Home / Topik / Ulasan Buku / Friksi: Etnografi Dunia yang Bergesekan

Friksi: Etnografi Dunia yang Bergesekan

 

Ulasan Buku oleh: HATIB ABDUL KADIR *

DALAM pembuka catatan etnografisnya, Anna Lowenhaupt Tsing mengakui bahwa pertama kali ia datang ke Kalimantan dengan menempatkan dirinya sebagai seorang naturalis dan pecinta alam, dibanding seorang antropolog. Subjek yang ingin ditelitinya adalah tanaman dan lingkungan hidup, bukan manusia. Namun, di tengah-tengah itu, kesadarannya tergugah, dikarenakan ia menyaksikan sendiri kerusakan hutan besar-besaran yang disebabkan oleh pemerintah dan perusahaan-perusahaan global. Beragam kerusakan ini menyebabkan masyarakat Meratus mengalami kerugian, meski banyak ahli lain beranggapan bahwa deforestasi dan pertambangan mempunyai implikasi positif untuk warga. Dengan demikian, di buku FRICTION: An Ethnography of Global Connection, Tsing menegaskan posisinya dalam mempertahankan hak-hak masyarakat adat dalam mengelola hutannya.

 

Koneksi Global‒Lokal yang saling Mempengaruhi

Tsing mengklaim bahwa bukunya ini merupakan kajian etnografi yang melihat koneksi global, di mana kerusakan hutan hujan di Indonesia, mempunyai efek yang dekat dengan kondisi-kondisi lebih luas secara global. Hal ini karena hutan mengalami kerusakan bukan karena kebutuhan masyarakat lokal, melainkan karena keperluan masyarakat global. Istilah “friksi” merupakan metafora yang diambilnya dari pergesekan dari roda yang bergerak karena bergesekan dengan permukaan jalan, sehingga menghasilkan gerakan, aksi dan efek panas serta cahaya. Demikian pula, dalam globalisasi terdapat gesekan-gesekan antara lokalitas dan globalitas yang menghasilkan efek dari benturan tersebut.

Konsep Friksi dalam buku ini mengacu bahwa kebudayaan baru dihasilkan dari pergesekan-pergesekan antara kepentingan lokal dan global, dan di antara friksi tersebut terdapat relasi yang tidak imbang bersifat jarak jauh di antara dua inter−koneksi ini. Tsing menegaskan friksi tidak sama dengan resistensi. Masyarakat tidak melakukan resistensi terhadap globalitas, melainkan mengambil keuntungan terhadap gravitasi perubahan besar yang mengguncang kehidupan mereka. Dengan demikian, Tsing tidak melihat bahwa globalitas merupakan hegemoni baru yang menguasai kehidupan, karena masyarakat lokal sendiri mampu berhitung strategi dengan perubahan global tersebut.

Universalisme terjadi juga karena pengaruh lokal. Sebagai misal adalah deforestasi hutan di Kalimantan dikarenakan keperluan global. Tsing melihat adanya kekaburan antara universalisme dan partikularisme, karena di setiap kejadian lokal dapat berimplikasi pada situasi yang lebih luas. Sebaliknya, sesuatu yang terjadi dari pengaruh global juga berasal dari kondisi lokal. Dengan kata lain, Tsing membongkar oposisi antara partikularisme yang selama ini diusung oleh ilmuwan humaniora dan universalisme yang selalu didengungkan oleh para teoritikus sosial. Contoh lain dari koneksi global dan lokal adalah permintaan batubara dari India. Negara ini memerlukan batubara sangat besar, mengingat harga yang murah di Indonesia sangatlah menguntungkan untuk keperluan bahan bakar kereta api yang menjadi transportasi utama di India.

Ketika industri Jepang bertemu dengan kebijakan pemerintah Indonesia mengenai hutan, inter-koneksi globalisasi menyederhanakan makna hutan hanya sebagai produksi yang menguntungkan. Pandangan ini menyebabkan friksi di ranah lokal, di mana bukan hanya masyarakat adat, namun juga pecinta alam, Non−Governmental Organization (NGO) dan juga pemerintah lokal bereaksi terhadap penyederhanaan pandangan tersebut. Reaksi ini merupakan respon masyarakat lokal yang tidak ingin hanya menjadi penonton, melainkan juga sebagai orang-orang yang ikut dalam kepentingan penebangan hutan, penambangan minyak bumi, batubara hingga remah-remah lainnya yang tersisa dari hasil bumi.

Anna Tsing memang terkesan bahwa ia sangat pesimistis melihat keadaan Kalimantan. Pulau ini dilihatnya seperti Afrika di mana barbarisme diijinkan untuk mendapatkan berbagai macam sumber daya. Di sisi lain, Kalimantan juga dilihatnya seperti Amerika pada abad 19 di mana menjadi pusat kekerasan, konflik antar kebudayaan, eksplorasi alam dan perampokan pertambangan. Sebagai misal, Tsing menggambarkan di kawasan Kalawan, tentang klaim tanah antara perusahaan Korea dengan masyarakat Indonesia. Masyarakat digambarkan sangatlah menyedihkan dan terancam karena selalu berjuang atas tanah mereka. Tsing menjelaskan kondisi tersebut dengan konsep “franchise cronyism”. Terjadi kroniisme antara perusahaan keuangan global dengan kebijakan pemerintah nasional. Kroniisme secara operasional dijalankan oleh apa yang disebut Tsing sebagai “frontiers” yakni pelaku di ranah praktik yang menyebabkan friksi dalam merepresentasikan berbagai kepentingan global dan nasional, dan bertemu dengan kepentingan lokal. Tsing mencontohkan “franchise cronyism” secara jelas terlihat pada kasus Busang. Terjadi kelindan kepentingan dan saling mempengaruhi antara peristiwa lokal, kepentingan Negara dan perusahaan global/ trans‒national corporations beserta multi‒national corporations, khususnya dalam hal pertambangan emas. Sedangkan frontier adalah pelaku yang mengkoneksikan antara dunia lokal dengan kondisi sosial politik yang lebih luas.

Cerita peran frontier dimulai ketika seorang eksplorer, bernama John Felderhof, menjelajah sepanjang sungai dari Kalimantan Timur ke Kalimantan Barat. Di Sungai Mahakam, ia bertemu dengan Michael de Guzman, juga seorang geolog dari Filipina. Keduanya lantas menemukan batuan kristal yang kemudian diketahui sebagai emas. Hal ini memicu para eksplorer lokal, penduduk setempat, regulasi pemerintah, perkemahan pertambangan, kantor tentara, gereja, hingga kepala desa untuk muncul dan memeriksa kebenaran tersebut. Hingga akhirnya, perusahaan internasional BreX mulai ikut andil dalam menanamkan sahamnya di bursa New York/ New York Stock Exchange. Namun demikian, tidak terbuktinya keberadaan emas Busang di perut bumi Kalimantan berpengaruh terhadap jatuhnya harga saham Bre-X di New York dan Toronto. Sedangkan contoh dari pelaku “frontier” adalah para geolog. Hasil riset awal mereka digunakan untuk meyakinkan pasar saham bahwa emas di perut bumi Kalimantan benar-benar ada. Dari friksi-friksi yang terjadi, Tsing mengemukakan konsep “spectacular accumulation” yakni semua unsur, baik lokal, nasional dan global, masing-masing mencoba mencari keuntungan maksimum dari munculnya sebuah isu.

 

Dunia Utara‒Selatan yang Terbelah

Meski globalisasi menghubungkan antara lokal dan global, Tsing melihat bahwa secara garis besar, dunia masih terbelah antara utara dan selatan. Dunia utara, direpresentasikan oleh Eropa dan Amerika mempunyai tradisi penaklukkan dengan cara mendefinisikan dan mengklasifikasikan belahan dunia selatan. Salah satu penaklukkan ini dilakukan oleh saintis botani Eropa yang membuat klasifikasi tanaman berdasarkan kacamata ilmu pengetahuan modern, dan menafikan berbagai konsep tanaman dari perspektif masyarakat adat. Dengan demikian, terdapat transfer pengetahuan berupa klaim dari masyarakat Eropa terhadap nama dan jenis tanaman tropis yang ada di Indonesia.

Di sisi lain, hal ini dikarenakan saintis Eropa cenderung meneliti tanaman semata tanpa melibatkan masyarakat yang tinggal di sekitarnya, atau masyarakat adat yang menanam tanaman tersebut. Tradisi pendefinisian dan klasifikasi ini kemudian nantinya juga dilakukan oleh para etnolog abad sembilan belas yang mengklasifikasikan etnisitas, ras dan kepercayaan, layaknya para botanis dalam mendefinisikan tanaman tropis. Masyarakat Eropa modern dan sains-nya membayangkan hutan sebagai sebuah wilayah yang kosong, monoton dan liar. Mereka menafikan bahwa masyarakat adat memaknai hutan dan seluruh isinya, pohon dan tanaman, mempunyai variasi nama. Masyarakat adat yang berjalan masuk hutan, sesungguhnya sama seperti orang-orang modern yang berjalan di Mall, keduanya sama-sama mengetahui dengan detail beragam konten yang ada di dalamnya, baik di Mall maupun di hutan. Namun dunia sains modern menafikan hal ini. Dengan demikian, Tsing melihat bahwa dunia global tidaklah bersifat homogen. Ada berbagai macam kepentingan. Pada saat ini, dunia selatan mengklaim bahwa semua kesalahan mengenai pemanasan global dan naiknya emisi tidak lepas dari industrialisasi dan kerakusan yang dilakukan oleh masyarakat di belahan bumi utara.

 

Globalisasi dan Dunia Kosmopolitan

Globalisasi memicu kesadaran setiap orang untuk menjadi warga global. Ini ditunjukkan dengan maraknya kemunculan “pecinta alam” di berbagai kota di Indonesia. Istilah pecinta alam ini muncul pada tahun 1970-an seiring dengan gerakan yang mengingatkan adanya krisis lingkungan di berbagai belahan bumi. Aktivitas internasional pecinta alam meliputi pendakian gunung, telusur gua, arung jeram, hingga panjat tebing. Meski jarang sekali pecinta alam Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri, namun mereka mempunyai sense global dengan cara mengkonsumsi peralatan aktivitas luar ruangan yang termutakhir dan mengenali beberapa para petualang internasional ternama.

Dalam mengangkat isu pecinta alam, Tsing hendak memberi contoh bagaimana fenomena globalisasi direspon secara berbeda oleh masyarakat kosmopolitan di tingkatan lokal. Kegiatan ini paling banyak digeluti oleh para pelajar SMA dan mahasiswa di berbagai universitas. Tsing menganalogikan kondisi pecinta alam seperti sebuah kota. Situasi kota secara global adala sama, yakni mempunyai jalan besar sebagai jalur transportasi. Namun demikian, kota mempunyai idiosinkratis-nya, di mana terdapat kampung, gang-gang yang sangat beragam. Meskipun pecinta alam adalah sebuah respon terhadap tren global kosmopolitanisme, namun klub pecinta alam Indonesia, mempunyai keunikannya tersendiri. Mereka terkombinasikan dengan ideologi nasionalisme dan isu-isu situasi lingkungan di sekitarnya. Di sisi lain, pecinta alam Indonesia terkesan apolitis. Mereka mencintai alam, dengan cara menikmati keindahannya dan menghindari berbagai isu-isu krusial berkenaan dengan eksploitasi pertambangan yang merugikan masyarakat tempatan dan lingkungan sekitarnya. Karena itu, kegiatan kosmopolitan ini nyaris aman di segala zaman, baik itu Orde Lama maupun Orde Baru. Hal ini mengingat para pegiatnya selalu menyepi dari hingar-bingar isu politik dan mencintai alam acap kali dianggap sebagai “pelarian“ dari kegiatan politik yang ramai dan kotor.

Terdapat pula alasan lain mengapa pecinta alam adalah kegiatan yang “aman“ secara politis. Pada periode Orde Baru, kegiatan ini menjadi jembatan promosi kepariwisataan dan menjadi duta kegiatan yang bersifat eksotis dan dipromosikan dalam proyek pembangunan. Para pecinta alam menjadi frontier untuk mengimajinasikan desa, hutan dan gunung sebagai wilayah eksotis yang damai, penuh harmoni, dan tempat yang tenang untuk menyepi. Di samping itu, pecinta alam juga berurusan dengan promosi konsumsi yang berkaitan berbagai peralatan-peralatan luar ruang (outdoor equipments) tercanggih, baik produksi nasional maupun internasional. Namun demikian, dari segi disiplin, para pecinta alam, lebih menyerupai kalangan hippies, dibanding anggota pramuka yang selalu tepat waktu.

Globalisasi tidak selalu dilihat sebagai pergesekan-pergesekan tanpa makna dan hasil. Contoh di bab 6, tentang “pergerakan“, Tsing menggambarkan kekompakkan konsolidasi antara masyarakat beserta unsur-unsur NGO/ LSM dan universitas yang berhasil menggembosi program pemerintah membangun waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah. Keberhasilan gerakan ini juga tak lepas dari koordinasi transnasional dengan aktivis belahan dunia dalam gerakan anti-bendungan. Demikian pula dengan aliansi lainnya yang menentang deforestasi di Kalimantan, merupakan inspirasi dan reformulasi global dari peristiwa penentangan deforestasi hutan Amazon di Brasil.  

 

Penutup

Karya Anna Tsing kali ini memang bersifat eksperimental, dan bukan buku etnografi seutuhnya. Berbeda dengan karya etnografi sebelumnya, In the Realm of the Diamond Queen: Marginality in an Out-of-the-Way-Place (1994) yang sangat detail dan terfokus pada satu subjek masyarakat Meratus. Kali ini gambaran Anna Tsing dalam menjelaskan pergesekan dalam globalisasi cenderung melompat-lompat, antara kasus-kasus di perdalaman Kalimantan, kemudian berpindah ke gerakan-gerakan masyarakat urban Jawa. Hal ini menyebabkan pembaca terkadang merasa hilang fokus dan harus membaca ulang masing-masing bab, agar tidak benar-benar tersesat. Membaca buku Anna Tsing ini sangat berguna untuk memahami kasus-kasus yang terjadi belakangan di tanah air, seperti kasus Padang, Mesuji, hingga Bima adalah tentang gagalnya negosiasi terhadap friksi kepentingan antara pihak pengusaha global, pemerintah dan para elit di tingkat lokal. [ ]

 

18 Februari 2013

 

* Mahasiswa Ph. D. Cultural Anthropology, University of California‒Santa Cruz, USA.

 

ULASAN BUKU

 

ETNOHISTORI

 

Baca Juga

Etnografi Formasi Negara di Kawasan Perbatasan

Haryo Kunto*         Judul Buku: At The Edge of States: Dynamics of ...

2 Tanggapan

  • Hello, guest
  • sangat menarik, saya mempunyai ketertarikan betul terhadap karya-karya Tsing dan Murray li. saya ingin memadukanya untuk belajar membaca fenomena yang ada di kota kelahiran saya, Banyuwangi pada kasus pertambangan emas di Gunung Tumpang-pitu.maaf jika mungkin merepotkan, atau bahkan terkesan komentar ini tidak jelas muaranya dimana. saya berharap, dapat berbagi bahan bacaan untuk memperdalam konsep fkirsi ini, mungkin dari beberap jurnal yang jarang diterbitkan secara umum. terimakasih sudah berkenan membacasayang sekali saya tidak sempat intens berhubungan dengan anda. hanya sekali anda pernah menyapa saya waktu sedang membaca murray Li.teruntuk pak Hatib Abdul Kadir, salam