ETNOHISTORI

Tosss!!! Cak Kopral

 

oleh: Bosman Batubara *

 

BEBERAPA waktu yang lalu saya memiliki kesempatan untuk kembali menginjakkan kaki di Porong, Jawa Timur. Terakhir kali saya menginjakkan kaki di Porong sebelum meneruskan kuliah saya adalah tahun 2010 yang lalu, persisnya pada bulan Mei. Ketika itu adalah peringatan 4 tahun Lumpur Lapindo. Bersama kelompok seniman Taring Padi (TP) dari Yogyakarta, dan beberapa orang kawan pegiat seni dari beberapa kota di Pulau Jawa pada waktu itu, kami menginisiasi sebuah karnaval seni rakyat di Porong. Bulan Mei tahun 2011 ini, melalui berita yang saya baca di media dan informasi personal dari beberapa orang kolega, saya tahu bahwa kawan-kawan pegiat seni kembali mengadakan karnaval di Porong untuk memperingati 5 tahun Lumpur Lapindo. Sayang sekali, saya tidak bisa berada berbaur dengan mereka pada peringatan 5 tahun ini. Saya masih berharap suatu ketika di masa depan, saya masih bisa mengikuti acara seperti itu di Porong. Semoga.

Perjumpaan dengan TP, harus saya akui, adalah salah satu fase yang sangat penting dalam hidup saya. Ya, dari dulu memang saya sudah mengikuti secara sayup-sayup perdebatan para jagoan seni di Indonesia. Antara kutub yang memiliki ideal “Seni untuk Seni” dengan kutub yang memiliki pendapat “Seni untuk Rakyat”. Meski secara substantif saya sepakat dengan gagasan yang kedua, tetapi secara operatif saya belum tahu dan belum pernah melihat bagaimana ia dikerjakan. 

Pada awal-awal kami menjalin kerjasama dengan kelompok TP, ada banyak hambatan psikologis yang terlebih dahulu harus diterabas. Saya sangat maklum ketika itu. Kami berasal dari dua wilayah yang berbeda. Saya, tanpa pretensi apa-apa dengan pernyataan ini, dilahirkan dari gerakan mahasiswa yang berbasis di Universitas Gadjah Mada (UGM) di bagian Utara Yogyakarta, yang terbiasa dengan membaca, berdiskusi, sesekali demonstrasi. Tradisinya tertambat pada tradisi oral dan menulis, yang dalam beberapa kasus tertentu sangatlah elitis.

Sementara mereka, kawan-kawan TP, sebagian besar berasal dari kampus Institut Seni Indonesia (ISI), yang secara geografis terletak di bagian Selatan Yogyakarta, dan terbiasa dengan ritme kerja dan tidak banyak bicara ala seniman. Isi otak mereka tampaknya hanyalah berkarya berkarya dan berkarya. Meski dalam beberapa kasus, berkreasi juga sebenarnya kerja yang elitis, tetapi di Porong TP bisa merubah kegiatan berkesenian yang (sering) elitis itu menjadi milik semua orang.

 

 Lapindo (poster ©Taring Padi, 2010)

 

Dengan latar belakang seperti itu, wajar saja kalau kemudian pada awalnya ada ‘batas kultural” yang harus diterabas seperti yang saya katakan di bagian awal tadi. Ya wajar saja, kawan-kawan seniwati dan seniman merasa canggung, karena pendapat orang tentang Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dewasa ini memang sudah semakin miring. LSM itu ‘kan cuma aktivis-aktivis yang menjual isu ke lembaga donor. Orang-orang LSM ngomong soal kemiskinan, pemarjinalan, ketertindasan dan keberpihakan, tetapi perilaku mereka bertolak balik 180 derajat, rata-rata mereka punya laptop yang bagus, hape yang bagus, celana-baju dan sepatu bermerek, itu opini yang sering saya dengar baik di perbincangan sesama kawan di dunia nyata, pun gojegan di Facebook. Meskipun kita tentu saja tidak dapat menutup mata, banyak aktivis LSM yang hidupnya senin-kemis dan tiap tahun pusing memikirkan uang untuk membayar kontrakan rumah.

Saya sendiri, atas nama saya sendiri atau LSM saya, tidak ingin melakukan pembelaan tentang hal ini. Biarlah waktu yang akan bercerita banyak.

Di lain pihak, terhadap kalangan seniwati dan seniman pun saya pada awalnya memiliki persepsi sendiri. Seniwati dan seniman itu ‘kan butuh panggung. Mereka paling senang mempertunjukkan kebolehannya. Jangan-jangan nanti malah senimannya terus yang tampil, tetapi isu dan orang-orang Porong malah tidak mencuat ke permukaan. Itulah keraguan-keraguan awal.

Beruntung, dengan strategi komunikasi saling terbuka, pada akhirnya kami (pihak TP dan LSM saya) berhasil melalui fase pedekate itu. Ini sangat penting, karena bisa jadi dari titik itulah sebenarnya ditentukan apa yang akan terjadi ke depannya.

Hari-hari pertama di Porong, saya cukup kaget dengan cara kerja mereka. Cenderung tanpa beramah-tamah terhadap warga Desa Siring Barat (dimana terletak base camp kami untuk peringatan 4 tahun Lumpur Lapindo itu), hanya rapat formalitas dengan beberapa korlap warga pada malam hari pertama mereka di sana, paginya kawan-kawan seniman ini langsung bekerja. Memotong bambu, menggergaji kayu, merancang spanduk, dan juga menyiapkan wayang kertas. Saya sendiri, menyadari saya tidak terlalu akrab dengan kerja-kerja itu, mengambil peran sebagai tukang beli-beli apa yang kurang. Cat, kardus bekas, tali rafia, hingga rokok.

Secara alamiah anak-anak kecil mulai berdatangan. Namanya anak kecil, melihat cat, kuas, kardus bekas yang bertebaran di halaman rumah, mereka mulai menggambar. Apa saja mereka gambar. Bebek, rumah, dan pemandangan (tentang lumpur tentu saja, ini sangat wajar karena mereka melihatnya sehari-hari).

 

Warga peserta karnaval menuntut agar kasus Lapindo dituntaskan (TP, 2010)

 

Hari kedua rombongan seniman yang berdatangan semakin banyak. Bukan hanya sekedar pelukis dan pemotong kayu saja, tetapi sudah berdatangan pula para musisi. Yang namanya musisi, begitu mereka sampai, ada yang nongkrong main gitar, tertawa sambil bernyanyi-nyanyi dan minum kopi. Ternyata hal ini menarik perhatian semakin banyak anak kecil. Mereka mulai mengerumuni tukang gitar. Jadilah halaman rumah semakin padat tidak karuan. Ada yang menggambar, bernyanyi, orang-orang dewasa memotong bambu untuk liong dan juga kentongan kecil-kecil.

Sore hari entah bagaimana caranya, saya sudah tidak mengikuti karena banyak pergi ke sana ke mari sebagai tukang beli-beli itu tadi, anak-anak kecil yang bernyanyi sudah berbaris rapi. Dengan diiringi gitar dan biola oleh musisi, mereka bernyanyi gembira. Bulu kuduk saya merinding ketika mendengarkan lirik yang mereka nyanyikan:

Aku ini anak merdeka
Tak berpunya tapi merasa kaya
Semua di dunia milik bersama
Tuk dibagi scara adil dan merata

Kubawa-bawa matahariku
Kubagi-bagi layaknya roti
Semua mendapatkannya
Semua suka bersama-sama.

 

Di situ saya percaya bahwa “Seni untuk Rakyat” bukanlah kecap belaka.

Selanjutnya semua mengalir. Pagi berikutnya, karena mungkin kecapekan setelah hampir sampai malam suntuk bekerja, orang-orang yang tidur di base camp malah mulai mengeluh karena terganggu tidurnya oleh anak-anak yang ramai datang, menabuh-nabuh kentongan bambu dan mulai bernyanyi. Malam hari, rombongan ibu-ibu yang kebetulan lewat pulang dari pengajian rutin dengan kitab di tangan dan kerudung di kepala mereka, mungkin karena melihat anak-anak mereka menyanyi gembira dengan diiringi alunan gitar dan biola, secara spontan mulai ikut bernyanyi dan bergoyang.

Penganan kemudian keluar, ketela rebus, gorengan, dan berceret-ceret kopi. Dan puncaknya pada hari karnaval, yang berada di jalanan bukan cuma spanduk, liong, patung raksasa kepala Aburizal Bakrie dengan dagunya yang maju itu, kentongan bambu yang ditabuh riuh, dan gambar-gambar ceria namun berisi buatan anak-anak, tetapi juga kuali dan sutil pun bertalu-talu di jalan raya Porong—Malang. “Kalau saya berkenalan dengan Taring Padi beberapa tahun yang lalu, sudah sejak dulu di Porong terjadi revolusi,” kata Paring, seorang kawan yang menjadi pendamping korban Lumpur Lapindo dari awal sampai ketika tulisan ini digarap (medio 2011).

 

Peserta karnaval 4 tahun lumpur Lapindo di jalan raya Porong−Malang (TP, 2010)

 

Patung Kepala Aburizal Bakrie yang dilarung ke kolam lumpur (foto ©TP, 2010)

 

Itu setahun yang lalu. Kenangan itu begitu membekas. Tahun 2011 ini, ketika saya kembali datang ke Porong, sudah banyak yang berubah, ada yang membaik dan juga yang memburuk.

Sekitar tahun 2009 suasana konflik horizontal begitu terasa. Ada banyak organisasi formal dari korban Lumpur Lapindo, dan tidak perlu saya mengulang menjelaskan itu di sini. Tetapi yang paling sering dibicarakan di warung-warung kopi adalah Wong cicilan dan Wong kes en keri (cash and carry). Wong cicilan adalah mereka yang menerima skema cicilan yang ditawarkan oleh PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ), kasir PT Lapindo Brantas Inc. (LBI) yang bertugas mengurusi pembayaran dana kompensasi bagi korban yang tanahnya masuk peta area terdampak sesuai dengan Perpres 14/2007. Sementara wong kes en keri adalah kalangan yang masih ngotot menuntut pembayaran 20 dan 80% secara lunas, sesuai dengan yang diamanatkan oleh Perpres 14/2007.

Konflik antara Wong cicilan dengan Wong kes en keri adalah konflik yang sangat riil. Karena yang diperebutkan adalah massa dan uang. Dari obrolan di warung, saya jadi tahu bahwa kalau seseorang membawa massa masuk ke dalam skema cicilan yang diinisiasi oleh PT MLJ, maka orang tersebut akan mendapat fee. Sehingga banyak pemuka-pemuka warga yang berlomba-lomba membawa orang ke skema cicilan. Sementara Wong kes en keri menganggap wong cicilan sebagai orang yang tidak mengikuti Perpres 14/2007, atau dengan kata lain, tidak taat pada peraturan.

Konflik itu menjadi sangat personal, karena warga selalu saja memantau kalau-kalau seorang pentolan yang sudah berada di kelompok Wong cicilan mengunjungi rumah seorang warga yang diketahui masih berada di kelompok Wong kes en keri. Sebab itu bisa berarti teman berkurang bagi Wong kes en keri. Dan karena mengikuti skema cicilan dianggap tidak mengikuti peraturan yang ada, maka dengan sendirinya ia melenceng dari garis perjuangan. Dan saya melihat, ada rasa malu pada seseorang kalau dia sudah mengikuti skema cicilan. “Ya gimana lagi mas, aku tidak kuat lagi berjuang, keluarga butuh makan”, begitu biasanya pengakuan (rasa bersalah) Wong cicilan yang saya ajak ngobrol. 

Itu sekitar tahun 2009 dan 2010 awal. Di tahun 2011 ini, melalui media dan diskusi personal dengan kawan yang masih setia di Porong, saya jadi tahu bahwa isu sudah bergeser. Hampir semua orang sudah menyerah karena Perpres 14/2007 tidak pernah direalisasikan. Hampir semua orang sudah menjadi Wong cicilan sekarang, kecuali tentu saja keluarga-keluarga pemilik 19 berkas dari Desa Gempolsari yang sampai detik ini belum menerima sepeser pun dana kompensasi atas tanah mereka. Cicilan itu sendiri lebih sering macet ketimbang lancar, tidak seindah perjanjian yang seharusnya dibayarkan sekali tiap bulan.

Yang justru hangat sekarang adalah 45 RT di luar peta area terdampak Perpres 14/2007, Perpres 48/2008, dan Perpres 40/2009. Kelompok ini menuntut agar dimasukkan ke dalam peta area terdampak. Atau dengan kata lain mereka menuntut agar daerah mereka memiliki payung hukum yang jelas. Tetapi sampai sekarang, mereka masih terus berjuang, belum ada tanda-tanda bahwa pemerintah akan mengabulkan permintaan mereka meskipun, secara riil di lapangan, daerah mereka sebenarnya sudah terkena dampak bencana Lumpur Lapindo yang teruas meluas. Dampaknya variatif, mulai dari pencemaran udara dan air tanah (sehingga mereka sekarang harus beli air), hingga kampungnya diterjang banjir lumpur karena tanggul (di)jebol.

Ketika saya sampai di pinggir tanggul dekat kantor Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BPLS) pada pertengahan Bulan Agustus 2011 ini, saya langsung bisa melihat seorang kawan. Cak Kopral, demikian ia biasa dipanggil, saya lihat sedang mengatur motor-motor yang diparkir di halaman rumah di depan kantor BPLS yang sering menjadi base camp Wong tanggul. Wong tanggul adalah sebutan bagi orang-orang yang bekerja di seputaran tanggul lumpur. Ada yang menjadi tukang ojek, tukang parkir, atau menjual VCD. Cak Kopral adalah salah satu kawan terbaik saya di Porong. Dia berasal dari Desa Jatirejo yang sudah tenggelam oleh genangan lumpur hitam itu. Dan sampai sekarang dia, dan juga kawan-kawannya yang lain, masih tetap mengaku berasal dari Desa Jatirejo. Saya punya cerita tentang ini.

Ketika saya tinggal di Porong dulu, banyak waktu yang saya habiskan bersama Cak Kopral dan keluarga. Mendaki gunung menuruni lembah, bahasa komiknya begitu. Mulai dari sekadar ngobrol dan minum kopi di warung, minum bir, main kartu sampai hampir menjelang pagi, bahkan sampai membawa anaknya, Rio, renang di daerah Pandaan dan mengajarinya membuat akun di Facebook.

Saya tahu sebenarnya bagi anak yang masih SD, membuat akun di Facebook adalah terlarang. Tetapi itu mudah disiasati bukan? Lagi pula tujuan utama saya ketika itu adalah, kalau suatu ketika saya nanti pergi, melalui Rio inilah saya nanti dapat terus tahu tentang keberadaan keluarga mereka. Meski belakangan saya lihat, akun Facebook Rio jarang sekali aktif. Tak apa-apa, suatu ketika toh waktu akan mempertemukan kami kembali.

Saya sempat tertegun ketika dulu saya memandu Rio membuat akun di Facebook. Pada saat mengisi alamat, dia masih menyebutkan Jatirejo sebagai desanya. Padahal jelas Jatirejo sudah tenggelam dan mereka sudah tidak tinggal di Jatirejo lagi. Tetapi begitulah rupanya kenangan akan kampung halaman terpatri. Lumpur memang telah menenggelamkannya, tetapi kampung mereka tetap hidup di kepala orang-orangnya.

Saya lantas berfikir, andai saya memiliki pengalaman hidup yang sama, mungkin kenangan yang sama atau bahkan lebih lagi, akan tetap menguntit setiap langkah saya. Kesadaran yang kemudian menafasi semangat saya untuk bergabung dalam gerakan pengusiran sebuah perusahaan tambang emas yang sedang melakukan kegiatan eksplorasi di kampung halaman saya. Terima kasih Porong untuk pembelajaran itu.

Ketika kami bertemu di tepi tanggul lumpur, Cak Kopral tertawa lebar sekali. Kepada Sarah (teman perjalanan saya) dan saya, ia bercerita banyak sekali. Mulai dari soal pembayaran uang kompensasi yang macet-macet, sampai dengan kehidupannya sekarang yang seperti bergerak surut. Cak Kopral bercerita tentang dirinya yang sudah tidak punya motor lagi. Padahal bagi orang yang mobile seperti dia, motor adalah salah satu alat produksi yang sangat penting. Melalui ceritanya dan juga cerita yang saya dapat dari beberapa (bekas) kawan sekampungnya di Jatirejo dulu, pada masa sebelum lumpur Cak Kopral adalah orang yang necis, motornya berganti-ganti. Sekarang mau tak mau ia harus menerima kehidupannya sebagai penjaga parkiran di sekitar tanggul Lumpur Lapindo.

Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi, ketika mendengarkan ceritanya sore itu. Sebaik mungkin yang bisa saya lakukan sebagai manusia biasa, telah saya lakukan untuk Cak Kopral dan juga kawan-kawan yang lain di Porong. Meski jelas itu tak cukup buat mereka. Tetapi apa boleh buat, saya juga bukan Superman yang bisa terbang dari sana ke sini. Ada masanya saya juga harus pergi.

Cerita yang sama juga saya dapatkan dari Mbak Lastri, salah satu warga Desa Gempolsari tadi yang sampai sekarang tanahnya belum juga dibayar sepeserpun. Lima tahun bukanlah waktu yang pendek untuk sebuah penantian. Tetapi orang-orang itu tetap bertahan, salut buat mereka yang berjuang untuk haknya.

Cak Kopral, Mbak Lastri, hanyalah dua orang dari sekian ribu korban Lumpur Lapindo.

Di saya sendiri, pelan-pelan permasalahan tentang Lumpur Lapindo mulai tergeser dari perhatian. Otak saya setahun belakangan ini telah diinvasi oleh rumus-rumus matematika dan segala sesuatu yang berhubungan dengan air. Kadang-kadang ada perasaan bersalah karena saya telah meninggalkan mereka. Saya tahu, saya hampir tidak melakukan apa-apa untuk mereka. Saya lebih banyak diam ketika mereka ngobrol tentang permasalahan mereka. Karena banyak permasalahan itu yang sampai sekarang bahkan tetap menjadi topik yang susah bagi saya, permasalahan kepemilikan tanah dan jejaring keluarga, sertifikat tanah, peraturan presiden, demonstrasi, lobi-lobi, dan lain sebagainya. Semuanya adalah topik yang berat. Banget.

Mungkin memang saya tidak perlu melakukan apa-apa, karena toh, meski saya sudah memeras keringat dan otak-pun, tidak banyak pengaruhnya. Mengingat permasalahan di Porong memang bukanlah permasalahan yang sederhana. Bukan sekali dua saya dengar tentang kawan-kawan jurnalis-pun bahkan mengeluh karena sudah memberitakan bertubi-tubi, tetapi keadaan tetap begitu-begitu saja. Mungkin saya hanya perlu mendengar, seperti yang saya lakukan bersama Sarahita sore itu. Mungkin dengan didengarkan dia sedikit lega, meski itu jelas tidak menyelesaikan persoalan. Atau juga mungkin saya memang hanya perlu tertawa sambil mengangkat telapak tangan ke arah Cak Kopral (seperti yang juga saya lakukan sore itu), TOSSS CAK!!!

 

 22 Agustus 2011

 

* Mahasiswa pasca−sarjana di Inter−University Programme in Water Resources Engineering, Katholieke Universiteit Leuven dan Vrije Universiteit Brussels, Belgia. 
....Pada rentang waktu 2009
2010 terlibat dalam kerja advokasi korban Lumpur Lapindo; dalam kesempatan ini mengucapkan terima kasih kepada Gina Sergina
....yang melalui
Facebook telah mengirimkan lirik lagu anak-anak Desa Siring Barat seperti yang dikutip utuh dalam tulisan ini.

 

 

 

0 Tanggapan

    • Hello, guest

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org