Etnohistori.org

Yang Diingat dan Dilupakan: Mencari Identitas Papua pada 1960-1980-an

Kesadaran dalam pembentukan identitas Papua bergerak seiring dengan peralihan kekuasaan-kekuasaan terhadap Tanah Papua. Salah satu momen penting pentas kekuasaan terhadap tanah Papua terjadi pada tahun 1925-an hingga 1960-an. Saat itu terjadi Perang Dunia II yang berimplikasi kepada proses penyerahan kedaulatan Belanda atas Indonesia termasuk di dalamnya Papua. Proses peralihan kekuasaan di Papua berujung kepada Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Juli-Agustus 1969 yang menyatakan Papua menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun demikian, sejarah Papua setelah 1969 menunjukkan bahwa hasil Pepera itu justru menjadi salah satu akar konflik yang berkepanjangan.

Ingatan orang Papua tidak akan mudah dilupakan ketika Belanda membimbing mereka menuju kemerdekaan. Pada 1 Desember 1961 Belanda memerintahkan bendera Bintang Kejora Papua Barat dikibarkan berdampingan dengan bendera Belanda. Momentum ini yang dianggap Proklamasi Kemerdekaan Papua Barat. Bendera nasionalnya adalah Sang Bintang Fajar Timur (Bintang pagi), lagu kebangsaannya adalah “Hai Tanahku Papua” ciptaan Pendeta IS Keyne, dan lambang negaranya adalah burung mambruk.

Kehadiran Indonesia pada 1963 dilakukan dengan melenyapkan ingatan orang Papua terhadap Belanda. Pemberangusan buku-buku pendidikan Belanda dan interogasi kepada masyarakat yang berbahasa Belanda pun dilakukan. Penetrasi Indonesia juga dilakukan dengan latihan baris berbaris, penaikan dan penurunan bendera Merah Putih setiap harinya. Tentara juga melakukan razia ke rumah-rumah penduduk untuk memeriksa jika ada bendera Belanda yang masih tersimpan.

Apa yang diingat dan dilupakan orang Papua terhadap kehadiran Belanda dan Indonesia? Bagaimana pengalaman kelas menengah, para aktor-aktor atas pengaruh Indonesia dan Belanda? Apa saja pengaruh-pengaruh Indonesia dalam mengkonstruksi identitas Papua? (I Ngurah Suryawan)

 

2011—2012 • Etnohistori.org • Some Rights Reserved Kembali ke atas