktural mulai dari Ferdinand de Saussure, Roman Osipovich Jakobson sampai Nikolai Sergeyevich Trubetzkoy. Pengaruhnya sampai pada simpulan Lévi-Strauss yang mengartikan bahwa segala fenomena sosial, termasuk mitos sebagai sebuah kalimat atau teks. Sehingga mitos dalam kacamata Lévi-Strauss tak lebih dari sebuah dongeng yang mana disampaikan melalui bahasa dan mengandung pesan-pesan tertentu dan dapat dimengerti melalui peninjauan atas penceritaannya, layaknya bahasa diketahui melalui pengucapannya.[9] Padahal untuk yang terakhir, tampaknya Vansina sejalan dengan Lévi-Strauss, bahwa cara terbaik memahami tradisi asal-usul dan mitos sebagai sebuah sumber sejarah adalah memahami penceritaannya. Hanya saja Vansina menegaskan bahwa harus memisahkan konstruksi logis dan segala unsur kosmologis dari apa yang dapat dimungkinkan sebagai sebuah historical account, meski dalam bentuknya yang sudah sulit dikenali (hlm. 35).

Ketika Vansina menganggap adanya pesan-pesan permanen yang dimuat oleh mitos yang selalu berkaitan dengan asal-usul, hal ini sekali lagi sejalan dengan Lévi-Strauss yang telah mengemukakan bahwa mitos didefinisikan melalui sistem waktu yang dikombinasikan antara bahasa dan ucapan. Sedangkan nilai intrinsik pada mitos memang berasal dari suatu peristiwa yang ditaksir pada suatu masa tertentu dan sanggup membentuk sebuah struktur permanen. Lévi-Strauss lebih lanjut menilai struktur permanen tersebut dalam waktu yang bersamaan berkaitan dengan masa lalu, masa kini dan masa depan.[10] Mungkinkah maksud Lévi-Strauss adalah bahwa struktur mitos dapat dianggap sebagai sebuah peristiwa primordial atau dalam istilah Mircea Eliade adalah In Illo Tempore yang mana sebagai cermin masa lalu yang mempunyai akibat pada masa kini sehingga darinya keadaan dunia dan manusia menjadi seperti sekarang?[11] Lalu bagaimana dengan kesimpulan Bronisław Kasper Malinowski bahwa mitos memiliki fungsi sosial yang menjustifikasi suatu pranata masa lampau dalam kekinian? Atau mitos sebagai pesan permanen yang memuat pola dasar atau arketipe dalam istilah Carl Gustav Jung yang tak berubah dalam ketidaksadaran kolektif? Mitos bagi saya masih memuat aneka penafsiran.

Akan tetapi, dalam bab enam Vansina menyebutkan bahwa pemahaman strukturalisme mitos model Lévi-Strauss tidak memberi sumbangan apapun bagi solusi teka-teki kehidupan manusia, khususnya sejarah. Lebih lanjut Vansina menganggap dinamika ingatan tidak terlihat secara tersusun sebagaimana dipahami kalangan strukturalis menata tradisi. Strukturalisme seperti dibicarakan Lévi-Strauss berurusan dengan pesan bawah sadar dan memiliki hubungan dengan dinamika seni, sastra dan lukisan. Vansina tidak setuju dengan model tersebut sebab menganalogikan pikiran seperti mesin dan bekerja dengan pasangan kode yang saling bertentangan, terlebih strukturalisme a la Lévi-Strauss tidaklah menghubungkan simbol dengan ingatan manusia (hlm. 254). Hal ini ia kaitkan dengan kekakuan strukturalisme yang mulai banyak dikritik, bahwa prosedur operasional strukturalis terhenti pada asosiasi yang dibuat peneliti dan hanya dapat dipahami dirinya sendiri bahkan –dengan mengutip Bertel Nathhorst– dinilai tidak ilmiah sebab tidak bisa direplikasi atau ditiru. Selain itu Vansina sengaja mengutip artikel,[12] yang mengkritik Lévi-Strauss dalam kasus kisah Asdiwal yang mana menunjukkan kurangnya bukti etnografis tentang Tsimshian (Kanada bagian barat laut). Kasus Asdiwal menunjukkan data yang terkadang disalah pahami dan analisa gagal memperhitungkan data serta pembaca dinilai kebingungan dalam menentukan apa yang ingin penulis buktikan.

Hal tersebutlah yang menjadi alasan Vansina untuk menghimbau perlunya kehati-hatian dalam memahami asumsi-asumsi struktural dalam memproses tradisi lisan, sebab di samping akan terjebak pada pemaksaan penataan pola, juga akan merusak informasi sejarah. Sedang dalam pemberian simbol menurut Vansina, dengan menyitir Dan Sperber, akan lebih dimengerti melalui penggunaan kapasitas mnemonic dan pemberian kode dengan cara yang kreatif.

Meskipun begitu apa yang dikritikkan Vansina terhadap Strukturalisme dianggap berlebihan, sebab menurutnya Strukturalisme masih tetap berguna dalam meningkatkan kepekaan terhadap pola-pola dan simbol. Lebih jauh Burke menyebut bahwa analisis teks atas tradisi lisan tidaklah mungkin seilmiah yang dikehendaki Vansina dalam buku ini.

Ciri khas tradisi lisan sebagai pesan tradisi, selain turun temurun ialah bahwa pesan yang disampaikan berupa pertunjukkan lengkap dengan mnemotechnnic. Vansia menyebut mnemotechnic sebagai pelibatan kegiatan yang bersifat praktik dalam membantu ingatan, yakni mulai dari objek, lanskap dan belajar (meniru), sampai musik, memuat unsur melodi dan irama sebagai pembantu menjaga ingatan (hlm. 69–78). Dalam bab awal buku ini, Vansina membagi proses penciptaan pesan dalam dua jenis komunikasi, yakni komunikasi yang “menyampaikan berita” dan komunikasi yang “menafsirkan suatu keadaan atau kejadian”.

Vansina sendiri menilai bahwa “berita” disebabkan oleh adanya: saksi mata, kabar burung atau desas-desus atau rumor, penglihatan (melihat suatu kejaiban, mungkin maksudnya penampakan), mimpi dan halusinasi. Sumber-sumber tersebut dinilai tak bisa dikesampingkan, meski berita tersebut bertolak dari unsur-unsur yang terkesan khayalan dan terkadang tak masuk akal, setidaknya sebagai informasi yang diwariskan akan selalu menampakkan sebuah sejarah mentalitas masyarakat pembuatnya. Ini yang disebutnya sebagai bukti dari kredibilitas tradisi lisan, yakni adanya pesan permanen meski tergerus dalam setiap proses transmisi antar generasi, berkat kekuatan ingatan. Ingatan tradisi lisan dinilainya lebih dinamis sepanjang waktu ketimbang umumnya ingatan individual pada umumnya (hlm. 252). Ingatan menjadi aktivitas kodifikasi oleh pendengar dan pelaku di mana terdapat subjektivitas yang merepresentasikan fakta sosial, termasuk bagaimana memahami dan mengartikan masa silamnya. Seringkali ditambahkan antara pengalaman individu dengan konteks sosialnya. Maka tidak heran ingatan seringkali mengandung emosi, perasaan bahkan fantasi, sehingga tak jarang mengaburkan fakta. Namun di sinilah letak keunggulan tradisi lisan sebagai teks lisan, yang mampu menampakkan kegagalan teks tertulis dalam menampilkan proses berpikir serta mentalitas manusia.[13]

Lebih lanjut, Vansina menyebut kumpulan informasi yang terekam dalam ingatan sebagai sebuah korpus dengan sifatnya yang kolektif dan dapat dipahami sebagaimana sebuah rangkaian situasi penciptaan, pembuatan dan pemrosesan penyimpanan segala ingatan. Sekali lagi Vansina menolak strukturalisme model Lévi-Strauss yang menganggap korpus sebagai pola yang homogen. Sedangkan kunci pemahaman sejarahnya tergantung bagaimana menyusun kronologi atas segala korpus ingatan. Umumnya masyarakat berkebudayaan lisan memiliki persepsi waktu khas dan berbeda-beda sehingga sejarawan peneliti tradisi lisan harus mengukur waktu.

Adapun Vansina mencontohkan bahwa suku Kuba di Zaire meyakini bahwa perpindahan penduduk bersumber dari titik awal keberadaan manusia, yakni titik paling hilir. Menariknya ketika pada abad 18 suku Kuba mendengar informasi dari pedagang Imbangola (Angola) mengenai lautan, maka cerita ditambahi dengan keterangan detail mengenai asal usul manusia di hilir yang berpasang, berombak dan laut yang luas (hlm. 33). Hal ini sejalan dengan pendapatnya bahwa ingatan terkadang bisa merombak kronologi menjadi sebuah anakronisme atau minimal terjadi perubahan termasuk penambahan. Sayangnya, terkait mnemotechnic Vansina tidak menjelaskan lebih luas, misalnya tentang “musik” dan “belajar” (meniru), ia hanya menyebut tentang laku menghafal dengan bantuan irama dan melodi dan belajar meniru pesan syair atau puisi saja, tetapi tidak menjelaskan bagaimana misalnya tubuh manusia itu sendiri merekam dalam performance tradisi. Saya anggap hal tersebut sangat penting dalam memahami kesejarahan, misalnya dalam tarian, bukankah ia menjadi sebuah ingatan yang menggabungkan musik dengan pembelajaran turun temurun?[14]

Untuk memahami informasi dalam ingatan sebagai pesan yang turun-menurun, sejarawan perlu membandingkan dengan berbagai kajian, termasuk linguistik sampai arkeologi. Himbauan Vansina ini harus dipahami sebagai perluasan dalam pemahaman informasi lisan. Sempat Vansina menyinggung bahwa situs-situs ritual seperti situs-situs Kava atau Marae di Polinesia tidak terlalu digunakan sebagai alat mnemonik tertentu. Akan tetapi tetap dipilih karena unsur alamnya mengaitkan pada kisah etilogis tertentu. Cerita itu mengingatkan saat saya Kuliah Kerja Nyata (KKN–UGM) di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Di Muna berkembang tradisi etiologis bahwa asal-usul penduduk Muna berasal dari terdamparnya kapal Sawerigading, kapal yang termaktub dalam epik I La Galigo. Kapal tersebut menurut mieno wuna (orang muna) terdampar di Kota Tua Muna. Memang ditemukan situs gua kapur yang terletak di atas bukit. Bukit tersebut diyakini masyarakat sebagai kapal Sawerigading yang sudah berubah menjadi batu. Saat itu secara sederhana saya menganalisisnya sebagai sebuah bentuk ingatan warga atas asal-usul kehidupan di Pulau Muna, sekaligus pembentukan pulau Muna yang menurut para pakar dahulunya terendam laut. Ihwal terakhir saya yakini, karena memang banyak sekali fosil-fosil biota laut termasuk beberapa makam bangsawan dan raja di Kerajaan Muna, yang memang menggunakan nisan dari fosil terumbu karang yang banyak ditemukan di situ. Namun saya sendiri tidak yakin bagaimana menganalisis fenomena tradisi lisan tersebut sebagai sebuah sumber lisan bagi penulisan sejarah. Mungkin memang diperlukan pembanding berbagai tradisi lisan yang lain, di samping memang minim sekali sumber tertulis tentang sejarah Muna, kecuali beberapa catatan kolonial. Kebingungan inilah yang masih terngiang di kepala saya, apabila mengaplikasikan anjuran buku ini dalam penulisan. Vansina sendiri menyadari keterbatasan tentang kronologi dan interdependensi dalam sumber-sumber tradisi (hlm. 290–301), meskipun Vansina amat menyakini kelebihan atau keunikan tradisi lisan selain sebagai sumber, juga sebagai informasi yang indigen.

Kebingungan masih saja menghampiri saya, mengapa Vansina tidak menyebut sepatah kata pun tentang folklor? Padahal berbagai penjelasannya tentang produk tradisi lisan sangatlah mencolok pengkutipannya dari kajian-kajian tentang folklor-folklor Afrika. Barangkali Vansina terlampau berhati-hati dalam penyebutannya. Sebagaimana James Danandjaja yang menilai bahwa folklor lebih luas dari tradisi lisan. Danandjaja mendedahkan bahwa tradisi lisan hanya mencangkup cerita rakyat, teka-teki, peribahasa dan nyanyian rakyat, sedangkan folklor mencangkup lebih dari itu, seperti tarian rakyat, arsitektur rakyat, dsb. Danandjaja mengacu pada inti persoalan bahwa folklor sebagai sebuah disiplin mandiri yang menurutnya mesti mengacu pada pandangan ahli folklor modern yang pengkajiannya tidak lagi terbatas pada lore-nya atau tradisinya saja, tetapi folk-nya atau manusianya juga.[15] Tetapi bukankah ketika menuruti James Danadjaja justru tradisi lisan terkungkung dari bahasan luas Vansina yang mencangkup misalnya epos dan keterangan yang berupa gosip bersejarah. Sayang sekali sejak awal sampai akhir pembacaan buku ini hanya kebingungan dan pertanyaan yang justru banyak saya dapatkan.

Walau begitu, pemikiran Vansina pada setiap bab dari buku ini dapat menjadi perdebatan dan pertimbangan tersendiri. Meski sangat berbelit-belit dan begitu banyaknya penjelasan yang diulang-ulang sepanjang bab pertama sampai bab ke enam. Hal ini mungkin sebagai sebuah penegasan. Setidaknya saya dituntut untuk melakukan pembacaan ulang dalam versi asli bahasa inggris-nya. Hal mana dapat memberi jawaban apakah ketidakjelasan di sana-sini adalah akibat kepandiran saya atau mungkin penerjemahannya yang memang perlu direvisi kembali agar mudah dipahami pembaca yang menggunakan bahasa Indonesia, di samping banyaknya salah cetak huruf dan kata. Namun upaya Vansina membuat rincian metode sangatlah mengagumkan, walau memang ia menegaskan di akhir bab tujuh (terakhir), bahwa ia tidak berpretensi membuat patokan baku. Barangkali menjadi pekerjaan bagi kita untuk menguji relevansi buku ini bagi pengkajian historiografi Indonesia yang masih berlubang di sana-sini terkait kekurangan sumber tertulis. Apakah tradisi lisan sanggup menjawab kekurangan tersebut sebagaimana diyakini buku ini? Sia-sia atau tidaknya usaha penerbitan dan penerjemahan buku ini, kembali di tangan sidang pembaca. [ ]

9 Agustus 2014

 

* Mantan Pimpinan Redaksi Jurnal HISTMA (Histori Media)


Footnotes:

[1] Periksa “Lampiran III: Laporan Hasil Seminar Sejarah Nasional III”, (dlm), Seminar Sejarah Nasional III: Panel Etnohistori (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
......Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1982/1983).
[2] Jan Vansina, “Once Upon a Time: Oral Traditions as History in Africa”, (dlm), Felix Gilbert and Stephen R. Graubard (eds.), Historical Studies Today (New York:
......W. W. Norton & Company, 1972), hlm. 413–439, terutama hlm. 415. Seperti dikutip Kuntowijoyo dalam Metodologi Sejarah (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), hlm. 25.
[3] Djawanai mengutip Jan Vansina, Oral Tradition: a Study in Historical Methodology, translation by H. M. Wright (Chicago: Aldine Publishing Company, 1965).
[4] Yang dimaksud ialah Jan Vansina, De La Tradition Orale (Tervuren: Musee Royale de l’Africa Centrale, 1961).
[5] Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011), hlm. 149–150.
[6] James H. Morrison, “Perspektif Global Sejarah Lisan di Asia Tenggara”, (dlm), P. Lim Pui Huen, James H. Morrison dan Kwa Chong Guan, Sejarah Lisan di Asia Tenggara
......(Jakarta: LP3ES, 2000), hlm. 4.
[7] Mengesankan membaca tulisan Alistair Ross, “Children Becoming Historian: An Oral History Project in Primary School”, (dlm), Robert Perks and Alistair Thomson (Eds.),
..... The Oral History Reader (New York: Routledge with Taylor and Francis e-Library Published Edition, 2003), hlm. 432–447. Simak lebih lanjut buku ini yang sangat-
..... baik merangkup artikel seputar sejarah lisan.
[8] Paul Thompson, Suara Dari Masa Silam: Teori dan Metode Sejarah Lisan (Yogyakarta: Ombak, 2012), hlm. 24.
[9] Heddy Shri Ahimsa-Putra, Strukturalisme Lévi-Strauss, Mitos dan Karya Sastra (Yogyakarta: Kepel Press, 2006), hlm. 30–31; hlm. 77; dan hlm. 80.
[10] Claude Lévi-Strauss, Antropologi Struktural (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009), hlm. 280.
[11] P. S. Hary Susanto, Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 97.
[12] Yang dimaksud adalah L. L. Thomas, J. Z. Kronenfeld dan D. B. Kronenfeld dari Universitas California, dalam artikelnya “Asdiwal Crumbles: A Critique of Lévi-Straussian
.......myth analysis”, American Ethnologist, no. 3, 1976.
[13] Bambang Purwanto, “Sejarah Lisan dan Upaya Mencari Format Baru Historiografi Indonesiasentris”, hlm. 151. (dlm), Dari Samudera Pasai ke Yogyakarta: Persembahan
.......Kepada Teuku Ibrahim Alfian (Jakarta: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Sinergi Press, 2002), hlm. 135–161.
[14] Dalam hal ini saya berterima kasih pada Rachmi Diyah Larasati yang banyak menjelaskan bagaimana tubuh dalam tarian menjadi sebuah archive ingatan yang dapat berbicara 
.......maupun memproduksi kesejarahan tersendiri. Saya kira hal ini masih sangat relevan untuk dikaitkan dengan tradisi lisan.
[15] James Danandjaja, Folklore Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain (Jakarta: Grafiti Press, 1989), hlm. 6.

Baca Juga

Etnografi Formasi Negara di Kawasan Perbatasan

Haryo Kunto*         Judul Buku: At The Edge of States: Dynamics of ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest