ETNOHISTORI

Thank You, India (Movie)


oleh: Mahfud Ikhwan

 

Saya tak lagi punya antusiasme seperti saat masih di SMA dulu. Namun, ketika menemukan MNCTV (dulu TPI) akan memutar sebuah film India dengan judul yang belum saya kenal, yang dibintangi oleh Aamir Khan dan Kajol, saya bertekad menyediakan waktu untuk menontonnya. Lagipula, saya sudah lama tak punya bahan untuk mengisi tandon sceptic tank saya. Jadi, siapa tahu, setelah nonton, saya bisa membuat resensi lucu-lucuan.

Film itu berjudul Fanaa (yang saya duga berarti “binasa”). Berkisah tentang seorang gadis Kashmir buta (Kajol) yang untuk pertama kalinya pergi ke ibu kota dan jatuh cinta dengan seorang pemandu wisata yang menawan tapi misterius (Aamir Khan), film ini agak tipikal film-film blockbuster India pasca-Kuch Kuch Hota Hai. Meski saya menyayangi kedua bintangnya (Kajol adalah gabungan dalam bentuk paling sempurna dari keindahan lokal Ida Royani dan kemegahan universal Catherine-Zeta Jones, sementara Aamir Khan adalah Slamet Rahardjo saya untuk kawasan anak benua India), saya merasa tak menyukai film itu—walau beberapa lagunya sangat saya sukai. Dan karena itu, saya memutuskan untuk tak jadi menulis resensi. Untuk apa menulis resensi film India yang tak saya sukai?

Yang justru terpikir adalah menulis tulisan ini. Sebuah tribute kecil-kecilan.

Saya baru sadar, film India punya arti lebih besar untuk hidup saya daripada yang saya perkirakan. Itu sebuah berkah. Karunia yang besar. Jika kepala saya adalah sebuah lemari penyimpan, film India adalah salah satu harta yang tak akan pernah saya buang, seusang apa pun. Dan tak satu pun hal yang bisa mengambilnya dari saya. Tidak rasa snob, tidak juga intelektualitas, lebih-lebih pseudointelektualitas.

Mohon jangan dianggap berlebihan. Kecintaan saya, rasa memiliki saya, juga usaha-usaha saya untuk menjadi pembela (yang kadang terlampau bersemangat) film India adalah hal sepadan atas apa yang telah saya lakukan, alami, dan dapatkan, dari film India. Motif-motif yang mendasarinya, menurut saya, biasa saja, normal, tak jauh berbeda dengan, misalnya, seorang peminat klenik merawat keris wasiatnya, atau saudagar yang menyayangi uangnya, atau aktivis MLM mati-matian mempertahankan downline-nya, atau seorang enterpreneur memupuk karakter optimistispatologisnya. Jika mereka merasa berhak dan pantas melakukan atas apa yang mereka lakukan terhadap hal-hal yang mereka sayangi, demikian juga saya atas film India.

Paling tidak, ada tiga hal yang membuat film India saya sayangi, saya rawat, dan saya bela sedapat yang saya bisa. Pertama, ia sulit dapatnya; kedua, membuat saya merasa kaya; dan ketiga, menjadikan saya merasa istimewa.

 

a. Sulit Didapat

Mendapatkan film India tidak lebih mudah jika dibanding mendapatkan film porno. Itu pengalaman saya. Ya, barangkali sebagian dari kita (penonton, eksebitor, dan distributor) di sini memang menganggap film India layaknya film porno: disukai sekaligus tidak diakui, dikonsumsi tapi dianggap terlalu kotor untuk dibincangkan, ditonton sendirian kemudian dihinakan di depan banyak orang.

Seperti dikisahkan beberapa kabar yang pernah saya dengar, film India telah menjadi pesakitan di bioskop-bioskop Indonesia bersamaan dengan maraknya film-film Hongkong dan semakin dominannya film Hollywood. Meski begitu, masih menurut kabar yang saya dengar, berkat bertahannya bioskop-bioskop di tingkat kota kecil dan kabupaten hingga awal 1990-an, film-film India belum benar-benar tergusur. Saat masih SMP, kawan saya yang sekolah SMA di Tuban masih membawa pulang ceritanya tentang film-film India yang ditontonnya. Film India baru benar-benar tersapu (hampir) bersih saat bioskop-bioskop kabupaten dan/atau bioskop-bioskop kelas kepinding berguguran. Ya, tahun 2001, saya memang masih sempat menonton film India (judulnya Ghair, dibintangi oleh Ajay Devgan, Madhu, dan Amrish Puri) di bioskop Permata Jogja. Tapi saya yakin, hal itu bukan karena bioskop tersebut punya komitmen khusus terhadap film India, melainkan karena hanya film itu, dan beberapa film Indonesia yang dibintangi Inneke Koesherawati dan Sally Marcelina serta film-film Amerika agak mesum sejenis Private Lesson, yang mereka punya.

Pusaka yang akhirnya ditemukan

Hampir bersamaan dengan amblasnya film-film India bersama bioskop-bioskop yang biasa memutarnya, film India kemudian mendapat tempat di televisi. Bahkan, antara tahun 1995-an sampai 2000-an, tempat bagi film India di televisi terbilang sangat istimewa. Pada suatu masa, jadwal tayang total pemutaran film India di tv bahkan bisa mencapai 5-6 kali dalam sehari-semalam.

Lalu apa sulitnya mendapatkan film India, jika begitu?

Tunggu dulu. Dalam kurun sepuluh tahun antara tahun 1994 sampai 2003 (waktu yang saya pukul rata bertahannya film India di televisi), bisa jadi ada ribuan judul film nehi-nehi diputar di layar kaca kita. Tapi, percayalah, hal itu kini tinggal sejarah dunia penyiaran kita saja; sebuah bulan madu yang dinikmati secara berlebihan yang kemudian disusul sangat segera oleh perceraian yang amat menyakitkan. Persis seperti sejawatnya, musik dangdut, televisi-televisi kita menjadikan film India sebagai permaisuri sesaat untuk selanjutnya menjadikannya dayang-dayang—entah sampai kapan. (Saya tak punya data, tapi saya segera akan menampik jika ada yang mengajukan frasa “selera pemirsa” sebagai alasan.) Satu-satunya sebab yang bisa saya pikirkan kenapa film India tak punya nasib sebaik film Hollywood atau bahkan seperti tetangganya, film mandarin/Hongkong (yang semandeg apa pun, selalu punya tempat di layar televisi kita) adalah prasangka pengelola siaran—tentu melalui rekomendasi-rekomendasi AC Nielsen al-Kadzab laknatullah alaih.

Tapi betapapun televisi menyia-nyiakan film India, tidak bisa tidak, tabik harus diberikan kepada kotak ajaib ini. Sebab, dari situlah saya memulainya. Dari film-film India di televisi itulah saya merintis sinematek mini di kepala saya. Jika ada sebuah software komputer yang bisa melacak keseluruhan film yang pernah saya tonton, saya akan percaya jika 40% adalah film India (yang 90%-nya saya dapat di televisi). Banyak sampah yang tak layak simpan memang, tapi tak sedikit juga batu mutiara berharga. Di antara puluhan (atau bisa jadi ratusan) film-film Amitabh Bachchan yang dengan atau tanpa sengaja saya lahap, yang kebanyakan bertema tentang anak muda pemarah (angry youth), saya mengingat dua judul film yang saya rasa berbeda, dan karena itu saya anggap istimewa. Yang pertama Saudagar, sebuah kisah cinta sederhana antara seorang pedagang gula merah kecil-kecilan dengan istrinya yang manja. Film kedua adalah Coolie, yang berkisah tentang Iqbal, seorang pemuda yatim, kuli stasiun, yang memimpin perlawanan sekelompok buruh kereta api, melawan penindasan. Sedikit mendekati tipikal film balas dendam, namun jadi begitu mengental di kepala karena Coolie dengan menawan menautkan bangkitnya kesadaran kaum kuli kereta api dengan gairah ke-Islam-man menegakkan kesetaraan.

Jika di televisi sudah jadi barang langka (hanya muncul sesekali pada dini hari, itu pun jika stasiun televisi telah kehabisan stok film monster Amerika atau vampire Cina atau saat Dolph Lundgren dan Mark Dacascos butuh mengaso) sementara di bioskop sama sekali tak ada bekasnya, lalu ke mana film India harus dicari? Yang tinggal di kota seperti Jogja, tentu pertanyaan itu terdengar mudah: rental film, tentu saja. Ya, saya awalnya juga menduganya begitu. Tapi, ternyata itu jawaban yang salah. Karena, dari sinilah tamsil bahwa mendapatkan film India tidak lebih gampang dibanding mendapatkan film porno saya mendapatkan.

Saat demam Kuch Kuch Hota Hai di awal 2000-an masih tersisa, rental-rental film Jogja masih memberi tempat bagi film India. Tapi, tentu saja itu bukan hal istimewa, karena film yang tersedia kebanyakan juga diputar di televisi—karena, pada saat yang sama, televisi memang masih memberi tempat untuk Shahrukh Khan dkk. Namun, satu-dua tahun berikutnya, ketika film India di televisi disapu oleh serial Taiwan dan film Jepang, film India juga seperti menguap dari rak-rak rental. Ya, tentu saja, apa yang mereka sebut sebagai “trend” adalah faktor utamanya. Tahun 2003 ke atas, film India adalah genre paling minor di segala jenis rental film (baik tipe box office, tipe update, tipe Sketsa, atau tipe yang setengah mesum) di Jogja. Film India biasanya hanya jadi pelengkap dari rak “Asia” yang didominasi film-film dari kawasan Sungai Kuning, dengan judul baru yang minim. Dari yang minim itu, yang tampak layak tonton hampir atau sama sekali tak ada.

Sialnya, bersamaan dengan semakin tersingkirkan film-film India dari kanal-kanal selera massa, selera India saya justru tengah mengalami radikalisasi. (Bisa saya katakan, buku Pater Pancali dan majalah India Perspective adalah salah satu pemicu utamanya.) Saat itu adalah masa-masa yang menyiksa. Ketika saya mencoba bertanya kepada penjaga Rental Sketsa (rental film-nya pencinta film, paling tidak untuk waktu itu) apakah mereka memiliki koleksi menyimpan film India yang bagus, mbak-mbak penjaga sembari tersenyum kecut (senyum kecut yang tak pernah akan saya lupakan!) balik bertanya, “apa ada film India yang bagus?” Jawaban senada itu, bahkan pertanyaan balik yang sengit, tidak sekali-dua saya dapatkan. Tapi, tentu, selalu saja ada (meminjam metaforanya Franky Sahilatua) ‘bunga di tengah belukar’. Misalnya, di Teater Disc, rental yang tenar karena menyediakan hampir segala genre film (termasuk di dalamnya FFM, MILF, bukkake, ebony, bahkan kadang-kadang gay), bersama film-film non Hollywood macam City of God dan Bad Education, saya menemukan Lagaan, Legend of Baghat Singh, dan Menaxee: the Tale of Three Cities, tiga di antara film-film India terbaik yang pernah saya tonton.

Meski begitu, tak ada serumit kisah pencarian saya atas film Pater Pancali, yang kata dunia, merupakan salah satu pusaka terpenting perfilman dunia. Tak mau melewatkan hidup ini tanpa menonton film itu, saya memesan ke kerabat-kerabat yang di Malaysia, juga kepada teman di Jakarta yang sekolah film, pun kepada teman lain yang punya akses ke Pusat Kebudayaan India di Jakarta. Setelah bertahun-tahun gagal dan mulai merasa pasrah hanya bisa membaca bukunya, film itu ternyata dimiliki seorang penjaga rental film veteran yang aneh. (David Setiawan, dengan penuh terimakasih, paragraf ini khusus untukmu!).

 

b. Memperkaya

Film India adalah dana abadi bagi saya, investasi yang tak kunjung rugi, celengan yang berkali-kali dipecah tapi tak pernah kering. Itu baru-baru ini saja benar-benar saya sadari.

Awalnya, pengalaman dengan film India saya anggap sebagai takdir. Film India adalah bagian kecil dari batu Sisiphus saya yang mesti saya dorong di sepanjang tebing hidup saya, begitu pikir saya. Saya besar di sebuah desa terpencil yang dicurahi habis-habisan oleh budaya massa pesisir pantura Jawa. Jadi, bersama dangdut, ludruk, dan lagu-lagu slow rock Malaysia, film India (dan tentu saja lengkap dengan lagu-lagunya) adalah sesuatu yang terberi dari langit, seperti kulit gelap saya. Jadi, oke, saya akan menggembolnya sepanjang hidup saya. Mungkin akan tampak aneh, bahkan cacat, di mata orang lain. Mau bagaimana lagi? Yang penting, ini prinsip, saya tak perlu menyembunyikannya. Seperti sebuah codet di wajah, ia paling tidak bisa jadi tanda pembeda. Begitu kira-kira. Tapi, dengan sedikit sorot balik, saya segera tahu cara pandang itu kurang tepat. Film India bagi saya bukanlah takdir, tapi takdir baik. Ia bukan sekadar pemberian, namun nikmat (meski tak sebesar nikmat iman dan taqwa). Saya semestinya tidak mengucap alhamdulillah dengan hati pasrah, tapi alhamdulillah lengkap dengan sujud sukur.

Ini contoh saja. Saat saya SMA dulu, di mana selera musik adalah petunjuk paling jelas darimana kamu berasal, saya dianggap aneh karena begitu memuja Kumar Sanu dan Alka Yagnik, sementara kebanyakan dari teman saya menyukai KLa Project, Dewa 19, Roxette, Queen, Metalica, Guns ‘n Roses, atau Nirvana. Kini: edan apa tidak tahu KLa dan Dewa 19? Demikian juga, bersamaan dengan proses mengurban yang saya alami, Roxette, Queen, Metalica, Nirvana, dkk. juga pada akhirnya bukan lagi hal yang asing. Maka, pada tahun 2011 ini, jika saja ada petugas sensus yang melakukan kalkulasi tentang jenis musik apa yang didengar oleh seseorang selama 15 tahun terakhir, saya akan cukup percaya diri kalau statistik musik saya akan melebihi teman-teman SMA saya. Sebabnya, saya bisa mendapat apa yang mereka punya, tapi tidak sebaliknya. Lagu-lagu di film India, harta karun saya itu, adalah faktor pembedanya.

Jika kemudian statistik itu menyangkut film, saya rasa, film-film India saya juga akan jadi amunisi rahasia yang habisnya lama. Dengan simpanan memori atas ratusan film India yang saya tonton, paling tidak, hafalan saya atas nama aktor/aktris, judul film, nama sutradara, akan unggul dengan saudara-saudara saya yang hanya menonton film Hollywood dan/atau Hongkong. (Apalagi jika mengingat kebanyakan film India adalah film kolosal, hahaha….) Saya mungkin hanya akan kalah dengan teman-teman yang menonton film Hollywood, mandarin, sekaligus Bollywood, tapi juga menggemari horor Jepang—jenis film yang benar-benar tidak saya sukai.

Oke, uraian-uraian di atas tentu mengacu kepada kekayaan yang cenderung matematis, yang memakai paradigma pemuja otak kanan. Saya akan tunjukkan betapa film India juga memperkaya saya pada tingkat yang lebih subtil (tentu dalam standar saya sendiri). Kebiasaan saya menonton film India membuat saya memiliki kesempatan lebih besar, paling tidak dua kali lipat, mendapatkan sebuah cerita dalam banyak versi dibanding teman-teman saya yang hanya menonton film Hollywood. Untuk seorang yang menganggap diri sebagai pengarang, hal itu tentu sangat memperkaya saya.

Penjelasannya begini. Industri film India tampaknya, sedapat yang saya tahu, tak banyak berbeda dengan industri otomotif dan peranti lunaknya: padat karya, massal, dan (tidak seperti Hollywood) jauh lebih berorientasi domestik daripada untuk kebutuhan ekspor. Dalam industri yang macam begitu, tentu memproduksi sebanyak mungkin dan secepat mungkin jadi jauh lebih diutamakan dibanding memproduksi sebagus mungkin (meski, seperti mbak-mbak penjaga rental yang menyebalkan itu, jelas sesat dan menyesatkan jika menganggap film India tidak ada yang bagus). Ini mungkin yang menjadikan industri film India, dilihat dari sudut tertentu, tidak berbeda jauh dengan industri sablon di Bandung atau sentra kerajinan kulit di Sidoarjo. Begitu dapat tahu kalau film jenis ini atau itu sedang bagus di Amerika atau Hongkong, mereka segera bikin versi Indianya. Hak cipta? Ah, itu ‘kan hanya menguntungkan orang EropaAmerika. Terus bagaimana dengan tanggapan penonton yang disuguhi tontonan tiru-tiruan? Seperti para pedagang tas di Cibaduyut yang yakin kalau pembeli yang datang tak begitu tahu tentang Louis Vuitton, Channel, atau D&G, pembuat-pembuat film di India cukup percaya diri kalau kebanyakan penonton mereka tak menonton versi bulenya. Jika penonton bisa menangis, ikut menari, lalu keluar dari bioskop dengan bahagia, habislah perkara.

Tak heran, apa yang dipunyai Hollywood, Bollywood juga segera akan memilikinya. Jika Hollywood punya pemeran-pemeran Bond yang flamboyan, Bollywood cukup memadaninya dengan seorang Dev Anand. Saat John Travolta berdisco, Mittun Chakraborty segera saja memadaninya (let sing: I am a disco dancer!). Saat Amerika punya Stallone dan Van Damme, India punya Sanjay Dutt dan Sunil Shetty. Bahkan, ketika Amerika harus mengimpor langsung Jacky Chan karena tak bisa menirunya, Govindha dari India justru sukses bisa mengimitasi. Untuk saya yang memulainya justru dari Bollywood, India kadang terlihat lebih dulu dibanding Amerika. Sebelum Layar Emas RCTI dan Bioskop TransTV memutari film-film James Bond, Sinema India Jumat TPI sudah memperkenalkan saya dengan film-film detektifnya Dev Anand. Double Impact versi Salman Khan juga saya tonton lebih dulu dari versinya. Demikian juga, French Kiss tiruan Ajay DevganRani Mukherjee yang berjudul Pyaar To Hona Hi Tha jauh lebih awal saya tonton daripada French Kiss beneran yang dimainkan Kevin KlineMeg Ryan. Akele Hum Akele Tum (yang berkisah tentang perebutan anak di pengadilan antara suami miskin dengan istrinya yang sukses) hampir 10 tahun lebih dulu dibanding Kramer vs Kramer yang ditirunya. Bahkan, karena begitu terkesannya dengan Ghost-nya India yang dibintangi Rahul Roy, yang saya tonton di awal usia belasan, sampai saat ini saya merasa tak perlu buru-buru untuk menonton Ghost-nya Patrick Swayze.

(Karena amat berpengalaman dengan film-film India tiruan ini, ketika masih jadi mahasiswa sastra, saya sama sekali tak kesulitan mencerna istilah ‘mimikri’.)

Tapi, seperti tas-tas Cibaduyut yang tak jarang lebih bagus mutunya daripada tas-tas impor yang ditirunya, begitu juga film-film India tiruan itu. Saya punya contoh Sirf Tum. Bertutur tentang gadis desa dan sopir bajaj New Delhi yang tidak saling mengenal namun saling jatuh cinta hanya lewat surat, film ini segera saja mengingatkan kepada You’ve Got Mail. Namun bagaimana Sirf Tum bisa mengubah dongeng romantis Amerika menjadi kisah cinta yang mengiris khas anak benua Asia adalah sebuah hal yang sangat istimewa—dan memperkaya, tentu saja. Mengubah kisah cinta sepasang pria-wanita terdidik New York menjadi kisah cinta sejoli sudra New Delhi, mengganti e-mail dengan surat, serta mengubah hubungan rumit dan menjengkelkan dua orang pedagang buku yang bersaing dengan hubungan yang mengaduk emosi antara sopir bajaj yang tengah kalut karena baru keluar dari pekerjaannya dengan penumpang perempuan yang tersesat karena baru pertama kalinya datang ke kota (mencari kekasih yang tak dikenalnya), menurut saya, adalah standar sempurna apa yang disebut adaptasi—terutama yang melibatkan perseberangan budaya. Karena Sirf Tum jauh lebih menyentuh ke-Asia-an saya, lagi pula hanya bisa saya temukan di televisi dalam sebuah kondisi kebetulan yang luar biasa, sementara You’ve Got Mail bisa saya tonton kapan saja saya sempat, maka dengan tegas saya menyatakan kalau film yang dibintangi oleh Sanjay Kapoor ini jauh lebih baik dari filmnya Tom Hank itu.

Sampai di sini, jika kebanyakan penulis kisah romantis hanya punya referensi You’ve Got Mail namun tidak punya Sirf Tum, sementara saya punya kedua-duanya, bukankah saya lebih kaya?

 

c. Menjadikan Istimewa

Ini adalah bagian dampak paling komplek namun paling penting yang bisa saya peroleh dari film India. Namun karena kuatir uraiannya nanti membuat tulisan ini bisa dua-tiga kali lebih panjang, sebaiknya saya menyingkatnya saja.

Hanya karena menonton film India-lah saya bisa menulis tulisan ini. Dan itu sudah cukup membuat saya merasa istimewa.

 

Sembari menirukan suara Kavita Khrisnamurty pada salah satu OST Pardes, tulisan ini saya tutup dengan sebuah dendang: I love my India/ Sajan mera India….[ ]

 

Sambilegi, 04-03-11

 

 

 

 

0 Tanggapan

    • Hello, guest

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org