Etnohistori berawal dari ide yang mengintegrasikan pendekatan etnografi (dalam antropologi) dan historiografi (dalam ilmu sejarah). Pendekatan ini pada awalnya muncul dari para antropolog Amerika yang berinisiatif untuk memberikan ‘suara’ dalam bentuk etnografi sejarah terhadap orang-orang Native American yang selama ini sejarahnya dilihat dari perspektif masyarakat kulit putih. Namun demikian, kami bergerak lebih luas, etnohistori berawal dari asumsi yang berargumen bahwa;
Pertama, adanya penulisan-penulisan sejarah populis tentang orang kecil non-kulit putih, non-borjuis dan masyarakat awam lainnya yang ternyata mempunyai kandungan sedetail narasi dalam etnografi. Etnohistori menceritakan orang-orang yang tidak hanya hidup di tempat-tempat terpencil atau terpinggirkan, tetapi juga yang dikucilkan dalam sejarah. Asumsi pertama ini kami sangat dipengaruhi oleh sejarawan Eric John Ernest Hobsbawm dan sejarawan besar Indonesia, Aloysius Sartono Kartodirdjo.
Kedua, etnohistori menawarkan jenis-jenis teori budaya dimana sejarawan, sejauh ini, enggan menerimanya. Di dalam sejarah tidak hanya berisi narasi yang sifatnya linear semata, melainkan ada struktur di dalam sejarah yang diejawantahkan dalam mitos, legenda, kosmologi dan kepercayaan lainnya. Kami percaya bahwa peristiwa sejarah ditentukan oleh budaya dan selama proses perubahan budaya juga ditentukan oleh sejarah yang pada akhirnya membentuk proses transformasi. Asumsi kedua ini kami terinspirasi dari teori-teori antropologi sejarah Marshall Sahlins.
Ketiga, etnohistori mencerminkan kritik terhadap keangkuhan etnografi, dimana empirisme seharusnya tidak lagi hanya tergantung pada pengamatan dan keterlibatan langsung dengan kehidupan masyarakat yang teliti, melainkan juga menggabungkan dengan sejarah sebagai memori yang tak terlihat lagi oleh indera. Oleh karena itu, etnohistori memperluas metode dengan mempelajari arsip, biografi, buku harian dan sejarah lisan. Dengan demikian, etnohistori merangsang para antropolog dan sejarawan untuk melampaui data mereka, observasi eksplisit, narasi, dan literasi yang ada dan mempunyai keberanian untuk berimajinasi, menafsirkan dan yang terpenting adalah pengambilan sikap dalam kepemihakan. Asumsi ketika ini kami dapatkan dari inspirasi pemikiran antropolog sejarah, Jean dan John Comarrof.
Keempat, setiap masyarakat pasti mengalami transformasi secara massal maupun individual. Setiap masyarakat sebenarnya berada adalah proses waktu dimana mereka mengalami perubahan dari kecil menjadi muda dan menua, dari tradisional ke modern, dari kerajaan ke negara birokrasi yang rapi, dan seterusnya. Namun demikian, etnohistori tidak seperti pendekatan evolusionis yang berargumen bahwa setiap masyarakat harus melalui tangga yang sama untuk mencapai langkah progresif berikutnya. Karena setiap budaya pasti memiliki tindakan perubahan dan nilai historis di dalamnya sehingga menghasilkan kesadaran beserta praktiknya sendiri-sendiri. Pendekatan ini kami dapatkan dari pandangan antropolog sejarawan ahli Indonesia, Ann Stoler.
Kelima, selama ini sejarah dianggap ‘menemukan data’ sedangkan antropologi ‘menciptakan data’, dengan etnohistori, maka dari itu, karakter inter-disipliner etnohistori bersifat mengumpulkan sekaligus menciptakan data melalui pembacaan terhadap peta, musik, lukisan, fotografi, ceritera rakyat, tradisi oral, material arkeologis, koleksi museum, karya sastra, bahasa, nama tempat, dan wawancara sebagai data dan perangkat analisisnya. Asumsi kelima ini kami dapatkan dari pendekatan antropolog sejarah India, Bernard S. Cohn.
Berangkat dari asumsi pemikiran di atas, maka kami percaya bahwa setiap manusia dan komunitas berhak mempunyai sejarah dan narasinya yang bukan saja diakui, tetapi juga legal dan berhak disuarakan.
— — — —
E T N O H I S T O R I adalah kelompok kerja kolektif yang memiliki fokus terhadap kajian antropologi dan sejarah Indonesia, berbasis web, penelitian lapangan dan advokasi masyarakat. Kelompok kerja ini memperkenalkan serta mempraktikkan etnografi dan historiografi dengan memberikan materi sejarah alternatif dan metode penelitian pada khalayak secara populer.
© 25 Januari 2011
[ Pengelola ]
Hatib Abdul Kadir, Ahmad Nashih Luthfi, Bastyo Arsa, I Ngurah Suryawan, Astrid Reza, Anna Mariana, Farabi Fakih, Karina Rima Melati, Windi Wahyuningtyas, Nur Fauziah.
Koordinator Redaksi: Hatib Abdul Kadir Tim Redaksi: Ahmad Nashih Luthfi, I Ngurah Suryawan, Astrid Reza, Anna Mariana, Farabi Fakih. Koordinator Data: Bastyo Arsa.


